
...Cerita ini merupakan asli karanganku sendiri, bila ada kesamaan latar tempat, nama, cerita, dan lain hal, itu bukanlah sebuah unsur kesengajaan. Cerita ini adalah cerita yang sangat umum di dapatkan. Hanya karya yang ku buat untuk menuangkan imajinasiku saja. ...
...***...
...HAPPY READING...
...***...
"Sebenarnya, aku tidak ingin membahasnya disini. Tapi jika dipertahankan lebih lama lagi aku takut akan ada yang terluka," ucap Fei Wei dengan wajah sedihnya.
"Apa maksudmu, katakan dengan jelas!" Dong Ha mulai emosi.
"Se..se..sebenarnya tuan muda Dong tidak mencintaiku, i...ia mencintai adik Yan Xi,"
"A....apa maksud mu kak! Jangan berkata sembarangan!"
"Sudahlah adik, aku tahu jika kalian saling mencintai. Setiap tuan muda Dong datang kesini adik lah yang menemani dan memperlakukannya dengan baik. Aku yang lemah ini tidak akan bisa memperlakukan tuan muda Dong sebaik adik,"
"Pantas saja, ternyata ia menyukai tunangan kakaknya sendiri,"
"Laki-laki mana yang tidak akan luluh jika diperlakukan baik oleh wanita cantik,"
"Aku kira Yang Xi adalah wanita baik, ternyata salah,"
Fei Wei tersenyum di balik cadarnya.
"A..ayah a..aku.."
"Apakah benar seperti itu Yan'er! Kau menyukai tuan muda Dong!"
"A..aku..."
"Benar kami saling mencintai, lalu kenapa? Aku juga tidak ingin menikah dengan wanita yang lemah seperti dirinya,"
"Wah akhirnya mengaku,"
"Kasihan sekali Fei Wei,"
"Mereka berdua sungguh kejam,"
Semua orang mulai memojokkan mereka dan bersimpati kepada Fei Wei.
"Kalian sungguh keterlaluan! Mulai sekarang pertunangan antara Fei Wei dan tuan muda Dong akan dibatalkan! Dan untuk kalian berdua, kalian urus masalah kalian sendiri,"
Fei Wei tersenyum licik melihat Yan Xi yang terlihat kacau. Acara itu kemudikan berakhir dengan kejadian yang sangat membahagiakan untuk Fei Wei.
.
.
.
"Huaaa, semalam tidurku benar benar nyenyak," ucap Fei Wei sambil merenggangkan tangannya.
__ADS_1
" Yang, bagaimana jika hari ini kita menuju ke kota Shui. Aku akan meminta kepada ayah untuk mengizinkanku kesana,"
"Tapi alasan apa yang akan kau berikan padanya?"
"Tenang, nanti akan ku pikirkan,"
"Huft, ku kira kau sudah memikirkannya, ternyata aku salah,"
Fei Wei hanya tersenyum mendengar perkataan Yang. Tak beberapa lama, Xio Xia datang membawa makanan untuknya.
"Ada apa nona? Kenapa nona terlihat sangat senang?"
"Ah, tidak apa-apa. Oh iya aku ingin bertanya, apakah aku memiliki kerabat di kota Shui?"
"Apa nona tidak ingat? Jendral Wei, kakak mendiang ibu nona berada disana. Dahulu nona sangat sering kesana, beliau sangat menyayangi anda tidak kalah dengan Jendral Lu,"
"Ah, aku baru ingat. Semenjak kejadian kemarin aku sedikit melupakan ingatanku,"
"Kenapa nona bertanya seperti itu? Apa nona ingin berkunjung ke kediaman Jendral Wei?"
"Iya, aku sangat ingin berkunjung kesana,"
"Sepertinya itu mudah saja melihat nona memang sedari dulu sering datang kesana. Tapi sudah dua tahun ini nona tidak pernah lagi kesana,"
"Baik, bersiaplah hari ini kita akan berangkat kesana. Aku akan menemui ayah terlebih dahulu,"
Xio Xia hanya menganguk mengiyakan perintah Fei Wei.
"Salam ayah," hormat Fei Wei sebelum memasuki paviliun ayahnya.
"Masuklah Fei'er, ada apa kau kemari?"
"Sebenarnya aku ingin meminta izin kepada ayah untuk pergi ke kota Shui. Sudah lama sekali aku tidak kesana,"
"Benar yang kau katakan, pamanmu pasti sangat merindukanmu Fei'er. Pergilah, ayah akan menyiapkan pengawal untukmu,"
"Terima kasih ayah, aku berjanji akan segera kembali dan menemui ayah," Fei Wei memeluk ayahnya, sesuatu hal yang tidak akan pernah bisa ia lakulan di zamannya.
"Bersiaplah Fei'er, dan jaga dirimu baik-baik,"
"Siap jendral hahaha, kalau begitu aku pamit ayah," Fei Wei kembali ke paviliunnya.
Jendral Lu tersenyum melihat Fei Wei yang dapat tertawa lagi. Ia sangat merindukan tawa itu yang sudah lama sekali menghilang.
Meski Jendral Lu tidak dapat melihat wajah anaknya dengan jelas, namun ia tetap merasa bahagia.
"Semoga kau selalu bahagia putri kecilku," ucap Jendral Lu lirih.
Fei Wei yang merasa senang langsung buru-buru menuju ke paviliun teratai untuk mempersiapkan barangnya.
Disamping itu nyonya Yan yang sudah tahu akan keberangkatan Fei Wei menyiapkan jebakan untuknya. Ia akan mengutus anak buahnya untuk mengirim Fei Wei dan Xio Xia menggunakan kereta yang sudah ia siapkan. Dan di pertengahan jalan nanti, mereka akan dihadang oleh pembunuh bayaran.
"Lihatlah bagaimana mereka akan selamat nantinya hahahha,"
__ADS_1
Tawa nyonya Yan menggelegar di kamarnya.
"Pelayan Zu! Siapkan semuanya, aku tidak ingin ada kesalahan!"
"Baik nyonya, akan saya laksanakan,"
Fei Wei yang tidak tahu akan hal itu tidak menyimpan curiga sedikit pun. Ia bersama Xio Xia naik ke atas kereta yang sudah dipersiapkan untuknya.
"Nona, saya sungguh tidak sabar untuk sampai ke kota Shui. Kota yang terkenal dengan lautnya yang indah,"
"Kau benar, aku juga sudah tidak sabar untuk sampai disana,"
"Oh iya nona, bukankah nona berkata bahwa sebagian ingatan nona hilang. Lalu apakah nona masih mengingat siapa saja yang ada di kediaman jendral Wei?"
Fei Wei yang ditanya seperti itu hanya menggeleng tanda tak tahu.
"Huft, baiklah akan saya jelaskan. Jendral Wei yang merupakan kakak mendiang ibu nona merupakan jendral terbaik bersama dengan tuan Lu. Istri beliau bernama Wei Ain Lin. Jendral Wei memiliki 2 orang putra dan 1 orang putri. Anak pertamanya bernama Wei Huan Zu, ia baru berusia 15 tahun. Anak keduanya bernama Wei Li Mou yang berusia 14 tahun, dan anak ketiganya bernama Wei Chan Li yang berusia 12 tahun sama seperti nona,"
"Apakah dulu mereka baik kepadaku?" tanya Fei Wei kepo.
"Tentu saja, mereka sangat menyayangi nona. Bahkan ketika dulu nona Yan Xi datang, mereka hanya bermain bersama nona dan tidak memperdulikannya,"
"Hahaha kalau begitu aku tidak perlu khawatir lagi nantinya,"
Ketika mereka sedang asyik berbicara, tiba-tiba kereta yang mereka gunakan berhenti. Mereka bahkan baru keluar dari kota Shichang.
"Ada apa ini?" tanya Fei Wei kepada salah satu pengawal yang mengantar mereka.
"Nona ada beberapa orang yang menghadang jalan kita di depan. Sepertinya mereka perampok,"
"Cepat serahkan harta benda kalian atau kalian akan kami bunuh!"
Fei Wei yang mendengar teriakan para perampok itu berniat untuk turun dari kereta, namun dicegah oleh Xio Xia.
"Nona, sebaiknya kita tetap di dalam kereta,"
"Tenanglah Xio Xia, aku hanya ingin melihatnya saja,"
Fei Wei keluar dari kereta yang ia gunakan.
Di depan kudanya, ia melihat para pengawal yang menghadang beberapa perampok yamg sedari tadi berisik membuat kuping Fei Wei panas.
"Apa mau kalian!"
"Dasar wanita lemah! Beraninya kau membentak kami! Akan ku bunuh kau!"
.
.
.
Tbc....
__ADS_1