Titik Waktu Di Hati Gendhis

Titik Waktu Di Hati Gendhis
Kak Sinta Dilamar Fiktiew


__ADS_3

Besok adalah hari pertunangan resmi Kak Sinta dan Kak Dion. Pasti mereka ga menyangka jika perkenalan mereka yang tak sengaja akhirnya menjadi pelabuhan cinta terakhir mereka. Mereka awalnya salah orang, Kak Dion mengira dari belakang Kak Sinta itu adeknya karena bodynya sama. Kak Sinta dipanggil-panggil ga mau menoleh, karena greget dan emosi Kak Dion menyampiri Kak Sinta yang waktu itu lg jalan mencari temannya yang menghilang waktu dia melihat dompet di toko tas, malulah Kak Dion. Kebetulan kedua, temennya Kak Sinta itu ternyata Adikknya Kak Dion, nah dari situ Kak Dion minta nomor telepon Kak Sinta awalnya buat minta maaf, tapi entah mereka sering kontak, mungkin merasa cocok terus jadian. Itulah jodoh sulit ditebak.


Pacarannya Kak Sinta terbilang unik. Sewaktu Kak Dion masih kuliah di Yogyakarta, Mereka berpergian jarang berduaan, selalu minta ditemenin aku kemana-kemana. Bisa dibayangkan aku serasa obat nyamuk. Tidak nyaman banget tapi tidak tega menolak ajakan Kak Sinta. Saat aku melihat orang berpacaran didepanku, aku tuh seperti orang asing dan bingung mau ngomong apa saat mereka interaksi, akhirnya aku sering tinggal mereka dengan membaca atau bermain game. Lumayanlah bisa menghilangkan rasa jenuh dan mati gaya saat keluar bersama mereka. Bersama mereka kadang menjadikan aku seorang fotografer dadakan dan lebih menyebalkan lagi jika mereka sedang bertengkar, inginnya semua pendapat masing-masing yang benar membuatku sebagai seorang penengah, penghubung dan informan. Uuff fantastic perannku jadi banyak.


Aku jadi senyum-senyum sendiri mengingat kisah mereka. Hal ini tak luput perhatiaan dari Mas Nehan yang sedang menatapku dengan curiga.


"De, lagi mikirin apa sih kok senyum-senyum sendiri?".


"Tuh Mas Nehan lihat tiga orang yang sedang makan bakso diseberang kita?


Mas Nehan pun menoleh melihat apa yang aku tuding barusan, ekspresinya yang mengerutkan dahi pertanda kalau dia bingung.


"Biasa aja tuh Dik, cuman orang makan bakso, terus yang lucu apanya?".


"Emang ga ada yang lucu Mas, cuman mereka mengingatkanku tentang kisah pacaran Kak Sinta dan Kak Dion yang selalu mengikutsertakanku saat keluar, makan contohnya seperti mereka".


"Aku duduk memang sebelah Kak Sinta, tapi serasa makan sendiri karena meja terdiri dari empat kursi, Kak Sinta dan Kak Dion duduk otomatis berhadapan, nah aku berhadapan dengan kursi".


"Momen yang menyebalkan tauu jadi obat nyamuk".


"Wuahahahaha kamu mau-maunya Dik dikacangi mereka, ga malu apa ketika orang asing menatapmu?, mungkin mereka menertawakan apa yang kamu jalani waktu itu".


"Malu pake bangetlah Mas, akhirnya aku menjauh karena risih dan tak nyaman bersama mereka".


"Aku pura-pura sibuk banyak tugas atau keluar sama teman xixixi".


"Udah sore nih Mas nanti kita kemalaman sampai Solo".


Kitapun melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda karena makan bakso. Tadi Mas Nehan menjemputku di kantor Advokat. Aku masih perpanjang magang atas inisiatif sendiri untuk menambah keilmuan. Pukul delapan malam kita sampai rumahku. Ayah sedang sibuk merapikan dan menata ruangan yang besok mau dijadikan tempat buat lamaran, sedang Bunda sedang memasak bersama Bik Sum. Saat tahu kita udah datang, Bunda langsung menghampiri kita dengan memberikan paper bag sama Mas Nehan.


"Nak Nehan ini Bunda beliin Hem batik kembaran sama Ayah, tolong besok dipake ya nak".


"Makasih Bun, besok pasti Nehan pakai".


Sementara Mas Nehan lagi ngobrol sama Ayah dan Bunda, aku ke kamar Kak Sinta.


"Berdebar hatiku..ooh berdebar hatiku...dag..dig..dug...seeeer yang besok mau lamaran kayak nervous gitu" godaku sama Kak Sinta.


"Adik iiih apaan siiih"

__ADS_1


Saat Kak Sinta ambil bantal buat melemparku ku lari menghindar.


"Wekz ga kena".


Kujulurkan lidah kemudian meninggalkan kamar setelah puas mengoda Kak Sinta dan kembali menemui Mas Nehan. Setelah ngobrol Mas Nehan pamit karena sudah malam. Akupun mulai istirahat karena besok harus membantu Bunda Masak.


Lamaran Kak Shinta emang sederhana hanya mengudang keluarga terdekat. Selepas sholat shubuh, aku turun kedapur membantu Mama dan Bik Sumi yang sudah mulai memasak sebelum shubuh. Aku kebagian tugas memasak ayam fillet saos tiram dan cha jamur kancing. Semua masakan jam delapan sudah matang dan tertata rapi. Saatnya mandi dan bersiap-siap karena undangan jam sepuluh pada datang. Waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh, aku turun dari kamar ternyata Mas Nehan udah datang dan sedang mengobrol dengan Kak Rio sepupuku.


"Kak Rio, Mbak Netty dan Mila ikut kesini ga?".


"Aku kangen banget sama mereka".


Mbak Netty itu isteri Kak Rio dan Mila adalah anak mereka yang masih berumur tiga tahun.


"Ikutlah mereka kok mau Dik di tinggal di rumah, apalagi Mila setelah tahu mau ke rumah Nenek Widya heboh tadi".


Aku tersenyum dengerin ucapan Kak Rio karena anak-anak pada dekat dengan Ayah dan Bunda. Kak Riopun pamit untuk mencari isteri dan anaknya.


"Mas, udah makan belum? tadi Nay masak cha jamur kancing dan ayam fillet saus tiram, makan yuk mumpung belum dimulai acaranya".


"Belum sempat Dik, tadi Kak Adel bangunnya kesiangan, jadi Mas cuman minum kopi aja".


"Cieee ada yang ngajak kenalan Mbak, bilang aja Mbak sekalian masih jomblo dan kalau perlu kasih nomor telepon"


"Iyalah aku akan bilang masih jomblo, nanti mau bilang sama Kak Dion buat kasih nomorku kesepupunya, lumayanlah buat tambahan cadangan daftar calon suami" sekalian aja kupanasi biar dia tambah cemburu.


"Eeh kok gitu, ga bener itu, Awaas Dik kalau sampai ketahuan sama Mas, ntar langsung Mas halalin walau Adik belum selesai kuliah"


"Kabur wekz" kujulurkan lidah mengejeknya.


"Mas pastikan ga bisa kabur, ada Ayah dan Bunda yang membantuku".


Belum sempat kubalas, aku dan Mas Nehan dipanggil Ayah untuk foto bersama, Ayah kemudian memperkenalkan Mas Nehan sebagai calon Mantu yang kedua kepada semua anggota calon besan. Tampaklah wajah Mas Nehan sumrigah tanda kemenangan yang diperlihatkan pada cowok yang mengajak kenalan aku tadi. Aku hanya keki dengan ekspresinya. Setelah sesi pemotretan, acarapun diakhiri. Setelah acara kelar aku membersihkan ruangan dibantu Mas Nehan jadi pekerjaanku cepat selesai. Aku duduk disofa ruang tivi karena badan terasa capek. Mas Nehan menyusulku ikut duduk disebelahku.


"Capek bangetkah Dik? mau mas cariin tukang pijet? mungkin Kak Adel tahu karena udah lama menetap disini".


"Ga usah Mas, kalau tukang pijet, Bunda juga punya kenalan, penginnay Nay yang mijet Mas gimana donk?" godain dia rasanya seneng banget


"Nanti habis Mas wisuda kita nikah aja yuuk biar Mas bisa mijetin adek setiap saat".

__ADS_1


Belum sempat ku jawab tiba-tiba ada yang nyahut


"Bundaaa ! Ciee Ayah mau mantu dua kali nih dalam tiga bulan" Kak Sinta keluar dari persembunyian sambil tepuk tangan.


"Iiih Kakak rese suka nguping pembicaraan orang, nyebelin" ucapku sambil cemberut.


Tiba-tiba Ayah dan Bunda gabung dengan pembicaraan kita.


"Ayah setuju-setuju jika Gendhis mau nikah dalam waktu dekat, biar Ayah dan Bunda bisa pacaran kembali, iya ga Bun? kita buat debay lagi yang cowok". kata Ayah sambil mengedipkan mata.


"Ayah makin tua bukannya makin bener tapi makin ngaco" jawab Bunda sambil mencubit perut Ayah.


"Tuh besok mantu kita nak Dion dan nak Nehan sama aja kita dapat anak cowok ketemu gede".


"Iish cubitan Bunda masih kayak pas kita pacaran dulu, panas ga berubah". Hahahaha semua tertawa mendengar ucapan Ayah.


"Nak Nehan, nanti kalau mau balik Yogya, Bunda nitip oleh-oleh buat Mama".


"Iya Bun, matursuwun sebelumnya".


Ayah, Bunda dan Kak Sintapun akhirnya pergi membiarkan kita kembali ngobrol berdua.


"Gimana Dik dengan tawaran Mas tadi?".


"Enggak deh Mas pokoknya Nay minta kembali ke rencana awal, tunggu habis Nay wisuda".


"Uugh lama banget" katanya yang bikin aku tersenyum.


Setelah istirahat, habis ashar, kami memutuskan balik ke Yogya agar malam bisa istirahat. Mas Nehan mengantarkanku dulu ke kos sebelum pulang kerumah.


"Makasih Mas, hati-hati di jalan, salam buat Mama dan Papa, sampai ketemu besok".


"Iya Dik met istirahat". Entah kenapa dia tiba-tiba salim dan mencium tanganku memberikan efek yang luar biasa padaku.


Nehan POV


Melangkah bersamanya banyak ujian. Wajahnya memang selalu enak untuk dipandang, membuat banyak cowok yang menyukainya. Aku cemburu jika ada cowok yang mendekati. Cemburu bukan berarti marah melainkan takut kehilangan. Aku berniat ingin menghalalin setelah wisuda tapi dia belum mau nikah karena belum masuk daftar rencananya.


Saat aku diperkenalkan sebagai calon mantu sama calon Ayah Mertua membuatku gede kepala. Berasa menang tanding dengan cowok yang mengajak kenalan Nayra tadi. Saat dia mengeluh capek, aku ingin memijetnya tapi kita belum muhrim jadi tidak bisa.

__ADS_1


Bersama anggota keluarga Nayra serasa keluarga sendiri. Ayah yang lucu membuat kita akrab. Senang melihat keharmonisan Ayah dan Bunda.


__ADS_2