Titik Waktu Di Hati Gendhis

Titik Waktu Di Hati Gendhis
Membuka Hati Uhuiin


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul enam pagi, teleponku berbunyi tertera nama Kak Nehan. kemudian kutekan tombol hijau tanda menerima panggilannya.


"Assalammu'alaikum Kak ada apa telepon pagi-pagi".


"Nay mau balik jam berapa ke Yogyanya?" tanya Kak Nehan.


"Rencana jam delapan atau sembilan Kak biar di kost bisa rehat sebentar sebelum kuliah".


"Baiklah nanti Kakak jam delapan sampai rumahmu, tolong share lokasi".


"Bener nih enggak repotin Kakak?".


"Santai dong Nay, jangan merasa tidak enak gitu".


"Baiklah Kak Aku tunggu di rumah, aku siap-siap dulu kak".


"Ok" jawab Kak Nehan.


Tepat pukul delapan pagi saat aku, Ayah dan Bunda di ruang makan, bell rumah berbunyi.


"Bi Sumi tolong lihat tamunya" kata Bunda.


"Gendhis saja Bun, sepertinya itu teman Gendhis yang mau jemput Gendhis untuk balik ke Yogya".


Ayah dan Bunda memandangku heran karena sahabatku ga ada yang kuliah di Yogya. Aku berdiri dari kursi makan berjalan menuju ruang tamu, ceklek pintu kebuka.


"Maaf Kak bukanya lama".


"Gakpapa Nay, santai aja".


"Masuk Kak, Kakak pasti belum makan kan, ayuk makan dulu sekalian kukenalin dengan Ayah dan Bunda".


"Ayah, Bunda kenalin temannya Gendhis, namanya Kak Nehan".


"Dia dokter muda yang lagi koas dan satu Universitas dengan Gendhis".


"Ayook nak Nehan kita sarapan dulu biar kita punya amunisi pagi, biar semangat menjalani aktivitas" ucap Ayah.


"Makasih Om diperkenankan makan bersama" kata Kak Nehan.


"Ini ayam karamel masakan Gendhis, dicicipin semoga memuaskan" kata Bunda pake promosi segala.


"Baik Tante".


"Tan, serius ini masakan Nayra?" tanya Kak Nehan.


"Serius donk nak" jawab Bunda.


"Tidak enakkah nak?".


"Kalau tidak enak ganti yang lain saja".


"Tidak Tante ini enak banget" kata Kak Nehan.


"Wah Nay pintar masak juga ya Tan, nilai plusnya tambah nih Tan".


"Gendhis mukamu ko merah kenapa nak?" tanya Ayah.


"Kamu malukah sama pujian dari nak Nehan".


"Apaan sih Ayah dan Bunda enggak usah berlebihan meledek Gendhis, seneng banget ya meledek" jawabku sambil cemberut.


Keseruaan pembicaran diruang makan membuat kita lupa waktu.


"Kak, udah yuk ngobrolnya nanti terlambat sampai Yogya".


"Santai Nay, Kakak masuk shif malam di rumah sakit".


"Baiklah Om dan Tante, Nehan dan Nayra balik Yogya dulu ya".


"Iya nak hati-hati, tolong jagain Gendhis di rantau, maklum jauh dari keluarga".


"Beres Om dan Tante, dengan senang hati Nehan akan menjaganya".


Kamipun langsung berpamitan. Saat Aku memeluk Bunda, Bunda membisiki aku


"Nduluk kowe utang penjelasan karo Bunda" ( Nak kamu hutang penjelasan sama Bunda ).


"Nanti malam telepon Bunda ya nak".

__ADS_1


"Iya Bun jawabku pasrah".


"Ayok Kak udah siang nih".


"Mari Om, Tan, Nehan berangkat dulu".


"Iya nak kapan-kapan main sini lagi ya".


"Pasti om dengan senang hati," jawabnya.


Di mobil, dalam perjalanan, awalnya hening tidak ada pembicaraan, tapi saat sampai Kartosura, Kak Nehan tiba-tiba bertanya.


"Rencanamu kedepan setelah lulus mau kemana Nay?".


"Aku punya mimpi Kak ingin menjadi dosen".


"Untuk menjadi dosen kan Nay harus ambil Program Magister.


"Kalau Kakak sendiri punya rencana apa setelah sumpah dokter?".


" Kakak ingin segera melamar kamu Nay".


Blush pipiku mendadak panas mendengar ucapannya.


"Iih Kak Nehan sudah pinter banget gombal".


"Perlu digaris bawahi kita kan tidak dalam hubungan apapun Kak, jadi jangan ngaco deh" jawabku.


"Jadi kalau kamu punya hubungan dengan Kakak, Kakak boleh melamarmu sekarang Nay?".


"Kakak udah deh jangan bercanda melulu tuh lihatin jalannya, bahaya Kak" jawabku dengan jengkel.


"Hahaha Nay kenapa mukamu dari tadi merah terus".


"Kakak sih nyebelin, besok aku ga mau lagi diajak bareng lagi kalau Kakak ke Solo lagi".


"Waduh jangan gambek dong Nay, habis kamu lucu jika lagi cemberut, jadi gemes Kakak sama kamu".


"Jangan ngambek ya nanti saat kamu enggak ada jadwal kuliah Kakak ajak ke pantai".


"Hah! Serius nih Kak, mau dong Nay diajak kesana karena sudah lama banget enggak lihat pantai".


"Apa coba syaratnya" tanyaku.


"Kamu enggak marah dan mau senyum sekarang sama Kakak".


Kitapun sama-sama ketawa dengan tingkah kita yang seperti anak kecil. Tidak terasa kita sudah sampai di depan kosku.


"Makasih ya Kak untuk tebengannya, lumayanlah sebagai anak kos bisa hemat pengeluaran, sering-sering aja Kak jadi driver grab gratis buat Nay".


"Siap Nona" kata Kak Nehan yang membuatku terkekeh.


"Bye...Kak hati-hati di jalan sampai ketemu lagi".


Tak terasa minggu pun datang, saatnya bermalasan. Sehabis shubuh biasanya aku tidur balik lagi, tapi baru aja mata terpejam, hpku berbunyi ttrt..ttrt ..nada dering penantian oleh armada terdengar, saat lirik pulangkan dia padaku, telepon kuangkat tanpa melihat nama penelpon.


"Hallo Assalamu'alaikum Kak Sinta jangan ganggu dong, aku masih ngantuk Kak, semalam begadang nonton drama korea".


"Waalaikumsalam bangun Nay, sholat shubuh dulu, jadi ke pantai ga?".


Aku tersadar dan membuka mata, ini bukan suara Kak Sinta. Ku lihat nama pemanggil, astaghfirullah, Kak Nehan rupanya.


" Eeh Kak maaf aku kira Kak Sinta yang suka usilin jika aku libur".


Kak Nehan tertawa mendengar apa yang aku ceritain.


"Makanya Nay kalau ada yang telepon dilihat dulu jangan langsung nyerocos aja, ntar jadi kebiasaan".


"Hehe iya Kak akan aku ingat selalu pesanmu, ngomong-ngomong ada apa Kak telepon pagi-pagi".


"Kalau hari ini kamu ga ada acara, kita ke pantai yuk?".


"Hm ayuk Kak, aku juga butuh rekreasi sebelum ujian semester genap".


"Oke Kakak jemput jam enam, biar sampai pantai tidak terlalu panas".


"Siaaap Kak" jawabku.


Jam enam kurang lima menit Kak Nehan sudah sampai di kosku. Saat dia turun dari mobil, kulambaikan tanganku agar menghampiriku yang sedang duduk di teras kos.

__ADS_1


"Berangkat sekarang ya Nay agar kita tidak kesiangan sampai pantai".


AKu hanya menggangukkan kepala tanda setuju. Perjalanan yang memakan waktu satu setengah jam membuatku ketiduran didalam mobil. Saat sampai lokasi, aku terbangun karena silau cahaya matahari yang masuk lewak jendela mobil.


"Kak, kenapa aku tidak dibangunin?".


"Kakak enggak tega Nay, lihat kamu sepertinya capek dan ngantuk".


"Gak enak aku, karena gak nemenin Kakak waktu nyetir".


"Udah santai aja Nay, ayuk kita keluar".


Aku dan Kak Nehan akhirnya keluar dari mobil menuju pantai dengan memakai topi walau berjilbab.


"Pantai Baron indah dan unik banget Kak, pantainya membentuk cekungan".


Kruk..kruk... "Kak,Nay lapar nih, kita cari makan dulu yuk".


"O pantes Nay udah jam sepuluh makanya perutmu protes hihihi".


Kita mencari pasar ikan untuk memilih menu yang kita inginkan.


"Nay, kau ingin makan apa?" tanya Kak Nehan.


"Aku ingin udang tepung sambal dabu".


"Kakak mau pilih apa?"tanya Nayra.


"Bingung Nay, kau pilihkan saja sekalian, aku gampang ko" jawabku santai.


"Baiklah udang tepung dabu dan cumi saos tiram aja Mbak dan minumnya es kelapa dua" pesan Nayra sama pelayan rumah makan.


Kamipun mencari tempat dekat pantai. Sambil menunggu makanan matang aku mencoba ngomong sama Nayra.


"Nay, ada yang ingin Kakak omongin serius sama kamu".


Firasatku Kak Nehan mau ungkapin perasaannya. Dag..dig...dug takut jika keputusan nanti akan menyakitinya.


"Nay, Kakak udah lama suka sama kamu sejak pandangan pertama saat orientasi studi dan pengenalan kampus".


Nah, bener kan dugaanku, batinku.


"Mau ga Nay jadi pacar Kakak?".


Hmm..."Kak, Nay akan cerita dulu, sebenarny aku masih terikat janji dengan cinta pertamaku".


"Aku dan dia bertemu lima belas tahun yang lalu".


"Sampai sekarang keberadaannya belum kuketahui dengan pasti".


"Mungkin kedengaran aneh, aku yang waktu itu berumur lima tahun berjanji jika dewasa kita akan menikah dengannya".


"Mungkin bagi orang lain itu hanyalah kisah cinta monyet, tapi bagiku tidak karena dia yang selalu mengajariku bertahan disaat aku sedih saat semua teman-teman menjauhiku karena waktu itu aku sangatlah gemuk".


"Dia yang selalu membuat hari-hariku ceria sewaktu aku masih kecil".


"Menurut Kakak, apakah ini adil jika aku membuka hati untuk Kakak tapi di hatiku masih ada nama cowok lain?"


Sekarang Kakak yang bertanya "Sampai kapan Nay akan menanti kepastian yang tidak berujung?".


"Sadarlah Nay waktumu hanya akan terbuang sia-sia, kalau dia ingat dirimu, kalau tidak bagaimana?"


Kata-kata Kak Nehan menamparku, apa yang dikatakan benar semua, aku pasti lelah dengan penantian yang tak berujung ini.


"Baiklah Kak, kasih aku kasih kesempatan membuka hati buat Kakak, tapi maaf jika Nay belum bisa mencintai Kakak, Nay butuh waktu dan proses".


"Baiklah terima kasih Nay untuk kepercayaanmu, kita pelan-pelan dalam menjalani hubungan ini".


Akupun tersenyum sambil mengganguk.


"Hari ini kita jadian ya Nay?".


Akupun terkekeh mendengar penuturan Kak Nehan.


Nehan POV


Waktu yang berlalu tak mungkin untuk diputar atau diulur. Nayra harusnya sadar dia cuman bisa mengingat kenangan yang tercipta di masa lalunya bukan untuk di lalui kembali bersama sahabat kecilnya karena terkadang Tuhan membuat kisah hidup seseorang hanya sebagai teman di suatu masa tapi bukan sebagai pasangan.


Sakit sekali hati ini saat mendengar penjelasan dari orang yang aku cintai. Cemburu sudah pasti, tapi aku tidak boleh egois. Ini bukan kesalahannya. Waktu dan keadaan yang membuat dia bertahan dalam pencarian cinta pertamanya. Walau sekarang dia menerimaku tanpa cinta, aku harus maklum karena tidak mudah membolak balikkan hati. Aku harus sabar dalam menuntunnya semoga dikemudian hari dia mencintaiku.

__ADS_1


__ADS_2