
"Gendhis, besok kalau sudah dewasa nikahnya sama Kakak ya?".
"Memang Kakak gak malu punya isteri gembul- gembul kayak Gendhis?".
"Enggaak Gendhis, bagi Kakak, kamu paling cantik dan imut".
"Serius nih Kak?".
"Hmm jawab Alvin".
"Gendhis, Kakak mau pamit, kita harus berpisah sementara karena Kakak harus ikut pindah Ayah ke Manado".
"Sebelum kita pisah, Gendhis mau janji nungguin Kakak kembali?".
"Pasti Gendhis tuguin, jangan lama-lama Kak".
"Daaa...Gendis...".
"Kakak jangan tingalin Gendis..."
"Dik...de...bangun kamu mimpi Alvin lagi ya," tanya Kak Sinta kepadaku.
"Sudah lupain saja paling dia sudah lupa denganmu Dik" kata Kak Sinta.
"Ini sudah lima belas tahun Dik, enggak mungkin dia mengingatmu, apalagi sekarang banyak cewek-cewek cantik diluar sana, pasti sudah punya pacar dia".
"Sadar Adikku sayang, kamu itu sangat berharga, kamu cantik, pintar dan perimadona kampus lagi, pasti banyak teman-temanmu yang suka kamu, buka hatimu Dik, jangan buang waktumu menunggu seseorang yang tidak tahu keberadaannya".
"Lihat tuh dokter Nehan kayaknya dia naksir kamu Dik".
"Orangya tampan, cerdas , baik, kurang apa coba Dik".
"Kak, Gendhis kan enggak ada perasaan apa-apa kak sama dia".
"Bukan tidak ada Gendhis, tapi belum ada, bisa kan artiin maksud Kakak?".
"Karena kamu tidak mau membuka hati buat dia, makanya kamu belum punya rasa apa-apa sama dia".
"Kata peribahasa orang jawa witting tresno jalaran soko kulino".
"Orang cinta karena kebiasaan Dik, coba kamu merenung dan berpikir perkataan Kakak tadi".
"Jangan kamu menyesal dikemudian hari Dik".
Sepeninggalan Kakak dikamar, aku merenung apa yang dimaksud Kak Sinta memanglah benar, ngapain aku menunggu orang yang tidak pasti datangnya, kalau memang dia masih mengingatku pasti dia mencariku dengan banyak cara dengan adanya sosial media era ini. Mustahil dia seorang gagap tehknologi. Entah kenapa hatiku meragu membuka hati untuk cowok lain, aku dilema antara kesetiaan dan harus berpaling melabuhkan hati. Aaah kenapa ini lebih rumit dari rumus matematika yang selalu mendapatkan jawaban benar jika dikerjakan sesuai dengan aturannya. Perihal hati sangatlah rumit ini yang aku rasakan.
Tap...tap...aku turun keruang makan sudah ada Ayah, Bunda dan Kak Sinta. Hari ini memang hari minggu jadi aku malas-malasan bangun pagi, kalau tidak dibangunin kak Sinta mungkin masih betah dibalik selimutku.
"Met pagi Ayah, Bunda".
"Pagi Gendhisku" jawab Ayah.
"Bunda masak apa?".
"epertinya enak, baunya aja tercium sampai kamar".
"Masak kesukaanmu nduk, terancam, ayam goreng, ikan asin".
"Wah mantul banget".
"Bunda is the best" kuajungi jempol buat Bunda.
__ADS_1
"Kamu pasti lagi modus kan Dik," tanya Kak Sinta kepadaku.
"iiih Kakak tuh suudzon, masak muji Bunda dibilang modus, iya kan bun?".
Ayah dan Bunda mengelengkan kepala melihat kelakuan kami, walau sudah dewasa secara umur tetaplah seorang anak-anak dimata orang tua.
"Gendhis rencanamu hari ini mau kemana nak? tanya Ayah".
"Sepertinya Gendis mau ke mall Yah, udah janjian sama Ayu dan Dea, mau nonton film, boleh kan Yah?"
"Nah kan Yah apa yang aku bilang tadi kalau Gendhis tu pasti modus jika manis banget bicaranya".
"Kakak nanti aku aduin ya sama Kak Dion jika kakak tu usil" sahutku dengan manyun.
"Sudah...sudah kalian itu gimana sudah dewasa ribut melulu," kata Bunda.
"Boleh kan Yah?" tanyaku lagi.
"Boleh asal sebelum maghrib sudah dirumah".
"Yesss horeee" aku menjulurkan lidah ke Kak Sinta mengejeknya.
"Buruan makannya Dik ntar kesiangan batal lho izin dari Ayah".
Tak perlu persiapan yang lama setelah mandi dan meka up tipis aku berpamitan sama Ayah dan Bunda. Kak Sinta sepertinya sudah dijemput Kak Dion untuk hangout juga. Beginilah agenda rutin ketika mudik ke solo, aku sempatkan bertemu dengan para sahabatku sejak dari Sekolah Menengah Pertama sampai sekarang yang selalu menemaniku, walau terpisahkan jarak. Persahabatan yang terdiri dari tiga orang yaitu, aku, Gendhis Nayra Narendra kuliah di Yogykarta ambil jurusan Ilmu Hukum, Ayu di Solo ambil Ekonomi dan Dea di Semarang ambil Psikologi. Tiap hari kami selalu video call walau hanya untuk sekedar menyapa dan cerita keseharian kita ngampus.
Setiba di lobi mall, Ayu dan Dea langsung memelukku seakan kita berpisah puluhan tahun padahal setiap dua minggu kita bertemu, lebay memang kesannya tapi udah kebiasaan kali ya. Kita bertiga sudah seperti saudara dan akrab dengan keluarga masing-masing. Kemudian kita memasuki bioskop memilih film yang kita inginkan. Tak lama menunggu, pengumuman film akan diputar, kami duduk berdekatan. Pemutaran film baru jalan setengah jam, aku merasakan ingin buang air kecil, aku keluar mencari toilet. Selepas keluar toilet, aku enggak sengaja bertemu Kak Nehan saat mau masuk ruang tempat kami menonton
"Kakak kenapa bisa di sini?".
" Kaget ya Nay?".
"Iyalah, Kakak bukannya asli Yogya kenapa bisa nyasar ke sini? ayoo pasti rindu sama pacarnya, ngakunya jomblo eeh ternyata sudah ada yang punya".
"Eeeh gak mau ntar Kakak ada yang marah dikira aku pelakor, lagian aku gak sendiri nontonnya".
"Udah gampang whatsapp aja mereka untuk ketemu di sana".
"Nanti aku kenalin cewekku Nay".
Setelah whatsapp ama duo sahabat, aku mengikuti Kak Nehan ke Mc. Donald.
"Ada apa sih Kak ngajak aku kesini?".
"Nay, sebenarnya udah lama ada yang aku ingin ngomongin sama kamu".
"Boleh ga Kakak dekat sama kamu?".
"Sejak Ospek Universitas, Kakak suka sama kamu pada pandangan pertama tapi Kakak gak pede buat ngungkapin perasaanku".
"Terus cewek yang lagi di bioskop mau dikemanain Kak?".
"Hahaha kamu cemburu Nay? ciieee...".
"Iiih Kakak apaan sih, siapa juga yang cemburu" jawabku sambil cemberut.
"Udah jangan cemberut bikin gemes Kakak".
"Cewek yang dibioskop itu Kakak kandungku yang menikah sama orang Solo, aku di sini karena merindukan ponakanku yang berumur lima tahun".
"Kalau gak percaya nanti aku kenali sama mereka".
__ADS_1
"Oke" jawabku.
"Kak, maaf aku belum bisa menjawab pertanyaan Kakak saat ini, karena aku pernah berjanji sama seorang cowok lima belas tahun yang lalu buat menunggu, tolong kasih waktu buatku untuk berpikir dulu".
"Selama belum menemukan jawaban jangan bertanya lagi".
"Hmm baiklah ku tunggu kabar baiknya Nay".
"Sungguh kakak ingin serius menjalani hubungan denganmu".
"Baik makasih untuk pengertiaannya Kak".
"Nehan...Nehan..." panggil seorang cewek.
Kak Nehan melambaikan tangan pada cewek dan gadis kecil untuk mendekat.
"Kak, kenalin ini Nayra temanku".
"Oo Nayra yang pernah kamu ceritain itu Dik".
"Hallo apa kabar Mbak, namaku Adel".
"Hallo juga Kak, panggil aja namaku Nayra biar lebih dekat".
"Hai cantik namamu siapa?" kusapa keponakan Kak Nehan.
"Cukup panggil namaku Fara, tante".
"Manis banget seperti wajahnya" ucapku.
Sambil tersipu malu dia menjawab "Makasih tante".
"'Nay kita pulang dulu ya karena udah sore".
"Baik Kak" jawabku.
"Mau kuantar pulang sekalian Nay?".
"Tidak Kak, terima kasih, aku nanti pulang bersama sahabatku".
"Baiklah hati-hati di jalan, besok aku jemput agar kita bisa sama-sama balik ke Yogya, tolong nanti share lock rumahmu ya".
"Baik Kak makasih".
"Gendhis kenapa tadi ga masuk lagi setelah dari toilet" tanya Dea.
"Tadi ga sengaja sih De, bertemu dengan Kakak tingkatku, dia ngajak bicara sebentar makanya ngobrol di sini tadi".
"Mana orangnya, kita tidak dikenalin gitu gimana sih Dhis" ucap Ayu.
"Buru-buru tadi diajak pulang sama Kakak dan ponakannya.
"De, Yu, menurutmu gimana jika ada seorang cowok yang baik, ingin mengenalmu lebih dekat dan menembakku untuk jadi pacarnya?".
"Aku harus menerima atau menunggu cowok yang enggak tahu keberadaannya?".
Kalau menurut pendapat Dea "Gendhis sebaiknya kamu terima yang nyata ada di depan kita, kesempatan mendapatkan cowok yang tulus dan sayang sama kita itu tidaklah semua orang bisa, beruntunglah jika punya pacar seperti itu".
"Bener Gendhis apa yang dikatakan Dea, tidak ada salahnya kamu membuka hati untuk cowok lain daripada menanti yang tidak pasti buang-buang waktu saja" ucap Ayu.
"Baiklah sahabatku semua pendapat kalian akan aku pertimbangkan, makasih ya sudah mengsuport dan mendampingiku selama ini".
__ADS_1
"Berhubung hari sudah sore mari kita pulang biar tidak dapat ceramah bokap-bokap kita" ucapku sambil bercanda.
"Ayuuuk" jawab mereka serentak.