Transmigrasi Novel

Transmigrasi Novel
Keduapuluh Tiga


__ADS_3

Ekspresi Alycia sungguh tak percaya. Ini bener temen nya si Santi?. Kok tuh bocah jadi gini?. Bukannya kemarin-kamarin dia bilang No sama Eric tapi apa itu sekarang!.


Ekspresi malu-malu pup meong (kucing) ya lord dengan senyum terpaksa dan menutupi mukanya dengan minuman bersoda nyatanya nyegerin Alycia bergegas pergi dari lapangan tanpa menunggu Santi.


"Bukan sahabat gue bukan sahabat gue." Lirih Alycia seperti pada lebah saja.


Saat memasuki kantin yang tidak terlalu ramai. Alycia melihat perkumpulan para male lead berada di meja tengah kantin. Di pojok ada Kania dan temannya yang memakan makanannya dengan tenang sesekali bercanda.


Apa ini? Apa kan alur novel sudah tidak berjalan?. Mengedikkan bahunya tidak peduli. Alycia memesan makanan dan membawanya ke meja yang berisi Danes juga Rayyen yang memang tidak ikut ekskul futsal.


"Numpang ya bro."


"Yoi Ci, mana Santi?."


Alycia mengibaskan tangannya dengan mulut yang penuh bakso.


"Nonton futsal terus pas udah selesai tiba-tiba datengin Eric dong pake bawa minum." Seru Alycia setelah menelan baksonya.


Danes terkekeh melihat ekspresi Alycia yang terlihat tidak percaya dan syok.


"Bener tuh gue curiga sama mereka berdua, nah itu baru juga dibilangin."


Rayyen menunjukkan dua sejoli yang jalan bersama


walau ada jarak diantaranya.


"Ihhh Ci kok ga nungguin sih."


"Males gue liat yang mode-mode bucin."

__ADS_1


Rayyen dan Danes tertawa Santi mendelik sinis


melihat mereka.


"Apa Lo liat-liat?." Seru Santi.


"Btw Ci umur Lo berapa sih?."tanya Eric setelah


meletakan sepiring somay di depan Sandra.


"Gue 15 ngapa?."


"Wah bocil." Celetuk Danes yang membuat Heera


merengut kesal.


"Gue makan manusia."


"Hehh yang sopan bocil." Alycia melempar sebungkus permen yupi ke Rayyen yang malah membuat Rayyen kesenangan.


"Udah-udah makan aja gak usah ribut." Seru Santi


yang tau Alycia gak suka dibilangin bocil.


Rayyen hanya tertawa dan mengusap rambut Alycia sekilas. Tanpa mereka sadari ada satu sosok yang menatap itu dari saat dirinya memasuki kantin.


Wangi kertas di perpustakan juga menjadi salah satu wangi favorit Alycia. Menyusuri lorong demi lorong mencari beberapa buku yang menarik. Matanya melirik Santi yang anteng duduk dengan headset di telinganya menahan pekikan karna mengingat ini di perpustakaan.


Sebuah buku karya Dms membuat Alycia tertarik. Salah satu penulis favorit dengan kalimat-kalimat yang menyentuh.

__ADS_1


"Dms udah?." Suara lirih tapi terdengar jelas di telinganya membuat Alycia mendongak melihat sosok itu.


Sosok yang tersenyum tipis menatap Alycia hangat. Sosok yang masih menggunakan Jersey bolanya. Rambutnya yang acak-acakan menambah kadar pesona nya yang meningkat.


"Alycia Putri Manuar, beautiful name."


"Lo?."


"Hayy Cia, kenalin gue Lucas Putra Smith." Mengulurkan tangannya meraih tangan Alycia dalam jabatan.


Suasana pagi ini begitu sangat tenang. Sejak saat bangun dari tidurnya Alycia terdiam sesaat. Segalanya sudah berbeda, dirinya tidak melakukan bunuh diri, Devano kembali menyayangi nya dan Alycia melepas Xender.


Satu sosok tokoh yang tidak pernah tersebut dalam


novel pun tiba-tiba muncul. Menghela nafasnya beranjak membersihkan diri. Langit hari ini terlihat berkelabu. Mengambil makan pagi nya untuk makan diruang keluarga.


Devano yang duduk dengan setoples nastar di pelukannya


menonton acara kartun bocil botak.


"Papah katanya pulang hari ini bentar lagi landing kayaknya ngambil penerbangan malem."


"Hmmm." Alycia hanya bergumam pelan.


"Kamu maafin papah kan dek?." Tanya Devano setelah melihat Alycia sudah menuntaskan sarapannya.


Lanjut part 24


#jangan lupa like komen voting dan subscriber biar kalo up kalian tau🤣😇

__ADS_1


__ADS_2