
Pantas saja sedari tadi Tiara merasakan perasaannya yang tidak enak. Ternyata tujuan dari undangan atasannya untuk itu.
Padahal mereka tidak tahu siapa Tiara, Apa identitas nya? Dan yang mereka ketahui hanya palsu.
Beberapa menit yang lalu Tiara sampai di dalam apartemen miliknya. Setelah mengganti pakaiannya menjadi pijama tidur dan membersihkan makeup serta mencuci kedua kaki dan tangannya.
Tiara merebahkan tubuhnya di kasur king size miliknya. Ia merasakan pusing pada kepalanya. Sungguh hari melelahkan dan mengejutkan.
Hari pertama bekerja sudah mendapatkan hadiah istimewa.
Percakapan beberapa menit lalu masih terngiang-ngiang di otak Tiara. Atasannya berniat menjodohkannya dengan putra semata wayang mereka .
Menikah? Secepat ini?
Flashback~
"Memangnya Papa ingin menjodohkan Ditto dengan siapa?" Tanya Mama Fina
"Papa akan menjodohkan dengan Tiara"
"SETUJU!"
Mama Fina terlihat senang, bahkan air mata tangisnya sudah kering. Beliau dengan semangatnya menyetujui keputusan suaminya itu.
"Apa?!" Ditto dan Sandra cukup terkejut, bahkan mata Sandra sudah berkaca-kaca mendengar ucapan orang tua Ditto yang hendak menjodohkan kekasihnya.
Tiara? Dia shock sekali. Dia mematung tanpa berkedip, mungkin bisa disebut patung hidup karena bernapas.
Kenapa dirinya harus terjebak di situasi sulit ini? Kenapa harus dirinya? Apa apaan ini, kenapa dirinya harus disangkut pautkan?
"Apa?! Dengan dia maksud Papa?" Tanya Ditto seketika bangkit dari duduknya sembari menunjuk Tiara.
"Ya, karena wanita seperti Tiara lebih bermoral tidak seperti wanita disamping mu itu!" Tegas Papa Zyan
"Pa! Sandra tidak seperti yang Papa pikirkan. Dan Ditto tahu mana yang baik untuk Ditto!" setelah mengatakan itu Ditto langsung mengajak kekasihnya pergi, karena Sandra sudah terisak menangis.
"Huh"
"Tiara maafkan saya, kamu harus terlibat dalam masalah ini" ucap Papa Zyan sesal
Namun Tiara tak bergeming, ia masih fokus pada lamunannya. Banyak hal yang berkecamuk di dalam otaknya. Bahkan rasa kepalanya ingin pecah.
"Tiara, kamu kenapa?" Tanya Mama Fina menyentuh pundak Tiara
"Hah? Apa?" Sadar Tiara dari lamunannya
"Kamu gak apa-apa kan?"
"Saya tahu ini cukup mengejutkan untuk kamu, tapi saya mohon sama kamu untuk membantu saya. Saya mohon bantuan kamu" ucap Papa Zyan
Flashback~~
***
Mentari telah menyambut pagi yang cerah. Lupakan sejenak masalah, kita sambut masalah baru. Eh, hari baru.
Tiara bersiap untuk pergi bekerja. Dengan adanya Myandra ia tak perlu repot-repot untuk memasak. Karena calon ibu itu sudah menyiapkan sarapan untuk Tiara.
"Pagi Kak, pagi baby" sapa Tiara yang tak lupa mengelus perut Myandra
"Pagi juga Mommy" balas Mya menggunakan suara bayi
"Kau ini ada ada saja, aku belum menikah"
Tiara memilih tempat duduk berhadapan dengan Mya
"Ya, tidak ada salahnya. Bukankah anak kak Leon juga memanggilmu seperti itu? Dan ku harap memang benar kau akan segera menikah"
Oh ****. Bayangan semalam terlintas lagi dalam otak Tiara. Bagaimana peristiwa tentang perjodohan dadakannya
"Menikah dari mana? Kekasih saja tidak punya. Aku tidak boleh sembarang menikah ya" jawab Tiara
__ADS_1
"Ya ya ya, maka dari itu kau harus segera mencari pendamping hidup"
"Aku merasa bosan tinggal di apartemen. Temani aku" pinta Mya
"Yak, aku harus bekerja. Mungkin weekend akan ku usahakan" jawab Tiara dengan mengoleskan selai pada roti di piringnya
"Tapi maunya sekarang!" Rengek Mya makin menjadi
"Oh god! Aku tidak bisa, setelah pulang kantor ya?" Bujuknya
"Tidak mau!"
"Aku benar-benar tidak bisa. Kau tahu aku tidak memiliki seorang pun disini"
"Kalau begitu, kau harus menemani ku! Tidak mau tahu" tegas Mya
"Ya sudah begini saja, nanti siang kau ke kantorku saja bawa makan siang sekalian" ucap Tiara, untung kakaknya sedang hamil jadi dia harus memaklumi itu. Apalagi salah satu permintaan ibu hamil tidak boleh ditolak.
"Oke" senang Mya
"Hem, aku berangkat dulu, hati-hati" pamit Tiara
"You too"
Tiara menghentikan sebuah taksi untuk menuju kantor Maximiliano Comp. Sekarang masih jam tujuh kurang. Jalanan masih cukup lenggang, untung saja letak perusahaan Maximiliano tidak terlalu jauh.
Setelah menempuh waktu dua puluh menit. Akhirnya Tiara sampai di perusahaan. Ia segara menaiki lift menuju ruangannya.
Banyak orang yang saling tegur sapa. Tak arang Tiara membalas mereka dengan senyum tipisnya.
Berbeda bila kedatangan Ditto. Mereka tak akan berani melirik sedikit pun. Wajah datar, dingin, dan tatapan tajamnya sangat menakutkan bagi mereka.
Ditto berjalan ke arah lift khusus petinggi perusahaan dan juga ia di dampingi oleh Reza.
"Hari ini tugas saya apa?" Tanya Ditto saat denting lift terdengar
"Tidak ada" jawab Reza, ada rasa heran pada Ditto. Jarang sekali jika tidak ada pekerjaan lainnya.
Saat Ditto membuka pintu ruangannya, ia dikejutkan dengan seseorang yang menempati kursi kebesarannya. Laki-laki yang tak kalah tampan darinya
"Aku tidak bisa pergi" jawabnya, namun Ditto mengangkat alis sebelahnya seakan memberi pertanyaan.
"Tanyakan saja pada sekertaris mu", Ditto menoleh kearah Reza
"Benar yang dikatakan tuan Andreas, karena mulai sekarang anda akan digantikan oleh tuan Andreas. Tuan Zyan sudah mencabut jabatan anda dari Maximiliano Comp. Tuan Zyan juga melarang anda untuk datang ke perusahaan lagi, beliau juga memblokir beberapa akses anda" jelas Reza mengatakan apa yang harus dikatakan, saat Papa Ditto menelponnya tengah malam.
"Apa?"
"Sorry dude, aku tidak tahu apa alasannya untuk menggantikan mu" ucap Andreas mendekat pada Ditto dan menepuk pundak Ditto.
Andreas Prarama, atau sering lebih di kenal dengan Reas. Ia adalah sepupu Ditto, dua tahun lebih tua dari Ditto. Ia juga mempunyai perusahaan sendiri, Pratama Comp, namun perusahaan itu tak sejaya Maximiliano Comp.
"Hm"
Ditto teringat sesuatu, ia segera pergi tanpa sepatah katapun menuju sebuah ruangan dan meninggalkan dua orang yang bingung dengan sikapnya.
Dalam hati Ditto sudah mengucapkan sumpah serapah pada orang yang berhasil mengacaukan kehidupannya. Orang asing yang tiba-tiba datang dan menghancurkan kehidupan yang ia jalani.
Tiara sudah berada di ruangannya, ia sedang menerima panggilan telepon dari orang kesayangannya.
"Pagi Mom, ada apa?"
"Anak kurang ajar, apa kau masih ingat jika masih memiliki Mom? Kenapa kau tidak pernah menghubungi Mom?" Kesal orang seberang. Tiara merindukan suara ini, suara wanita paruh baya yang berjuang melahirkannya.
"Aku sangat sibuk Mom" jawab Tiara
"Sesibuk apa kamu? Sudah tidak di kasih akses kenapa semakin sibuk?"
Mommy Tiara sangat merindukan anak gadisnya. Sudah satu bulan lebih dia tidak bertemu dengan Tiara, jangankan satu bulan dulu hanya satu hari tidak mendengar kabar anaknya itu Mommy Tiara sudah menangis seharian.
"Aku sedang bekerja Mom, aku baru masuk dua hari ini. Dan ya aku juga melupakan itu" jawab Tiara sembari ia membaca beberapa berkas.
__ADS_1
"Aih, kasihan sekali anak Mom. Atau kau menerima tawaran Mom saja?" Mom Tiara memberi pilihan agar anaknya kembali pulang
"Tawaran apa? Aku tidak suka jika tidak menguntungkan"
"Menikah, kau menikah dengan anak teman Mom. Dan kau bisa bebas dari hukuman Dad" tawar Mom
"No! Kenapa Mom menginginkan ku menikah?"
Oh Tiara benar benar harus terjebak dalam 'pernikahan'. Ia memijat pelipisnya merasakan stres pada kepalanya. Tidak cukupkah semalam ia dikejutkan dengan tawaran menikah.
"Ayolah sayang apa susahnya menikah? Mom sangat ingin melihat mu menikah"
"Lebih baik aku tidak akan pernah pulang"
"Kenapa sayang, Mom mohon ya kamu mau?"
"Ya, aku akan menikah tetapi tidak sekarang, Mom tahu pekerjaan ku banyak. Sudah satu bulan aku meninggalkan perusahaan, belum lagi meskipun aku di block oleh Dad, tapi aku masih memegang kendali. Tolong Mom mengerti sedikit" ucap Tiara
"Tenang saja, Mom akan bujuk Dad agar meringankan hukuman mu"
"Ya, dan aku tidak berharap itu berhasil"
"Mom yakin ini akan berhasil, tapi kamu harus mau menerima tawaran Mom"
"Terserah Mom saja, Mom akan tahu akibatnya jika memaksa anak mu ini" jawab Tiara sedikit tawa tipis
"Kau sama saja keras kepala seperti Dad mu"
"Tentu, karena aku putrinya"
"Berapa lama Dad menghukum mu?" Tanya Mom
"Dua tahun, Dad mengusirku selama dua tahun." Jawab Tiara
"Hah! Apa? Kenapa lama sekali? Apa Daddy-mu itu sadar dengan tindakannya? Kau harus melaksanakan kewajibanmu sebentar lagi, Daddy-mu sungguh keterlaluan. Bukankah perjanjian kalian saat kau genap dua puluh lima tahun? Itu artinya tahun depan" Ucap Mom yang tak habis pikir dengan pikiran suaminya
"Ya.. sebagai calon Ratu baru aku juga harus bertanggung jawab dengan apa yang ku perbuat. Dan aku sekarang sedang-"
Tiba-tiba saja pintu ruangan Tiara terbuka. Dengan sigap Tiara langsung mematikan sambungan teleponnya. Kemudian dari balik pintu itu menampilkan lelaki yang ia jumpai semalam. Dengan langkah lebar Ditto mendekati meja Tiara dengan raut wajah yang sulit diartikan.
Tiara bangkit dari duduknya, ia segera menyapa lelaki itu.
"Selamat pagi Tuan, ada yang bisa saya bantu?"
"Kau yang meminta Papa untuk memblokir ku?" Tanya Ditto to the poin
Apa?
Alis Tiara mengerut, ia tak paham maksud lelaki itu
"Maaf, saya tidak paham apa yang anda bicarakan" jawab Tiara
"Munafik!" Ucap Ditto kemudian berlalu pergi meninggalkan ruangan Tiara.
Tiara menatap heran , ada apa dengan CEO itu. Bertanya hal aneh, mengoloknya, dan pergi. Sangat membingungkan. Sudahlah, Tiara tak ingin memikirkan itu lebih baik ia kembali bekerja.
***
Tanpa Tiara sadari, ternyata jam menunjukkan pukul satu siang. Tak terasa bahwa saatnya makan siang. Beberapa menit yang lalu Myandra menghubungi Tiara bahwa dia sudah berada dalam perjalanan menuju perusahaan yang ditempati oleh Tiara. Dan saat ini mereka sudah menyantap makan siang bersama.
"Ada yang ingin ku tanyakan padamu, kak" ucap Tiara setelah menelan makanan di mulutnya.
"Hm?"
"Kau kesini tidak memberitahu ku, apa kau tidak takut dengan ancaman Daddy?" Tanya Tiara, ia merasa ganjal dengan kedatangan tiba-tiba Myandra kemarin. Mya menatap Tiara dengan was was dan meletakkan alat makannya.
"Ekhem, sebenarnya aku tidak bisa jauh darimu, aku sangat khawatir dengan keadaan mu disini. Dan lagi tidak perlu khawatir dengan ancaman Daddy. Daddy sudah memperbolehkan aku menyusul mu" jawab Mya
"Benarkah? Bukankah Daddy sangat melarang itu? Kenapa Daddy mengijinkan mu?" Tanya Tiara
"Ya, karena Devan juga akan ada kontrak kerja sama di negara ini maka dari itu Daddy memberikan izin. Sebenarnya bukan hanya itu saja, ada berita lain yang ingin kau tahu" ucap Mya
__ADS_1
...****************...
Hai, Terima kasih untuk kalian yang udah baca cerita aku. Dan maaf jika ada penulisan yang salah, karena aku ngasal hanya dari angan-angan aja 😅😅