Titik Waktu Di Hati Gendhis

Titik Waktu Di Hati Gendhis
Sesuatu Takterduga


__ADS_3

Malam ini aku mudik ke Yogyakarta sengaja tidak memberitahukan Nayra dan juga tidak menelpon memberikan ucapan selamat ulang tahun seperti biasanya karena tahun ini aku ingin memberikan moment yang berbeda di hari specialnya. Nah benar kan dugaanku kalau dia terkejut dan terharu dengan meminta bantuan anak kecil untuk memberi bunga dan surat. Dia mencariku dan menanggis terharu dengan kejutanku yang sederhana.


Hari ini aku ingin memanjakan dia mau kemanapun aku turuti walau sebenarnya sangat capek. Melihat dia yang happy dengan keberadaanku hilang sudah kepenatanku. Dia yang riang dan ceria adalah hiburan tersendiri bagiku dan tak bisa tergantikan dengan apapun. Terkadang aku bertanya dalam hati jika dia meninggalkanku di dunia ini apakah aku sanggup hidup tanpanya. Mungkin hampa ya. kedengarannya mungkin aku lebay tak bisa hidup tanpanya. Maklum dalam hatiku sudah terukir namanya. Entah sejak kapan dia memasuki ruang hatiku, yang aku rasa perlahan tapi pasti dia belahan jiwaku.


Terkadang aku juga bingung dengan cara apa dia membuat orang tuaku dan Kakakku menyayanginya. Dulu aku punya pacar saat Sekolah Menengah Umum, keluargaku memperlakukannya sangat berbeda dengan Nayra. Kata Mama, Nayra itu serasa bukan seperti calon menantu tapi anak kandung sendiri, mungkin sikap dan cara Nayra dalam memperlakukan orang tuaku sama dengan orangtuanya sendiri.


Di ulang tahunnya dia minta aku mengantarkan ke Solo. Dia tidak mau hadiah apapun selain berkumpul dengan keluarganya. Cewek yang baik bukan. Kalau cewek lain mungkin akan lain, jika mendengar cerita teman-temanku seperti minta kado yang mahal. Nayra adalah gadis yang bersahaja, mandiri, cerdas, kadang lembut kadang tegas dan wajahnya enak dipandang serta cantik. Dia tipikal cewek yang tidak boros, dia membeli sesuatu memikirkan fungsi kegunaan barang tersebut bukan untuk sekedar gengsi. Itulah nilai plus dia, jarang ada yang cewek seperti ini. Aku selalu dibuat kagum dengannya.


Saat aku sampai rumahnya terkejut karena ada tamu yang tak lain adalah teman kerjanya di kantor Advokat. Ada yang aneh sih menurutku di samping Yogya-Solo bukanlah jarak yang dekat bukan, juga mereka kan sering bertemu di tempat kerja, kenapa dia masih mencari Nayra segala ke rumahnya. Ada apakah gerangan? Daripada berprasangka nanti saat makan malam kucoba korek info dari Nay sendiri agar semua menjadi jelas.


Aku tadi sedikit mendengar pembicaraan mereka saat mau menemani Nayra dalam menerima tamu tapi aku urungkan saat mendengar Nayra sepertinya tidak menyukai kehadirannya. Aku sedikit lega saat Nayra mengatakan sudah menemukan laki-laki yang tepat buat jadi pendamping. Dalam hatiku bertanya dia siapa hingga mengejar Nayra ke rumah orang tuanya. Tidak bisa kubiarkan Nayra berpaling dan direbut oleh cowok itu. Nanti minta penjelasan sama Nayra biar kebenaran terbuka.


Setelah dia berpamitan, aku juga berpamitan mau istirahat dirumah Kak Adel. Sebenarnya Bunda sudah menyiapkan kamar buat aku tapi dengan halus aku tolak karena ingin melepas rindu dengan Kak Adel dan Fara. Alhamdulillah Bunda paham maksudku. Melupakan sejenak penat dalam pikiranku, bermain dengan Fara adalah solusi yang tepat. Keceriaannya melupakan praduga yang bermunculan tentang tamu Nayra tadi.


Sehabis Isya aku ke rumah Ayah Rendra untuk menjemput Nayra makan di luar. Pilihanku adalah sebuah restoran yang kental dengan suasana jawa. Masakannya ga hanya dari Indonesia saja tapi juga Internasional. Sampai di restoran kita memilih menu iga bakar dan gurame tiga rasa. Sebelum menu datang kita ngobrol-ngobrol dulu.


"Nay, apa kamu udah dapat pekerjaan?".


"Belum Mas, doain ya Nay semoga cepat keterima kerja".


"Bukannya sekarang udah kerja di Kantor Advokat?" selidikku.


"Nay habis klien mendapat putusan dari Pengadilan, rencananya mau mengundurkan diri Mas".


"Kenapa?".


"Nay udah ga nyaman kerja di sana, Mas lihat kan cowok yang tadi ke rumah, dia udah tahu Nay punya tunangan tapi masih aja ngejar, Nay risih Mas".


"Iya sebaiknya keluar aja karena orang kerja butuh kenyamanan".


"Iya Mas kalau kasusku sudah kelar, sabar dulu, kalau sekarang dianggap tidak bertanggug jawab donk".


Aku tersenyum mendengar ucapannya walau sebenarnya aku tidak puas dengan penjelasan Gendhis tentang cowok tadi tapi aku sedikit lega dengan sikap Gendhis yang sadar sudah punya tunangan sehingga ingin menjauh dari cowok yang menyukainya. Gendhis adalah penyemangatku tanpa dia mungkin aku hampa. Tak lama makanan datang. Kita menyantap tanpa bicara. Setelah selesai makan kita ngobrol lagi.


"Nay, lima bulan lagi nikah gimana?"ucapku.


"Hmm... boleh, mungkin Nay udah kelar kasus itu"jawab Nay.

__ADS_1


"Bener ya?"tanyaku lagi.


"Iya Mas".


"Dua bulan lagi orang tuaku melamarmu ya?".


"Siap".


"Nay, Mas serius lho ga bercanda".


"Aku juga serius Kanda hehe".


"Oke kalau Nay udah siap nanti Mas bilang sama Ayah dan Bunda biar mempersiapkan semua".


"Injih kanda".


Aduh Nay malah bercanda mulu. Nanti sampai rumah langsung ngomong sama Ayah dan Bunda aja deh biar semua jelas. Kemudian kita meninggalkan cafe sampai rumah Nay belumlah malam, kulihat Ayah di teras depan duduk sendirian menunggu kita.


"Assalammu'alaikum Yah" salam dari kami.


"Sendirian aja Yah, Bunda Mana?" tanyaku.


"Bunda lagi di dapur, buat kue".


"Nduk tolong panggilin Bundamu ya".


"Injih Yah".


Tak lama Bundapun menyampiri kita diteras.


"Ayah, Bunda tadi kita udah ngobrol tentang pernikahan".


"Menurut Ayah dan Bunda bagaimana jika kita lima bulan lagi menikah".


"Ayah setuju nak Nehan jika kalian segera nikah, apalagi sekarang Alvin teman kecilnya Gendhis mengejar Gendhis lagi".


"Segeralah nak, minta kedua orang tuamu untuk melamar ke rumah".

__ADS_1


"Iya nak, Bunda merestui kalian".


"Makasih Yah, Bun kalau gitu satu bulan lagi saya datang bersama keluarga".


"Kalau boleh tahu apa cowok tadi yang kesini bernama Alvin?".


"Iya nak tadi itu Alvin".


"Tadi Bunda juga nanya tapi Gendhis bilang aku ga ada hubungan apa-apa hanya sebatas rekan kerja aja, aku sudah punya keputusan masa depan dengan Mas Nehan".


Deg Gendhis udah bertemu dengan Alvin tapi ga cerita sama aku. Aku bersyukur Gendhis tidak berpaling ke masa lalunya. Aku jadi takut kalau lama-lama mereka berinteraksi takut tumbuh cinta lagi. Ga akan kubiarkan, sebaiknya dipercepat aja pernikahan ini biar hatiku tenang kalau dia sudah terikat. Setelah menikah akan ku boyong ke Medan untuk memperkecil pertemuan mereka kembali. Maaf Nayra karena aku sangat mencintaimu jadi takut kehilanganmu, ku harap nanti kamu paham dan mengerti apa yang aku lakukan.


"Ayah, Bunda bagaimana jika dipercepat aja pernikahan kami, kalau lima bulan sepertinya kelamaan ya?".


"Iya nak nanti kita pikirkan sama-sama ya".


"Iya Yah".


"Yah, Bun Nehan pulang dulu ya besok pagi harus balik Yogya, Malam udah balik Bandung".


"Iya nak percayalah Gendhis itu setia, jadi yang tenang kerjanya".


"Iya Ayah, Assalammu'alaikum".


Kemudian aku pamit pulang karena sudah malam. Sampai rumah Kak Adel, Fara sudah tidur sedang Kak Adel lagi menonton televisi bersama Kak Rizki suaminya.


"Wah...wah pengantin lama mesra amat"godaku.


"Halah kamu besok juga akan alami seperti sama Nayra" kata Kak Adel.


"Hehehe semoga Kak, O iya Kak rencananya satu bulan lagi mau melamar Nay, menurut Kakak gimana?" tanyaku minta pendapat Kak Adel.


"Bagus itu, Kakak dukung".


"Makasih Kak, aku istirahat dulu ya".


"Iya" kata Kak Adel.

__ADS_1


__ADS_2