
Setelah dinyatakan lulus aku mengurus administrasi seperti bebas pustaka, pendaftaran wisuda dan pengambilan toga. Saat mencoba toga ada rasa yang tidak bisa kulukiskan dengan kata-kata. Mungkin ini yang dirasakan para pejuang toga pada umumnya. Beban selama ini rasanya plong banget.
Yogyakarta telah menorehkan sejarah dalam hidupku. Di sini selain mendapat ilmu juga menemukan cinta. Dunia kampus yang memberi kenangan yang tak terlupakan. Setelah menuntut ilmu selama kurang lebih tiga tahun empat bulan aku akan mendapatkan gelar sarjana hukum besok pagi. Setelah pemberitahuan di gladi bersih tadi aku semakin terharu dan ingin menanggis karena ga percaya. Aku mendapatkan gelar lulusan terbaik dan akan mendapatkan penghargaan dari Rektor.
Pemberitahuan ini sengaja tidak aku kabari kesemua agar menjadi kejutan orangtuaku dan Mas Nehan besok. Selesai gradi bersih dan mengambil undangan buat orang tua, Mas Nehan sudah menjemputku di gedung serbaguna. Dia sampai Yogya tadi malam karena sangat antusias melihatku wisuda.
"Kenapa jemput Nay segala sih Mas, nanti capek lho?" tanyaku ketika sudah dimobil.
"Harusnya kamu bersyukur Dik dijemput sopir seorang dokter yang tampan" jawab Mas Nehan.
"Iiishh norak dan pede banget si Bang" ucapku dengan bercanda.
"Fakta Dik banyak lho teman di Bandung ingin pedekate sama aku tapi aku tolak karena udah punya calon isteri".
"Oooh kenapa ga pacaran aja sama mereka" jawabku manyun.
"Ga ah hatiku sudah terpanah ga bisa berpaling lagi".
"Gombaaaal" ucapku.
"Gombal sama calon isteri gakpapa donk".
"Kita makan gudeg dulu ya Dik, Mas kangen makanan khas Yogya".
"Oke tapi nanti tolong antar aku cari sendal ya" jawabku.
"Beres Nyonya".
Setelah makan kita menuju pusat perbelanjaan. Aku memilih yang warna hitam kombinasi abu. Ku melihat Mas Nehan juga membeli beberapa hak tinggi dengan warna yang berbeda-beda. Daripada penasaran mending kutanyakan saja.
"Buat siapa Mas banyak banget".tanyaku.
"Buat para kekasih hatikulah mumpung habis gajian dan discount lima puluh persen"jawabnya.
Aku diam mengeryitkan dahi tanda lagi berpikir.
"Jangan mikir yang engak-enggak"sahutnya sambil menjitak keningku.
"Aduh sakit tahu"ucapku lirih.
"Aku beliin sendal buat Mama, Bunda, Kak Adel dan Kak Sinta, paham?".
"Ha? Serius?emang tahu ukurannya?"tanyaku.
"Nehan gitu loooh pake donk logika".
"Paling nanya Kak Sinta atau Bunda"jawabku cemberut.
Setelah puas memilih dan membeli barang yang aku butuhkan aku pulang menuju rumah Papa Radit karena semua nanti akan menginap di rumah Papa. Sore hari rombongan dari Solo sudah datang, rencananya kami mau makan malam di luar yaitu gudeg sagan mumpung di Yogyakarta.
Makan malam berjalan seru karena pada bercanda dan kami membentuk group masing-masing, Ayah, Papa, Kak Dion, dan Kak Rizki sedangkan bagian emak-emak sangatlah ribut dan heboh entah pada lagi ngomongin apa karena aku mau ikut rumpi ga dibolehin sama si Abang dengan alasan masih kangen dan manfaatin waktu buat quality time, ada aja alasan.
"Dik rencananya habis wisuda mau ngapain?"tanya Abangku.
"Nay masih jadi asisten dosen dan lanjutin kerja team kemaren dan sambil cari lowongan kerja"jawabku.
__ADS_1
"Cari lowongan kerjanya di Bandung aja Dik biar kita ga LDR lagi".
"Bukannya Mas bentar lagi selesai?".
"Nanti aku sama siapa donk jika Mas ga di Bandung?".
"Kalau disini aku ada teman" sahutku.
"Ya udah Adik cari kerja area Yogya sambil nunggu Mas selesai di Bandung".
"Oke deh Kakak" jawabku sekenanya.
Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam kita pulang buat istirahat agar besok tidak kesiangan bangun karena harus meka up dulu. Adzan shubuh berkumandang, aku bangun, sholat dan siap di meka up sama Kak Sinta dibantu Kak Adel. Lumayanlah punya kakak dan calon kakak ipar yang paham dunia permeka-upan. Setelah dirias aku memakai kebaya warna hijau tua. Saatnya keluar kamar edisi pamer dulu hehehe.
"Bun, Ma udah cantik belum Nay?"tanyaku.
"Cantik"ucap Bunda dan Mama.
Mas Nehan yang melihatku hanya bengong saja.
"Nehan terpesona ya?"goda Papa.
"Iya Pa hihihi habis beda banget" kata Mas Nehan.
"Cieeee ada yang terpesonah"cuitan Kak Adel.
Mas Nehan mengantar kloter pertama yang isinya aku, Ayah dan Bunda. Setelah sampai gedung, Mas Nehan membenarkan togaku dulu terus foto-foto bentar mumpung belum kusut.
"Ayah, Bun nanti kalau udah selesai jangan keluar ruangan biar ga binggung mencari Nay" ucap Mas Nehan.
"Adik jangan lupa jemput Ayah Bunda ditempat duduk" kata Mas Nehan lagi.
"Iyaaa Bang" jawabku sewot.
Mas Nehan mengantar Ayah dan Bunda mencari tempat duduk, kemudian keluar mencariku yang sedang melakukan absen.
"Dik, nanti kalau udah selesai tunggu kita di depan pintu sebelah kanan ya?".
"Mas, mau pergikah? Ga lihat wisudaku dari televisi?"tanyaku.
"Lihatlah ngapain di sini ga lihat".
Aku tersenyum menanggapinya kemudian pamit untuk berbaris memasuki ruangan. Berbagai sambutan sudah selesai saatnya pemanggilan wisudawan/wisudawati buat maju kedepan untuk dipindah tali toga kemudian pengumuman lulusan terbaik dibacakan. Saat namaku disebut untuk dipersilahkan maju didampingi orang tua ke depan untuk menerima penghargaan membuat Ayah Bunda terkejut dan bangga terhadapku. Ini kado terindah dalam hidupku. Proses acara wisuda kelar, aku minta Ayah dan Bunda menungguku karena mau ada foto satu angkatan satu fakultas.
Ketika suasana dalam ruangan sudah sepi aku keluar bersama Ayah dan Bunda. Saat aku baru sampai depan pintu tiba-tiba Mas Nehan memberiku bucket bunga dan dia berlutut dengan memembuka kotak cincin
"Dik maukah nikah sama Mas?" ucap Mas Nehan.
Aku terkejut, tidak menyangka dan tidak bisa bicara apa-apa sampai bengong. Malu tapi senang dengan keberanian dia di depan orang banyak, romantis. Kesadaranku muncul, aku harus menerima konsekuensi dan tanggung jawab dengan pilihanku yaitu memilih Mas Nehan untuk menjadi pedampingku.
"Jawaaab Dik" kata Adel gemes.
"Terima..terima"sorakan orang-orang disekitar.
dan akhirnya akupun tersadar setelah dicolek Bunda
__ADS_1
"Nay kok melamun, jawab tu nak Nehan nanti pegal haha" kata Bunda.
"Dengan mengucap Bismillah saya mau" jawabku tegas.
Yeeee sorak semua membuatku tersenyum malu.
"Makasih dik udah nerima Mas".
Aku ga sengaja melihat Alvin dari kejauhan, entah dia mau menghadiri wisuda siapa aku ga peduli. Mungkin saat ini adalah titik waktu dalam mengambil keputusan agar Alvin tidak berharap padaku lagi dan memang sudah sepantasnya aku memilih Mas Nehan yang menemaniku dari nol menuju impian masa depan.
"Ini kenapa pada bengong di sini?"tanya Ayah.
"Iya sebaiknya kita mencari tempat buat berbicara" kata Papa.
Akhirnya kita memilih Pring Sewu untuk merayakan wisudaku.
"Nduk, kenapa sih kemaren g kasih tahu kalau kamu mau menerima penghargaan?" tanya Ayah.
"Kalau kasih tahu ga kejutan lagi donk yah" jawabku.
"Rencanamu bagaimana Dik setelah wisuda?" tanya Kak Sinta.
"Aku masih jadi Asisten dosen dan kerja di kantor advokat Kak" jawabku.
"Keren Dik" kata Kak Adel
"Biasa aja Kak sambil cari lowongan kerja hehe".
"Rencanamu kapan Nay mau nikah sama Nehan?" tanya Mama.
"Nay nunggu Mas Nehan nyelesein kerjaan di Bandung dan Nay mau nyelesein urusan Nay dulu Ma". jawabku lirih.
"Gimana Nehan?"tanya Papa.
"Iya Pa emang baiknya gitu" ucap Mas Nehan.
"Baiklah kalau kalian udah sepakat" kata Ayah.
Setelah selesai makan, Ayah, Bunda, Kak Sinta dan Kak Dion pamit untuk langsung balik Solo karena hari sudah sore. Sedangkan aku diantar Mas Nehan pulang ke kos.
"Mas, gak keberatan nunggu Nay nyelesein urusan Nay dulu?"tanyaku hati-hati.
"Sebenere Mas ingin nikahan dulu resepsi nanti kalau Mas udah kelar".
"Maaf Mas kalau saat ini Nay belum siap, Nay ingin menikmati masa muda sebentar aja sebelum nikah".
Mas Nehan mengusap kepalaku supaya aku tenang ga usah terlalu beban.
"Tapi nanti siap ya kalau Mas udah selesai".
"Siap boss" jawabku membuat dia tersenyum.
Nehan POV
Hari ini dia sangat cantik mengenakan kebaya dan toga. Aku bangga dan terharu melihat dia meraih penghargaan. Dia perempuan yang cerdas dan mandiri. Siapa sih yang tidak bangga menjadi pedampingnya kelak. Aku semakin yakin ingin mempersuntingnya karena menurutku anak-anak yang pintar berasal dari gen ibunya.
__ADS_1
Tanpa sepengetahuan Nay, aku membuat rencana sama keluargaku dan keluarganya untuk melamar dia disaat wisuda. Dia terkejut dengan pernyataanku. Yes dia menerimaku. Dia nikahnya menunggu aku selesai kerjaan di Bandung dan mau nyelesein urusannya. Yang menjadi tanda tanyaku urusan apa dia sampai dia ingin menunda menikah karena urusannya.