
Kini pembicaraan mereka mengarah ke hal yang lebih serius. Tiara sudah memasang sebuah peredam suara di ruangannya. Jadi akan aman, bukan maksud tertentu tetapi Tiara takuti jika ada rahasia yang bisa saja didengar oleh orang lain.
"Ada apa?"
"Ini serius sangat penting. Setelah akses kau dicabut, seluruh gangster bagian Utara bersatu dan menyeru ingin berperang dengan kelompok kita setelah mereka tahu bahwa kau di blokir, dan mereka menggunakan kesempatan ini untuk menyerang kita. karena mereka tahu kau jenderalnya sebuah pion utama yang tidak akan pernah bisa mereka tembus. Dan Dad sekarang sedang menghadapi kegaduhan yang mereka buat."
Tiara terkejut mendengar ucapan Myandra, Ia tak tahu jika ada masalah sebesar ini. Bahkan Dadnya tidak segera mengabarkan jika ada masalah.
"Beberapa markas kecil di Utara juga sudah diratakan dengan tanah. Dad memilih jalan tengah untuk mengajak mereka berdamai dengan gencatan senjata. Namun, mereka malah membabi buta untuk melengserkan mafia kita"
"Kenapa Daddy tidak memberitahu ku? Dan ini bukan masalah sepele. Dari dulu gangster bagian utara memang tidak pernah bisa untuk diajak berdamai. Mereka lebih mementingkan sebuah nama dan pengakuan. Jika kita menyetujui ajakan perang mereka, sudah pasti akan menjadi pertumpahan darah "
"Kau benar, mereka tidak bisa diajak untuk berdamai tanpa peperangan dan menentukan siapa pemenangnya. Kita tidak bisa mengalahkan mereka sendiri, meskipun perkembangan IPTEK disana kurang maju. Tetapi mereka memiliki banyak akal untuk membunuh"
"Ya, dan tidak segampang yang kita tahu. Jika para mafionso yang lain terhasut itu akan lebih parah lagi. Dan peperangan ini tidak bisa dihindari"
"Kau harus memberikan ultimatum untuk mereka. Itu bisa membantu untuk menunda peperangan, kau bisa menyelesaikan masalahmu disini." Jelas Myandra
"Baik, akan ku pikirkan lagi. Tetapi masyarakat disana menganut paham anarkisme, cukup sulit jika kita menyerang mereka bila nanti akan ditentang dengan pemerintah" ucap Tiara
"Benar juga, pemerintahan juga akan ikut andil dalam peperangan ini"
"Tunggu lelaki tua itu untuk menghubungi ku, maka aku akan membantu" ucap Tiara dengan senyum
Ya, meskipun ia tahu jika Daddy nya tak akan mungkin menghubungi nya karena sangat gengsi akut.
"Mana mungkin, karena Dad sangat tinggi gengsi" jawab Mya
"Ya, aku tahu itu"
"Oh ya, bagaimana dengan keadaan perusahaan mu? Sudah lama aku tidak mendapat kabar dari Peter" tanya Mya dengan meminum minumannya.
"Baik, tapi semakin sibuk. Karena aku sedang mengembangkan perusahaan secara besar-besaran ke seluruh dunia. Dan Peter yang menghandle selama aku tidak ada" jawab Tiara
"Oh begitu, sayang sekali karena aku juga harus mengundurkan diri sebagai sekertaris mu di perusahaan Daddy" Ucap Myandra yang menyayangkan pekerjaannya dengan Tiara
"Ya"
"Kau sangat merepotkan" cibir Mya
"Hem"
"Oh ya tadi pagi Mom meneleponku" ucap Tiara memberitahu Myandra
"Lalu? Dia mengatakan kalau kau diminta untuk segera menikah, dengan anak dari teman Mom?" Jawab Mya
"Kenapa kau bisa tahu?"
"Ya, karena kita semua diminta untuk membujukmu menerima tawaran Mom" jawab Mya
__ADS_1
"Yak! Astaga!"
Apa-apaan Mommy-nya itu, kenapa Ia harus terus dipaksa untuk segera menikah? Bisakah, pernikahan di nomor duakan saja? Ia masih belum memikirkan tentang kehidupannya selanjutnya. Apalagi bos pemilik perusahaan ini juga memintanya untuk menikahi anaknya.
"Memangnya kenapa? Apa kau sudah memiliki kekasih?" sahut Mya
"Kau tahu? (Mya menggelengkan kepalanya) kemarin malam, kau ingat waktu dimana aku diundang untuk makan malam dengan pemilik perusahaan ini? Beliau meminta untuk aku menikah dengan anaknya, dan semalam Tuan Maximilian berniat menjodohkan ku" ucap Tiara menceritakan kejadian semalam
"Apa? Benarkah?" ucap Mya terkejut dengan penjelasan Tiara
"Rasanya kepalaku sakit jika memikirkan tentang 'pernikahan' kenapa mereka meminta ku untuk menikah?" ucap Tiara memijat pelipisnya dan menubrukkan punggungnya ke sandaran sofa.
"Aku hanya memberimu saran, lebih baik kau menerima tawaran Tuan Maximilian daripada tawaran Mom. Sudah pasti jika menyangkut Mom, orang itu akan tahu siapa kamu. Sedangkan keluarga Maximilian tidak tahu siapa identitas mu"
"Kau ada benarnya juga. Jika sampai salah langkah, sudah pasti akan terjatuh" sahut Tiara
"Tetapi bagaimana dengan Daddy? Negara ini sudah di sabotase oleh Daddy, jadi pergerakan ku pasti diawasi" ucap Tiara
"Tenang saja, Daddy pasti akan mengijinkan mu. Apakah di keluargamu memandang kasta? Tidak bukan?" jawab Mya
"Benar, tidak ada syarat khusus untuk menjadi anggota keluarga ku" ucap Tiara, membuat mereka tertawa bersama.
Setelah menghabiskan waktu makan siang bersama Myandra. Tiara kembali fokus pada pekerjaannya.
***
Ditto benar-benar kesal dengan sikap Papanya yang keras kepala dan suka mengatur. Ia menceritakan kejadian dimana posisinya digantikan oleh sepupu dan seluruh aksesnya yang dicabut pagi tadi pada sang kekasih.
Menyebalkan
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya gadis cantik didepannya
Setelah rumah dan apartemennya disita oleh Papa nya, Ditto memutuskan untuk tinggal sementara di apart sang kekasih. Ia tidak tahu harus kemana, hanya kekasihnya yang mau membantunya terlepas dari semua perilaku keluarga Ditto.
"Aku gak pa-pa" jawab Ditto
Ditto hanya diam, merenung. Entah apa yang ia pikirkan yang jelas ada rasa benci yang mendalam.
Ditto tak habis pikir dengan Papanya yang menjodohkannya dengan wanita lain. Zyan beralasan itu demi kebaikannya. Tapi selama ini Ditto tidak merasakan kebahagian dengan keputusan Papanya.
Bahkan Ia sendiri merasa seperti boneka bagi Papanya itu. Sedari kecil Ditto selalu mematuhi apapun yang dikatakan oleh Papa Zyan, bahkan teman saja harus diatur oleh Papa Zyan.
"Maafkan aku, karena aku, kamu harus menanggung beban" lirih sandra
"Itu bukan salah kamu" Ditto tersenyum menenangkan kekasihnya. Karena ini adalah salah Papa nya yang hendak menjodohkannya.
"Sekarang apa rencana kamu?"
Dito menoleh ke sang kekasih
__ADS_1
"Aku akan temui Papa, maaf merepotkan"
"Tidak, kita bisa melewati ini bersama" Sandra menggenggam erat tangan Ditto memberikan semangat.
"Aku hanya pinta kamu untuk selalu ada disamping aku. Hanya kamu yang aku harapkan" pinta Sandra
Ditto tersenyum menatap sang kekasih, menganggukkan kepala.
**
Setelah acara menemui Sandra, Ditto kembali pulang ke rumah. Ia ingin menanyakan perihal pencopotan jabatannya sekaligus pemblokiran beberapa aset miliknya.
Ditto yakin jika ini hanya akal-akalan Papa Zyan untuk menerima perjodohan konyol yang terjadi semalam. Dia tahu betul sikap Papa nya jika sudah keras kepala selalu memberikan ancaman, ancaman, dan ancaman.
Setibanya di rumah kedua orangtuanya, Ditto segera masuk dan mencari keberadaan Papa nya.
"Papa dimana?" Tanya Ditto
saat melewati ruang keluarga Ia menemukan Mama Fina yang sedang menonton tivi. Namun Mama Fina menghiraukan pertanyaan anaknya, Ia tak menjawab ataupun melihat ke arah Ditto.
Ditto menghela napasnya, Ia segera melangkah ke ruang kerja Papa nya.
Pria paruh baya itu sedang fokus pada sebuah map yang berada ditangannya. Disana dia bersama sekertarisnya, Surya.
Ditto memberi kode pada Surya untuk meninggalkan mereka berdua. Dan Surya pun pamit setelah bos besarnya juga menyetujui.
"Ada apa?" Tanya Papa Zyan yang masih acuh tetap fokus pada map itu.
"Mau Papa apa?" Ditto tak ingin basa basi, Ia langsung bertanya pada intinya.
"Hem? Bukankah kamu sudah mendengar sendiri, jadi tidak ada siaran ulang" jawab Papa Zyan
"Kalau aku mau, Papa mau gimana?" Tanya Ditto sedikit menantang
"Papa akan kembalikan semua yang menjadi milik kamu, tapi wanita itu yang menjadi jaminannya" jawab Papa Zyan menatap sinis putranya
"Kenapa Papa harus sangkut pautkan dengan dia?" Ditto tak terima jika Sandra dijadikan sebagai bahan permainan oleh Papa nya.
"Tergantung dengan rumah tangga kamu nanti. Jika kamu berkelakuan baik, Papa juga akan memberikan tunjangan pada karirnya. Namun jika tidak, ya sebaliknya akan hancur layaknya debu"
Ditto memejamkan matanya sejenak tangannya mengepal hingga buku-buku tangannya memutih. Dia tak habis pikir jika Papa nya memiliki seribu satu cara yang sangat licik
"Setujui saja tawaran Papa kamu, toh juga tidak ada yang dirugikan" sahut Mama Fina, beliau melangkah mendekat pada putra semata wayangnya.
"Tapi Ma, aku tidak ingin menikah sekarang" tolak Ditto. Mama Fina menghela napas sabar
"Kamu anak satu-satunya Ditto, kamu adalah harapan kita. Mama harap kamu tidak mengecewakan kita" ucap Mama Fina menepuk pundak Ditto yang kemudian berjalan pergi, begitu juga dengan Papa Zyan yang mengikuti langkah perginya sang istri.
Mereka meninggalkan Ditto sendiri, agar Ditto paham. Ditto menghempaskan tubuhnya pada sofa yang ada di ruang kerja Papa Zyan dan menyurai rambutnya dengan kasar. Dia buntu , sudah pasti akan menerima perjodohan konyol ini.
__ADS_1
...****************...