
...Cerita ini merupakan asli karanganku sendiri, bila ada kesamaan latar tempat, nama, cerita, dan lain hal, itu bukanlah sebuah unsur kesengajaan. Cerita ini adalah cerita yang sangat umum di dapatkan. Hanya karya yang ku buat untuk menuangkan imajinasiku saja. ...
...***...
...Typo Bertebaran...
...***...
...HAPPY READING...
...***...
"Sebelah sana!"
"Hati-hati di depanmu!"
Sreet
Sreeet
Pang
Bugh
Duaar
Sreeet
Suara ricuh dari pertarungan mereka begitu keras. Hampir setengah dari hutan ini diisi dengan suara seperti itu.
Satu persatu monster yang mereka temui tumbang.
"Huft ternyata melawan mereka begitu melelahkan," ucap Fei Wei keapda Dian yang sedang mengumpulkan batu jiwa miliknya.
"Benar huft, rasanya semua badanku tak berdaya,"
Mereka telah mengumpulkan cukup banyak batu jiwa, namun hari masih panjang.
"Ayo kita lanjutkan mencari monster-monster itu,"
"Hmm,"
Baru beberap meter mereka melangkah, kawanan monster laba-laba menghadang mereka.
Sepertinya sekitar 20 an ekor laba-laba seukuran mereka berkumpul disatu tempt yang sama.
"Bersiaplah Dian, kita akan panen besar hari ini," ucap Fei Wei penuh percaya diri. Sedangkan Dian melihat kawanan monster itu tidak yakin dengan apa yang Fei Wei katakan.
Namun harus bagaimana, ia harus tetap melawan mereka.
Fei Wei maju melawan satu persatu monster tersebut menggunakan pedang pheonix miliknya. Begitupun Dian yang menggunakan pedang pedang es nya.
Ternyata melawan mereka tidak semuda yang Fei Wei bayangkan, ia cukup kewalahan untuk melawan mereka, di tambah kehadiran Dian disampingnya membuatnya tidak terlalu bebas menggunakan kekutannya.
"Dian, akan ku alihkan perhatian beberapa monster ini, dan kau cepat pergi dari tempat ini!"
"Tapi bagaimana denganmu!"
Mereka masih setia bertarung melawan para monster.
"Aku punya rencana sendiri! Segeralah pergi dari sini!"
Dian menganggukkan kepalanya.
Fei Wei melompat ke belakang lalu bersiul memanggil mereka semua.
__ADS_1
"Hai monster jelek! Tangkap aku kalau kalian bisa, dasar monster lemah!" teriak Fei Wei sambil melempar mereka menggunkan beberapa batu yang ada disekitarnya.
Dan yups, itu berhasil menarik perhatian mereka, sebagian besar dari mereka menuju ke arah Fei Wei sedangkan Dian langsung berlari menjauh. 2 ekor monster mengikutinya dari belakang, tapi tidak apa, Fei Wei yakin ia bisa melawannya.
Setelah memastikan Dian pergi, Fei Wei mengeluarkan Boo dan Doo untuk membantu dirinya. Fei Wei tentu tidak tinggal diam, ia ikut melawan monster laba-laba itu tanpa ampun.
Satu persatu monster tumbang dan mengeluarkan batu jiwa. Ada beberapa monster yang memiliki cukul banyak batu jiwa, tidak sia-sia ia mengeluarkan begitu banyak tenaganya.
"Boo, Doo makalanlah mereka, aku tahu kalian pasti kelaparan. Biarkan aku beristirahat sejenak,"
Fei Wei merebahkan punggungnya pada pohon yang lumayan besar sambil memperhatikan kedua beast spiritnya itu makan dengan lahap.
Kini ia benar-benar berpisah dengan Dian, ia berharap semoga ketiga temannya tidak apa-apa.
"Aaakhuaaauuuuii"
Sebuah suara mengagetkan Fei Wei. Ia menatap kesekeliling, namun tak ada apapun yang ia lihat.
"Sepertinya suara itu berasal dari sana," ucap Fei Wei pada dirinya sendiri sambil melangkah semakin maju ke depan.
"Boo, Doo, kalian tetaplah disini, aku akan mengecek sesuatu dulu,"
"Baiklah Fei," ucap mereka lalu kembali menyantap makanan mereka.
Di depan sana ternyata merupakan sebuah jurang tak berdasar. Fei Wei sempat melihat ke bawah dan itu sangat gelap.
Tidak ada yang tahu kan, apa yang ada di bawah sana.
Baru saja ia ingin kembali lagi, namun seekor monster serigala hitam menghadangnya.
Monster itu sedikit lebih besar dari pada Boo dan Doo.
"Aku baru saja beristirahat sebentar, muncul lagi monster jelek sepertimu,"
"Kau yang manusia jelek, hari ini adalah hari yang sial untukmu karena akan menjadi santapanku Auuuuuu,"
Fei Wei berhasil menangkis serangan dari monster serigala hitam. Ia tidak akan mau menjadi santapan monster itu.
Fei Wei cukup kewalahan melawan serigala itu sendirian. Hampir saja ia terkena cakaran dari monster itu jika ia tidak dengan sigap mengangkat pedangnya.
Fei Wei tiba-tiba mendapatkan ide, ia berdiri di dekat tebing jurang sambil tetap melawan sang monster. Dengan sekai sentakan, monster tersebut mundur beberapa langkah. Hal itu memicuh kemarahan sang monster semakin parah.
Ia mulai berlari ingin langsung menerkam Fei Wei. Saat ia semakin dekat, Fei Wei langsung menghindar dan sang monster tidak mampu mengurangi kecepatannya daaaaaaaan ia pun menghilang.
"Apakah dia sudah jatuh? Akan ku periksa,"
Fei Wei mendekati tebing jurang dan melihat kebawah.
"Sepertinya ia benar-benar sudah jatuh,"
Baru saja Fei Wei berbalik, kakinya digigit oleh monster serigala yang ternyata belum terjatuh, dengam sekuat tenaga Fei Wei melawan, namun bukannya terjatuh, tepi jurang yang ia pijak justru runtuh dan membuatnya ikut terjatuh ke bawah.
"Aaaaaaaaaaa!"
Braaak
Braak
Buugh
"Aaww sakit sekali," aduh Fei Wei.
Beruntung ia jatuh diatas tubuh monster serigala yang telah mati itu. Batu jiwa keluar dari tubuh sang monster yang jumlahnya mungkin setara dengan apa yang telah ia kumpulkan.
"Aku kira jurang ini tak berujung, ternyata ada air di bawahnya"
__ADS_1
Kakinya sungguh sakit sehingga ia harus jalan tertatih. Fei Wei memakan sebutir pil penyembuh yang ia miliki. Tak berselang lama, luka serta sakit yang ia rasakan mulai memudar.
Fei Wei menatap ke sekelilingnya. Ia hanya bisa mendengar suara air yang cukup deras yang berasal dari dalam goa. Tanpa rasa takut, Fei Wei mengikuti suara air tersebut. Ia menyusuri aliran air sepanjang jalan.
Semakin jauh ia melangkah, sebuah cahaya berwarna pink kemerahan semakin nampak jelas. Mungkin suara air itu berasal dari sana.
Saat sampai di tengah-tengah goa, ia dapat melihat sebuah kolam yang memancarkan cahaya pink kemerahan tersebut. Fei Wei dapat merasakan sebuah kekuatan yang sangat besar dari dalam kolam.
"Sepertinya aku menemukan sesuatu yang sangat berharga,"
Tanpa berpikir panjang, Fei Wei menyeam ke dalam kolam. Ia dapat melihat sebuah bunga yang terlindungi oleh gelembung sehingga bunga tersebut tidak basah.
"Bunga kehidupan, itu bunga kehidupan Fei!"
"Aku tahu Yang, sepertinya aku tidak hanya akan mendapatkan hadiah dari misi ini, tetapi juga mendapatkan harta karun yang berharga,"
Fei Wei berenang ke arah bunga tersebut, namun seketika gerombolan ikan menyerbunya. Ia berusaha untuk melawan para ikan tersebut, tetapi tidak berhasil. Dengan terpaksa ia harus keluar dari kolam tersebut.
"Huft, bagaimana aku bisa melawan ikan-ikan itu! Akh!"
"Ikan itu bukanlah ikan sembarangan Fei, ikan tersebut merupakan best spirit yang terkutuk sehingga mereka harus menjaga sebuah pusaka langkah seperti bunga kehidupan tersebut. Bagaimana mungkin aku lupa dengan mereka, mereka mampu memangsa apapun yang ia lihat, bahkan jika itu sepuluh kali lebih besar dari tubuh mereka,"
"Mereka seperti hewan yang selalu kelaparan, apalagi jika mereka mencium bau darah,"
"Biarkan aku berpikir sejenak Yang,"
Cukup lama Fei Wei berdiam diri, hingga sebuah ide gila muncul di otaknya.
"Fu, bisakah kau mendengarku?" Fei Wei berusaha bertelepati dengan Fu sang burung pheonix miliknya.
"Ya nona, aku bisa mendengarmu,"
"Bagus, saat ini aku sedang terjebak di dalam sebuah goa di dasar jurang. Bisa kah kau mengetahui mendeteksi keberadaanku sekarang?"
"Sepertinya aku tahu nona, aku akan segera kesana,"
"Hmm baguslah, aku akan menunggumu,"
Setelah itu, Fei Wei berjalan kembali kearah dimana ia terjatuh. Ia berusaha menyeret mayat monster serigala menuju ke kolam. Benar, ia akan menjadikannya umpan.
Sesampainya di pinggir kolam, Fei Wei mengeluarkan 2 butir pil tak terlihat dan langsung menelan keduanya. Setiap satu butir pil mampu bekerja selama 15 menit, ia rasa 30 menit sudah cukup untuk mendapatkan bunga tersebut.
Fei Wei memotong ke-empat kaki monster serigala lalu melemparkannya ke daerah yang jauh dari posisi bunga kehidupan berada. Semua ikan mengerumuni potongan kaki tersebut.
Bagian terakhir, Fei Wei menyelam bersamaan dengan jatuhnya tubuh monster serigala. Fei Wei berenang sekuat tenaga sebelum ikan-ikan mendatangi tubuh itu.
Saat mereka sibuk melahap daging monster, Fei Wei mendekati bunga kehidupan.
"Jangan memegangnya terlalu kuat Fei, coba perlahan-lahan sentuh bagian luar gelembung lalu biarkan ia naik ke permukaan,"
Fei Wei mengikuti intruksi dari Yang. Secara perlahan namun pasti, ia berenang ke permukaan bersama dengan gelembung bunga kehidupan.
Saat ia hampir sampai di permukaan, tiba-tiba efek dari pil tak terlihat habis.
"Oow,"
Fei Wei mengenggam bunga kehidupan lalu dengan kecepatan penuh menuju ke pinggiran kolam.
Semua ikan mengikutinya dari belakang. Mereka nampak semakin ganas dan tidak terkontrol.
"Aaaaaaaaa!"
.
.
__ADS_1
.
Tbc.....