
Sesuai janjinya, Mas Nehan, menjemputku di Fakultas Ekonomi. Dia tiba terlebih dulu saking antusiasnya buat ketemu. Sampai Yogya, hari sudah sore karena menunggu teman-teman yang packing. Setelah berpamitan sama Nana, aku mengikuti Kak Nehan yang membawakan koperku menuju mobilnya.
"Dek, sebelum pulang kekos, mampir kerumah Mama dulu bisa ga?"
"Mama kangen sama kamu Dik, tadi aku lihat Mama masak sayur nangka dan ikan asin".
"Waah mantap betul Mas, buruan kita kerumah Mama, jadi lapar nih".
Kak Nehan ketawa lihat ekspresiku, lucu katanya. Begitu mobil memasuki halaman rumah, aku terburu-buru turun. Entah kenapa aku mulai akrab dengan rumah ini, aku ngerasa seperti di rumah sendiri gitu, aneh kan.
"Dik, pelan-pelan jalannya".
Aku hanya sambil lalu aja tetap jalan. Kak Nehan hanya geleng-geleng kepala lihat tingkahku.
"Assalammu'alaikum Mama" sapaku saat Mama sedang menyirami bunga dihalaman depan.
"Wa'alaikumsalam, anak Mama yang cantik, gimana KKNnya?"
"Seru banget Mam".
"Pantes Mas dicuekin, jangan-jangan disana ada yang ditaksir," protes Kak Nehan sambil cemberut.
"Pasti kan ya Ma, Nay kan cantik dan baik," sambil kukode Mama dengan kedipan mata.
Mama yang paham dengan kodeku ikut memanasi, "Orangnya cakep ga Nay?".
"Banget" jawabku.
"Udah sana minta diapelin sama yang kamu taksir, jangan ganggu Kakak lagi". Sehabis Kak Nehan berkata, dia pergi ninggalin aku kekamarnya.
"Ma, ngambek beneran si Abang".
"Udah biarin kita tes dulu seberapa besar cemburunya".
"Mama, Nay makin lope" sambil ku peluk Mama, Mamapun membalas pelukanku.
Setelah mandi di ruang tidur khusus yang disiapkan Mama, kuhampiri Mama yang sedang masak.
"Ma, ada yang perlu Nay bantu?"
"Udah selesai semua sayang tinggal nunggu Papa pulang kerja".
"Nay,mungkin Nehan ketiduran, coba dibangunin".
"Iya Ma".
Setelah mendapat penjelasan kamar Kak Nehan dari Mama, aku naik ke lantai dua menuju kamarnya.
"Tok...tok... Mas, bangun, udah mau maghrib nih".
"Masuk Dik ga dikunci pintunya".
Akupun membuka pintu kamarnya, kulihat dia sedang duduk di balkon sambil mengetik dilaptopnya.
"Lagi sibukkah Mas?" tanyaku.
"Sedikit Dik, tadi siang Kakak lupa membuat laporan pribadi tentang pasien dalam pengawasan Kakak".
"Mau Nay buatin kopi atau teh?".
"Kopi aja Dik".
Aku mengangguk tanda setuju dan keluar menuju dapur lantai satu.
"Mama, kopi kesukaan Kak Nehan yang mana?"
Kumelihat dua macam kopi hitam di dua toples yang berbeda.
"Favorit Nehan yang Kintamani Bali sayang, Toraja favorit Papa".
Saat aku akan membuat kopi, Papa masuk rumah dengan mengucap salam
"Assalammu'alaikum".
"Wa'alaikum salam jawab kami".
Aku mengikuti Mama menghampiri Papa dan cium tangan.
"Gimana KKNmu nak?"
"Alhamdulillah Pa udah selesai kemaren, Papa sehat kan?".
"Alhamdulillah sehat, Mamamu tuh galau aja karena Nay KKN jadi sering kesepian".
"Papa bisa aja kan ada Papa, Papa mau minum kopi atau teh?".
"Teh aja nak"
Mama dan Papa yang melihatku geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Setelah teh jadi, aku meletakkan di meja ruang keluarga.
"Ada yang salah dengan Nay?".
__ADS_1
Dari tadi, Nay perhatiin, Mama dan Papa lihatin Nay terus.
"Kami serasa punya anak cewek lagi ya Pa?"
"Nay sudah menganggap Mama dan Papa seperti Ayah Bunda sendiri, maaf jika tidak berkenan". Kataku lirih.
"Bukan begitu nak, bagi kami, Nay juga putri kami".
"Makasih Pa , Ma".
Mama memelukku. "Sering main sini saat ga ada kuliah".
"Iya Ma" jawabku.
Tap...tap... Mas Nehan turun menghampiriku.
"Dik, mana kopi Mas?"
"Haa...astaghfirullah, Nay lupa Mas, keasyikan ngobrol sama Papa dan Mama".
"Dari tadi Mas dicuekin dan diberi harapan palsu sungutnya".
Kita ketawa lihat tingkah Mas Nehan yang sedang merajuk. Adzan Maghrib berkumandang, Papa dan Kak Nehan siap-siap berangkat ke masjid. Aku dan Mama, sholat berjamaah di rumah kulanjutkan membaca Al-Quran niatnya sebentar tapi aku malah aku larut khusyuk membacanya sampai tidak menyadari Papa dan Mas Nehan pulang dari masjid dan menungguku di ruang keluarga.
"Maaf Pa dan Mas telah nunggu Nay lama".
"Santai aja Nay baru jam setengah tujuh".
Ku hanya menganguk saja kulanjutkan ke dapur membantu Mama menyiapkan hidangan dimeja makan.
"Makan Malam udah siap" kata Mama.
Kita makan sambil bertukar cerita.
"Nay, KKN udah kelar, rencana kedepan apa nduk?" tanya Papa.
"Rencananya Nay mau mendaftar magang dari PUSDIKLAT, doain Ma, Pa Nay bisa mendapat tempat magang yang bagus".
"Pasti nduk kita doain, walau sibuk jangan lupa telepon Mama".
"Pasti Ma" jawabku.
"Mas mau ditinggal lagi Dik?" Sahutnya dengan manyun.
"Tinggal kemana sih Kak, kita kan masih satu kota dan bisa sering ketemu".
"Udah jangan ribut mempermasalahkan hal yang belum terjadi, makanan keburu dingin ga enak" kata Mama.
Sehabis makan dan cuci piring, aku mendekati Mas Nehan yang sedang nonton televisi.
"Tanggung Dik, sampai kos bersih-bersih kamar, nanti malah capek, udah tidur sini di kamar tidur khusus tamu, besok kuanter ke Solo mumpung libur".
"Besok temenin Nay di kondangan bisa ga Mas?".
"Siap adinda tapi ga gratis".
"Ribet-ribet ga usah aja Mas, aku mau minta tolong Lalu aja pasti dia mau banget"
Aku beranjak dari kursi pura-pura mau masuk kamar.
"Eeh jangan Dik, Mas bisa nemenin ke Solo besok pagi tapi tolong buatin kopi dan nemenin Mas buat laporan malam ini".
Dia pikir aku ngambek padahal aku cuman pura -pura aja. Pukul delapan, aku buatin kopi dan mengantar ke kamar Mas Nehan. Dia lagi asyik mengetik di lap top di meja kerja saat aku masuk kamarnya. Ku taruh kopi di meja sofa dekat tempat tidur. Aku keluar menuju balkon kamar, duduk sambil membalas pesan-pesan yang masuk chatroom. Setelah satu jam, Kak Nehan ikut keluar membawa jaket dipakaikan kepundakku saat aku sedang berdiri sambil termenung.
"Laginmikir apa Dik?".
"Diluar sangat dingin udaranya" katanya.
"Hmm...lagi bayangin aja masa depanku, aku jadi Dosen sekaligus Advokat dan Mas jadi Dokter, pasti sama-sama sibuk dan jarang ketemu".
Mas Nehan terkekeh mendengar penjelasanku.
"Gaklah dek, nyatanya sekarang kita sama-sama sibuk masih punya waktu bersama, makasih udah masukin aku dalam masa depanmu Dik, Mas terharu dengan paparanmu, jadi pengin cepat segera lulus dan meminangmu".
"Iih Abang kejauhan mikir, aku masih kuliah tahu".
"Emang kenapa kalau kuliah?" tanya Mas Nehan.
"Nay masih ingin bebas menikamati masa muda, belum mikir pernikahan".
"Tunggu aku lulus S2 gimana Mas?".
"Ga mau, Adik lulus S1 kita langsung nikah".
"Hahaha ciee yang udah ga sabar menantiku".
Mas Nehan mengajakku masuk kedalam kamar karena udara malam ga bagus buat kesehatan.
"Dik jangan terlalu dipikirin pembicaraan kita tadi, kita jalanin aja dengan santai, kita fokus menyelesaikan studi dulu agar tidak ngecewain orang tua kita".
"Makasih Mas untuk pengertiannya".
__ADS_1
"Mari kita istirahat, udah jam sepuluh karena besok pagi jam tujuh udah berangkat" kata Mas Nehan.
Aku terbangun ketika adzhan shubuh berkumandang. Setelah melaksanakan rutinitas seorang muslim, aku kedapur merebus air untuk membuat teh. Kata Mama, Bibi lagi izin pulang kampung menenggok Ibunya. Sambil menunggu air matang, aku bersih-bersih meja makan agar enak dipandang. Tak lama setelah kerjaanku beres, Papa, Mama dan Mas Nehan pulang dari masjid disambung jalan-jalan pagi keliling komplek.
"Waduh mantu idaman ni Ma, pagi-pagi pulang dari masjid udah disiapin teh". Kelekar Papa yang mebuat kita semua ketawa.
Setelah bercanda sebentar aku dan Mas Nehan siap-siap buat ke Solo.
"Pa, Ma, kita berangkat dulu ketemu calon mertua" pamit Mas Nehan.
"Sweat camer Pa, ga pada makan pagi dulu?" tanya Mama.
"Nanti di Solo aja Ma, masih kepagian" kataku.
"Tolong sampain salam kenal dari kami buat Ayah bundamu, Nay kata Mama".
"Siap Mam, assalammu'alaikum" jawabku
Saat dalam perjalanan ke Solo, tiba-tiba telepon berbunyi, tapi ga kuangkat karena malas setelah tahu siapa yang menelpon.
"Dari siapa Dik? Kenapa tidak diangkat?".
"Dari Lalu temanku KKN".
"Semalam dia whatshapp mau main kekos, aku bilang kalau pagi ini mau pulang ke Solo, dia menawarkan untuk mengantar, tapi aku ga mau".
"Kayaknya Lalu suka sama kamu tuh Dik?".
"Kata teman-temanku begitu Mas, tapi kan aku ga suka, sukanya sama yang lain gimana?".
"Siapa sih orang yang beruntung disukai Nayra?"
"Mau tahu atau tahu banget" cerocosku.
"Bangetlah Dik".
"Hmm rahasia hati donk, yang pasti dia seorang cowok yang pinter, sabar dan sayang banget sama aku".
"Iih Adik mulai nyebelin".
Mulai ada yang ngambek, padahal niatku hanya bercanda dan godain dia hehehe.
"Mas, sebelum kita ke hotel Dana, cari kado dulu buat Mbak Rita dan makan soto ayam kampung gimana?".
"Boleh" jawabnya pendek.
Wah harus cari ide ngilangin mode in ngambeknya, harus pakai jurus rayuan gombal kayaknya.
"Sayang, udah donk ngambeknya, muka kelihatan tuwir saking tuanya, aku ngaku deh yang kusuka dr Nehan seorang, dia cowok yang sholeh, pinter, baik, sayang orang tua indikator besok sama isteri dan anak-anaknya bakal sayang banget".
Mas Nehan terkekeh akhirnya setelah mendengar ungkapanku, uups lega akhirnya. Dia mulai ceria kembali, jadi enak ntar di kondangan ga cemberut lagi. Kita mampir cari kado dan makan soto ayam karena kita ga sempat mampir ke rumah terlebih dulu.
Sampai Hotel Dana, kita bersalaman dengan para keluarga besarku dari Ayah. Mereka pada nanya cowok bersamaku siapa, aku jawab kekasihku kalau berjodoh calon suamiku, semua pada heboh nyoraki gitu, Mas Nehan lempeng aja dan tersenyum menanggapinya. Kita mencari Ayah Bunda ternyata sedang duduk sambil mengamati kita yang meyapa saudara-saudara.
"Assalammu'alaikum Ayah Bunda, sehat-sehat aja kan?"tanya Mas Nehan.
"Alhamdulillah kami sehat semua nak". Jawab Ayah.
"Nehan udah makan belum?" tanya Bunda.
"Udah Bun tadi kami mampir makan soto ayam sebelum kesini sama Dik Nayra".
"Disini siapa sih yang anaknya, dari tadi Gendhis ga disapa"
Aku cemberut lihat obrolan tanpa melibatkanku. Hahaha Ayah ketawa mendengarku.
"Nehan, masih suka sama puteri Ayah yang manja ini?".
"Udah sifat gimana dong yah" jawab Mas Nehan dengan terkekeh.
"Jangan gitu donk, nanti Gendhis ngambek bisa berabe, gimana sih kalian" Bunda ngomelin Ayah dan Mas Nehan.
"Bunda emang paling sayang aku" wezk...kujulurkan lidah mengejek Ayah dan Mas Nehan.
"Nay, balik Yogya nanti atau besok?" tanya Bunda.
"Besok Bun, masih kangen sama Ayah dan Bunda karena semenjak KKN belum pulang sama sekali".
Aku mengajak Mas Nehan keruangan di mana Mba Rita dimeka up. Mbakku...aku datang langsung memeluk karena kangen.
"Mbak, kenalin ini pacar Gendhis namanya Nehan".
Mbak Rita dan Mas Nehanpun saling sapa.
"Cieee pacar Mbak Rit".
Aku menoleh kesumber suara ternyata Kak Sinta.
"Kakak isssh usilnyna kambuh, nanti aku aduin ke Kak Dion baru tahu rasa...".
Selepas acara nikahan, Mas Nehan mengajakku kerumah Kakaknya. Kak Adel mengenalkan suaminya yang bernama Kak Rizki. Mereka sangat ramah. Kumelihat interaksi Mas Nehan dengan Fara, keponakannya sangatlah dekat. Dari sini aku melihat Mas Nehan sangat menyukai anak-anak. Rumahnya Kak Adel ternyata tidaklah jauh dari rumahku, hanya memakan waktu dua puluh menit. Setelah puas bercanda dengan Fara dan merasakan badanku capek, aku berpamitan pulang diantar Mas Nehan.
__ADS_1
Nehan POV
Hari ini aku semangat sekali karena diminta menjemput Nayra yang sudah menyelesaikan KKNnya. Kangen pastinya walau sudah sekali bertemu. Mungkin orang bilang aku mulai bucin sama dia tapi masa bodohlah namanya cinta wajar. Deg...saat Nayra menjawab pertanyaan Mama jika di lokasi KKN ada seorang teman cowok yang menyukai dia.cemburu pasti tak bisa kupungkiri tapi aku lega saat dia bilang hanya suka aku. Suaranya merdu saat mengaji memberi ketenangan yang mendengarnya. Aku membayangkan saat menikah dengan dia pasti nanti aku bahagia disamping dia pintar memasak juga pintar membuat kopi yang enak dan rajin membersihkan rumah. Calon isteri idaman bagiku. Saat dikenalkan dengan keluarga besarnya hatiku merasakan kehangatan karena aku merasa sudah diterima dikeluarganya.