Transmigrasi Novel

Transmigrasi Novel
Keduapuluh satu


__ADS_3

Hatinya langsung terasa sangat lemah matanya langsung memanas. Berdiri di tengah ruangan suasana yang tenang terdengar bunyi lonceng angin sayup-sayup.


Duduk di pinggir bangku coklat panjang. Tangannya saling bertaut kepalanya tertunduk dalam. Setetes air mata yang turun di kedua matanya yang terpejam.


Di luar bangunan gerimis kecil sudah berubah menjadi rintik hujan yang deras. Wangi Petrichor yang memasuki Indra penciuman menambah suasana magis yang tidak terlihat.


"Tuhan maaf kadang aku menyerah akan hidup yang telah engkau beri padaku, Tuhan terkadang aku bertanya apakah aku pantas untuk nikmat hidup?, Tuhan aku ingin berlari kencang hingga terbang jauh bebas, Tuhan aku hanya lah seorang pendosa, aku begitu penuh dengan luka, Tuhan rasa sakit ini, rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuhku, semesta seperti berencana untuk menghancurkan ku, disaat aku terbangun dari tidur aku berharap segalanya adalah mimpi, Tuhan.... apakah aku pantas bahagia?'


Lirih Alycia dengan kepala yang semakin tertunduk menahan isakannya. Dirinya bukan orang religius yang selalu taat dan ingin kepadanya. Tidak munafik akan hal bahwa dirinya juga terkadang sangat jauh darinya.


Tapi kemana lagi dirinya bisa mengadu tanpa perlu terhakimi kecuali padanya. Harus berusaha kuat di saat jiwa dan raga tidak baik-baik saja.


Di saat merasa dirinya sudah merasa tenang menata lurus kedepan. Suara langkah kaki dari lorong membuat Alycia mengusap air mata di pipinya.


Sosok lelaki berjalan lurus hingga tepat berada di depan. Jatuh berlutut tangan nya saling bertaut dan menundukkan kepalanya dengan khusyuk.


Alycia menatapnya dalam diam selama beberapa saat. Hingga dirinya memutuskan untuk beranjak pergi. Hujan masih cukup deras membuat Alycia memutuskan duduk di kursi koridor.


Bersenandung kecil dengan perasaan lebih baik dari sebelumnya hingga tak sadar sudah beberapa menit terlewatkan. Merasa seseorang yang duduk di sampingnya.


Ekspresi kaget saat melihat sosok lelaki yang memasuki gereja tadi ternyata sama dengan lelaki bermulut cabai setan itu. Tanpa sadar Alycia mendengus kesal yang membuat lelaki itu melihatnya dengan alis terangkat.

__ADS_1


"Gue kira Lo penganut Asmodeus."


"Hehh Lo kira gue nyembah kembaran Lo si Bek."


Lelaki ini hanya terkekeh geli melihat Alycia yang tampak kesal.


"Ya siapa tau kan."


"Ish Lo siapa sih? Ngeselin banget.."


"Gue...... Hmm?? 'Seseorang yang bisa menjadi tempat pulangmu'. " Ucap lirih lelaki


"Hahh Lo ngomong apa sih?."


Dengan merengut kesal Alycia beranjak pergi menuju mobilnya.


Hela'an nafas panjang Alycia saat melihat piring makannya yang penuh dnegan lauk pauk yang di berikan oleh sang Abang.


"Cukup Bang gue gak akan bisa habisin semuanya."


"Ehhh emm gak papa Ci biar Lo tambah berisi gemes." Cengir Devano.

__ADS_1


Tanpa kata Alycia memulai makan malamnya dengan tenang. Ternyata tidak buruk juga berbaikan dengan keluarganya.


"Mau jalan-jalan abis makan dek?."


"Kemana?."


"Ada pasar malem, mau?."


"Hmm boleh."


Suasana ramai pasar malam membuat Alycia tersenyum senang. Genggaman tangan Devano mengerat.


"Bang mau es krim."


"Boleh, mau rasa apa?."


"Vanila pakai potongan coklat, boleh?."


"Boleh dong adek Abang sayang."


Setelah mengantri beberapa menit satu cup sedang es krim dengan tambahan potongan coklat dan saus Coklat sudah ada di tangannya. Melangkah duduk di pinggiran pasar malam menikmati es krim...

__ADS_1


Lanjut part 22


#jangan lupa like komen voting dan subscriber biar kalo up kalian tau🤣😇


__ADS_2