
Tak terasa sudah satu bulan hari jadi kami. Kita jarang bertemu karena kesibukan kami masing-masing, hanya teleponan atau whatshapan. Aku yang sibuk dengan ujian akhir semester sedang Kak Nehan sibuk di rumah sakit. Sehabis menjemur baju, aku tiduran di kasur sambil dengerin lagu Cinta Sendiri milik Kahitna.
Kau ungkapkan kepadaku / Kan ada saatnya nanti /,Engkau milikku satu / Ku menunggu dalam bimbang / Adakah sesungguhnya aku / Kasih yang kau inginkan / Biar aku yang pergi / Bila tak juga pasti / Adakah selama ini / aku cinta sendiri / Biar aku menepi/ Bukan lelah menanti / Namun apalah artinya / Cinta pada bayangan / Pedih aku rasakan/ Kenyataannya / Cinta tak harus / Saling memiliki / Jujur aku tak yakin bisa / Jalani hari tanpa dirimu / Namun apalah artinya / Cinta pada Bayangan / Biar aku yang pergi / Bila tak juga pasti / Adakah selama ini / Aku cinta sendiri / Biar aku menepi / Bukan lelah menanti / Namun apalah artinya / Cinta pada bayangan / Pedih aku rasakan / Kenyataannya / Cinta tak harus / Saling memiliki.
Memang sulit untuk lepas dari kenangan orang yang begitu spesial kehadirannya. Dalam hati bertanya, Masih layakkah aku dibuat bodoh oleh perasaan yang tak berlogika. Masih layakkah aku terus berlarut-larut dalam kesedihan sementara dia tidak tahu perasaanku selama ini. Aku tersadar dari perenungan ini, aku perlu bahagia dalam hidupku. Aku harus membuka hati untuk orang lain seperti Kak Nehan. Aku tidak mau dia menungguku sampai aku kehilangan dia karena aku abaikan dan keegoisanku.
Setelah sadar betapa berharganya Kak Nehan, aku menelpon dia. Selama ini aku terlalu pasif dan cuek. Aku tidak pernah menelepon atau kirim pesan duluan seakan-akan tidak butuh dia. Semua diawali dari Kak Nehan, seakan-akan dialah yang berjuang sendiri. Baiklah mulai saat ini aku akan mencoba menyeimbanginya walau hati belum tertata baik. Aku harus berjuang menemukan cinta sejatiku.
Kuganti nama Kak Nehan dengan nama Habibi. Aku tekan nomornya Tiit..tiit bunyi pada hitungan ke tiga, telepon diangkat.
"Hallo Assalammu'alaikum Nay, tumben telepon Kakak?"
"Waalaikumsalam Kak, malam ini Kakak tugas kerumah sakit ga?".
"Enggak Nay, emangnya ada apa?".
"Nay mau ajak Kakak makan malam diluar bisa ga Kak?".
"Wah tumben Nay ngajak Kakak keluar".
"Iih Kakak tuh mau gak sih kalau gak mau, Nay mau keluar sama temanku".
"Dengan senang hati Nay, jangan ngambek dong, Kakak cuman terkejut aja, baiklah nanti habis maghrib Kakak jemput".
"Makasih Kak, assalammu'alaikum".
"Waalaikumsalam" jawab Kak Nehan.
Akupun bersiap-siap untuk kencan pertama kami agar tidak memalukan, aku merias wajah tipis, aku suka yang natural. Aku memakai gamis unggu soft, warna favoritku. Cantik! Kupuji diri sendiri di depan cermin. Sekarang aku merasa lega setelah ambil keputusan untuk membuka hati buat Kak Nehan. Semangat Nay, yakin Kak Nehan orang baik tidak bakal ngecewain. Habis maghrib, Kakak kos memanggilku dan memberitahu kalau diluar ada tamu.
"Hai Kak lama tidak jumpa,"sapaku.
Kak Nehan bengong melihatku. "Kakak kenapa sih kok diam aja?".
"Cantik!" seru Kak Nehan.
"Datang-datang main gombal aja Kak".
"Emang beneran kok kalau Nay cantik malam ini".
"Ooh berati kemarin-kemarin tidak cantik gitu?" aku manyunkan bibirku.
"Udah yuk kita berangkat biar ga kemalaman ntar pulangnya".
Kita memilih makan steak. Selama menunggu makanan matang, kita ngobrol-ngobrol ringan sampai kemudian aku ungkapin perasaanku yang menyesak dada.
"Kak, maafin Nay yang selama ini masa bodoh dan cuek sama Kakak".
"Bantu Nay buat buka hati pelan-pelan buat Kakak".
Aku heran dengan penjelasan Nay, tapi aku bersyukur, Nay berubah dan berlapang dada menerimaku.
"Pasti Nay, mari kita tumbuh bersama-sama, saling mendukung dan mengingatkan jika salah".
"Makasih ya Nay udah menerima Kakak dengan hati terbuka".
" Sama-sama Kak jawabku".
Kami menikmati steak yang terhidang dengan perasaan senang. Setelahnya kita senda gurau setelah makan, aku menjadi tidak segan dan kaku lagi. Semenjak kencan pertama, hubungan kami membaik, Kak Nehan setiap hari, menyempatkan diri untuk mampir ke kos untuk makan bersama atau hanya sekedar ngobrol dan bercanda. Tidak terasa hubungan kami berjalan enam bulan.
Dari perjalanan hidupku ini, aku tersadar bahwa hidup penuh pilihan. Kita mau terpuruk larut dalam kesedihan atau bangkit untuk berjuang karena banyak ranting-ranting kehidupan yang belum kita tebas. Pilihanku yang kuambil, aku ingin bangkit untuk berjuang untuk kebahagiaanku dengan membuka hati untuk Kak Nehan. Dia cowok idaman perempuan, ganteng, pintar, sopan dan berkharisma jadi tak ada alasan bagiku untuk menolaknya. Sangatlah bodoh jika aku tak beri kesempatan karena kesempatan tidaklah datang duakali.
Tiba-tiba teleponku bergetar tanda pesan masuk di roomchat.
/Assalammu'alaikum Nay./
__ADS_1
/ Nay hari ini lagi dikos enggak?/
/Wa'alaikumsalam Kak./
/ Nay lagi keluar sama teman Kak cari buku di gramedia Kak./
/ Kakak jemput sekarang bisa ga?/
/ bisa Kak./
/otw./
Aku senyum-senyum sendiri membacanya.
"Cieeee yang lagi seneng habis diwhatshap yayang uhuuin" kata Maya.
"Apaan siih May biasa aja kali, May seperinya aku harus pulang duluan gimana?".
"Iya gakpapa Nay".
Setelah dapat izin Maya buat pulang duluan, aku keluar dari gramedia menuju halaman depan gramedia, agar Kak Nehan tidak kesulitan mencariku. Sepuluh menit kemudian, mobil Kak Nehan memasuki halaman parkir. Aku berjalan menuju mobilnya, membuka pintu sambil mengucapkan salam. Kak Nehan tersenyum melihatku dan menjawab salamku. Kak Nehan mengajakkku makan sate ayam. Sambil menunggu sate matang, kita mengobrol.
"Nay, besok kan hari minggu, bisa ga besok Kakak ajak main kerumah?".
"Tumben Kak ngajak Nay main kerumah".
"Mama dan Papa ingin berkenalan denganmu, mau ga?".
"Hmm Nay sebenarnya takut Kak dan belum siap bertemu dengan Om dan Tante, belum pede gitu, tapi Nay akan mencoba berkenalan".
" makasih Nay, orangtuaku baik kok, tenang saja".
"Sama-sama Kak".
Setelah pesanan datang, kita segera memakannya. Sesuai perjanjian, Kak Nehan mau menjemputku pukul sembilan pagi. Sehabis shubuh kumanfaatin buat nyuci baju dan bersih-bersih kamar. Tak terasa waktu menunjukkan pukul delapan pagi, alhamdulillah tidak perlu antri kamar mandi jadi tidak tergesa-gesa buat mandi dan berdandan. Perkiraan yang tak meleset, pas banget, begitu Kak Nehan sampai, akupun selesai dengan semua persiapannya. Kusamperin Kak Nehan yang menungguku di halaman kos.
"Ayo" kata Kak Nehan.
"Kak, sebelum ketemu Om dan Tante, kita mampir ketoko buah dulu".
"Nay mau beli buah-buah sebagai buah tangan, malulah kesana ga bawa apa-apa".
"Baiklah jika itu bisa membuatmu lega".
Akupun tersenyum menanggapi jawaban Kak Nehan. Ditoko buah, aku meminta penjualnya membuatkan parcel yang berisi aneka buah-buahan. Tak terasa perjalanan memakan waktu setengah jam sampailah kita dirumah kediaman Kak Nehan. Aku sangat gugup karena ini pengalaman pertamaku ketemu orang tua pacarku.
"Nay, jangan grogi donk, Mama dan Papaku tidaklah galak, malah humoris".
"Kelihatan bangetkah Kak?"
"Banget" kata kak Nehan.
Ayo Nay pasti menyenangkan ketemu beliau-beliau, aku mencoba menghilangkan rasa grogi dengan berpikir positif.
"Udah tenangkan, saatnya masuk" ucap Kak Nehan.
Aku hanya mengangguk menjawabnya.
"Assalammu'alaikum," kami mengucapkan salam.
"Wa'alaikumsalam," jawab kedua orang tua Kak Nehan.
Aku menaruh parcel buah dimeja kecil dekat kursi tamu.
"Ma, Pa kenalin ini Nayra, pacar Nehan".
__ADS_1
Blush malu banget dengan ucapan Kak Nehan barusan.
"Halo Om, Tante apa kabar, saya Nayra, teman Kak Nehan".
Aku bersalaman dan cium tangan Papa dan Mama Kak Nehan.
"Hallo juga Nay, saya, Radit, dan ini isteri saya, Rina, Papa Mamany Nehan".
Diluar prediksiku, mereka sangat baik dalam menyambutku. Kitapun ngobrol-ngobrol santai sampai mau masuk jam makan siang.
"Nay, Tante tinggal dulu siapin makan siang" pamit Tante Rina.
Aku juga permisi sama Om Radit dan Kak Nehan ke dapur.
"Ada yang bisa Nay bantu Tan?".
."Nayra ngapain kesini, nanti kotor bajunya" ucap Tante.
"Santai aja tan, bisa diatasi dengan celemek itu" tudingku.
Aku ga sengaja melihat celemek tergantung di dinding dapur.
"Oiya itu milik Kakaknya Nehan, pakai aja nak, dia sekarang tinggal di Solo, ikut suaminya".
"Nay bisa memasak?" tanya Tante Rani .
"Bisa Tan tapi yang simpel-simpel aja hehehe".
"Bolehkah Nay bantu masak sayur Te?"
"Boleh dong, Tante kan jadi penasaran dengan masakan Nay".
Atas persetujuan Tante Rina, aku memasak cha pakcoy. Tidak sampai limabelas menit masakanku udah matang. Waktunya dihidangkan di meja makan. Selama membantu tante Rina di dapur, Om Radit dan Kak Nehan rupanya ke masjid, sholat dhuhur.
"Assalammu'alaikum," salam dari Om dan Kak Nehan saat masuk rumah.
"Wa'alaikumsalam," jawab kami.
"Makanan sudah matang, mumpung masih panas, kita makan dulu" kata Tante Rina.
"Pa, Nehan coba diicipn masakan Nay, cha pakcoy ungkap" Tante Rina.
"Mantap betul nih" cetus Om Radit.
"Calon isteri idaman, Nehan," kelekar Om dan Tante.
Blush mukaku pasti merah banget karena malu atas apresiasi mereka. Sehabis makan, aku melaksanakan sholat dhuhur dirumah Kak Nehan. Selepasnya kita ngobrol sampai jam dua siang. Aku sudah merasa capek dan ingin segera istirahat akhirnya berpamitan sama Om dan Tante. Sebenarnya Om dan Tante menahanku untuk istirahat dikamar tamu, tapi aku malu, masak baru datang pertama main numpang tidur aja. Akhirnya kak Nehan mengantarku pulang.
Dalam perjalanan tidak ada pembicaraan karena aku ngantuk dan ketiduran ketika sebentar jalan. Aku terbangun ketika merasakan mesin mobil sudah tidak jalan. Pelan-pelan mataku terbuka dan sadar jika sudah tidur dalam mobil.
"Kak, kenapa ga bangunin aku ketika sampai?".
"Ga tega Nay, sepertinya kamu sangat lelah, udah sana pindah kamar lanjutin tidurnya setelah sholat asar".
Parah banget nih aku, malu-maluin lagi batinku.
"Udah ga usah kebanyakan mikir keburu malam ga jadi istirahat".
"Makasih Kak, hati-hati di jalan".
Nehan POV
Pertama kalinya Nayra menelpon mengajak keluar membuat aku terkejut. Biasanya aku duluan dalam menelpon dan mengirim pesan, terkadang aku merasa berjuang sendiri. Lelah tidak bisa dipungkiri tapi aku mencoba untuk bertahan. Tak disangka dia berani mengungkapkan perasaannya untuk menerimaku. Dia meminta aku membantu membuka hatinya pelan-pelan pertanda harapanku mulai bersinar. Tak terduga bukan kalau hati manusia bisa dibolak balik jika Allah menghendaki. Atas dasar apa dia bisa ambil keputusan untuk menerimaku. Sudahlah tak perlu dicari penyebabnya yang penting kita udah terbuka satu sama lain dengan perasaan kita masing itu sudah cukup.
Begitu sampai rumah, Mama, sudah heboh menghampiriku menyatakan kalau Mama dan Papa setuju dengan pilihanku. Mama suka dia. Menurut Mama, dia perempuan yang sopan, pintar masak dan pasti calon menantu idaman. Aku hanya bisa meminta doa kepada Mama agar aku dan Nay berjodoh. Menurut Mama jarang sekarang ada cewek yang mau turun ke dapur, mandiri banget kelihatan padahal dia masih muda dan anak bungsu biasanya manja.
__ADS_1
Aku senang dan bersyukur kedua orangtuaku merestui kami. Tapi Aku masih cemas jika Nay bertemu dengan mantannya. Takkan kubiarkan ini terjadi dan melepaskan yang sudah menjadi milikku. Mungkin orang memandangku bucin. Tak masalah, aku hanya ingin mempertahankan kebahagiaanku. Pasti bisa menjaga Nay dalam hidupku.