
...Happy read my stories...
.......
.......
.......
Tiara sampai di sebuah rumah minimalis dengan warna dark. Rumah ini jauh dari pemukiman. Tiara memasuki rumah itu,dari depan terlihat seperti rumah pada umumnya. Namun,siapa sangka jika di dalamnya tidak ada apapun kecuali sebuah meja meeting.
Tiara mengganti pakaiannya, ia merias wajahnya dan kemudian di tutup dengan sebuah topeng cantik. Memperlihatkan area bibir merahnya saja.
Ia membuka laptopnya, dan tepat sekali meeting langsung di mulai. Setelah menjelaskan tentang hal yang menjadi topik meeting ini, meeting pun dilaksanakan secara tenang. Tiara hanya diam, memerhatikan juga mendengarkan penjelasan dari meeting ini.
Meeting ini berjalan selama lebih dari tiga jam, bahkan Tiara melewatkan makan siangnya. Terjadi masalah pada proyek baru yang sedang digarap oleh perusahaan Xander Comp. Mereka mencari solusinya, namun karena adanya Mrs. Commissioner membuat mereka tak berkutik.
"Berikan solusinya satu kali dua puluh empat jam, berikan kepada saya segera" ucap Tiara
"Baik Mrs" jawab mereka
"Meeting hari ini selesai" Tiara menutup meeting siang ini. Tiara tak sekejam itu untuk menghukum para karyawan yang tak menemukan solusinya.
"Jam berapa sekarang?" Gumamnya melihat pergelangan tangan.
"Jam dua siang?" Ketika jarum jam tangan Tiara menunjukkan pada angka dua
Tak lama datang seseorang yang memakai pakaian serba hitam dengan sebuah topeng putih di area matanya. Ia memberikan Tiara sebuah kotak bekal, setelah itu dia kembali dengan membawakan Tiara setumpuk pekerjaan.
"Kau bisa pergi" ucap Tiara, orang itu membungkukkan badannya dan meninggalkan Tiara sendirian.
***
Hari semakin gelap, Ditto sudah bersiap untuk pulang dari kantornya. Sebelum Ia menuju lift, sejenak menghampiri ruangan Tiara. Namun, saat ia mengetuk pintu tidak ada sahutan sama sekali sampai ia membuka pintunya sendiri.
"Kemana dia? Apakah belum kembali?" Gumam Ditto melihat ruangan Tiara yang sunyi, bahkan ruangan terasa tidak dipakai.
Ditto melihat handphone nya, bahkan tak ada tanda-tanda nomor wanita itu menghubunginya. Ditto menekan nomor ponsel Tiara, beberapa saat sambungan terhubung namun tidak dijawab.
"Kemana wanita ini?"
Tiba-tiba Ditto merasa khawatir, takut kejadian kemarin terulang. Apalagi ia teringat dengan penjelasan Reza tadi siang.
Ditto lebih baik kembali ke rumah, ia berpikiran bahwa Tiara sudah di rumah.
Dalam perjalanan Ditto sesekali melihat handphone nya apabila wanita itu menghubunginya. Dan hasilnya nihil. Tak lama sesampainya Ditto di rumah, saat ia masuk ke dalam rumah.
Sunyi
__ADS_1
Ditto melihat ke kamar Tiara, namun tak ada sahutan juga.
"Kemana wanita itu, tidak ada di rumah juga?"
.
Bag bug krek
Sret
"Arrgghh!!"
Krek
Itulah suara yang terdengar di sebuah gudang tua, Perkelahian yang terjadi sejak beberapa menit yang lalu.
Setelah Tiara menyelesaikan pekerjaannya, tiba-tiba saja ada musuh yang menyerangnya. Hingga musuh itu menarik perhatian Tiara membawa ke sebuah gudang yang terbengkalai.
"Ingat ingat, kalian hanya sebatas debu berani melawan ku!" Ucap Tiara
Tiara menjentikkan jarinya, membuat seluruh benda di sana berterbangan menghampiri para musuh yang sudah terkulai lemah.
Bruk
Bruk
"Hanya membuang-buang waktu saja, cih!" Tiara keluar dari gedung itu menggunakan salah satu mobil milik musuh.
"Ditto pasti akan mencurigai ku jika ada bau anyir ini" ucap Tiara, ia sedang menuju perjalanan ke rumah.
"Ah, tidak. Bahkan ada sedikit luka" ucap Tiara ketika melihat wajahnya di spion mobil.
"Bagaimana ini?"
Tiara bingung, ia harus menyampaikan apa tentang keadaannya sekarang?
Tiara membelokkan mobilnya menuju apartemen miliknya. Ia mengganti pakaiannya menjadi lebih santai, ia juga memakai masker untuk menutupi luka memar di sudut bibirnya.
Tiara memilih menghentikan taksi daripada memakai mobil tadi. Bisa-bisa Ditto akan lebih curiga karena Tiara memakai mobil entah milik siapa.
Tak lama Tiara sampai di rumahnya. Dan disana sudah ada mobil Ditto yang terparkir.
Tiara memelankan langkahnya agar tidak menggangu Ditto. Namun, siapa sangka orang yang ia hindari sudah duduk manis di ruang tamu.
"Apakah sudah selesai bermainnya?" Sapa Ditto tanpa melihat Tiara
Tiara mematung, suara dingin Ditto membuat bulu romanya berdiri. Tiara memejamkan matanya, kemudian dengan berani menatap ke arah Ditto.
__ADS_1
"Dari mana?" Tanya Ditto mendekati Tiara
Tiara blingsatan, ia bingung harus menjawab apa
"Tadi, baru saja bertemu teman" jawab Tiara
"Kenapa memakai masker? Sakit?"
"Ah, tidak apa-apa hanya–" Tiara membelalakkan matanya ketika Ditto berhasil menurunkan maskernya.
"Hanya luka memar?"
Apakah istrinya ini keturunan Thanos? Terluka pun tak pernah mengeluh bahkan meminta tolong.
"Apakah kamu memiliki stok nyawa lusinan? Tidak bisakah kamu berkata sakit?" Ucap Ditto, apakah Tiara tidak menyadari bahwa ia sedang mengkhawatirkan wanita di depannya?
"Tidak apa-apa, tadi tidak sengaja" jawab Tiara menundukkan kepalanya
"Ini yang kamu katakan tidak apa-apa?" Tanya Ditto menyentuh luka Tiara. Tiara meringis ketika lukanya di sentuh oleh jari Ditto.
"Siapa yang melakukannya?" Tanya Ditto
Tiara tidak tahu harus menjawab apa, bagaimana ia mencari alasan yang tepat agar Ditto tidak curiga.
"Jawab!"
"Tadi, tiba-tiba dihadang seseorang aku tidak tahu siapa dia. Mereka berpakaian seperti perampok, aku tidak tahu harus bagaimana jadi aku melawan mereka" alibi Tiara
"Jangan bohong!"
"Aku tidak bohong, serius mereka melukai sopir taksi yang aku tumpangi"
"Apakah perampokan yang terjadi sejak pagi hingga malam seperti ini?" Tiara ketar ketir, Ditto sulit untuk dikelabui.
"Kan aku bilang bertemu teman, aku lupa tidak memberi mu kabar. Saat perjalanan pulang aku tiba-tiba dihadang orang" jawab Tiara dengan sungguh-sungguh. Sebagai seorang yang berkecimpung di dunia hiburan, masalah berakting bukan masalah besar.
"Kamu berhasil membuat orang cemas" ucap Ditto
Apa?!
Ditto mencemaskan nya?
...****************...
Pendek ya? iya, buntu banget ngelanjutinnya
Maaf ya🙂
__ADS_1