
Rencana sebelum pertemuan banyak banget tapi setelah ketemu, boro-boro mau ngomong, malah kita cuman lirik-lirikan dan saling diam aja karena bingung mau cerita yang mana dulu. Untuk memecah kekakuan diantara kita, Mas Nehan memintaku bikinin teh dan diantar ke blankon kamarnya. Duuh kenapa gugup siih, dulu kan biasa aja kita kalau ketemu. Sehabis bikinin teh aku minta izin sama Mama buat anterin sang paduka hati hehe lebay banget.
Tok...tok..."Mas tehnya mumpung panas nih"
"Masuk Dik pintu ga dikunci, Mas di blankon".
Akupun masuk mengantar teh yang sangat panas di blankon. Kusamperin Mas Nehan yang lagi duduk di kursi.
" ini tehnya diminum dulu biar segar" kataku.
"Emang teh atau kopi buat Adik yang paling enak, padahal bahan bakunya sama, mungkin yang meracik pake cinta kali ya".
"Ndubraaak...mimpi apa aku ya, pulang-pulang dari Bandung pinter gombal, disana pasti ketemu siapa hayoo?".
"Ketemu orang banyak Dik ga bisa disebutin satu-satu, ketemu juga ga bisa ngobrol dengan mereka, ga sempat".
"Masak siih, terus pas libur ngapain aja?".
"Kalau ga tidur ya telepon atau video call sama pujaan hatikulah".
"Pujaan hati di mana? Kok Nay ga dikenalin?".
"Nay sangat dekat dengannya, namanya Gendhis, dia perempuan satu-satunya yang ada dalam pikiranku selain Mama dan Kak Adel".
"Seperti apa sih yang namanya Gendhis?" Penasaran aku lho, tanyaku usil.
"Dia perempuan yang sangat luar biasa, pokoknya paket komplit deh dia".
"Cieeee.....wah ...wah...aku curiga beneran nih, sama siapa Mas belajar gombal".
"Iiih apaan siih, ini kan Mas tulus gimana sih" Mas Nehan menjawab sambil cemberut.
"Iyaa, Nay percaya kok, makasih ya sayang"
"Sayang...duh mesranya, Mas suka panggilan ini".
"Hadeh" jawabku.
__ADS_1
"Dik, habis Maghrib kita keluar yuuk, Mas kangen suasana Yogya".
"Kangen sama orang yang diajak jalan atau kota Yogya?" Jawabku.
"Kangen dua-duanya" kata Mas Nehan membuat kita ketawa.
Habis maghrib sesuai keinginan Mas Nehan, kita keluar. Tujuan utama kita adalah titik nol kilometer Yogyakarta. Kawasan ini terdiri dari sejumlah bangunan peninggalan Belanda. Saat malam hari dihiasi lampu merkuri kekuningan jadi kesannya romantis. Lokasi yang strategis membuat jadi lokasi berkumpulnya wisatawan dan seniman. Jangan heran disini banyak orang yang berdandan macam seperti hantu, patung dan sebagainya. Di sini bisa jadi tempat nongkrong yang asik atau sekedar cari inspirasi. Tak jarang daerah ini sering diadakan event-event.
Menikmati malam dengan nongkrong duduk di bangku yang tersebar di titik nol kilometer sangatlah asyik sambil makan gudeg dengan Mas Nehan dan mendengarkan suara merdu pengamen sangatlah romantis. Sifat yang aku kagumi dari Mas Nehan sejak dulu adalah sederhana dalam hal apapun.
Setelah puas nongkrong kita pindah ke gembok cinta, iseng ajalah kita memasang gembok dengan tulisan nama kami. Kami sebenarnya ga percaya hal kayak gini, perilaku tadi hanya untuk senang-senang menghabiskan waktu bersama aja dan kegiatan yang tak terlupakan dari area sini adalah foto berdua. Memang cantik suasananya. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, kita memutuskan untuk pulang ke rumah Mama karena pagi-pagi sehabis shubuh kita berencana mau kepantai Drini. Beginilah orang yang pacaran jarak jauh harus memanfaatkan waktu yang maksimal mengingat lusa Mas Nehan harus balik Bandung.
Sampai rumah Mas Nehan mengajak jamah sholat isya dan istirahat di kamar masing-masing. Adzan shubuh berkumandang, aku terbangun untuk mengambil wudhu dan sholat shubuh. Selepas sholat aku merebus air buat membuatkan kopi buat Mas Nehan dan teh satu poci kecil. Tak lama semua pulang dari masjid langsung menikmati kopi dan teh yang aku buat.
"Dik, yuk siap-siap berangkat" kata Mas Nehan.
"Kalian mau kemana?" tanya Mama.
"Mas Nehan ngajak ke Pantai Drini Ma, Papa dan Mama mau ikut?" tanyaku.
"Ga deh, hari ini Mama dan Papa mau kondangan, kalian berdua aja" kata Mama.
"Mas, kita ambil foto di tebing karang sebelah Timur ada bakground semacam kupu-kupu".
" Kita pakai jasa fotografer setempat gimana?" ucapku.
"Ide yang bagus, Mas setuju".
Mas Nehan mencari fotografer setempat dan negoisasi tentang harga. Foto dimulai dari ayunan lanjut bergaya kupu-kupu dan berakhir di air. Serasa preweding beneran kita. Tak lupa kita main kano, main air dan terakhir kuliner makan siang sebelum pulang. Tak terasa sampai rumah jam tiga sore. Mas Nehan memintaku istirahat bentar dan mandi terus habis maghrib mengajakku beli oleh-oleh buat teman-temannya di Bandung.
Kemudian habis maghrib kita berburu oleh-oleh berupa makanan. Yang dipilih bakpia pathok 25, geplak, dan moci. Selepas mencari oleh-oleh Mas Nehan mengajakku ke angkringan kopi Lek Man joss. Sambil nongkrong kita cerita-cerita.
"Judul skripsinya sudah diterima Dik?".
"Udah Mas sekarang sudah masuk bab dua".
Mas Nehan rencanya mau menetap di Bandung selamanya atau gimana?".
__ADS_1
"Rencana Mas nanti mau mendaftar di Rumah Sakit di Medan, kemaren sempat ditawari dosen, rencana mau kerja sama ambil specialis gitu".
"Wah hebaat, kalau Nay ambil langsung Pasca Sarjana gimana Mas? Nay kan kepengin jadi dosen gitu"
"Gimana kalau ambil Pasca Sarjananya di Medan?".
"Kenapa? kok jauh banget".
"Mas ga ingin berjauhan sama kamu Dik".
"Ah tenane Mas?" jawabku jahil.
"Baiknya kita pikirkan nanti setelah kamu lulus de".
"Iya bener".
Setelah ngobrol-ngobrol jam sepuluh kita pulang karena besok jam setengah sebelas Mas Nehan akan berangkat. Pagi hari aku membantu Mas Nehan packing baju dan oleh-oleh yang akan dibawa.
"Mas, ini udah komplit semua? Ga ada yang ketinggalan kan?".
"Ada de yang ketinggalan tapi ga bisa kubawa".
"Apaan sih Mas? mana? Buruan nanti terlambat"
"Kamu Dik" jawabnya sambil menudingku.
"Iiih mulai deh gombalnya".
"Gombal sama calon isteri bolehlah" jawabnya membuatku blush merona.
Waktu menunjukkan pukul delapan pagi aku dengan Pak Sopir mengantar ke Bandara. Sampai di Bandara sebelum check in Mas Nehan mengajakku ngobrol sebentar.
"Dik, buruan selesain kuliahnya agar kita bisa segera bersama".
"Iya Mas Nay usahain".
"Hati-hati dirantau, jaga kesehatan" ucapku.
__ADS_1
Sedih banget ditinggal kembali tapi ga seperti diawal berpisah karena aku sadar berpisah untuk kembali. Dengan berpisah kita menghargai pertemuan. Saling mendukung pasangan untuk meraih impian dan berjuang untuk masa depan.