
Dunia pernikahan yang sehat cinta saja tidak cukup tapi secara real dibutuhkan komitmen antara pasangan suami isteri. Untuk mencapai komitmen dibutuhkan banyak pengorbanan diantara adalah saling menjaga, percaya, mendukung, menghargai, saling merasa nyaman dengan diri masing-masing, tidak malu mengakui kesalahan dan menekan ego satu sama lain.
Pernikahan yang bahagia bukan berarti tidak ada pertengkaran dan kecemburuan antar pasangan. Justru kedua itu bumbu pernikahan untuk lebih saling mengenal satu lain dan tetap menjaga batas tanpa sebersit untuk berpisah.
Memang pernikahan tidaklah sesederhana yang kita pikirkan, banyak fase-fase dalam tumbuh kembang bersama mengingat dua pribadi dilahirkan dan pola asuh dari dua keluarga yang berbeda akan membawa dampak dalam pola pikir berbeda pula. Hal inilah banyak yang menyebabkan terjadinya perceraian.
Perceraian karena perselingkuhan karena komitmen tidak dijalankan sebagaimana mestinya. Adapun faktor pemicunya macam-macam misalnya jenuh, pasangan terlalu menuntut, tidak ada komunikasi hubungan, pasangan terlalu posesif, tidak percaya diri, kurang terpuaskan secara seksual dan emang sudah punya kecenderungan untuk selingkuh.
Kasus yang tengah aku hadapi ini sepertinya kurangnya komunikasi hubungan karena suami isteri pada sibuk bekerja. Sedang asyik-asyiknya membaca berkas perkara yang akan aku tangani tiba-tiba telepon dimeja kantor berdering langsung kuangkat.
"Hallo assalammu'alaikum Nay bisa ke ruangan saya bentar?" ucap Pak Emrick.
"Wa'alaikumsalam, baik pak " jawabku langsung ke ruangan Pak Emrick. tok...tok...
"Masuk Nay" jawab Pak Emrick.
Akupun masuk keruangannya dan dipersilahkan duduk di depan meja kerja beliau.
"Ada yang bisa saya bantu Pak?" .
"Nay besok siang bisakah menemui pihak penggugat?".
"Dia memberitahu saya kalau besok jam satu siang ada waktu kosong dan minta ditemui di restoran x".
"Saya usahakan Pak" jawabku tegas.
"Lusa Pihak Tergugat bisa ditemui jam dua siang di mall ya pastinya di cafe z".
"Sebaiknya lusa kamu ditemani Alvin, menngingat pihak tergugat seorang laki-laki, kamu tidak keberatan kan?".
Aku mengbuang napas pelan." Baiklah Pak" jawabku.
Aku malas berpikir ribet lagi, mau ga mau harus hadapi. Setelah pembicaraan selesai aku keluar dari ruangan ga sengaja bertemu dengan Alvin. Ku siap biasa menghadapinya.
"Nay kita makan siang bareng yuk? " tanya Alvin.
"Maaf Pak saya mau ke kampus menghadap Dosen Pembimbing" jawabku.
Untung banget hari ini mau bimbingan jadi ga kelihatan bohong.
"Ooh kuantar ya?"
masih aja dia kekeh nawari padahal udah aku tolak.
"Maaf Pak, saya bawa motor karena mau langsung balik habis dari bimbingan, makasih untuk tawarannya"kataku sopan.
Alvin nampaknya kecewa dengan penolakanku tapi sudahlah aku tidak ingin dia salah paham jika kita dekat, aku ga ingin dia berpikir kalau aku menyambut dia kembali dengan lapang dada. Justru aku ingin menjauh dan menjauh lagi kalau bisa tapi nyatanya ga bisa malah aku terikat dalam kerjaan dengan dia.
Hasil bimbingan untuk bab tiga cuman ada revisi dikit, sama pembimbing aku langsung diminta nyusun sampai bab terakhir. Malah aku ditawari pembimbing untuk menjadi asistennya karena menurut beliau aku mampu untuk menjadi pengajar yang baik. Aku bersedia dengan penawaran beliau, beliau nampak suka sekali dengan antusiasku.
Selepas dari bimbingan, aku memutuskan untuk pulang karena badan rasanya capek banget. Belum sempat istirahat ada telepon masuk. Kubaca kontak pemanggil membuatku tersenyum, rasa capek jadi hilang kalau berhubungan dengan kangmas.
"Assalammu'alaikum Mas lagi apa?" tanyaku.
"Wa'alaikumsalam Nay, Mas habis pulang kerja mampir bungkus nasi buat nanti malam" jawabnya.
"Ooh, Nay malah belum beli, lupa tadi karena pengin cepat-cepat rehat".
"Dik, saat Mas ga ada disampingmu jangan telat makan, nanti sakit ga ada yang rawat".
"Tenang aja Mas aku baik-baik aja di sini".
__ADS_1
"Mas aku mendapat penawaran asisten dosen, kalau aku ambil bagaimana?" tanyaku.
"Bagus banget itu Dik, ambil aja Mas dukung buat nambah kamu pengalaman ntar kalau udah lulus".
"Iya Kakanda" jawabku iseng.
Jawabanku membuat kami tertawa dan menyudahi pembicaraan kita. Saat akan mandi tiba-tiba ada notifikasi pesan, dari Alvin, aku menarik napas, heran dia masih aja kirim-kirim pesan.
/Nay besok kalau ketemu klien barengan aku ya/
Pesan dari dia ga aku bales, males aja, biar dia juga tahu kalau aku tak terlalu baper ketemu dia. Memang kita harus tegas dan memberi batasan yang jelas dengan cowok yang mendekati kita agar dia tidak salah paham dengan perilaku kita kan.
Besok sebelum ketemu tergugat, aku mendapat tugas dari pembimbingku untuk mengantikan beliau mengajarkan di kelas adik kelas karena beliau lagi ada tugas ke luar kota. Pengalaman baru sepertinya menyenangkan. Sehabis dhuhur aku bersiap berangkat menuju restoran x dengan naik motor tanpa mengindahkan pesen Alvin semalam.
Sampai restoran atas permintaan klien saya mendatangi petugas untuk mengantarkan meja yang sudah di reservasi atas nama Ibu Ersa. Kemudian aku diantar di ruang VIP. Sambil menunggu klien datang, aku membaca ulang berkas milik klien. Setengah jam kemudian Bu Ersa datang.
"Assalammu'alaikum Mbak, maaf tadi di jalan kena macet".
"Wa'alaikumsalam Bu, iya gakpapa Bu, santai aja karena hari ini jadwalnya kosong"jawabku.
Kita ngobrol basa-basi sebelum ke inti permasalahan agar klien nyaman untuk bercerita selanjutnya.
"Ibu, masih tetap ingin melanjutkan kasus ini?".
"Tidak ingin mencoba berdamai dengan suami?" tanyaku.
"Mbak, belum nikah ya? sepertinya msih muda?".
"Belum Bu saya sedang skripsi dan magang di kantor Pak Emrick".
"Gini Mbak, orang menikah yang ideal kan memiliki komitmen untuk membangun rumah tangga yang baik yang dilandasi kepercayaan dan kesetiaan pada pasangan, saat kepercayaan dan kesetiaan sudah ternoda maka rumah tangga tidak bisa tegak seperti sebelumnya".
"Saya tetap memutuskan bercerai karena saat saya tidur membayangkan dia bermesraan dengan perempuan lain membuat saya jijk dengan pasangan saya".
"Kebencian nanti berimbas pada psikolog anak saya" penjelasan Bu Ersa".
"Saya bisa merasakan apa yang Ibu rasakan, memang tidak mudah memaafkan orang yang pernah hadir dalam hidup kita berkhianat apalagi ada anak, berat sekali pasti ya Bu".
"Pengkhianatan memanglah berdampak dahsyat buat kita". "Ibu harus bisa tunjukkan pada dia kalau mampu sendiri tanpanya" jawabku untuk menguatkan.
"Makasih Mbak, saya sudah lega bisa bercerita, selama ini saya ga punya teman untuk bercerita".
"Sama-sama Bu memang sudah kewajiban saya mendengarkan klien saya, kalau sudah tidak ada hal lain saya permisi Bu" kataku sopan.
"Iya Mbak silahkan" jawab Bu Ersa.
Setelah saya bertemu pihak penggugat, saya memutuskan kekantor memberi laporan. Sampai sana yang ada cuman Alvin. Karena ga ingin berlama- lama dengan dia saya langsung memberikan laporan sama dia sebagai wakil Pak Emric.
"Maaf Pak saya mau nyerahin hasil laporan tadi sama Klien, mohon kerjasamanya" ucapku.
"Yang ga mau kerjasama itu kamu Gendhis!" jawab ketus Alvin.
" Baiklah kalau saya dianggap tak tidak mau bekerjasama dengan Bapak, saya memutuskan keluar dari team sekarang juga" ucapku tegas.
"Gendhis, tu namanya kamu tidak bertanggung jawab".
"Tidak bertanggung jawab dilihat dari mana?coba jelaskan? saya sudah menemui klien masih dianggap itikad tidak bertanggung jawab" ucapku sewot.
Setelah aku selesai bicara Pak Emrick datang menemui kami.
"Ada apa ini? Kenapa kalian ribut di kantor saya?".
__ADS_1
"Ini Pak, Adikk Bapak menganggap saya tidak mau bekerjasama cuman karena saya tidak mengajak dia menemui klien".
"Apa benar begitu Alvin?" tanya Pak Emrick.
"Iya Bang, padahal semalam saya udah pesan untuk menungguku tapi dia mengabaikan".
Aku yang mendengarnya tersenyum sinis,
"Anda kekanak-kanakan" ucapku.
"Saya Permisi dulu Pak,saya sudah menyerahkan hasil laporan klien sama saudara Bapak".
Kemudian aku keluar ruangan menuju parkir tempat sepeda motor. Udah capek-capek kerja tidak dianggap. Aku memutuskan pulang karena sudah menjelang malam. Habis isya saat lagi membaca bahan ajar yang dikasih pak dosen kemaren ada pesan masuk.
/Gendhis maafin saya, tadi saya sudah bertindak diluar kendali saya karena kamu selalu mengabaikanku./
/Besok saya jemput dikos boleh kan?/.
/Maaf Pak saya besok mendapat jadwal mengajar dari pagi, Bapak silahkan berangkat duluan/
Menyebalkan tapi kalau ga aku balas malah makin jadi. Ku lanjutkan belajarku yang tertunda. kenapa ada yang kurang, o iya hari ini aku dan Mas Nehan ga kontak sama sekali, mungkin dia sibuk kali sampai lupa kirim pesan atau telepon. Daripada menduga mending aku telepon.
"Assalammu'alaikum Dik, ko seharian ga ngontak Mas?".
"Wa'alaikumsalam Mas, iya hari ini dan besok jadwalku full, tadi bertemu klien".
"Ooh ya sudah gakpapa, yang penting jaga kesehatan ya".
"Iya, Mas juga ya" jawabku.
Setelah menelpon Mas Nehan aku memutuskan untuk tidur karena merasa badan sangat capek. Bangun pagi, siap- siap ke kampus buat membantu pak dosen memberi materi Adik kelas. Ternyata mengajar itu sangat menyenangkan. Sehabis dhuhur aku mendapat pesan kalau mau dijemput Alvin jam satu di kampus. Aku sudah capek berdebat ku iyakan aja.
Jam satu aku keluar dari kampus dia sudah menunggu di tempat parkir. Dia mempersilahakan aku masuk ke mobilnya. Dalam perjalanan ke Mall tak ada perbincangan karena aku belum mood buat bicara dengan nya. Sampai cafe Z ternyata pihak tergugat sudah sampai duluan.
"Maaf kami terlambat karena tadi harus ke kampus dulu" ucapku sopan.
"Iya gakpapa Mas, Mbak, panggil saya Dodi".
"Maaf Pak bisakah saya langsung mengutarakan maksud dari klien kami?" kata Alvin.
"Iya silahkan Mas" jawab Pak Dody.
"Silahkan Nay beri penjelasanan buat Pak Dody" kata Alvin.
"Klien saya memutuskan ingin tetap bercerai dari Bapak, bagaimanakah menurut Bapak?".
"Mbak, sebetulnya saya tidak ingin berpisah dari isteri saya, saya masih cinta Mbak sama dia" ucap Pak Dody.
"Kalau cinta kenapa Bapak mengkhianati Ibu?".
"Saat pengkhianatan terjadi kemana pikiran dan hati Bapak waktu itu?" jawabku emosi.
"Saya khilaf Mbak".
"Khilaf lebih dari satu kali Pak?" tanyaku lagi
"Nay, rendam emosimu" kata Alvin.
Benar kata Alvin aku tidak punya hak untuk menghakiminya, aku punya hak mendengarkan pendapat kedua belah pihak untuk menemukan kebenaran.
"Pak, mohon maaf klien saya tetap memutuskan ingin berpisah denga anda" kata Alvin.
__ADS_1
Setelah mendengarkan pihak tergugat kami memutuskan untuk pulang. Aku diantar Alvin sampai kampus untuk mengambil sepeda.