
Setelah beberapa hari tidak masuk kantor karena stress, hari ini aku memutuskan masuk kantor. Kusiapkan mental untuk bertemu Gendhis hari ini. Mulai hari ini aku mencoba mengabaikan dia adalah strategiku menghadapinya. Hari ini sidang pertama yang isinya mediasi, pasti dia datang. Pertempuran dimulai. Kumantap melangkah meninggalkan rumah menuju kantor. Sampai kantor dia sudah datang sedang membaca berkas sepertinya. Ku tetap melangkah tanpa menyapanya menuju ruanganku. Bang Emrick sudah menyiapkan sebuah ruangan mejadi ruang kerjaku beberapa bulan ini.
Bang Emrick yang baru datang menyampiri keruanganku.
"Kemana aja Vin beberapa hari ga masuk?"tanya Bang Emrick.
"Refreshing Bang ilangin stress"jawabku asal.
"Stress kenapa, kata Mama kamu uring-uringan beberapa hari ini".
"Stress karena kerjaan, abang sih kasih kerjaan ga kira-kira buat aku kurang istirahat".
"Halah kalau bohong jangan kelihatan Vin karena kamu tu ga pandai berbohong dari kecil".
Skakmat aku ga bisa merespon ucapan Bang Emrick. Aku hanya diam malas untuk menanggapinya membuat Bang Emrick salah tingkah. Saat Bang Emrick mau bicara lagi ada yang mengetuk pintu rupanya Gendhis. Saat ga sengaja bertatapan muka aku melenggos ga mau melihat lagi.
"Pagi Pak, saya mau mengingatkan sidang kasus yang kita tangani nanti jam sepuluh" ucap Gendhis.
"Saya tidak lupa!"jawabku.
Ucapanku membuat mereka terkejut. Untuk mengatasi kekakuan diantara kita Bang Emrick berbasa basi sebentar
"Pagi Nay, selamat ya untuk kelulusannya dan mendapat penghargaan lagi".
"Nanti mau berangkat sama Alvin, Nay?".
"Makasih Pak".
"Saya bawa motor Pak karena habis dari Pengadilan saya harus ke kampus memberikan materi mengganti dosen saya".
"Baguslah!" jawabku.
"Nay keren dipercaya jadi menjadi Asisten dosen, ga semua mahasiswa mendapat kepercayaan, bisa jadi pengalaman kelak jadi dosen".
"Iya pak"jawab Nay kemudian permisi dari ruangan.
"Hai Alvin ada apa denganmu, beberapa hari ga ke kantor dan sekarang sewot mulu sama Nayra" tanya Bang Emrick.
"Lagi ga mood dan malas aja ketemu dia Bang".
"Tumben ada angin apa?cerita dong sama Abang".
"Dibilangin ga ada, Abang kok ngeyel sih".
"Vin, kita ketemu bukan cuman dari seminggu tapi dari orok, kita dilahirkan dari Ibu yang sama, jadi aku tahu persis lah sifat dan sikapmu".
"Udah ga usah malu cerita ke Abang, kata Mama kamu uring-uringan terus".
"Tolong dong Bang kasih aku waktu buat sendiri".
"Oke kalau itu maumu" Bang Emrick pun keluar dari ruanganku.
Maafkan aku Bang jika belum bisa cerita denganmu. Aku lagi ga mood berbagi cerita. Kulanjutkan membaca berkas yang akan dijadikan sidang pertama. Setengah jam sebelum sidang digelar aku keluar dari ruanganku, ku lihat Gendhis sudah tidak ada di meja kerjanya. MUngkin dia sudah berangkat ke Pengadilan dari tadi. Syukurlah dia sudah berangkat sehingga aku tidak perlu basa-basi ngomong sama dia.
Sampai di Pengadilan, turun dari mobil melihat pemandangan yang membuat hatiku tertohok dengan perlakuan kecil dari seorang gadis yang bernama Gendhis. Dia membantu seorang nenek membawa baki makanan yang sepertinya berat menuju serambi yang bertangga. Gendhis membawakan baki nenek. Setelah sampai serambi, Gendhis menyerahkan baki milik nenek dan tampak ramah dalam bertutur kata dan tersenyum sama nenek saat mengakhiri pembicaraan. Nenek terlihat sanggat senang dengan bantuannya.
__ADS_1
Tak lama akupun menyusul dia. Sampai depan ruang pengumuman aku melihat Gendhis ngobrol ramah dengan seorang cewek seumuran dengannya, mungkin teman kuliahnya. Akupun melewati tanpa menyapa dan diapun terasa enggan juga buat menyapaku. Apa dia marah ya sama aku karena tadi aku ketus di kantor batinku. Lihat aja ntar dia bagaimana dalam menghadapi klien. Lima menit sebelum sidang dia sudah di depan ruang sidang dan menyapa klien kita. Dia sangat ramah tidak kelihatan marah denganku saat menghapapi orang lain. Sulit ditebak sepertinya. Setelah ngobrol sebentar kita masuk kevruangan. Sidang pertama adalah mediasi. Gendhis kulihat lagi mraktekin peran hakam seperti dalam skripsinya. Setelah berunding antara kedua belah pihak, klienku sebagai penggugat tetap ingin bercerai dari suaminya. Nunggu sidang selanjutnya.
Setelah sidang pertama selesai kita keluar. Kulihat Gendhis setelah ngobrol dan berpamitan sama klienku dia jalan menuju tempat parkir kemudian dia keluar dari Pengadilan. Akupun juga langsung meninggalkan Pengadilan menuju ke sebuah cafe. Aku malas balik kantor lagi. Malam ini aku memutuskan tidur di apartemenku. Tiba-tiba terlintas dalam pikiranku jika kebutuhan apartemen habis aku memutuskan belanja di sebuah supermarket.
Saat aku lagi memilih perlengkapan mandi tiba-tiba ada anak kecil menanggis kemudian ada seorang cewek yang menolong dan mengendong, tanggisan anak itu mereda, kemudian cewek itu bertanya pada anak tersebut.
"Adik di sini sama siapa?".
"Mama"jawab anak itu.
"Sekarang Mamanya ada dimana?".
Anak itu hanya menunjukkan dengan jari tempat Mamanya berada. Pas sampai gang tempatku berdiri Mamanya anak kecil itu sampai.
"Helen, Mama cari-cari kok ga ada, duh bikin Mama jantungan aja".
"Sepertinya tadi Adik lari-lari terus terjatuh Bu"
Kemudian anak kecil itu minta turun terus minta gendong Ibunya.
"Mama, tadi Adik jatuh terus ditolong sama Kakak itu" anak kecil itu menuding kecewek yang mengendong.
"Makasih ya Mbak sudah menolong anak saya".
"Namanya siapa Mbak?"ucap Ibu itu sambil menyalami cewek tersebut.
"Nama saya Gendhis, Bu".
"Oo nama saya Lia, Mbak".
"Sekali lagi makasih Mbak, saya permisi dulu Mbak mau melanjutkan belanja tadi".
Deg...nama yang ga asing. Gendhis oh Gendhis mengapa hatimu begitu lembut dan baik hati sisi lain yang baru aku tahu selain kamu orang yang mandiri, memiliki integritas, memiliki attitude positif dan memberi rasa nyaman pada sekitarmu dan kamu perempuan yang pintar menempatkan diri, kualitas kepribadianmu yang bagus banget. Gimana aku bisa lupain kamu jika seperti ini. Gimana aku bisa merelakan kamu dengan cowok lain. Berdosa ga ya jika ku tikung? Sepertinya gakpapa sebelum janur kuning melengkung masih milik umum. Mulai sekarang aku berjanji dalam diriku untuk meluluhkan hati Gendhis. Masa bodoh jika semua bilang aku orang yang ambisius. Mari Alvin kita bertempur menaklukkan Gebdhis. Aku memberikan semangat pada diri sendiri. Kupercepat belanjaanku agar tidak ketemu Gendhis disini.
Seminggu setelah kejadiaan di supermarket
aku belum bertemu Gendhis. Kata Mbak Diah, dia izin lagi interview beberapa tempat. Wah ga bisa dibiarkan, aku harus gerak cepat sebelum Nay mendapat kerjaan. Akan kucoba menghubungi dia dengan mengirimkan pesan.
/Gendhis jangan lupa besok Sidang kedua, ga boleh ada izin/
Lama banget ga dibaca dan dibalas. Lagi sibukkah batinku. Setelah ku menunggu dua jam baru dapat jawaban. Apa kamu ilfeel sama aku hingga membaca dan membalaspun enggan.duh jadi prasangka buruk melandaku.
/Iya Pak makasih sudah diingatkan, saya tidak lupa/
Ya ampun jawaban tidak seperti yang aku bayangkan. Sabar Vin semua butuh proses bukan. Aku mencoba bersabar merendam emosi. Besok pertempuran kita mulai Gendhis. Gendhis yang sekarang berbeda waktu kecil, mungkin waktu dan usia yang merubahnya.
Keesokan harinya aku datang ke kantor, kulihat Gendhis udah di meja kerjanya sedang membaca sebuah buku. Saatnya pendekate.
"Gendhis kamu sedang membaca apa? Sepertinya serius banget".
Gendhis tidak menjawab hanya memperlihatkan buku yang dibaca. Dingin dan jutek banget nih cewek kalau sama aku. Sabar dan semangat Vin, ku terus menyemangati diri sendiri untuk tidak pantang menyerah. Aku mencoba kebal dengan sikap Gendhis yang cuek, jutek dan dingin.
"Gendhis, mari kita berangkat sama-sama ke Pengadilan agar tak terlambat".
"Bapak duluan aja, saya nanti bawa kendaraan sendiri".
__ADS_1
"Tidak ada penolakan Gendhis ini perintah"ucapku.
Kulihat dia bermuka masam dengan ucapanku tapi dia mau mengikutiku. Aku senang dia mau mengikutiku walau terpaksa dan tidak ada pembicaraan dalam mobil. Aku mencoba bicarapun tidak mendapat respon darinya. Ekstra sabar lagi dalam menghadapinya. Meski begitu dia tetap ramah sama klien kami. Setelah sidang aku memutuskan mengajak makan siang tanpa bertanya dulu.
"Gendhis kita makan sebentar ya aku lapar".
"Saya tidak lapar Pak"jawabnya.
"Tolong temanin saya, saya mohon".
"Baik tapi jangan lama" ucap Gendhis.
Dia benar enggan makan bersamaku walau sudah aku paksa. Dia hanya memainkan telepon gengamnya. Dia senyam senyum saat membaca pesan atau artikel di internet, entahlah aku kurang tahu. Sikap dia sebenarnya buat nafsu makanku hilang tapi tetap aku paksa karena ingin manfaatkan waktu agar lebih lama bersama dia. Sehabis makan aku mencoba membuka komunikasi kembali.
"Gendhis, bolehkah aku bicara sebentar?".
"Bukannya dari tadi Bapak bicara terus" jawabnya.
"Gendhis, aku menyukaimu, apa kita tidak bisa seperti mengulang cerita lama?memenuhi janji di masa lampau?".
"Maaf Pak, saya sudah punya tunangan, janji masa lampau dibuat waktu kecil hanyalah cinta monyet, setelah dewasa kita sudah berbeda kepribadian".
"Maksudmu gimana Gendhis?".
"Bapak yang saya temui sekarang sudah berbeda dengan waktu kecil".
"Alvin yang dulu adalah orang yang lembut penyayang dan pendiam".
"Sedang Alvin yang sekarang seorang yang arogan, banyak bicara dan pemaksa".
"Saya tidak mengenal karakter Alvin sekarang karena berbeda jauh dengan masa kecil".
Deg...begitukah penilaianmu terhadapku begitu buruk hingga engkau memilih yang lain batinku.
"Maafkan aku Gendhis jika keadaan dan waktu yang merubahku".
"Tolong jangan membenciku" ungkapku.
"Saya tidak membenci anda tapi saya menjaga perasaan tunangan saya yang sedang di Bandung agar tidak terjadi kesalahpahaman diantara kami".
"Apa kamu mencintai tunanganmu? Hatimu sudah berpaling dariku?".
"Waktu yang membuat saya mengambil keputusan menerima tunangan saya, saya lelah dengan penantian tidak berujung".
"Buka hatimu Gendhis, penantian tidak sia-sia karena sekarang ada di sini, di dekatmu".
"Maaf Pak tolong lupakan saya, mari kita jalani hidup kita masing-masing".
"Maaf Gendhis saya tetap berjuang sendiri meraih cintamu, jangan paksa aku buat berhanti mencintaimu".
"Terserah Bapak, yang jelas saya sudah lelah dan capek, ingin mengakhiri cerita kita waktu kecil".
"Saya permisi harus ke kampus".
Dia bangkit dari duduknya menuju pintu keluar dan saat saya kejar dia sudah mendapatkan taxi. Aku sudah mendapatkan jawaban kalau dia tidak mencintaiku dan meminta mengakhiri janji yang telah kita buat. Sakit sekali hati ini mendengar pernyataanmu Gendhis.
__ADS_1
Gendhis POV
Aku merasa Alvin itu orang yang modyan, saat ga mood dia akan marah-marah tanpa alasan. Saat baik dia akan memberi perhatian. Dia mengungkapkan perasaannya kalau menyukaiku. Sebenarnya hati ini bingung untuk menjawab karena dia tiba-tiba aja tanpa rambu-rambu terlebih dulu. Untung aku ingat janjiku sama Mas Nehan untuk menyelesaikan urusanku sebelum menikah dengannya. Mungkin ini waktu yang tepat buat ngomong sama dia agar aku segera terlepas bayang-bayang masa lalu. Alvin menolak dengan permintaanku, tapi aku harus tegas bukan? Masa bodoh dia akan berjuang sendiri. Sebenarnya kasihan saat dia minta aku membuka hati untuknya tapi kembali lagi hidup adalah pilihan. Hatiku sudah tertambat sama Mas Nehan jadi aku harus menjaga hatinya agar tidak terjadi boemarang nantinya.