Titik Waktu Di Hati Gendhis

Titik Waktu Di Hati Gendhis
Kerikilpun Terlewati Woey


__ADS_3

Trt...trt... hapeku berbunyi, tertera Mama Rani, tumben Mama telepon pagi-pagi, adakah yang urgent batinku. Telepon langsung ku angkat.


"Hallo assalammu'alaikum Mama, Mama dan Papa sehatkan? tumben pagi-pagi telepon Nay, ada apa Ma?".


"Wa'alaikumsalam anak Mama yang cantik, alhamdulillah semua sehat, siang ini ada kuliah ga?".


"Ada Ma, jam sembilan sampai sebelas Nay ada kuliah Ma, gimana Ma?".


"Nanti jam 11 Mama jemput di kampus gimana?".


"Boleh Ma, udah dulu ya Ma, Nay mau mandi dan siap-siap ngampus, assalammu'alaikum".


"Waalaikumsalam" jawab Mama.


Walau rasa penasaran tetap ada, tunggu aja nanti sampai Mama Menjemputku. Dua kelas usai sudah, aku bersama Maya jalan keluar kampus, Maya mau fotokopi di depan sedang aku menunggu Mama. Saat aku sedang ngobrol sama Maya, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan kampus, kemudian Mama memanggilku, aku menyudahi pembicaraan dan berpamitan sama Maya. Kuayunkan langkah menemui Mama. Aku cium tangan Mama dan Mama memintaku masuk mobil. Ternyata Mama mau mengajak ke toko kain buat beli kain untuk acara pelantikan sumpah dokter Mas Nehan.


"Nay, menurutmu untuk perempuan bagus batik atau brokat?".


"Mama ingin nanti selepas wisuda, kita foto bersama mumpung keluarga komplit"


"Menurut Nay, kita pake kebaya muslim modern aja Ma, yang laki-laki pake hem batik".


"Untuk warnanya apa nduk?".


"Hijau tua atau biru tua Ma kalau menurutku bagus".


Akhirnya Mama memutuskan membeli kain warna hijau tua. Setelah membeli kain Mama mengajakku ke salah satu mall buat beli high heels dan jilbab warna krem. Setelah capek kita ke food court mencari makan siang.


"Mama, ingin makan apa?" tanyaku.


"Mama ingin makan cap jay dan teh tawar, kalau Nay sendiri ingin apa?"


"Nay ingin makan pempek palembang dan teh tawar Ma"jawabku.


"Bentar Nay pesenin dulu Ma, Mama duduk dulu ya biar ga capek".


"Iya sayang makasih"sahut Mama.


Akupun berdiri lalu menuju stand makanan yang dipilih. Begini kali ya jalan sama mertua, alhamdulillah aku dipertemukan dan dikelilingi orang baik. Dari pertemuan dengan keluarga Mas Nehan memberi arti tentang betapa penting kebersamaan dengan orang yang menyayangi kita secara tulus. Tak terasa hubungan kita sudah memasuki satu tahun. Awalny memang belum ada cinta dihatiku, tapi dengan kesabarannya dan kebersamaan hati sekeras batupun bisa luluh. Seperti orang jawa bilang witing trisno jalaran soko kulino. Cinta datang karena seringnya kebersamaan, kedekatan, keakraban dan pertemuan. Waktu berjalan terasa cepat tak disangka kita bisa saling menyesuaikan secara alami tanpa ada keterpaksaan. Dia selalu memberiku warna dan membuatku selalu tersenyum. Aku bahagia bersamanya.


Selepas makan siang, Mama Rani mengajakku langsung ke penjahit langganan Mama. Setelah ukur badan dan menentukan model, Mama mengajakku pulang kerumahnya karena waktu sudah sore, khawatir keburu Papa pulang duluan kalau mengantarku ke kos. Alasan Mama aja biar nanti aku dianter balik sama Mas Nehan. Mama oh Mamaaa mulai modus batinku. Setiba di rumah, Mama memintaku buat istirahat di kamar tidur khusus tamu. Baru kepejamin mata, pintu ada orang yang mengetuk. Gagal lagi istirahatku huuh.


"Tok...tok... Dik bangun, Mas udah pulang nih".


"Iya bentar Mas" kubangkit dari rebahan untuk membuka pintu, ceklek.


"Udah lama Mas pulangnya? mau minum apa?"


"Baru lima belas menit, ketemu Mama di taman, bilangin kalau kamu ikut Mama kerumah".


"Kalau ga capek tolong buatin Mas kopi dan tolong dianter ke ruang keluarga".


"Bukan ikut tapi terpaksa karena keadaan, Mama bisa aja" jawabku manyun.


"Oke nanti aku anter Mas dokter" jawabku membuat Mas Nehan terkekeh.


Mas Nehan ke ruang keluarga dan akupun ke dapur buatin kopi buat den Mase Nehan dan mengantarnya ke alamat paduka. Ku dengar dari dapur Mas Nehan lagi ketawa ternyata setelah kusamperin, dia lagi nonton film kartun Tom dan Jerry. Heran aku udah dewasa tontonannya kartun, aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkahnya. Nah mulai kelihatan sifat yang lain yaitu suka mengabaikan siapapun jika sudah ketemu hobinya. Balik kamar aja ah lanjutin tidur siangku. Ku bangkit dari tempat duduk, dia baru sadar kalau sedang bersamaku. Gondoklah kalau kalau seperti ini.


"Dik, mau kemana?".

__ADS_1


"Balik kos lah ngapain di sini nunggu orang yang ga peka" jawabku sambil berjalan kearah kamar tidur.


"Eeh jangan, nanti habis maghrib Mas anter".


"Maleslah nungguin orang yang cuekin aku, mo pesen gojek aja sekarang".


Mas Nehan langsung matiin tivi dan mencari kunci mobil kemudian memanggilku.


" Dik, Mas anter sekarang aja yuk kalau udah capek".


Aku hanya diam aja sambil masuk kamar cari tas dan hape kemudian keluar buat berpamitan sama Mama. Tak lama Mas Nehan keluar rumah untuk mengantarku. Dalam mobil akupun masih berlanjut mendiamkan dia. Rasain nyuekin Gendhis, diabaikan balik bingung kalang kabut. Begitu sampai kos aku tidak berbasa basi menyuruh dia masuk ke ruang tamu kos. Aku hanya menyampaikan ucapan terima kasih. Dia sepertinya biyung eh bingung dengan sikapku yang ngambek, padahal.dalam hati aku menahan unruk tertawa. Gengsilah ngambek cuman sebentar. Biar jadi pelajaran buatnya. Dia langsung pulang ketika aku masuk kos. Habis isya dia menelponku tapi ga ku angkat. Tak kenal menyerah dia whatsapp tapi cuman aku read tak berniat aku balas. Sepertinya dia mulai gemas denganku. Hahaha siapa.suruh abain Gendhis. Dia sepertinya tidak tenang karena jam delapan malam datang ke kos, karena lampu kamar udah aku matiin, Mbak kos ga berani ngetuk pintu terus bilang kalau aku udah tidur padahal aku cuman rebahan aja karena capek.


Sepertinya tadi pagi Mas Nehan balik kos sayang aku udah berangkat kuliah terus nemuin orang yang akan memakai jasa kantor Pak Emrick dalam menangani kasus yang dihadapinya. Saat aku mau pulang, Mas Nehan udah menunggu di kantor Advokat. Akhirnya aku masuk kemobil biar ga jadi tontonan gratis senior-seniorku. Awalnya dalam mobil terjadi keheningan, Mas Nehan ga betah dengan sikap.diamku.


"Dek, udah donk ngambeknya, Maafin Mas yaa?".


"Hmm " ku masih pura-pura dalam mode merajuk, ingin melihat sampai mana usaha dia dalam membujukku.


"Adik maunya apa sih, Mas bingung dengan sikap Adik sekarang".


"Jangan kekanakan Dik, Mas capek".


"Ya udah Mas cari aja cewek yang dewasa, siapa yang suruh deketi Nay dulu".


"Permisi," aku keluar dari mobil Mas Nehan.


Hatiku jengkel banget denger dia bilang aku kekanak-kanakan.yang marah harusnya aku. Saat aku melangkah menjauh dari mobilnya, dia keluar menyusulku.


"Aduh ini kenapa tambah rumyan sih".


"Dik maafi Mas donk, karena beberapa hari ini Mas kurang tidur mikirin Nay jadi pikiran Mas kayak buntu".


"Mas sebaiknya kita ga ketemu dulu, kita intropeksi hubungan kita mau lanjut atau putus, mumpung belum lama bersama".


Tiga hari tak mendengar kabar dari Mas Nehan seperti ada yang hilang. Entah kenapa rasa rindu ini melandaku. Aku kangen mendengar suaranya, kangen tingkahnya dan terutama kangen wajahnya. Tapi untuk memulai telepon rasanya tengsi eh gengsi maksudku. Trt...trrtt tiba-tiba telponku berbunyi memecah lamunanku. Kuambil telepon dan ku lihat nama pemanggil Mama Rani, tumben ya Mama tiba-tiba telepon sore hari. Telepon langsung ku angkat.


"Assalammu'alaikum Mama, apa kabar Mama?".


"Wa'alaikumsalam nak kabar Mama sehat alhamdulillah tapi kabar Nehan dalam kondisi tidak baik nak"


"Tidak baik gimana Ma?" Ada perasaan ga enak menghampiri hatiku.


"Nehan masuk rumah sakit nak, bisakah Nay kerumah sakit sekarang?".


Sambil terbata-bata aku mejawab Mama "Bisa Ma, tolong whatsapp Nay ruang dan nama rumah sakit, Nay akan bersiap-siap dulu".


"Iya Nay, hati-hati dijalan Nay, assalammu'alaikum".


"Wa'alaikumsalam" jawabku.


Akupun hanya sekedarnya berganti baju dan Make up ala kadar. Aku berdoa semoga Mas Nehan baik-baik aja. Sesampai di rumah sakit aku mencari ruangan yang diberitahu Mama tadi. Di depan ruangannya Mas Nehan aku mencoba menenangkan nafasku yang terengah-engah karena berlarian. Setelah tenang aku mengetuk pintu tok...tok... sambil kuucap salam, Papa Radit menjawab salam dan membuka pintu.


"Nay, malam-malam kesini sama siapa nak?".


"Sendiri Pa tadi naik taxi biar cepat sampai, Mas Nehan kenapa Pa?".


"Kata Mama tadi Nehan muntah-muntah, lemas, demam, karena wajahnya pucat dibawa Mama ke rumah sakit sama pak sopir, waktu itu Papa sedang dalam perjalanan pulang kantor".


"Mama kemana Pa?".

__ADS_1


"Tadi Mama pamit ke minimarket mau cari kue dan aqua".


Aku mendekat ranjang Mas Nehan yang masih terpejam. Aku mengeringkan wajahnya dengan tisue secara perlahan-lahan agar tidak menganggu tidurnya. Kupandangi wajahnya yang tirus, sedih banget melihatnya, tak terasa airmataku menetes. Pasti Mas Nehan sedih untuk beberapa hari. Ceklek pintu ada yang membuka rupanya Mama sudah datang. Aku menghampiri beliau untuk salim dan mencium tangan seperti biasa.


"Gadis Mama udah datang rupanya, Nay bisa Mama minta tolong anter ke cafe depan rumah sakit?".


" Mama dan Papa lapar nih".


"Bisa Ma, yang jaga Mas Nehan siapa Ma?"


"Papa sayang, nanti Papa kita bungkusin".


"Oke Ma".


Kita keluar ruangan menuju cafe. Sambil menunggu makanan matang Mama mengajakku bicara.


"Nayra, to the point ya, apakah kalian sedang berantem?".


"Beberapa hari ini Mama mengamati Nehan sangat gelisah, ga ada semangat dan murung beberapa hari ini".


"Iya Ma, kami sedikit berantem karena keegoisan masing-masing".


"Semenjak Nehan mengenalmu, dia menjadi pribadi yang ceria".


"Mama merasa Nay adalah dunianya, dia sangat menyayangimu jika bercerita sama Mama tentang kamu nak"


"Maafi Nay ya Ma jika belum dewasa dalam menyikapi keegoisan" tak terasa airmataku kembali menetes.


"Iya sayang, Mama maafin, menurut Mama kalian memang harus belajar dari masalah ini".


"Mama harap selamanya Nay bisa disamping Nehan" Mama memelukku memberikan dukungan.


Setelah makan kami kembali keruangan, Mas Nehan terlihat mengingau memanggilku, kusamperin dia dan kupegang jemarinya. Aku bingung kenapa Dia ga bangun, kata Mama efek obat sepertinya pulas dalam tidur. Aku meminta Mama dan Papa buat pulang karena aku rindu disampingnya. Aku menyeka keringat yang kembali muncul di wajahnya. Kupandangi wajah sambil bermonolg aku telah menyakitii orang yang bersorot mata lembut, sabar,dan tampak meyayangi dan mencintaiku. Bodohnya kamu Nayra.


Tak terasa aku ketiduran dengan menelungkupkan wajah di kasur samping Mas Nehan dengan tangan sebagai alas. Tengah malam aku terbangun karena merasa ada yang mengusap ujung jilbabku. Aku mendongak melihat wajah yang tersenyum. Akupun ikut tersenyum balik. Aku menawari minum dia hanya mengangguk setelahnya aku mencoba mengajak bicara.


"Mas, Nay kangen, maafin Nay ya Mas, Nay minta Mas cepat sembuh, sehat kayak dulu".


"Mas juga kangen sama Adik, maafin Mas juga ya Dik" dia menjawab dengan sangat lirih.


Kamipun hanya tersenyum dan tak bisa berkata-kata, biar ruangan yang menjadi saksi kita. Pagipun datang, kau tampak sudah segar kembali. Mungkin inilah efek yang namanya cinta dan kasih sayang. Cinta bagiku adalah kanvas putih yang membutuhkan coretan untuk memberi warna dalam jalinan cinta itu sendiri seperti pertengkaran kita kemaren yang menjadi bumbu dalam perjalanan cinta kita.


Mas Nehan menjentikan jemari didepanku yang sedang melamun.


"Mikir apa sih de dari tadi dipanggil ga menyahut?".


"Aku lagi mikirin kita yang kesakitan jika tidak bersama, kita ga disadari saling bergantung ya Mas".


"Iya de mungkin aku tercipta untuk mencintaimu dan akan menjadi pasanganmu kelak".


Kita pun tertawa bersama karena merasa lucu dengan kata-kata yang keluar dari mulut kita. Hari ini aku sengaja izin tidak masuk kuliah dan magang. Hari ini aku ingin menemanin Mas Nehan karena Mama tidak bisa menjaga, lagi ada keperluan. Dari hasil observasi, Mas Nehan diperbolehkan pulang sore ini. Aku beres-beres memasukkan baju yang akan dibawa pulang sambil menunggu jemputan. Tak lama Papa datang menjemput kami. Setelah administrasi dilengkapi Papa, kita pulang. Sesampai di rumah ternyata keluarga Kak Adel baru sampai dari Solo. Setelah membantu Mama dalam mengurus Mas Nehan dan menyapa keluarga Kak Adel, aku berpamitan untuk pulang. Awalnya Mama melarang tapi setelah kujelaskan kalau ada tugas membuat makalah yang dikumpulkan besok, Mama mau mengerti.


Mas Nehan telah sehat kembali. Ayah dan Bunda menyempatkan diri untuk menenggok. Hubungan kami kembali membaik. Pertengkaran adalah bumbu dari sebuah hubungan agar tidak hambar. Pertengkaran ibarat kerikil yang mencoba melukai kaki tanpa sendal. Luka kaki itu akan pulih jika ditetesi dengan kasih sayang dengan dibasuh dengan air, dikasih alkohol dan obat merah. Begitu juga bila hati yang terluka akan sembuh dengan manisnya ketulusan cinta dan kasih sayang. Kerikil yang lewat dalam setiap hubungan mengajarkan kita betapa sangatlah penting dalam menjaga hubungan.


Nehan POV


Aku senang mendengar cerita Mama kalau aku tidak salah pilih calon pasangan. Nayra terlihat sangat menyayangi Mama. Dia perempuan yang sangat menjaga etika dan sopan santun. Aku melakukan kesalahan dengan mengabaikannya. Diabaikan kembali sangat meenyakitkan, pantaslah Nayra marah. Dia memutuskan tidak mau menerima telepon atau menemuiku. Whatsapppun hanya dibaca tak berniat untuk dibalas.


Aku melakukan kesalahan kembali dengan mengatakan dia kekanak-kanakan. Dia terlihat emosi ketimbang kuabaikan kemaren. Dia memintaku untuk intropeksi mengenai hubungan untuk lanjut atau putus. Kehilangan dia sangat menakutkan karena mencari perempuan yang membuatku nyaman, memahamiku, mendukung karir dan menyayangiku dan orang tuaku serta mandiri tidaklah mudah. Keebanyakan perempuan hanya menyukaiku dan manja.

__ADS_1


Kata-kata Nayra membuatku resah dan aku mengabaikan kesehatanku sendiri. Aku jatuh sejatuh-jatuhnya dalam cinta Nayra yang membuatku tidak bergairah, hampa tanpa kehadirannya. Aku sadar dia memberiku banyak warna dalam kehidupanku satu tahun belakang.


Saat aku sakit, dia datang menjengukku, merawat dan menjaga semalaman. Ternyata dia juga merasakan kesakitan saat kita saling menjauh. Dia menanggis melihatku sakit. Aku sebenarnya mendengar dia menangis tersedu-sedu dan berkata lirih minta maaf. Karena kecapekan dia sepertinya ketiduran disisi ranjangku. Aku sebenarnya ingin membangunkan agar pindah di sofa panjang supaya badannya tidak sakit. Aku mengusap ujung jilbabnya membuatku tersenyum. Cinta itu memang unik. Sakit pun bisa sembuh karena kehadiran orang yang kita cintai.


__ADS_2