
Setelah lulus dari Ujian Kompetensi Dokter Indonesia ( UKDI ) dan ujian praktek OSCE nasional, Mas Nehan akan dilantik sumpah dokter. Sumpah dokter merupakan pemberian gelar dr. Secara resmi didepan nama yang disertai dengan Hippocratic Oath yang merupakan sumpah kedokteran sejak dulu sudah dipegang oleh para dokter sebagai landasan untuk praktek ke depannya.
Tak terasa hari pelantikan sumpah dokter yang ditunggu-tuggu sudah tiba. Semalam aku diminta Mama buat menginap di rumahnya agar nanti bisa berangkat sama-sama dengan Kak Adel karena Papa dan Mama harus berangkat duluan. Baju kembaran sama Mama, Kak Adel dan Fara sudah jadi. Mas Nehanpun sudah melewati gradi bersih kemaren. Dia memakai Hem Batik kembaran sama Papa dan suami Kak Adel. Dia terlihat sangat tampan dengan memakai jas dokternya.
Pukul sebelas siang aku dan keluarga Kak Adel menyusul ke gedung serbaguna tempat di langsungkan acara pengambilan sumpah. Tak lama Mas Nehan keluar bersama teman-temannya. Ada seorang cewek cantik yang menghampiri kami mengajak Mas Nehan untuk foto berdua sebagai kenang-kenangan, tapi Mas Nehan menolak dengan halus kalau dia sudah ditunggu calon isteri dan keluarganya. Dia sepertinya terkejut dengan pernyataan Mas Nehan dan pergi meninggalkan kami dengan dengan wajah ditekuk. Tapi yah masa bodohlah dengan semua itu.
Setelah Papa dan Mama keluar dari ruangan, kita semua pergi meninggalkan gedung menuju studio foto yang sudah dipesan Mama. Foto diawali dengan Papa dan Mama dan Mas Nehan lanjut foto keluarga inti. Kemudian baru aku masuk dalam keluarganya dan diakhiri foto kami berdua. Kemudian lanjut deh ke pring sewu buat makan-makan. Di sana ternyata sudah ditunggu keluarga besar Mas Nehan. Neneknya Mas Nehan dari Semarang juga datang bersama keluarganya dari pihak Mama.
"Eyang ini kenalin Nayra, kekasih Nehan dan insyaallah akan menjadi isteri Nehan nanti, doain ya Eyang".
Akupun menyalimin Eyang tapi sepertinya Eyang tidak menyukaiku atau terkejut entahlah apa yang jadi pikirannya. Tapi saat Eyang bilang ke sini mau mengenalkan Desy sama Nehan, aku mulai paham maksud kedatangan Eyang. Tapi sepertinya Mas Nehan dan keluarga Mas Nehan enggan untuk menanggapi. Saat aku akan duduk datang cewek dengan dandanan glamaur mendekati Eyang.
"Nehan kenalin ini Desy, cucu teman Eyang, dia sudah lulus dari Fakultas Ekonomi dan sekarang berkerja di sebuah bank di Semarang".
"Hai salam kenal, aku Desy" ucapya sambil mengulurkan tangan buat berjabat tangan.
"Hai salam kenal juga, aku Nehan dan sebelahku calon isteriku namanya Nayra" Mas Nehan hanya menelungkupkan tangan.
Cewek yang bernama Desy sepertinya sangat terkejut dengan pernyataan Mas Nehan. Hawa ku rasa mulai panas, untung Papa langsung menyikapinya.
"Nak Desy silahkan duduk, mari sama-sama kita menikmati hidangan yang tersaji biar tidak keburu dingin".
"Iya Om, makasih" jawab Desy
"Nay, mau makan apa Nak?" tanya Mama.
"Nay mau cha kangkung udang aja Ma, Mas Nehan mau aku ambilin sekalian?".
"Iya Dik mau" jawab Mas Nehan.
__ADS_1
Aku mengisi piring Mas Nehan dengan nasi dan cha kangkung udang sebelum mengisi piringku. Tampak semua memperhatikan tapi aku cuek aja karena sudah biasa jika makan bersama, pasti menyiapkan apa yang akan dimakan Mas Nehan dulu.
"So sweat tante Nay" cuitan dari Kak Adel membuat Papa dan Mama tersenyum.
"Makasih Dik" perkataan Mas Nehan hanya kuangguki.
Setelah makan, aku pamit ke toilet untuk cuci tangan bersama Fara untuk memberikan waktu pada keluarga untuk bicara tidak sungkan jika ada aku.
"Nak Desy terima kasih sudah hadir diacara syukuran Nehan" kata Papa.
"Ibu, mohon maaf, jika Nehan sudah punya calon, Nay sudah kuanggap seperti anak gadisku, dia sangat lembut, sederhana dan menyayangi kami seperti orang tuanya". kata Mama.
"Iyalah dia menyayangimu karena ada pamrihnya" kata Eyang.
"Tidak Eyang, dia orang yang tulus menyayangi kami" sahut Mas Nehan.
"Eyang, biarkan Adek bahagia dengan pilihannya, aku perhatikan Om Nehan hidupnya lebih bergairah sejak mengenal Tante Nayra, restuilah mereka Eyang"kata Kak Adel.
"Terserah pendapat kalian tapi bagi Eyang, Desy adalah pilihan yang tak diragukan".
"Ayo Des, kita pulang sekarang" kata Eyang.
Mereka berdua meninggalkan meja makan. Sayup-sayup aku mendengar pembicaraan mereka, sakit kalau dirasa tak mendapat restu dari neneknya tapi kita harus berjuang lagi untuk mendapat restu. Ku seka airmata yang menetes dipipiku. Aku kecewa tapi mencoba berpikir positif tentang Eyang. Akhirnya aku mengerti seorang nenek pasti menginginkan yang terbaik untuk cucunya, wajar beliau belum mengenalku sehingga belum menyukaiku. Aku kuatkan hati sebelum menghampiri tempat di langsungkan syukuran tadi. Aku pura-pura baik-baik aja dan tidak mendengar dan tidak tahu perihal pembicaraan mereka.
"Kok lama Dik ke toilet?" tanya Mas Nehan.
"Habis dari toilet tadi aku ke taman bersama Dik Fara, terlena karena tamannya bagus, iya kan Dik Fara?".
"Iya Om, tadi Tante mengajakku ke taman yang ada jembatan, cantiik banget" kata Fara.
__ADS_1
Semua tersenyum mendengar celoteh Fara. Haripun sudah sore, kita semua memutuskan untuk pulang. Papa dan Mama sepertinya paham kita butuh bicara memutuskan ikut mobil Kak Adel. Dalam mobil hening tanpa pembicaraan, kita asyik dengan pikiran kita masing-masing. Aku meminta Mas Nehan untuk mengantarkanku ke kos, aku lagi ingin sendiri tanpa diganggu siapapun. Sebelum turun dari mobil Mas Nehan menahanku agar tidak keluar dulu.
"Dek, tolong jangan mikirin apa yang dikatakan Eyang ya?".
"Bagi Mas, hanya Adiklah yang Mas inginkan".
"Tanpa adek, dunia Mas hancur".
"Wajar Mas jika Eyang belum menyukaiku karena belum mengenalku lebih dekat, aku mengerti akan keraguan Eyang".
"Maukah Adik berjuang sama Mas untuk mendapat restu dari Eyang?".
"Pastilah Mas, cintaku tak goyah cuman karena belum mendapat restu dari Eyang, yang penting bagiku saat ni Papa dan Mama merestui kita akan memudahkan langkah kita meraih restu Eyang".
"Makasih Dik untuk pengertiannya".
"Mas bangga padamu".
"Mas, nanti tolong pamitin ke Mama, maaf bajunya Nay besok ambil setelah pulang kuliah".
"Iya Dik santai aja, makasih udah hadir dalam hidup Mas".
Akupun tersenyum dan turun dari mobil. Hatiku mulai membaik setelah mengobrol dengan Mas tadi. Ga mungkin aku akan menyia-yiakan orang yang tulus menyayangiku. Yang sakit bukan hanya aku seandainya berpisah melainkan Mas Nehan akan lebih kesakitan dibanding aku.
Gendhis POV
Hari ini aku benar-benar terkagum dengan ciptaan Allah dengan Maha Karya-Nya terwujud dalam diri Mas Nehan. Mas Nehan yang memakai jas dokter terlihat lebih tampan dari biasanya. Aku bersyukur menjadi bagian dalam hidupnya. Saat kita foto bersama, aku seperti beneran sudah menjadi bagian dari keluarga Papa Radit.
Aku paham saat Eyang mengenalkan cewek bernama Desy. Eyang bermaksud menjodohkan Mas Nehan dan Desy. Kondisi aku tidak baik-baik aja sebenarnya, bohong kalau tidak sakit atau kecewa saat Eyang belum memberi restu. Walau kecewa ga mungkin aku perlihatkan ke semua orang, aku harus belajar sabar dan tegar karena setiap hubungan tidak mungkin tanpa masalah.
__ADS_1
Menyendiri adalah waktu yang terbaik untuk merendam emosi dan amarah tapi aku harus bangkit. Kami harus berjuang untuk meraih restu sang Nenek. Aku ga boleh menyerah begitu saja karena apa yang sudah menjadi milikku ga bisa kulepasa begitu saja.