Titik Waktu Di Hati Gendhis

Titik Waktu Di Hati Gendhis
Penelitian Di Pengadilan Agama


__ADS_3

Memasuki bab tiga mengharuskan aku melakukan penelitian apa yang menjadi permasalahan dari skripsiku. Saat aku sedang menunggu konfirmasi izin pengadilan untuk melakukan penelitian atau pengambilan data, tiba-tiba duduklah seorang cowok di sebelahku.


"Hai Nay, kita bertemu lagi. Masih ingat aku ga?".


"Pak Alvin, saudaranya Pak Emrick kan?" jawabku.


"Panggil aku, Alvin saja biar tidak kelihatan tua".


"Bapak ngapain disini?" Ga sopan manggil dengan nama saja Pak.


"Aku sedang masukin gugatan atas permintaan klien" jawab Alvin.


"Nay, benar kamu ga ingat aku itu siapa?" pancing Alvin.


"Bukannya sudah jelas, anda itu saudaranya Pak Emrick"jawabku.


"Nay, aku Alvin Hotma Fadelis teman dan kekasih kecilmu, kamu masih ga inget juga?".


"Udah lama banget aku mencari kabar beritamu tapi ga pernah ketemu, ternyata kamu dekat Nay".


Deg...aku terhenyak mendengar ucapan Alvin, tebakanku kemaren ternyata benar. Duh apa yang harus kukatakan, bingung aku. Aku hanya diam termanggu mendengar penjelasannya. Jujur aku gugup buat ngomong sama dia karena perasaanku nano-nano, antara senang apa yang aku cari ketemu dan satu sisi ini waktu yang tidak tepat karena aku sudah menemukan cinta yang lain. Saat aku mau menjawab, petugas pengadilan memanggilku. Huuf syukurlah petugas telah menyelamatkan aku dari kekakuan suasana.


Aku permisi sama Alvin untuk menemui petugas. Dia terlihat menarik napas tanda kecewa. Ku akui kalau aku belum siap untuk bertemu dan bicara. Setelah menghadap petugas, aku mendapatkan jadwal interview seorang hakim minggu depan. saat keluar dari ruang petugas, ku melihat Alvin sudah tidak ada di kursi yang di duduki tadi. Mungkin dia butuh waktu buat meluapkan emosinya. Hal yang aku takutkan terjadi juga tapi semua diluar kendaliku, siap ga siap aku harus berani menghadapinya.


Sampai kos aku tiduran. Saat mejamin mata semua kenangan bersama Alvin berputar kembali seperti sebuah film. Hal-hal bodoh yang pernah kita lakukan saat masih kanak-kanak kalau diinget rasanya konyol banget. Saat kau membela aku dikala aku dibully teman-temanku karena aku gendut, pergi sekolah bareng kamu yang selalu menjemputku kerumah padahal waktu itu aku masih sekolah taman kanak-kanak sedang kau duduk di sekolah dasar dan selalu bermain denganku sepulang sekolah. Kau memang istimewa yang tertanam dihatiku pada masa itu tapi sayang lama-lama pudar beriringan waktu bukannya aku tak setia tapi penantian tanpa ujung yang membuatku berhenti untuk berjuang.


Akhirnya sebuah masa akan mencuat juga tanpa bisa kita cegah. Pertemuan dengannya membuatku terasa pusing karena bingung harus bagaimana aku menghadapinya. Aku tidak boleh lemah mengingat ada hati yang harus aku jaga saat ini. Solusi disaat seperti ini adalah kembali ketujuan awal, menyongsong masa depan bersama Mas Nehan. Dia yang benar-benar berjuang untukku, bodohnya aku jika mengkhianatinya. Jadi kangen yayangku nan jauh disana. Kuambil telepon buat menghubunginya.


"Hallo assalammu'alaikum, Mas lagi apa?".


"Wa'alaikumsalam Dik, Mas baru aja masuk kos, kenapa Dik?".


"Kangen aja sama Mas, padahal belum lama kita ketemu" jawabku manja.


"Tumben nih, Mas jadi terharu mendengarnya".


Aku diam tak menjawab untuk mengalihkan telepon menjadi video call agar bisa melihat wajahnya. Mungkin ini yang namanya bucin, ingin dipeluk saat merasakan galau. Semalam setelah capek ngobrol aku ketiduran tanpa mematikan telepon begitu juga Mas Nehan sama. Udah hal biasa bagi kami pejuang Ldr tidur dengan menyalakan video call.


Pagi ini ketika bangun tidur kurasakan enakan dalam hati, Mas Nehan memang meneduhkan kegelisahanku. Aku belum cerita ke dia perihal Alvin karena aku tak sanggup jika melihatnya terluka. Untuk sementara cukup aku aja yang tahu biar Mas Nehan juga tenang dalam beraktivitas.


Minggu ini aku kembali ke Pengadilan Agama untuk melakukan interview dengan seorang hakim menurut jadwal yang sudah di tetapkan. Sayang sekali sampai sana aku harus menunggu karena Pak Hakim sedang ada tamu. Ga disangka tamunya adalah Pak Alvin. Saat aku akan masuk keruangan berpapasan dengan Alvin membuatku berhenti.


"Nay, nanti sepulang dari Pengadilan tolong mampir kantor ya, dicari Bang Emrick" ucap Alvin.


"Baik Pak" jawabku singkat sambil terus berjalan.


Setelah selesai interview aku segera menuju kantor advokatnya Pak Emrick. Huuh kamu pasti bisa Nay, kubermonolog. Sampai disana aku diminta langsung ke ruangan pak Emrick karena sudah ditunggu dari tadi.


Tok...tok...tok...kuketuk pintunya


"Masuk Nay kata Pak Emrick".


"Ada yang perlu saya bantu Pak?" tanyaku.

__ADS_1


" Begini Nay, gugatan perceraian yang akan ditangani kantor kita sudah diterima oleh Pengadilan".


"Bisakah kamu membantu menemui kedua belah pihak?"


"Ya Pak saya bersedia" jawabku.


"Baiklah kalau kamu bersedia, besok datanglah kekantor jam sepuluh agar diantar Adek saya, karena rumah tergugat ada di jalan x".


"Haah? tidak perlu Pak, saya bisa kesana sendiri naik motor".


"Tak ada penolakan Nay, karena kamu akan bergabung dalam teamnya Alvin jadi ga ada salahnya pergi bersama".


"Baik Pak" jawabku pasrah dan langsung keluar dari ruangannya.


Memang udah waktunya aku hadapi agar tidak berlarut-larut yang akan berdampak pada hubunganku dengan Mas Nehan. Aku akan berusaha biasa aja. Baru mau duduk dikursi ruang karyawan tiba-tiba ada pesan dari nomor tak dikenal.


/Gendhis, kalau perlu bantuan dalam penyusunan skripsi jangan sungkan menghubungiku. Alvin/


/Terima kasih untuk perhatiannya, sejauh ini saya masih bisa mengerjakan sendiri./


Huuh darimana dia tahu no teleponku. Mungkin dari Pak Emrick. Daripada pusing mikirin dia dapat nomorku dari mana mendingan aku mempelajari hasil interview tadi. Saat ada kondisi ada orang ketiga mau masuk dalam hubungan kita janganlah beri celah sedikit aja agar hubungan yang kita bina tidak hancur. Tiba-tiba ada pesan masuk lagi. Siapa siih ganggu orang yang lagi fokus, kalau Mas Nehan ga mungkin karena ada shif pagi.


Gendhis, nanti aku boleh main kekosmu? Alvin./


/Maaf pak hari ini saya ada acara dengan tante saya./


Buyar sudah fokusku untuk belajar. Aku jadi kangen Mama, pulang dan nginep di rumah Mama aja deh biar konsentrasiku tidak terganggu lagi. Mumpung jam istirahat aku hubungin Mas Nehan dulu.


"Boleh sayang, Mas malah senang kalau Nay di rumah Mama, Mama dan Papa pasti senang ga kesepian lagi".


"Baiklah nanti sore kesana Nay kesana,


sekarang Nay mau belanja mau masakin Mama dan Papa".


"Udah dulu ya Mas, assalammu'alaikum".


"Telepon siapa Nay, sepertinya asyik banget" tanya Mbah Diah yang ternyata memperhatikanku dari tadi.


"Pacarku Mbak, semoga kedepan menjadi calon suamiku" jawabku.


"Aamiin" kata Mbak Diah.


"Mbak, maaf aku pulang duluan ya, mau belanja karena beberapa hari ini aku ga bisa ke kantor ada acara dengan calon mertua".


Mbak Diah mengangguk tanda setuju. Aku beresin meja dan bersiap untuk pulang. Sebelum ke kos aku menyempatkan diri ke pasar tradisional dekat kos, walau kecil lumayan kompit aneka kebutuhan ada. Aku membeli ayam dada 1kg, tomat dan cabe hijau dan sebagainya. Rencanaku sih mau bikin garang asem khas solo.


Sampai kos packing dan siap-siap ke rumah Mama. Tapi sayang Mama lagi ga ada, kata Bibik baru aja berangkat arisan. Daripada ga ada teman ngobrol, aku bergulat di dapur memasak belanjaan yang aku beli. Aku kalau di rumah ini seperti kayak rumahku sendiri. Udah nyaman kali ya. Kelar deh urusan memasak, mandi dan menunggu Mama pulang, aku pamit sama Bibik buat istirahat bentar di kamar tidur tamu.


Aku terbangun waktu menujukkan pukul empat sore, parah-parah aku tidurnya terlalu nyenyak sepertinya, malu deh sama Mama, masak datang-datang cuman numpang tidur aja. Segera kubangun kurapikan tempat tidur, mandi sore, sholat dan menemui Mama. Saat aku keluar dari kamar Mama udah duduk santai di ruang tengah. Kusampiri Mama buat salim dan menyapa.


"Mama, udah lama pulang dari arisan, kenapa Nay ga dibangunin Ma" sapaku.


"Ga tega, Mama lihat anak Mama nyenyak banget tidurnya, capek ya?" tanya Mama.

__ADS_1


"Lumayan Ma tadi habis penelitian terus lanjut ke kantor advokat, Nay ada kerjaan nih Ma".


"Bagus donk sayang biar dapat ilmu lagi".


Ma, Nay boleh ga nginep beberapa hari ga disini?".


"Jangankan cuman beberapa hari, sampai Nay lulus aja Mama bolehin, Mama dan Papa malah seneng ga kesepian".


" Tumben dulu pas Nehan dirumah, Nay nginep ga lama, ada apa sayang, cerita jika ada masalah dengan Mama nak".


"Materi tentang hakam kan dikit banget Ma, rencananya Nay mau coba ke perpustakaan daerah dekat rumah, kalau dari kos kejauhan Ma".


Mama tersenyum mendengar ucapanku." Mama senang kamu semangat dalam ngerjain skripsinya".


"Gimana ga semangat Ma, karena Nay punya Mimpi sama Mas Nehan, mau dampingin Mas Nehan yang dapat kerjaan di Medan".


"Duuuh yang mulai bucin" sahut Mama.


"Biarin hehe, bucin itu tandanya sayang Mama".


"Makasih Nay udah sayang sama anak Mama, jaga dia, jangan kau sakiti hatinya".


"Makasih Mama untuk nasehatnya, doain kami selalu agar bisa berjodoh".


"Mama baik deh, makin sayang deh Nay" sambil kupeluk Mama.


"Kamu itu kalau aja ada maunya sayang Mama


".


"Assalammu'alaikum...lho...lho ini kenapa pada pelukan" tanya Papa.


"Wa'alaikumsalam" jawab kami serempak.


Kucium tangan Papa lanjut membuatkan teh.


"Nduk, kok lama ga kerumah, mentang-mentang ga ada Nehan" tanya Papa.


"Maaf Pa, Nay lagi fokus ngerjain skripsi agar segera kelar dan cepat nikah sama Mas Nehan hehe" jawabku sambil bercanda.


"Wah...wah...kita segera mantu lagi Ma, Papa demen nih punya anak mantu yang pintar masak dan sayang orang tua kayak gini".


"Papa bisa aja ya Ma?"


"Bener Pa, Mama juga demen nih"


"Pasrah deh Nay ga tahu mo ngomong apa" jawabku membuat Papa dan Mama tersenyum


Alvin POV


Gendhis sudah tak mengingatku kembali terasa menyakitkan. Itu memang murni bukan kesalahannya. Dia menjauhi interaksi yang berkaitan denganku. Mungkin dia tidak nyaman. Sakit saat dia bercerita kalau sekarang sudah punya calon mertua berarti dia sudah mempunyai kekasih.


Sebelum janur kuning melengkung dia masih bisa aku kejar. Semoga dengan satu team kita bisa kembali dekat kayak dulu. Maafkan aku Gendhis yang ga bisa merelakanmu dengan orang lain. Mungkin seperti orang yang serakah karena saat ini aku udah punya cewek, tapi saat aku bertemu dengan Gendhis, rasa sayangku sama pacarku berubah. Karena pacarku berbeda dengan Gendhis.

__ADS_1


__ADS_2