
Sungguh terkejut nya mereka, Sandra tak bisa mengendalikan keterkejutan nya. Dia tak menyangka akan bertemu dengan Tiara ditempat seperti ini, dan Ditto yang menyiratkan sebuah tanda tanya. Namun Tiara bersikap tenang, dia tak terkejut bertemu dengan dua orang di depannya.
" Biarkan mereka yang mengambilnya, kau bisa memilih yang lain" ucap Tiara
"Tidak mau, aku sedang hamil bukankah keinginan ibu hamil harus segera dituruti? Aku mengidamkan tas ini" Ucap Mya yang seperti hendak menangis
"Tapi saya juga menginginkan tas ini, anda jangan memakai kehamilan anda untuk mendapatkan apa yang anda inginkan!" ucap Sandra
' Merepotkan sekali ' batin Tiara
"Kalau begitu kita buktikan siapa yang bisa membeli tas ini" Mya sedikit menantang Sandra
"Baik, nona berapa harga tas ini?" Tanya Sandra pada karyawan tadi
"Harganya $5 juta" jawab karyawan itu
Sandra terkejut mendengar harganya, sangat mahal. Bahkan gajinya sebagai aktris saja butuh waktu bertahun-tahun untuk mendapatkan uang sebanyak itu.
"Kak, itu sangat mahal" ucap Tiara agar Mya mengalah
"Sayang kamu mau membelikannya untuk ku kan?" Tanya Sandra pada Ditto
Ditto enggan menjawab, bukan masalah nominal uang sebesar itu. Namun, jika Papa nya tahu ia mengeluarkan uang sebanyak itu dia pasti akan di sidak lagi. Apalagi untuk Sandra, wanita yang jelas jelas ditentang oleh orang tuanya.
"Ra, please! I want to have this bag, buy it for me" mohon Mya pada Tiara
"Buy another one, it's too expensive. Biarkan nona ini yang mengambilnya!" jawab Tiara dengan tegas
"No–"
"Beli atau tidak?!" Ucap Tiara memotong ucapan Mya
"Ya, baiklah. Aku akan mengambil tas itu" ucap Mya dengan asal tunjuk
"Ditto kau akan membelinya untukku kan?" Tanya Sandra ia sangat berharap, karena Mya sudah mengalah jadi tas ini akan menjadi miliknya.
"Tidak"
Sandra terkejut ia menjatuhkan rahangnya menatap Ditto
"Bukankah kamu tadi janji akan membelinya untukku?"
"Tidak"
"Permisi nona ini tas anda, totalnya $100.000" sela pegawai toko tas yang memberikan paper bag berisi tas yang dipilih Mya tadi.
"Ha? Tas seperti itu saja $100.000? Yang benar saja?" Ucap Mya, menurutnya tidak wajar karena hanya tas biasa dan itupun seperti replika. Biasalah, jiwa manusia diskonan.
"Apakah anda tidak mampu membayarnya nona?" Sarkas Sandra
"Jaga ucapan mu ya, bagaimana denganmu yang berebut dengan ku? Gayanya glamor namun juga tak mampu bayar, malah mengandalkan pacar!" telak Mya membuat Sandra sedikit panas
"Kau?!"
"Ayo kak" ajak Tiara, Mya segera meraih paper bag itu dengan menatap sinis ke arah Sandra. Kemudian mereka segera meninggalkan store tas itu.
Ditto yang diam saja sedari tadi hanya memerhatikan tiga wanita didepannya. Namun, entah kenapa Ia malah tertarik ke arah Tiara. Wanita itu sangat tenang, bahkan auranya sangat berbeda.
***
Mya masih kesal, Ia terus menghentakkan kakinya. Dia kesal dengan kejadian di mana memperebutkan tas tadi, harapannya untuk membeli tas limited edition terbatas harus pupus.
"Kenapa? Ha, masih kesal batal membeli tas LE terbatas?" Tanya Tiara yang sedang mendorong troli belanjaan. Karena mereka sekarang sedang berbelanja kebutuhan dapur.
"Hanya tas dengan harga sekian itu murah bagimu, apalagi hanya satu." Jawab Mya
"Ya, memang harga kecil. Namun, kau tahu bahwa kita tadi berhadapan dengan Tuan muda Maximilian. Dan kau tahu? wanita tadi adalah kekasihnya" jelas Tiara yang membuat Mya sangat terkejut.
"APA?! Yang benar saja? Dia sudah mempunyai kekasih, tapi kenapa-?" Tanya Mya yang sangat terkejut
"Orang tuanya tidak merestui hubungan mereka, dan orang tuanya malah menjodohkannya dengan ku" jawab Tiara dengan tangannya yang mengambil suatu barang
"Kau sudah tahu masalah ini, jadi kau tahu apa yang harus kau lakukan?" Ucap Tiara seperti memperingatkan Mya
"Apapun yang dihadapi Tiara dan kita tahu masalahnya, dilarang keras untuk berbicara. Dan tidak boleh ikut campur kedalamnya, kecuali Tiara sendiri yang mengijinkan" ucap Mya menirukan ucapan mutlak dari Tiara
__ADS_1
"Good sister"
Mereka kembali berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari. Tak lupa beberapa keperluan ibu hamil itu.
Selesai berbelanja dengan membutuhkan lima kantong plastik, mereka berhenti disebuah stand cafe untuk mengisi perut mereka. Setelah itu kembali pulang ke apartemen Tiara.
Berbeda dengan Ditto dan Sandra mereka sudah kembali ke apartemen Sandra setelah bertengkar memperebutkan tas dengan Mya tadi. Sandra masih merasa kesal dengan Mya dan juga Tiara.
"Aku tidak menyangka bahwa manager baru di kantor kamu ternyata memiliki saudara yang menyebalkan. Dan juga kenapa sikapnya sangat berbeda" keluh Sandra
Ditto hanya diam mendengarkan Sandra, karena ia juga berpikir sama seperti itu. Karyawan baru itu di kantornya sangat berbeda, beda di kantor dan beda juga di luar kantor.
"Firasat aku kalau dia itu nggak baik, pasti dia punya maksud lain. Atau mungkin, tadi dia sengaja mengikuti kita dan berpura-pura bertemu tanpa sengaja!" tuduh Sandra
Ditto masih diam, Ia tak menanggapi ucapan kekasihnya itu. Entah apa yang membuat Ditto harus melamun.
"Sayang, apa kamu mendengarkan ku?" Tanya Sandra yang menyadarkan Ditto dari lamunannya
"Hah?, iya"
"Aku pulang" pamit Ditto meninggalkan Sandra yang masih kesal.
Di dalam mobilnya Ditto masih terpikirkan tentang Tiara, dan juga ucapan Papa nya beberapa waktu lalu bahwa pernikahannya akan segera dilaksanakan. Laki-laki itu ingin sekali menentang, ingin sekali pergi jauh, namun ia juga tak ingin mengecewakan wanita yang sudah melahirkannya.
Bruk!
Myandra menubrukkan tubuhnya di sofa tamu. Rasanya sangat melelahkan. Akhir-akhir ini ia merasa seperti sangat lelah, apalagi sejak dirinya hamil rasanya ingin selalu dimanja dan diperhatikan.
"Wah, apa ini?" Ucap Mya melihat ada tiga paperbag di atas meja depannya.
"Lihat saja" pinta Tiara
Myandra pun membuka paperbag itu, karena ia sangat penasaran.
"WHAT! Ini serius? Siapa yang membelinya?" Tanya Mya dengan heboh saking terkejutnya, ada rasa senang juga.
"Aku yang membelinya" jawab Tiara meletakkan belanjaan mereka
"Benarkah? Kau membeli ketiganya?" Dan diangguki oleh Tiara
"Ya, satu untukmu, kak Zia, dan aku" ucap Tiara
"Haha,, bahkan Mommy yang membooking ketiganya"
"Kenapa bisa?Bagaimana dengan yang di store tadi? Apakah itu Palsu?"
"No! Itu asli. Sebenarnya aku tak menginginkan tas itu, maka dari itu Mommy menyisakan satu. Tetapi ternyata dia juga menginginkannya, anyway saat aku membayar tas kau tadi, aku mengucapkan kode milik Mommy. Dan mereka membungkusnya untukku" jelas Tiara
"Wow, hebat banget. Terima kasih,, uuh jadi sayang deh!" ucap Mya yang langsung meluk Tiara
"Ya ya, tapi ini nggak gratis" jawab Tiara melemparkan senyum smirk nya
"Ish!, kebiasaan. Ya sudah mau apa?" Myandra paham betul jika Tiara akan meminta imbalan
"Carikan aku orang tua palsu"
"Hah? Untuk apa? Mommy sama Daddy masih hidup" jawab Mya cukup terkejut
"Ini urusanku, dan pastikan mereka cukup setara dengan statusku sekarang. Aku harap lusa mereka bisa ada disini" ucap Tiara
"Oke, itu masalah gampang. Aku pastikan kalau besok pun juga sudah siap" jawab Mya, dan Tiara mengangguk
Mereka melakukan aktivitas masing-masing dengan Tiara merapikan barang belanjaannya untuk ditata dengan rapi.
Di saat langit berubah petang, seorang gadis hidup di sebuah kamar gelap dan terlihat sangat rahasia.
Tiara merubah keadaan kamarnya dalam mode gelap hanya ada cahaya dari laptop. Tiara meraih laptopnya, dengan cepat sepuluh jarinya menari diatas keyboard dan menampilkan bermacam-macam kode. Di dalam laptopnya menggambarkan banyak kode yang hanya dapat dimengerti oleh Tiara.
Di sisi lain Tiara, dia sebenarnya memiliki sebuah nama samaran. Axel, yaitu seorang hacker. Mudah bagi Tiara untuk membunuh musuh-musuh perusahaannya, namun jarang ia menggunakannya karena mereka semua dengan sendirinya akan mundur.
Sekarang ini yang Tiara lakukan adalah mencoba untuk mengotak-atik sistem gangster nya, karena sudah lama ia tidak memantau perkembangan gangster nya.
Tiara menemukan banyak kemajuan selama ia tidak memantau markas. Untung saja Daddy nya masih memiliki kewarasan untuk menggantikannya sementara. Selesai mengecek tentang markasnya Tiara mengembalikan mode kamarnya. Setelah itu ia langsung beristirahat di kasur kesayangannya.
Sudah hampir seminggu ini Ditto kembali tinggal di rumah utama Maximilian. Dan sekarang ini ia berada di kamarnya. Seminggu yang lalu Mama Fina memaksa Ditto untuk kembali ke rumah utama, karena sebentar lagi dia akan menikah.
__ADS_1
Tok tok tok
Pintu kamar Ditto diketuk, dan muncullah wanita cantik kesayangannya.
"Ada apa Ma?"
"Mama ingin bicara dengan kamu" jawab Mama Fina, Ditto mengajak Mama nya untuk duduk di sofa.
"Mama ingin memberitahu kamu bahwa lusa kita akan menemui orang tua Tiara, karena pernikahan mu dan Tiara akan segera dilaksanakan" jelas Mama Fina
"Bisakah aku berpendapat?" Tanya Ditto, Ia merasa seperti boneka yang hanya bisa dimainkan oleh pemiliknya.
"Tentu, tapi kami sudah tahu bahwa kamu pasti akan menunda-nunda perjodohan ini. Kamu pasti akan membuat seribu satu alasan agar pernikahan ini dibatalkan" ucap Mama Fina
"Mama tahu bagaimana hubungan kamu sama model itu. Tetapi, sebisa mungkin Mama dan Papa menutupi tingkah kamu karena untuk memberi muka kamu pada publik. Mama tidak ingin menantu Mama akan tersakiti nantinya, jika tahu perbuatan mu yang menjijikkan" sambung Mama Fina
"Mama harap kamu bisa mengerti, kita sudah semakin tua dan kamu anak satu-satunya. Kami hanya bisa berharap padamu, jangan kecewakan kami." Ucap Mama Fina menepuk pundak Ditto yang kemudian bangkit meninggalkan kamar Ditto.
Ditto hanya diam, Ia tak menjawab atau menyambung ucapan Mama nya. Pikirannya ikut kalut, kepalanya pening serasa dihantam benda keras. Ditto menyurai rambutnya dengan jemari nya yang kemudian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya itu. Frustasi.
***
Pagi hari,
Seperti biasa setiap pagi selalu Mya yang menyiapkan sarapan. Sepotong sandwich telur dan susu tersaji di atas meja makan. Tak lama kemudian Tiara menghampiri Mya di dapur dengan pakaian yang sudah rapi. Hari ini Ia akan kembali bekerja setelah berlibur satu hari.
"Apa yang ku minta kemarin sudah kau siapkan?" Tanya Tiara sembari menarik kursi untuk ia duduki.
"Sudah, nanti mereka akan tiba di hotel milik Xander. Beberapa kamera disana sudah aku retas, dan juga orang yang menjadi orang tua palsu mu tidak akan ada yang mengenal mereka lagi setelah kontrak kerja sama dengan mu" jelas Mya
"Maksudnya?"
"Ya, aku sudah memanipulasi wajah mereka. Agar nantinya mereka tidak di curigai dan begitupun kau. Setelah mereka selesai berurusan dengan mu, aku akan mengantar mereka ke wilayah terpencil." Jelas Mya
"Bagus, itu yang aku harapkan. Jangan sampai ada orang yang mencurigai mereka, karena aku tidak ingin mendengar bahwa ada informasi bocor"
"Iya, dan aku nanti akan menemui mereka untuk melatih mereka mengenal mu. Agar nanti mereka bisa membiasakan diri tentu memanipulasi wajah mereka"
"Hem"
Di lain tempat, suasana hening menyelimuti ruang makan Maximilian. Mereka makan dengan tenang tanpa ada pembicaraan lain.
"Ditto, jangan sampai melupakan apa yang Mama ucapkan kemarin" ucap Mama Fina setelah menyelesaikan makannya.
"Hem"
"Ini semua demi kebaikanmu, terbukti kan apa yang Papa janjikan? Papa tidak pernah menyentuh model itu bahkan karirnya semakin bertambah!" imbuh Mama Fina.
Apa yang diucapkan Mama Fina ada benarnya. Memang Papa Zyan menjanjikan Ditto tidak akan mengusik Sandra lagi, apabila Ditto mau menerima perjodohan ini. Dan sebaliknya jika nanti pernikahan Ditto hancur, dengan alasan wanita itu. Jangan harap Papa Zyan akan memberikan Sandra membuka mata esok hari.
"Ditto berangkat" pamit Ditto yang langsung pergi meninggalkan orang tuanya.
Mama Fina menatap sebal pada putra semata wayangnya itu. Bersikap dingin, acuh, dan sedikit irit bicara persis suaminya.
Sesampainya di kantor Ditto langsung disambut hormat oleh beberapa karyawan yang berpapasan. Begitu juga dengan Reza, sekertaris nya itu menunggu Ditto di pintu masuk.
Ditto tak menanggapi sapaan para karyawannya, dan begitupun karyawannya sudah terbiasa dengan sikap Ditto.
"Jadwal anda pagi ini menandatangani beberapa dokumen dan akan ada pertemuan dengan perusahaan Pratama pada saat makan siang, setelah itu membahas proyek dengan perusahaan Xander Group" rinci Reza memberitahu jadwal kegiatan Ditto
"Hem" jawab Ditto
Dalam hati Reza sudah memaki sahabatnya ini, untung saja bos-nya. Panjang lebar ia menjelaskan pekerjaan Ditto namun hanya dibalas deheman.
Ditto berjalan menuju ruangannya, saat melewati ruangan Tiara ia sedikit melirik. Dan disana sudah ada Tiara yang fokus pada layar monitor.
Ditto duduk di kursi kebesarannya. Dan diatas mejanya sudah siap dengan setumpuk dokumen dan laporan penting.
"Semua dokumen ini harus diselesaikan sebelum makan siang" ucap Reza
"Berisik!" sahut Ditto
"Apa? Hanya tanda tangan saja" ucap Reza
"Ku harap pekerjaan mu segera selesai, karena masih ada beberapa dokumen lagi" timpal Reza yang pergi meninggalkan ruangan Ditto.
__ADS_1
...****************...
Permainan akan segera dimulai, selamat membaca 🤗