
Denting jarum jam yang menghiasi keheningan malam. Alycia yang terduduk menatap malam bersandar di kusen jendela. Telinganya mendengar Isakan lirih seseorang.
Beranjak perlahan mengikuti feeling nya. Berdiri tepat di depan pintu membukanya perlahan. Sosok yang menenggelamkan wajahnya di antara dua lututnya.
Menarik sosok itu dalam pelukannya. Balasan pelukan erat yang melingkari pinggangnya. Mengusap kepala itu dengan lembut menahan air mata nya sendiri.
"You have me brother, it's oke your not alone." Lirih Alycia.
Berlutut dengan kepala yang tertunduk dalam. Tangan yang saling bertaut. Dentingan lonceng angin sayup-sayup mengisi keheningan.
Tanpa disadarinya ada sosok yang melakukan hal
sama tepat disampingnya.
Matanya mengerjap menghalau air mata yang berkaca. Wangi kayu manis coklat dan Citrus memasuki Indra penciuman nya. Menatap kesamping pada sosok yang ternyata dikenal Alycia.
Netra yang tadinya juga ikut terpejam mengerjap itu menatap iris mata Alycia. Seulas senyum tipis dan tatapan hangat diberikan sosok itu.
"Lebih baik?."
"Hahh? Oh ... Emm yah lebih baik."
Tepukan di kepala Alycia membuat Alycia tersadar dari ke terpakuannya.
"Lo gak cocok Ci sedih gini, Lo cocoknya jadi kayak kucing PMS."
"Ck kok Lo malah ngeselin."
"Ayok pergi gak enak kalo gelut disini diliat sama tuhan" Lirik cowok itu melihat kedepan.
__ADS_1
"Dih males lah gue ladenin Lo dasar singa." Ucap Alycia yang beranjak pergi.
Cekalan di lengannya membuat Alycia berhenti dan menatap sosok itu yang memasangkan sebuah gelang di tangannya.
"Lucas." Kaget Alycia yang dibalas senyum tipis.
"Semuanya adalah takdir Ci, akan ada yang datang juga pergi, gue seneng Lo menjadi sosok yang lebih baik, Lo cewek terkuat yang gue kenal, dihadapan Tuhan sekarang gue cuma mau bilang gue disini Ci gue akan bantu Lo bangun saat jatuh, gue akan genggam tangan Lo untuk jalan bersama sampai tuhan menentukan takdir kita dihadapannya."
Terpaku menatap Lucas yang tersenyum hangat. Sesuatu terjadi pada kinerja jantung nya yang membuat Alycia tidak nyaman.
Tanpa kata melepaskan genggaman tangan itu dan
berlari kecil meninggalkan Lucas yang menatap Alycia
dengan pandangan tak terbaca.
"Bang ayok berangkat udah siang udah kan sarapannya."
Alycia tersenyum melihat Vano yang sudah lebih baik.
"Dek Abang pulang sekolah langsung ke kantor papah ya banyak hal yang harus diurus."
"Cia bantu ya bang."
"Gak usah dek, Abang aja kamu fokus sekolah aja."
"No bang, Alycia mau bantu, please Alycia mohon."
"Tapi...."
__ADS_1
"Sssttt Cia bantu bang cukup hal yang mudah aja
okeh?."
Usapan lembut dan senyum hangat Devano berikan
pada Alycia.
"Ciaa...." Teriakan itu menyambut Alycia saat memasuki kelas.
"Masih pagi San jangan paduan suara disini di ruang musik aja sana sama Bu Ning."
"Ish Lo mah." Rajuk Santi yang memeluk Alycia gemas.
"Lo sama bang Vano udah sekolah?."
"Hmmm yah it's oke, gue sama bang Vano gak bisa terus sedih, gue udah ikhlasin segalanya San."
"Lo ngapain sekolah lah hari ini tuh freeclass guru
pada rapat ke dinas."
"Kok Lo gak ngomong sih!?."
"Ya Lo gak nanya, dah kantin aja yuk lah pengen seblak."
"Sabi lah." Seru Alycia.
Alycia dan Santi yang berjalan di koridor saling menggibah apapun yang mereka lihat disepanjang jalan. Menghentikan langkahnya di pinggir koridor menatap lapangan saat siswa laki-laki pada bermain futsal.
__ADS_1
Lanjut 26
#Jangan lupa like komen voting dan subscriber biar kalo up kalian tau🤣😇