
Aku pikir setelah mendapat Sertifikat Kompetensi Dokter ( Serkom ) dan mengambil sumpah dokter, Mas Nehan sudah bisa bekerja di salah satu rumah sakit di Yogyakarta, ternyata perkiraanku meleset. Mas Nehan harus menjalani program internship selama satu tahun. Program ini adalah program pemerintah dalam pematangan kompetensi dokter. Penempatan program itu bisa di seluruh pelosok Indonesia. Dalam hal ini Mas Nehan beruntung mendapat penempatan di Bandung.
Dengan penempatan di Bandung, kita harus menjalani hubungan jarak jauh istilah beken LDR. Hal ini adalah yang terberat bagi kami karena selama menjalin hubungan kita selalu bertemu walau punya kesibukan masing-masing. Mengingat ini penting untuk masa depan kami, kita harus belajar ikhlas dan sabar karena hubungan jarak jauh tidaklah sesederhana yang kita pikirkan, dengan adanya tekhnologi bukan hubungan akan baik-baik aja, pasti ada rintangan diperjalanan kelak, yang penting saat ini kita harus berpikir positif agar bisa menjalani aktivitas dengan penuh semangat. Besok adalah keberangkatan Mas Nehan menuju Bandung, entah kenapa ini membuatku sedih, takut dan khawatir. Nano-nano itu yang kurasakan, tapi jika kuperlihatkan kesedihan di depannya, pasti dia akan menunda atau membatalkan keberangkatan. Aku kembali monolog harus tegar agar dia cepat selesai tugasnya.
Pagi ini aku bersiap-siap menuju rumah Mas Nehan tanpa memberitahu dia terlebih dulu. Aku ingin memanfaatkan waktu untuk bersama sebelum keberangkatannya. Aku menekan bell, pintu dibukain oleh Bik Tina.
"Assalammu'alaikum Bi, apa kabar? Mama mana Bi?" tanyaku.
"Wa'alaikumsalam Mbak Nay, lama ga main kerumah, Bibi kangen, Ibu lagi di dapur, masuk Mbak" jawab Bik Tina.
Akupun segera menuju dapur, kulihat Mama sedang memasak tanpa memperhatikan sekitar, hmm sepertinya Mama lagi asyik tuh. Ku coba mendekati dan memeluk Mama dari belakang, Mama seperti terkejut gitu.
"Nayra...iih bikin kaget Mama aja".
"Hayoo Mama mikirin siapa?".
"Aku aduin ke Papa lho kalau Mama lagi mikirin cowok lain".
"Dari tadi Nay perhatiin Mama sepertinya melamun makanya ga tahu kan saat Nay datang?".
"Aduin aja sana ke Papa, Mama ga takut" sahut Mama.
"Ada masalah apa Ma?" tanya Papa.
"Eeeh ga da apa-apa Pa, ni Nay lagi iseng aja ke Mama".
Kuhampiri Papa untuk salim dengan kejahilanku ku bicara bisik-bisik ke Papa.
"Pa, hati-hati sepertinya Mama lagi mikir cowok baru".
"Cowok yang mana Ma? emang Papa kurang cakep apa?". Papa mulai merajuk.
"Xixixi ayo Ma jawab pertanyaan Papa donk"
aku mengedip mata ke Mama.
"Nay, awas ya kalau suka usil, Mama aduin Nehan kalau kamu mulai naksir cowok lain" Mama ikut merajuk.
"Wah ini ga bisa dibenarkan, Mana pernah Nay naksir cowok, kalau ditaksir iya sih hehehe"jawabku.
"Ditaksir siapa Dik? Mentang-mentang Mas mau ke Bandung terus mau cari cowok lain gitu".
Aku menoleh ke belakang ternyata Mas Nehan udah di belakangku. Apes..apes bakal ada yang ngambek.
"Iiish siapa bilang aku mau cari cowok lain".
"Emang diizinin yah?".
__ADS_1
"Asyiik donk bakal ada yang menemani Nay disini" kataku iseng.
"Ga boleh untuk selamanya, walau jauh Mas punya banyak mata di sini, awas ya kalau ketahuan langsung Mas halalin".
"Kasihan deh Nay" Mama meledekku.
"Ga asyik ya Pa?" Jawabku sambil cemberut.
"Papa ga mau ah ikut-ikuta ntar Papa kena getahnya dari Mamamu" ucapan Papa membuat semua tertawa.
Setelah bercanda aku membatu Mama merapikan meja makan untuk sarapan bersama. Tak lama Mas Nehan memanggilku untuk kekamarnya.
"De, nanti kalau Mas di Bandung sering-seringlah mainlah kerumah biar Mama dan Papa ga kesepian karena anak-anaknya jauh semua".
"Tenang aja nanti kalau Nay ga pulang ke Solo, pulang kerumah Mama, Nay janji".
"Makasih Dik".
"Semester ini mulai nyusun skripsi kan?".
"Jangan ditunda-tunda, yang fokus, Mas doain agar diberi kelancaran dalam penyusunan skripsi nanti".
"Aamiin makasih untuk doanya Mas".
"Nay bakal kesepian mulai besok hiks...hiks..." jadi baper nih.
"Ini nanti juga untuk masa depan kita, kita harus bersabar.
"Iya Mas,Nay bisa ngerti,kita harus berjuang untuk masa depan kita, Nay juga akan segera menyelesein skripsi agar kita bisa bersama kembali".
Kita hanya menikmati keheningan setelah saling bicara. aku mulai ikhlas melepasnya. Jalan yang harus kita tempuh harus berpisah untuk bersama kembali. Semua dikembalikan Sang Pemilik Kehidupan. Biarlah Allah yang menjaga hati kita. Tak terasa keberangkatan tinggal hitungan jam, Papa. Mama dan aku mengantar Mas Nehan ke Bandara International Adi sucipto. Kami mulai bersalaman karena sebentar lagi Mas Nehan harus masuk pesawat.
"Ma, Pa, Nehan nitip Nayra ya? kalau nakal di jiwir aja" kata Mas Nehan.
"Tenang aja Nak, pasti Nay kami jaga, fokus tugasnya , cepet selesain agar bisa segera kembali meminang Nay" nasehat Papa.
"Dik, jaga diri baik-baik ya selama kita berjauhan" kata Mas Nehan.
"Iya Mas juga jaga kesehatan karena jauh dari kami" jawabku.
Akhirnya perpisahan itu terjadi. Aku hanya diam memperhatikan Mas Nehan yang masuk untuk untuk check in. Mama merangkulku untuk menguatkanku. Aku meminta tolong diantar pak sopir ke kos karena lagi ingin sendiri, Papa dan Mama memahamiku. Sekitar jam sebelas malam Mas Nehan memberitahuku kalau sudah sampai Bandung dan sedang menuju hotel yang sudah diboking lewat telepon.
Minggu-minggu pertama tanpa Mas Nehan aku menjalani aktivitas tanpa semangat, ternyata berat ya pacaran jarak jauh, penyebab utama adalah saat kangen, padahal udah video call atau telepon tapi tetap tidak bisa mengikisnya. Apalagi saat malam minggu di mana teman-teman pada diapelin, nyesek banget karena tidak bisa melihat nyata pacar kita, hanya lewat gadget, tapi semua punya resiko.
Bulan kedua aku sudah mulai biasa tanpa Mas Nehan. Keuntungan kita dari pacaran jarak jauh kita jadi mandiri tidak melibatkan pacar mulu saat harus kemana-mana. Kita sekarang ga setiap hari video call atau telepon karena kita saling menghargai kesibukan kita masing-masing jadi lebih sering menggunakan aplikasi whatsapp. Keuntungan kedua, kita jarang berantem karena Mas Nehan orangnya lembut dan penyabar berimbas padaku menekan egoku.
Minggu ini Mas Nehan mudik, katanya sudah kangen banget tadi waktu telepon. Dikasih kabar gitu aja udah seneng seperti menang undian hehehe . Hati terasa riang serasa kencan pertama, ketemu seperti impas dalam menurahkan kangen. Hari yang kita tunggu datang, aku menjemputnya sendiri dengan menggunakan jasa taxi. Sampai Bandara masih menunggu di kedatangan dalam negeri. Duh kenapa sih hati ini dag dig dug kayak grogi gitu. Tak lama pemberitahuan pesawat dari Bandung akan segera mendarat, tambah berdebar-debar hatiku menyambut kakanda xixixi. Sebenarnya aku sudah melarang Mas Nehan buat mudik karena dia libur hanya dua hari, pasti capeklah kalau bolak balek Bandung -Yogyakarta, tapi Mas kekeh mau balik karena sudah ga kuat menahan rindu padahal kita menyempatkan video call diwaktu luang. Tapi aku sebenarnya juga kangen ingin cerita banyak ketika ketemu.
__ADS_1
Rombongan pesawat sudah antri di tempat pengambilan bagasi. Aku menanti didepan pintu keluar. Saat dia keluar dari pintu dia tersenyum melihatku. Aku tersenyum menanggapi sambil keluar dari persembunyian menuju dia yang sedang menungguku didekat stand makanan. Kuhampiri dia yang memandangku, duh kenapa kita jadi kikuk banget saat pertama kali ketemu padahal saat telepon atau video call kan biasa aja. Mau pegangan tangan aja seperti malu-malu gitu.
"Apa kabar Dik?" Mas Nehan mencoba menepis kekakuan kita padahal setiap hari udah tahu kabar kita masing-masing, lucu kan.
"Alhamdulillah seperti yang Mas lihat" jawabku.
"Tadi kesini jadinya naik apa Dik?".
"Taxi Mas, kita balik naik taxi lagi ya?".
"Oke" jawab Mas Nehan.
Tak lama kita keluar dari lobi menuju tempat parkir taxi setelah tadi aku memesan taxi saat ada pemberitahuan pesawat mendarat. Mas Nehan mengajakku pulang ke rumah Mama Rani buat kasih kejutan karena mudik tanpa pemberitahuan ke Mama dan Papa.
Parah...parah, kita sama-sama usil ngerjain Mama. Sampai halaman rumah kita tidak langsung turun dari taxi saat melihat Mama sedang duduk sendirian di teras depan.
"Mas, Mama pasti heran deh ada taxi tapi penumpangnya ga turun-turun" ucapku.
"Tenang dulu, biar Mama bingung gitu".
"Iiih kasihan Mama, ga tega aku" aku ngeyel tetap turun tanpa nuruti perkataan Mas Nehan.
"Nayra, kirain Mama siapa gitu".
"Hayoo Mama berharap siapa yang datang?"tanyaku usil.
"Mama kangen Masmu nduk, biasanya ga pernah jauh dari Mama, kadang Mama suka kepikiran apakah dia baik-baik aja dirantau".
Aku mencoba bersandiwara
"Doain aja Ma semoga Mas sehat-sehat disana" akting muka sedih.
"Itu kenapa taxinya ga pergi-pergi nduk?" tanya Mama.
"Nay ke sini cuman mampir Ma, bentar Nay ambil paketan dari Bandung"
Aku akting kembali membuka pintu belakang
"Ma, ini paketannya taruh Mana?".
Mama yang sedang melihat Mangga yang berbuah lebat menoleh melihatku deg... hening
"Nehan!" teriak Mama.
Mas Nehan mendekati Mama salim, mencium dan Memeluk Mama. Papa yang di dalam mendengar teriakan Mama, terburu-buru keluar rumah dikirain ada suatu masalah.
"Iish kalian suka banget isengin Mama"mulai deh drama ngambeknya.
__ADS_1
Kamipun menyalimin Papa dan meminta maaf sama Papa dan Mama atas keusilan kami. Awalnya Mama ngambek tapi tak lama karena terkalahkan dengan kerinduan sang anak.