Titik Waktu Di Hati Gendhis

Titik Waktu Di Hati Gendhis
Magang diKantor Advokat


__ADS_3

Mahasiswa hukum merupakan aktor potensial dalam memberikan pelayanan bantuan hukum walau perannya bersifat paralegal yaitu menjadi asisten Advokat dan Akademisi yang melakukan pendampingan litigasi di Pengadilan yang bertugas mengawasi dan menyiapkan berkas-berkas perkara, mencatat agenda persidangan, menemui terdakwa juga berkomunikasi dengannya. Walau mahasiswa hukum belum resmi menyandang sarjana hukum janganlah diabaikan karena mahasiswa hukum pastinya masih mengingat prinsip-prinsip hukum secara utuh karena sedang mempelajarinya dan responsif terhadap perkembangan hukum.


Untuk melaksanakan keilmuan dan praktek keadvokatan, aku mau mendalami ilmu hukum secara totalitas untuk kepentingan masa depanku kelak. Ketika ada ketentuan magang untuk mata kuliah yang aku ambil yaitu keadvokatan, aku berinisiatif mendaftarkan diri di PUSDIKLAT. Niatku didukung sepenuhnya oleh Mas Nehan. Aku mendapat penempatan di Kantor Advokat Emrick & Partners selama tiga bulan. Aku memberitahu Mas Nehan, dia sangat antusias sekali. Aku berupaya agar bisa menyeimbangkan dengan Mas Nehan di masa mendatang. Alhamdulillah Mas Nehan memahami keinginanku dan selalu mendukung jika membawa kebaikan untukku.


Magang memberiku banyak pengalamanan dalam mengatasi kasus perdata dan pidana secara prodeo atau gratis bagi setiap orang tidak mampu terutama bagi orang yang tidak mampu agar mendapat jaminan dalam pemenuhan haknya dan keadilan dimata hukum. Memang aku belumlah maksimal dalam letigasi, hanya sebatas penyuluh dalam penyuluhan hukum, menjadi anggota tim dalam suatu penelitian hukum dan konsultan dalam memberikan konsultan hukum. Hal ini tidak lepas dari pantauan dari para Dosen dikampus yang memberikan ilmu pengetahuan kepada para Mahasiswa untuk mempratekkan keilmuannya dalam suatu perkara.


Tak terasa magang sudah berjalan satu bulan, waktu bertemu dengan Mas Nehan hanya bisa dihari minggu karena setiap hari aku pulang menjelang malam membuatku sangatlah capek dengan dua aktivitas dalam satu hari yaitu kuliah dan magang. Mas Nehan juga sedang masa klinik terakhir sebelum wisuda dokter yang akan dilaksanakan kurang lebih dua bulan lagi. Kita sama-sama sibuk dengan aktivitas masing-masing. Hanya telepon, video call dan whatsapp yang menepis rasa rindu ketika datang.


Tadi malam Mas Nehan menelpon kalau besok pagi aku mau dijemput, diajak Mama untuk memilih kain kebaya yang akan dipakai dihari wisudanya kelak. Ga menyangka aku bakalan menjadi pendamping wisudanya, terharu banget apalagi Mas Nehan lulusan terbaik, pasti banyak perempuan yang menyukainya. Aku bersyukur menemukan orang dan keluarga calon pasangan yang menyayangiku dengan tulus. Tengah malam entah kenapa tiba-tiba aku mengalami demam dan pusing. Sehabis sholat shubuh aku menelpon untuk membatalkan janji sama dia karena badanku ga enak. teleponku malah membuatnya cemas dan lansung mendatangiku ke kos. Dia meminta izin sama ibu kos buat masuk kekamarku untuk memeriksa keadaanku.


Setelah dicek, suhuku sangat tinggi. Mas Nehan memaksaku untuk dirawat inap khawatir aku mengalami kejang nantinya. Sekarang aku terdampar tak berdaya di rumah sakit tempat dia menjalani Koas. Dia tanpa memberitahuku mengabari Ayah, Bunda, Mama Rani dan Papa Radit. Jelas kedua orang tuaku sangat terkejut dan langsung bertolak ke Yogyakarta sehabis dhuhur. Karena rekomendasi Mas Nehan, aku tidak memerlukan waktu yang lama untuk mendapatkan kamar di kelas VIP. Ini rasa syukurku kedua berpacaran dengan calon dokter, ketika sakit pasti dirawat hehe.


Saat Mas Nehan memeriksa saluran infus, Ayah, Bunda, Kak Sinta Kak Dion datang. Mereka kesini diantar Kak Dion calon suami Kak Sinta. Mereka datang langsung mencium dan memelukku.


"Sakit apa cah ayu?" tanya Ayah.


"Nayra kecapekan aja Yah dan suka makan tidak teratur karena kesibukannya jadi kena maag".


"Makasih nak Nehan sudah merawat Gendhis" kata Ayah dan Bunda.


"Jangan bilang makasih Bun, Yah, emang sudah kewajiban Nehan menjaga Nayra eh Gendhis maksud Nehan".


"Maaf karena dari awal teman-teman manggilnya Nayra jadi Nehan keseringan manggil Nay juga".


"Gakpapa nak sama aja" kata Ayah.


Waktu sudah memasuki ashar, Mas Nehan mengajak Ayah dan Kak Dion ke masjid rumah sakit. Aku ditinggal sama Bunda dan Kak Sinta.


"Dik, asyik ya punya pacar calon dokter? ketika kita sakit langsung ditangani pacar sendiri, cieeee fiktiw....".


"Nah kan Bun kejahilannya kambuh, kenapa tadi Kakak ga ditinggal dirumah aja Bun".


"Enak aja nanti yang nemenin calon suamiku siapa kalau dia pulang".


"Sweet-sweet calon suami nih yee" ledekku.


"Wah ketinggalan info dia Bun kalau Sinta udah dilamar secara pribadi".


"Udah-udah Bunda pusing dengan kalian kalau ketemu selalu ribut".


"Lah ini yang ngambek malah Bunda, gimana siih Bun?".


Meledaklah ketawa kami bertiga mendengar protesku.


"Kak serius udah dilamar sama Kak Dion?


"Kapan?".


"Huum tadi malam pas Kak Dion kerumah bilang sama Ayah, lamaran secara resmi dua minggu semoga Adik udah sehat dan bisa pulang".


"Selamat Kakakku sayang, aku usahain Kak, pasti aku pulang karena ini moment berharga buat Kakak ga mungkin aku lewatin".


"Makasih Dik".


"Ayaaah, Gendhis senang banget Kak Sinta mau nikah" cerocosku ketika Ayah masuk ruang inapku setelah sholat ashar.


"Kak Dion buruan halalin Kakakku agar aku segera punya ponakan yang lucu".


"Jangan kau risaukan Dik, pasti akan segera aku laksanakan" kata Kak Dion sambil mengedipkan mata.

__ADS_1


"Cieeeee.....suuuiiiit....manisnya kataku".


"Nayra mau kepengin nyusul Kak Sinta nikah, ayoo Mas sudah siap tapi tiga bulan lagi yaaa nunggu ijazah Mas keluar".


"Iiish apaan sih Mas, Nayra kan masih kuliah".


"Gak masalah nikah sambil kuliah, Ayah ikut mengodaku".


Waktu menunjukkan pukul lima sore, Mas Nehan pamit pulang untuk mandi dan berganti baju disusul Kak Sinta dan Kak Dion. Ayah dan Bunda menemaniku untuk menemaniku.


"Nduk apa kamu juga sudah berkenalan dengan orang tua nak Nehan?" tanya Ayah.


"Sampun Yah, orang tua Mas Nehan sangat baik terhadapku, aku merasa mempunyai orang tua yang kedua, orang tua Mas Nehan minta aku untuk memanggil dengan panggilan Papa dan Mama seperti panggilan Mas Nehan".


"Alhamdulillah ya Bun anak-anak kita dipertemukan dengan laki-laki dan calon mertua yang baik".


"Iya Yah, Bunda juga sangat bersyukur".


"Nehan terlihat sangat menyayangimu nduk, jaga dia jangan sampai kau berpaling pada laki-laki lain" nasehat Bunda.


"Insyaallah Ayah, Bunda, Gendhis akan menjaga hubungan ini karena Gendhis juga merasa nyaman dan menyayanginya ga ingin mengecewakan Mas Nehan juga Papa Radit dan Mama Rani".


Ayah dan Bunda mendengar ucapanku tersenyum. Sehabis isya, pintu kamar ada yang mengetuk, rupanya Mas Nehan kembali bersama Papa Radit dan Mama Rani. Mama Rani langsung menghambur memelukku dan menanyakan mana yang sakit. Aku bilang hanya pusing dan demam.


"O iya Mam, kenalin ini Bunda Nay".


"Hallo jeng, saya Rani, Mamanya Nehan".


Papa ikut menyambar "saya Radit, Papanya Nehan".


Nay sudah lupa sama Papa makanya tidak mengenalkan begitu datang. Kamipun tertawa mendengar penuturan Papa. Mas Nehan tidak melihat Ayah bertanya sama Bunda.


"Ga tahu nak tadi pamit ke masjid tapi kok belum balik sampai sekarang".


"Nehan cari dulu Bun, khawatir Ayah lupa jalan kekamar karena banyak gang".


"Iya Han sana buruan dicari kata Papa".


Mas Nehanpun akhirnya keluar mencari Ayah.


"Mama, maafin Nay, gara-gara Nay sakit tadi acara kita mencari kain batal".


"Gakpapa nduk, santai aja karena masih ada waktu, yang penting Nay sehat dulu".


"Bener itu nduk kata Mamamu" ucap Papa.


"Mbak Widya sama suami pasti belum makan kan, nanti kalau Ayahnya Nay datang kita makan dulu di cafe depan rumah sakit biar Mbak Widya ga ikut sakit karena terlambat makan, biar Nay dijaga Nehan".


"Matursuwun Mbak Rani untuk perhatiaannya pada kami".


Tak lama Ayah dan Kak Nehan datang.


"Ayah kenalin ini Papa dan Mamanya Mas Nehan".


Ayahpun langsung menyalami Papa dan Mamana Mas Nehan.


"Bagaimana kalau sekarang kita makan dulu karena sudah jam delapan" tanya Papa Radit.


"Bener itu Mas Radit biar kita semua ga ikut-ikutan Nay menginap dirumah sakit ini" kelakar Ayah.

__ADS_1


"Gendhis mau ikut juga?" tanya Ayah.


"Boten Yah, Gendhis di sini aja ntar dikira aku kabur dari rumah sakit candaku".


Semua terkekeh mendengarku.


"Ini Nay yang Papa rindukan karena suka bercanda beda tuh dengan anak Papa sukanya hanya buku, pusing tahu Nay".


Semua kembali tertawa mendengar Papa.


"Udah-udah bercandanya nanti lagi keburu malam"kata Mama.


Akhirnya semua keluar kecuali Mas Nehan yang masih setia menemaniku.


"Mas, ga ikut makan dulu?".


"Mas udah bawa bekal dari rumah tenang aja sambil memperlihatkan kotak bekalnya".


"Tadi udah minum obat sebelum makan kan de?".


"Udah Mas tadi sebelum Mas datang kesini".


"Yuuk kusuapin biar makannya habis banyak".


"Iiih malu donk Kak, yang sakit kan kepalanya bukan tangan Nay, jadi Nay masih bisa makan sendiri".


"Ya udah daripada kelamaan ribut, kita makan barengan biar cepat selesai kataku".


Begitu Papa, Mama, Ayah dan Bunda kembali kekamarku setelah makan malam bersama, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh.


"Ayah dan Bunda sebaiknya malam ini istirahat dirumah Nehan aja, biar Nehan yang jaga Nay disini.


"Iya Mbak Widya menginap di rumahku saja biar besok pagi bisa gantiin menjaga Nay saat Nehan bertugas".


"Gimana Yah? tanya Bunda.


"Benar apa yang dikatakan Mbak Rani, Bun" kata Ayah.


"Mari kita berpamitan dulu Ma dengan Nayra".


"Cepat sembuh nduk kata Papa".


"Makasih Ma, Pa udah menjenguk Nay".


Mama dan Bunda menciumku sebelum keluar dari ruanganku menyusul Ayah dan Papa yang sudah jalan duluan.


"Mas, tadi kesini satu mobil denga Papa dan Mama?".


"Enggak Dik karena kalau satu mobil besok yang repot Kakak karena harus pulang dulu mengambil perlengkapan Koas".


"Maafin Nay, Kak jadi repotin mulu".


"Jangan merasa gak enak Dik karena kamu sudah hadir dalam hidupku berati termasuk menjadi tanggung jawabku juga" ucapnya sambil mengusap kepalaku yang berjilbab.


"Tidur ya de karena udah malam ni, Kakak juga udah ngantuk".


Akupun mengangguk tanda mengiyakan.


Aku dirawat dirumah sakit selama tiga hari. Untuk sementara aku tidak diperbolehkan tinggal dikos atas permintaan Mama dan Papanya Mas Nehan yang disetujui oleh Ayah dan Bunda selama pemulihan. Mereka khawatir jika aku sakit kembali. Apalagi Mas Nehan sangat overproktektif, setiap berapa jam whatsapp mengingatkanku makan biscuit dan Mama Rani selalu membawakan bekal makan siang. Tak terasa aku sudah tinggal bersama mereka selama mereka dua minggu. Karena merasa ga enak, aku meminta izin kembali ke kos dengan alasan badanku sudah enakan. Awalnya Mama tidak memperbolehkan tapi karena berjanji akan sering menelpon Mama baru diizinin.

__ADS_1


Magangpun masih berlanjut setelah keluar dari rumah sakit. Pak Emrick selaku pemilik kantor memberi keringanan diawal pemulihan. Tidak terasa aku sudang magang tiga bulan, selesai sesuai aturan dari pihak kampus tapi sama Pak Emrick, aku diperkenankan untuk perpanjang atas inisiatif sendiri agar ilmuku bertambah dengan waktu lebih santai. Menurut penilaiannya, aku orang yang disiplin dan kinerjaku sangat bagus, alhamdulillah mendapat kepercayaan dari senior yang kepiaweannya dalam berprofesi advokat tidak diragukan. Beliau bukan orang pelit ilmu sama yunior dalam menangani kasus. Salut sama orang yang tidak pelit ilmu, kemanfaatan hidup berlaku.


__ADS_2