
Beberapa menit yang lalu, Ditto dan Tiara sudah sampai di rumah mereka. Rumah yang cukup mewah, besarnya hampir sama dengan rumah utama Maximilian.
Meskipun terbilang besar, namun penghuni rumah ini hanya Tiara dan Ditto. Untuk para pelayan mereka hanya datang di saat membersihkan rumah saja, mereka tidak akan menginap. Datang pagi pulang sore.
Tiara sedang menyiapkan makanan untuk makan malam. Ia memasak beberapa makanan saja. Disaat Tiara menyajikan makanan, ia tak sengaja mendengar Ditto yang sedang bertelepon. Sudah Tiara pastikan bahwa yang menelepon Ditto adalah model itu, Sandra. Tiara pikir mereka sedang bertengkar karena samar samar Tiara mendengar pembicaraan Ditto yang sedikit terbawa emosi.
Dan tak lama kemudian, Ditto menghampiri meja makan. Ia bergabung dengan Tiara yang sudah duduk disana.
Mereka memulai menyantap hidangan yang sudah disajikan dengan keheningan yang mengiringi suara dentingan sendok garpu.
Drrt drrtt drrtt
Tiara melirik handphone nya terus berdering, tertulis nama Freya, sekertaris rahasianya.
Tiara mereject panggilan tersebut, namun lagi lagi panggilan itu terus tersambung.
"Sepertinya ada yang penting" ucap Ditto
"Tidak ada, nomor tidak dikenal" jawab Tiara
Ditto hanya menganggukkan kepalanya, ia tidak akan ikut campur lagi.
Setelah menyelesaikan acara makan malam mereka, dan Tiara juga sudah membersihkan piring kotor. Mereka kembali ke kamar masing-masing.
Ya, Ditto memilih untuk tinggal sendiri karena ia ingin pisah kamar dengan Tiara. Sesuai perjanjian yang tertulis, untuk tidak saling mencampuri urusan masing-masing.
Tiara mengunci kamarnya. Ia kemudian segera menghubungi kembali sekertaris rahasianya itu.
"Halo, Frey ada apa?" Tanya Tiara setelah sambungan telepon itu terhubung dengan si penerima.
"Maaf, mengganggu waktu anda Nona. Tetapi ini ada hal yang sangat penting" ucapnya
"Katakan"
"Gangster bagian utara sudah bertindak melebihi batasnya. Untuk saat ini kita sudah membatasi pergerakan mereka, sampai menunggu anda kembali. Namun, pembatasan ini berlaku setelah anda memberikan perjanjian sementara. Dan mereka juga menimbulkan kerusakan-kerusakan" jelasnya
"Kurang ajar, beri tahu mereka bahwa aku menyanggupi ajakan perang mereka. Dan berikan larangan bagi mereka untuk tidak melakukan perang dengan mafia lain. Aku sedang menyelesaikan misi lain, ku harap kau bisa mengulur waktu" ucap Tiara
"Baik nona, akan segera saya sampaikan ultimatum anda. Namun, selain masalah gangster bagian utara ada satu masalah lagi" ucap Freya
"Apa?"
"Tuan Veer sudah bergerak, saya tidak tahu pasti apa rencana yang dia susun saat ini. Namun, lokasi keberadaan Tuan Veer saat ini berada di negara X" ucap Freya
"Apa?!"
"Iya Nona, saya rasa besok adalah awalan rencana mereka" jawab Freya
"Baiklah, kau awasi saja pergerakan mereka. Beritahu saya jika ada yang mencurigakan" ucap Tiara
"Baik nona, selamat malam"
Tiara menggenggam erat handphone nya, matanya memunculkan kilatan merah.
Dan ini pertanda, bahwa mereka memberikan nyawa pada King Axe.
Perlu diketahui bahwa Tuan Veer adalah keturunan Malik, Sebuah keluarga yang cukup disegani di negara A. Sudah sejak lama keluarga Malik memusuhi keluarga Alexander. Hanya berselisih paham, membuat keluarga Malik menyudutkan Alexander tentang kematian salah satu anggota keluarga Malik.
Hingga terjadi peperangan antar dua keluarga itu, mengakibatkan keluarga Malik habis dan hanya tersisa Tuan Veer saja.
"Apa peringatan itu hanya angin lalu, dan kau masih ingin menghancurkan ku?"
"Kali ini tak akan ada kata peringatan bahkan ampunan. Aku akan membunuh kalian semua" gumam Tiara dengan geram.
Setelah itu, Tiara bergegas menuju kasurnya. Ia menselonjorkan kakinya dan memangku sebuah laptop diatas pahanya.
Tiara membuka berkas email yang di berikan Black pagi tadi. Ia membaca keseluruhan dari data-data yang tertera.
"Dr. Antonio ahli bedah di rumah sakit C melakukan praktek ilegal untuk sebuah eksperimen. Membuka tempat praktek di jalan xx" baca Tiara dengan ringkas
Tiara menekan beberapa angka di handphone nya yang kemudian menyambungkan ke sebuah panggilan. Entah siapa yang sedang ia hubungi.
"Bunuh dr. Antonio ahli bedah rumah sakit C sekarang, lakukan seperti biasa" setelah mengucapkan kalimat itu Tiara langsung memutus sambungan teleponnya.
Kinerja Angel adalah 3 kali 24 jam, dibawah pengawasan Tiara memiliki seorang kaki tangan yang dipercaya. Ini sebagai keadaan darurat, ketika Tiara tidak bisa terjun langsung.
Setelah di rasa tidak ada hal lain, Tiara memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya. Menutup matanya hingga pagi esok menjemput.
***
Karena Ditto tidak mengizinkan adanya art untuk tinggal di rumah ini. Kebiasaan Tiara setiap pagi adalah menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Meskipun keduanya ada kemajuan untuk hubungan mereka, namun komunikasi mereka masih tetap pasif.
Tak ada percakapan atau pembicaraan yang lain, selain membahas pekerjaan secara singkat.
"Kamu sudah selesai?"
"Ya"
"Kita berangkat sekarang"
Satu kali tanya jawab itulah yang mengiringi pagi mereka ketika akan berangkat ke kantor.
Tiara sudah berada di dalam ruangannya, jari-jarinya bergerak diatas keyboard komputer dengan menimbulkan suara abstrak.
Semakin lama raut wajah Tiara berubah, Tiara merasa ada kejanggalan dalam data yang ada di depannya.
Drrt drrt drrt
__ADS_1
Tiara mengalihkan fokusnya pada handphone miliknya yang berdering.
"Ya, halo?"
"Hem, bisa kita bertemu?" Ucap seseorang
"Hem, ya dimana?"
"Restoran yang tak jauh dari perusahaan mu" jawabnya
"Baiklah, aku akan menghubungimu nanti. Aku sedang sibuk" ucap Tiara
"Ya"
Telepon diakhiri, Tiara memijat pelipisnya. Di harus menata dialog yang akan Ia utarakan nanti.
Setelah itu Tiara kembali fokus pada pekerjaannya. Dia juga harus pergi ke ruangan Ditto untuk meminta tanda tangan, dan beberapa menit kedepan juga akan ada rapat mingguan.
"Sudah siang, apa kau tidak makan?" Tanya Ditto
"Ah, benarkah? Cepat sekali?" Ucap Tiara melihat jam yang melingkar di tangannya, mereka berada di ruangan Ditto membahas tentang proyek baru dengan Xander Group.
"Kau tidak menjawab pertanyaan ku?"
"Hem? Oh, ya aku akan makan siang" jawab Tiara
"Emh, makan siang dimana?" Tanya Ditto
Padahal Ditto berniat untuk mengajak Tiara makan siang bersama, tetapi laki-laki itu sulit sekali untuk mengatakannya langsung.
"Aku akan makan siang di luar, tidak jauh dari perusahaan" jawab Tiara merapikan kertas-kertas di depannya.
"Ma-" ucapan Ditto terpotong ketika Tiara beranjak pamit pergi
"Sudah ya, kita lanjutkan nanti. Aku ada janji, bye" ucap Tiara melihat jam di pergelangan tangannya. Ia segera melangkah meninggalkan ruangan Ditto.
Ditto menatap kepergian Tiara, dalam benaknya ia menerka dengan siapa istrinya itu pergi.
***
Beberapa menit kemudian, Tiara sampai di sebuah restoran yang tak jauh dari kantornya. Di sudut ruangan sudah ada laki-laki tampan, gagah, dengan pakaian formal seperti seorang direktur. Laki-laki itu memiliki wajah yang persis dengan paras Tiara.
"Ada apa?" Tanya Tiara yang langsung duduk di depan laki-laki itu
"Apakah aku perlu bertanya? Bukankah seharusnya kau tahu maksud ku?" Jawabnya
"Baiklah, kau ingin tahu kenapa aku bisa ada di negara ini, dan bekerja disini? (Jawabnya dengan anggukan). Kau tahu bukan jika aku memiliki masalah? (Dia mengangguk lagi), Yap, aku lari ke sini. Aku harus bertanggung jawab dengan masalah yang ku perbuat, dan juga sedang diincar oleh seseorang" jawab Tiara
"Siapa?" Raut wajahnya langsung berubah menakutkan mendengar Tiara diincar oleh seseorang
"Kenapa dia bisa tahu kau ada disini?"
"Entahlah, mungkin pengkhianat lain yang memberitahukan keberadaan ku. Dan saat ini dia sudah melakukan pergerakan"
"Apa kau baik-baik saja selama tinggal disini?" Tanyanya, dia sangat mengkhawatirkan keadaan Tiara
"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja" jawab Tiara
"Benarkah? Aku tidak percaya itu. Ku rasa kau sempat mengalami masalah" ucapnya
"Oh ayolah kak, aku sudah jujur padamu. Hanya masalah kecil itu biasa" jawab Tiara
"Kau pikir aku tidak tahu?" Ucap Devan
Devan Marvino, kakak kedua Tiara suami dari Myandra. Devan seorang wakil Presdir dari Xander Group yang kemarin melakukan kerjasama dengan perusahaan Maximiliano Comp. Selama Tiara mendapatkan hukuman, Devan selalu mengkhawatirkan adiknya itu.
"Jangan lupakan bahwa aku telah menghapus akses kalian berdua terhadapku. Aku tidak suka jika kalian terlalu overprotektif kepada ku" jawab Tiara
"Kau tahu bagaimana sikap kami. Dan berapa lama Daddy menghukum mu?"
"Dua tahun"
"A-apa?! Selama itu? Bukankah tahun depan adalah pergantian pemimpin?" Ucap Devan sangat terkejut, apakah ia bisa tidak mengkhawatirkan adiknya ini?
"Ya, dan itu tergantung pada Daddy. Kita memiliki perjanjian lain, seandainya aku berhasil mengabulkan permintaannya hukuman ku bisa dihapus" jawab Tiara
"Daddy meminta apa padamu?"
"Tidak ku beri tahu, ini adalah rahasia kami. Kau akan tahu jika aku sudah bebas hukuman" jawab Tiara
"Terserah kau saja" Devan sangat tahu betul bagaimana karakter Tiara.
"Aku sudah lapar, kau tidak ingin memesankan makanan untukku?" Tanya Tiara hampir saja melewatkan makan siangnya.
Devan tersenyum,
"Kita akan makan di restoran makanan favorit mu" jawab Devan
"Yes, i'm bloody hungry "
Mereka segera beranjak dari cafetaria menuju sebuah restoran berbintang. Setelah percakapan serius tadi, mereka sudah mengubah topik pembicaraan. Jika intinya sudah terjawab, maka tidak perlu dibicarakan lagi.
***
Di dalam ruangan, seseorang terus berkutat dengan spekulasi negatifnya. Dia terus menduga kemana perginya Tiara, bahkan wanita itu tidak izin padanya.
Ditto menerawang jauh ke luar jendela, perasaannya tidak tenang. Ingin sekali Ia menelpon Tiara dan menanyakan keberadaan wanita itu.
__ADS_1
"Ah! Untuk apa aku harus memikirkannya?" Ucap Ditto menepis keinginannya
Ditto segera meraih jas hitamnya, Ia akan menjemput Sandra untuk mengajaknya makan siang bersama.
"Aku tidak menyangka kamu akan menjemput ku untuk makan siang tanpa ajakan" ucap Sandra
"Bukankah ini juga ajakan?"
Saat ini mereka sudah berada di salah satu restoran berbintang.
"Heem, kamu baik-baik saja kan? Aku lihat wajahmu seperti menunggu seseorang" ucap Sandra mencurigai sikap Ditto
"Ah, tidak. Aku baik-baik saja, hanya masalah kantor" jawab Ditto dan hanya diangguki oleh Sandra.
Sedangkan di ruangan VIP, dua orang yang lama tak bertemu itu bercerita banyak hal. Itulah kebiasaan Tiara sejak kecil dengan keluarganya, menceritakan apa yang pernah ia lewati. Beberapa kejadian yang teringat ia ceritakan kembali pada Devan. Dan Devan selalu menganggap Tiara kecil.
"Oh ya, Mommy menyuruhku untuk membujukmu segera menikah. Bagaimana?" Tanya Devan
"Oh ayolah kak, kenapa kau menyetujui ucapan Mommy? Aku tidak akan menikah dengan pilihan Mommy. Kau tahu, pilihan Mommy sangat bertentangan dengan kehidupan ku" jawab Tiara
"Ya, aku tahu itu. Tidak salahnya kan kau mencobanya?" Bujuk Devan
"Kak ku mohon, jangan bahas itu lagi. Kau pikir tidak ada yang lain?"
"Hahaha, aku tahu betul bagaimana dirimu. Terserah kau saja, kau yang menjalani kehidupanmu dan di keluarga kita juga tidak ada yang namanya perbedaan kasta" ucap Devan
"Ya, kapan kau akan pulang?" Tanya Tiara
"Apa kau mengusirku?"
"Bukan, maksudku pekerjaan mu"
"Mungkin nanti malam aku akan pulang, dan Mya masih akan disini. Dia tidak mau pulang sekarang" jawab Devan
"Oh, ya memang dia masih betah disini"
Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya mereka menyudahi acara makan siang bersama. Tiara harus kembali ke kantor, karena ia merasa sudah terlalu lama makan siang dengan Devan.
Mereka berdua berjalan berdampingan dengan menyita banyak mata dari pengunjung restoran. Banyak yang mengabadikan momen melalui mata mereka, decak kagum pun tak luput dari bibir mereka.
"Apa kau yakin? Aku bisa mengantarkan mu kembali ke perusahaan mu" tawar Devan untuk mengantar Tiara
"Tidak perlu, bukankah kau harus terbang sekarang? Itu lebih penting" jawab Tiara, ya Devan harus memajukan penerbangannya karena ada suatu kendala.
"Tidak apa-apa, aku bisa"
"Tidak, sudah cepat pergilah. Aku membutuhkan uangmu, kau harus menghasilkan uang lebih banyak" ucap Tiara dengan nada candaan
"Tentu, hartaku juga bagianmu. Tugasmu adalah menghabiskan uang" balas Devan
"Uangku tidak akan habis, hahaha" jawab Tiara
"Jaga diri baik-baik, jika ada yang menyakitimu akan ku balas berkali-kali lipat" ucap Devan
"Ya, aku bisa jaga diriku baik-baik" jawab Tiara
Devan merentangkan kedua tangannya agar bisa memeluk adik kesayangannya itu, begitupun Tiara yang membalas pelukan hangat dari Devan.
"I Miss you"
"Miss you too"
Devan semakin mengeratkan pelukannya, Ia sangat berat bila berpisah dengan Tiara. Rasanya air matanya juga ingin ikut mewarnai keadaan.
"Hei, sudah kau ini mengambil kesempatan saja" ucap Tiara untuk melepaskan pelukan mereka
"Tidak mau, aku masih merindukanmu" jawab Devan
"Banyak orang yang melihat kita, lepaskan!"
"Baiklah, aku harus pergi. Aku mencintaimu" ucap Devan
"Aku juga" sebelum Devan benar-benar pergi, Devan menyematkan kecupan hangat di dahi Tiara.
"Bye"
Tiara melambaikan tangannya, ketika mobil Devan benar-benar pergi meninggalkannya di tempat.
"Huh!" Lega Tiara
Tak lama ia juga menghentikan sebuah taksi untuk membawanya kembali ke kantor.
***
Ditto dan Sandra juga menyelesaikan makan siang mereka. Disaat itu mata Ditto tak sengaja melihat pemandangan yang sangat mengganjal. Berulangkali dia meyakinkan bahwa apa yang dilihatnya itu salah. Dan apa yang mereka lakukan? Berpelukan bahkan mencium dahi? Ingin rasanya Ditto segera meraih wanita itu dan membawanya pergi jauh.
"Kamu kenapa?" Tanya Sandra
"Hah? Tidak" jawab Ditto
Pendengaran Ditto masih ditempat yang sempurna. Perkataan yang hanya ia terima bagian akhirnya saja membuatnya kesal. Tidakkah wanita itu berselingkuh? Ataukah ingin membalasnya seperti yang ia lakukan sekarang ini?
...****************...
**Kenapa lu, cemburu? Dih, padahal sampingnya cewek seksi. Cuma liat begitu aja udah panas 😏
Part ini nulisnya kelebihan😭**
__ADS_1