Titik Waktu Di Hati Gendhis

Titik Waktu Di Hati Gendhis
Gejolak Hati Alvin


__ADS_3

Hari ini aku mendapat info dari Mbak Diah kalau Gendhis di wisuda. Tanpa undangan dari dia aku nekad mendatangi tempat dilangsungkan acara. Selain ingin memberi ucapan sama Gendhis aku bermaksud untuk silahturahmi kembali pada keluarga Ayah Rendra dan berupaya untuk mendekatkan kembali.


Tak lupa aku membeli bunga di toko bunga yang aku lewati disana. Sampai di tempat ternyata acara sudah selesai, para wisudawan dan wisudawati pada keluar gedung. Aku mencoba mencari Gendhis diantara keramaian banyak orang. Ga sia-sia aku sudah melihat dari jauh, waktu mau mendekat aku melihat ada seorang laki-laki yang berlutut dengan menyerahkan bunga dan cincin, sepertinya dia sedang melamar Gendhis. Jika melihat sekeliling dia yang bersorak senang pertanda dia menerima lamaran cowok tersebut.


Setelah melihat drama yang tidak menyenangkan siang ini aku memutuskan pergi menuju tempat parkir membawa mobil keluar dari halaman gedung serbaguna. Setelah jauh dari tempat acara Gendhis aku memutuskan ke pantai untuk meredakan emosiku yang meletup. Sampai pantai aku mengambil batu kerikil untuk kulempar ke laut dengan berteriak kencang aaaaaaa...aaaaa....aaaaa...., ku tendangi kerikil-kerikil yang ku tapaki. Setelah capek teriak aku duduk di tebing merenungkan peristiwa yang membuatku emosi.


Begini kah yang namanya mencintai dan berjuang sendiri ujungnya akan tersakiti juga. Aku sadar diriku yang salah karena tidak bisa mengendalikan perasaanku padanya padahal saat ini aku mempunyai seorang kekasih yang sudah lama menemaniku bertahun-tahun tapi rasa cintaku mulai terkikis setelah bertemu Gendhis. Bang Emrick pernah mengingatkanku untuk menjauhi Gendhis agar aku kembali pada orang yang mencintaiku juga tapi tidak kupedulikan karena aku tidak bisa melupakan Gendhis.


Cinta Pertama kembali memang indah karena rasa familiar yang hadir seperti pulang kerumah setelah bertahun-tahun merantau. Saat aku sudah menemukan cewek yang selama ini aku cari, aku berharap dia akan menerimaku kembali dan mencintaiku tapi ekspetasi tidak sesuai dengan kenyataan. Harusnya dia yang aku miliki bukan orang lain. Kamu tega Gendhis tidak memberiku kesempatan untuk memasuki hatimu.


Marah, kecewa, sedih dan ingin menanggis itu yang aku rasakan saat ini. Kenapa Gendhis kamu mengingkari janjimu. Ku menanggis sambil melempari batu kerikil kembali kelaut. Andai aku menemukanmu lebih cepat mungkin kamu belum bertunangan. Aku memang laki-laki bodoh Gendhis hanya berharap tapi tak bertindak cuman berpangku sama takdir yang menghampiriku.


Kini kamu semakin jauh sulit untuk kurengkuh. Waktukah yang salah Gendhis? Ku rasa bukan tapi kebodohanku yang membuat kau mengabaikanku. Kini pupus sudah aaaaaa...aaaa...aku kembali berteriak meluapkan amarahku. Gendhis maafkan aku, jangan pergi dariku, aku menyesali kebodohanku, netra ini mulai mengembun lagi merasakan gejolak hati yang sakit.


Krucuk..krucuk perutku berbunyi tanda minta diisi. Ga sadar waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam aku masih di pantai. Setelah lelah bermonolog diri aku bangkit menuju warung makan dekat pantai. Ku memilih menu udang saos padang dan cha kangkung. Sebenarnya aku ga ada selera makan tapi ku coba paksa agar tidak sakit nantinya. Setelah makan memutuskan untuk pulang.


Malam ini aku memutuskan pulang kerumah orang tua bukan apartemen seperti biasanya. Papa yang bukain pintu heran melihatku yang acak-acakan.


"Alvin darimana aja kata Abangmu kamu ga ke kantor?".


"Pantai Pa, Alvin istirahat dulu Pa" aku langsung memasuki kamar tanpa menunggu jawaban Papa.


Papa geleng-geleng kepala melihat tingkah anak bungsunya kemudian melanjutkan istirahatnya yang tertunda. Pagi hari jam tujuh, Mama membangunkanku karena ditunggu-tunggu sarapan aku ga keluar dari kamar.


"Alvin, bangun sayang, sudah siang, apa kamu ga kerja?".


"Males Ma, hari ini Alvin mau izin ga masuk kerja".


"Tumben ga biasanya males ke kantor, biasanya semangat" ucap Mama.


"Ma udahlah tolong kasih waktu sendiri buat aku".


"Kalau ada masalah cerita nak jangan kau pendam sendiri".


Aku tidak menjawab pertanyaan Mama. Karena aku diam, Mama jengkel dan akhirnya keluar sendiri. Saat ini aku masih malas bertemu Gendhis. Siang hari setelah mandi aku bersiap-siap buat pergi. Saat kubuka pintu kamar, Mama sedang duduk di sofa ruang tengah dan memperhatikanku yang tampak murung dan ga ada gairah hidup.


"Alvin makan dulu nak, Mama masak ayam caramel kesukaanmu".


"Maaf Ma, Alvin ga lapar".


"Alvin pergi dulu Ma".


Setelah berpamitan sama Mama aku memutuskan pergi menemui temanku seorang pengusaha. Sampai kantor dia aku dipersilahkan masuk sama sekretarisnya. Kami terbiasa ketemu membuat sekretarisnya hapal.


"Hai Bro tumben jam kerja kesini?" tanya Amir.


"Lagi males nih Mir, ga semangat kerja".


"Ada masalah dengan Tiarakah?"ucap Amir.


"Belakangan aku malah melupakan dia Mir".


"Wiih biasanya selalu berdua, jangan-jangan ada gebetan baru ya?"


"Aku aja bingung Mir rasa dengan Tiara pelan-pelan terkikis ya".


"Bukannya Tiara selama ini kayak cinta mati denganmu?".


"Ga tahu semenjak aku dipertemukan Genhis cinta pertamaku seperti hilang rasa dengan Tiara".


"CLBK rupanya, jelas aja Vin rumput tetangga bukannya lebih hijau".


"Sialan kamu, bukannya empati malah meledek aku".

__ADS_1


"Aku ga suka aja Vin kesannya kamu tuh cowok plin plan, Tiara kurang apa coba selama ini?".


"Menurutku lupakan Gendhis karena kamu dan dia sudah punya kehidupan masing-masing".


"Ga bisa Mir aku mulai jatuh cinta sama Gendhis, aku dulu pernah berjanji akan menikahinya kelak dewasa".


"Aku minta dia menunggu tapi dia malah bertunangan dengan cowok lain" ungkapku lirih.


"Vin, jelaslah dia memilih laki-laki lain daripada menanti yang ga jelas".


"Haloo apakah kamu selama ini mencari dia? enggak kan?".


"Kamu hanya berpasrah pada nasib ga niat berusaha mencari dia, jadi jangan salahkan dia jika memilih cowok yang hadir ketimbang bayang-bayang masa lalu".


"Mencari di mana Mir, aku udah lupa alamat rumahnya".


"Kamu makin kesini kok makin bodoh sih Vin, sekarang kan ada media sosial seperti FB, twitter, kenapa ga kamu manfaatin kalau kamu niat bener-bener mencintai masa lalumu".


Aku tergugu dengan ucapan Amir, apa yang dikatakan bener mengapa aku tidak kepikiran mencari di sosial media, nasi sudah jadi bubur. Mungkin ini yang membuat Gendhis mengabaikanku. Apa harus mengikhlaskan Gendhis dengan cowok lain, aku bermonolog lagi.


"Vin kok melamun sih, udah sekarang kembalilah dengan Tiara agar kamu tidak menyesal kemudian hari, sayangi apa yang kau miliki saat ini".


Setelah aku curhat ke Amir aku memutuskan untuk pergi cafe di area di Malioboro untuk nongkrong melupakan sejenak penat permasalahan yang kuhadapi saat ini. Setelah puas nongkrong ku mencoba jalan-jalan tak tentu arah dan tujuan, kemana kaki melangkah yang sendiri aku tak tahu. Langkahku terhenti ketika ada musik di sebuah panggung menyanyikan lagu sedih tak berujung.


/Saat menjelang/


/Hari-hari bahagiamu/


/Aku memilih 'tuk diam dalam sepiku/


/Saat mereka tertawa diatas pedihku/


/Tentang tentang cintaku/


/Yang telah pergi tinggalkanku/


/Aku tak peduli/


/Inilah jalan hidupku/


/Ini aku, kau gengam hatiku/


/Simpan dalam lubuk hatimu/


/Tak tersisa untuk diriku/


/Habis semua rasa didada/


/S'lamat tinggal kisah tak berujung/


/Kini ku kan berhenti berharap/


/Perpisahan kali ini untukku/


/Akan menjadi kisah sedih yang tak berujung/


/Yeah/


/Wo wo u/


/Saat mereka tertawa diatas pedihku/


/Tentang tentang cintaku/

__ADS_1


/Yang telah pergi tinggalkanku, yeah/


/Aku tak peduli/


/Sungguh tak peduli/


/Inilah jalan hidupku/


/Ini aku, kau gengam hatiku/


/Simpan didalam lubuk hatimu/


/Tak tersisa untuk diriku, yah/


/Habis semua rasa didada/


/S'lamat tinggal kisah tak berujung/


/Kini ku kan berhenti/


/Berhenti berharap/


/Perpisahan kali ini untukku/


/Akan menjadi kisah sedih yang tak berujung/


/Oh ya/


/Sedih tak berujung/


/Wo oo/


/Slamat tinggal kisah tak berujung/


/Kini ku kan berhenti/


/Berharap/


/Perpisahan kali ini untukku/


/Akan menjadi kisah sedih yang tak berujung/


/ Yeah!/


/Sedih yang tak berujung/


/Na na na na yeah/


/Oh/


/Sedih yang tak berujung/


/Ho oo oo/


/Sedih yang sedih yang/


/Tak berujung/


/Au-ye ye ye/


/Ho oo oo/


/oo oo oo/

__ADS_1


/Sedih yang tak berujung./


Aku terdiam seribu bahasa mendengar alunan lagu caver Glenn Fredly, liriknya begitu menohok di dada, hampir sama apa yang ku rasakan saat ini. Tak terasa air mataku keluar. Berjalannya waktu akankah cinta kita terhubung Gendhis, aku rasa sangatlah sulit tapi aku tidak ingin menyerah saat ini. Sebelum janur kuning melengkung aku bisa menikung, ku tersenyum smirk dengan pemikiranku.


__ADS_2