Transmigrasi Putri Pertama Kediaman Lu

Transmigrasi Putri Pertama Kediaman Lu
18


__ADS_3

...Cerita ini merupakan asli karanganku sendiri, bila ada kesamaan latar tempat, nama, cerita, dan lain hal, itu bukanlah sebuah unsur kesengajaan. Cerita ini adalah cerita yang sangat umum di dapatkan. Hanya karya yang ku buat untuk menuangkan imajinasiku saja. ...


...***...


...HAPPY READING...


...***...


Setelah Fei Wei menunjukkan wajahnya kepada Chan Li, ia mengajaknya untuk berjalan-jalan ke pasar.


Chan Li dengan senang hati menemani Fei Wei dan Xio Xia berjalan-jalan di pasar. Ia juga tak henti-hentinya selalu bertanya banyak hal kepada Fei Wei.


"Kak Fei, bagaimana mungkin wajah kakak terlihat lebih cerah dan sangat cantik? Aku juga ingin wajahku seperti itu,"


Xio Xia dan Fei Wei tersenyum melihat tingkah menggemaskan Chan Li.


"Nanti akan ku buatkan beberapa krim wajah untukmu,"


"Wah benarkah? Terima kasih kak Fei, kakak memang yang terbaik,"


"Nona Chan Li tidak perlu khawatir, nonaku ini pasti akan memberikannya untukmu, aku saja selalu diberikan barang olehnya,"


"Kak Xia, kau ini lebih tua dariku, jangan memanggilku nona, panggil namaku saja. Kalau tidak aku akan marah,"


"Dia benar Xio Xia, kau tidak perlu memanggil kami dengan sebutan nona. Mulai sekarang aku akan memanggilmu Xia, dan kau memanggilku Fei saja,"


"Tapi nona..."


"Tidak ada bantahan, Ayo Chan Li kita kesana," Fei Wei mengalihkan pembicaraan mereka.


Mereka menuju ke toko penjual aksesoris yang tadi ia tunjuk. Banyak sekali jenis aksesoris yang terlihat lucu disana.


Fei Wei, Chan Li dan Xio Xia membeli beberapa barang yang terlihat bagus untuk mereka.


Pasar yang berada di dekat laut itu memang tidak seramai pasar yang ada di kota Shichang. Namun Fei Wei dan Xio Xia merasa lebih bahagia disana.


Mereka kembali setelah 3 jam berkeliling di pasar dan daerah sekitar kediaman jendral Wei.


Fei Wei dan Xio Xia sekarang berada di kamar mereka, sedangkan Chan Li sudah kembali ke kamarnya.


"Xia aku akan pergi ke suatu tempat sekarang. Jika ada yang menanyakanku, bilang saja aku sedang beristirahat,"


"Nona ingin kemana tengah hari seperti ini?" tanya Xio Xia.


"ada sesuatu yang harus ku urus, dan hei sudah ku bilang panggil aku Fei saja mulai sekarang, kau harus terbiasa dengan itu,"

__ADS_1


"Baiklah, non..Fei aku akan melaksanakan perintahmu,"


Fei Wei kembali keluar dari kediaman jendral Wei. Tapi kali ini ia keluar melewati tembok pembatas. Cukup mudah untuknya karena kultivasinya yang sudah lumayan tinggi.


Sebenarnya ketika mereka berjalan-jalan tadi, ia juga menggalih beberapa info tentang gunung berapi dan burung pheonix yang ada disana. Dan memang benar ada beast spirit disana.


Namun tak ada satupun orang yang berani datang ke puncak gunung tersebut karena takut dengan burung pheonix yang berada disana.


"Yang, apakah kau tahu beberapa info tentang burung pheonix itu?" tanya Fei Wei sambil terus melompati beberapa pohon yang ada di hutan yang ia lalui.


"Berdasarkan info yang ku tahu, burung pheonix ini sudah ada berabad-abad yang lalu. Ia sangat menjaga pedangĀ  pheonix yang kau incar itu. Burung ini sangat kuat, hanya ada satu orang yang mampu menaklukannya berabad-abad yang lalu. Tetapi orang itu tidak menjalin kontrak darah dengannya, menurutnya ada seseorang yang akan mampu menjadi tuan dari burung pheonix ini suatu hari nanti,"


"Lalu dimana orang itu sekarang?"


"Orang itu sudah lama menghilang, tidak ada yang tahu apakah ia masih hidup atau sudah meninggal. Yang jelas orang tersebut menjadi orang yang paling kuat pada zaman itu dan tidak ada yang berani padanya karena ada burung pheonix yang menjaganya,"


"Apakah kau tahu kelemahan dari burung pheonix ini?"


"Untuk hal itu, aku tidak memiliki jawaban yang akan membuatmu senang,"


Fei Wei menghela napas karena tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Kini ia hampir sampai di puncak gunung.


Di atas puncak gunung, Fei Wei tidak dapat melihat apa-apa selain lubang besar yang di dalamnya terdapat lava yang begitu panas dan membarah.


"Kenapa tidak ada apapun disini?"


Fei Wei memperhatikan dengan seksama ke dalam lubang tersebut. Nampak seekor burung berwarna merah terang berukuran besar sedang tertidur di atas batu yang tepat berada di tengah-tengah lava yang mendidih.


"Bagaimana aku bisa mengambil pedang yang ada di depannya itu?"


Fei Wei bertanya pada Yang sambil menunjuk sebuah pedang yang berada persis di depan sang burung pheonix itu.


"Coba kau keluarkan mereka berdua, setidaknya mereka bisa memancing burung itu dan kau bisa mengambil pedangnya, lagi pula jika kau berhasil mengambil pedang itu, dengan sendirinya ia akan tunduk kepadamu,"


Ya memang benar jika ia mengeluarkan Boo dan Doo, mungkin saja rencana mereka akan berhasil. Mereka bisa menghindar dan lari dengan cepat dari serangan.


"Apa kalian bersedia?" tanya Fei Wei pada Boo dan Doo yang ada di dalam gelang ruang itu juga.


"Kami siap kapan pun untuk membantu nona,"


"Baiklah kalau begitu, begini rencananya. Boo dan Doo akan mengecoh burung itu, lalu bawa dia keluar dari tempatnya. Setelah ia pergi barulah aku akan masuk dan mengambil pedangnya. Tapi jika kita gagal maka kalian harus membawaku pergi secepatnya mengerti,"


Mereka mengaung di dalam gelang ruang tanda mengerti.


Fei Wei mengeluarkan Boo dan Doo. Seperti rencana mereka, Boo dan Doo membangunkan sang burung pheonix itu.

__ADS_1


Beberapa kali sang burung menyerang mereka namun mereka dapat menghindar dari serangan itu.


Mereka berlari menjauh dari tempat dimana pedang pheonix berada agar memudahkan Fei Wei untuk mengambil pedang tersebut.


Setelah Boo dan Doo memancing burung pheonix pergi, Fei Wei memasuki tempat itu.


Suhu di dalam sangatlah panas, membuat Fei Wei berkeringat.


Di depannya terdapat pedang pheonix yang tertancap pada batu yang juga merupakan tempat dari burung pheonix itu.


"Cepat ambil pedangnya sebelum mereka kembali!"


"Iya bersabarlah,"


Fei Wei menenangkan dirinya yang merasa deg-degan berada tepat di depan pedang itu. Pedang yang nampak cantik dengan ukiran indah dan berwarna merah darah. Sangat mengkilap dan tajam.


Ketika baru memegang pedang itu, Fei Wei merasakan panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya.


"Aaaaakh"


"Kau harus menahan semua rasa panas yang ada di tubuhmu!"


"Yakinkan pedang itu bahwa kau layak menjadi tuannya!"


Yang mencoba untuk menguatkan Fei Wei yang terlihat sangat kesakitan. Tanah disekitar mereka berguncang seakan gunung itu akan meletus saat itu juga.


Sedangkan burung pheonix yang sebelumnya sibuk mengurusi Boo dan Doo terbang kembali menuju ke arah gunung.


Boo dan Doo mengikuti burung itu, mereka akan menjaga Fei Wei.


"Bertahanlah, Sedikit lagi kau akan bisa melepas pedang itu!"


Rasa panas dan sakit semakin dirasakan oleh Fei Wei.


"Kau pasti bisa!"


"Aaaaaaaaakh"


.


.


.


Tbc.....

__ADS_1


Untuk part 21 ke atas aku bakalan up 2-3 hari sekali guys


Jangan lupa follow aku dan dukung aku terus


__ADS_2