
...Cerita ini merupakan asli karanganku sendiri, bila ada kesamaan latar tempat, nama, cerita, dan lain hal, itu bukanlah sebuah unsur kesengajaan. Cerita ini adalah cerita yang sangat umum di dapatkan. Hanya karya yang ku buat untuk menuangkan imajinasiku saja. ...
...***...
...Typo Bertebaran...
...***...
...HAPPY READING...
...***...
Keesokan harinya, Fei Wei bertekad untuk menaklukkan sang burung pheonix.
Ia sudah menyusun rencana dengan matang di tambah ide dari Xia yang sepertinya akan mempermudah rencananya.
"Xia kau tau kan apa yang harus kau lakukan selama aku pergi?"
Xia mengangguk mengerti dengan apa yang harus ia lakukan.
"Jika ada yang mencarimu, aku akan mengatakan bahwa kau pergi berjalan-jalan sendiri untuk menenangkan diri dan tidak ingin di ganggu oleh siapapun,"
"Bagus, kalau begitu aku akan pergi sekarang,"
Fei Wei melewati jalan yang sama dengan yang ia lewati kemarin. Setelah memasuki hutan, Boo dan Doo keluar dari gelang ruang dan berlari bersama Fei Wei.
"Rencana kita kali ini harus berhasil apapun yang terjadi," tekad Fei Wei.
Ia sangat yakin pedang yang di jaga oleh burung itu hampir terlepas kemarin saat ia menariknya. Namun entah kenapa tiba-tiba ia terlempar begitu saja.
"Fei, saat kau menarik pedang itu yakinkan sang pedang bahwa kau pantas untuk menjadi tuannya, fokus saja menyatukan hatimu dengan pedang pheonix itu,"
"Baiklah aku akan mengingatnya Yang,"
Saat sudah sampai di kaki gunung, ia dapat melihat burung pheonix yang sedang terbang mengitari puncak gunung. Sepertinya ia lebih waspada karena kejadian kemarin.
"Boo, Doo, kalian siap melawannya?"
"Siap nona, serahkan saja kepada kami,"
Boo dan Doo mengambil jalan yang berbeda dengan Fei Wei. Mereka akan memancing burung itu ke arah air.
"Auuuu"
"Auuuuuu"
Saat mendengar aungan Boo dan Doo, burung itu dengan segera terbang menuju ke arah mereka.
Ia mengikuti suara mereka dengan api yang membara di sekujur tubuhnya.
Saat sampai, ia hampir saja terkena semburan air dari Boo dan Doo. Mereka memanfaatkan air yang ada di danau dekat mereka.
__ADS_1
Pertempuran terjadi di antara mereka. Disisi lain, Fei Wei telah masuk ke dalam sarang burung pheonix. Ia memantapkan hatinya untuk mendekati pedang itu.
Padahal ini bukanlah kali pertama ia melihat pedang pheonix ini, namun rasanya ia masih deg-degan.
"Ayo Fei, jangan biarkan tubuhmu kalah dengan pedang itu, biarkan ia merasakan bahwa kau lebih kuat darinya,"
Baru memegang pedang pheonix itu saja, rasa sakit mulai menjalar kembali ke dalam tubuhnya. Ia menahan semua sakit yang ia rasakan.
Sedangkan Burung pheonix yang sedang bertarung dengan Boo dan Doo merasakan adanya seseorang yang berusaha mengambil pedang itu.
Ia dengan buru-buru kembali ke gunung. Boo dan Doo memberikan serangan demi serangan untuk menghambat pergerakan burung itu.
Sang burung pheonix menyemburkan api yang hampir saja mengenai Boo dan Doo jika mereka tidak menghindar.
Ia terbang dengan sangat cepat, saat sampai di sarangnya hal pertama yang ia lihat adalah seorang manusia yang berusaha untuk mencabut pedang pheonix yang ia jaga.
Semburan api ia tujukan kearah Fei Wei yang membuat Fei Wei semakin merasa kesakitan.
"Aaaaaaaaaaakh"
Rasanya semua badannya terbakar dan tercabik-cabik. Namun ia tidak boleh menyerah.
"Yang kudengar, jika burung pheonix sedang fokus kepada sesuatu, maka ia tidak akan memperdulikan yang lain lagi,"
Fei Wei mengingat perkataan Xia semalam.
"Boo, Doo, sekarang serang dia,"
Boo dan Doo menahan kepala serta sayap burung itu yang telah kembali normal. Tidak ada api lagi di sekujur badannya.
Sedangkan Fei Wei masih berjuang untuk mencabut pedang pheonix itu.
"Aaaaaaaaaaaa"
'Sreng'
Pedang itu berhasil Fei Wei cabut. Semburan api keluar dari pedang dan melahap Fei Wei.
Bukannya kesakitan, Fei Wei justru merasa tubuhnya sangat segar.
"Bagaimana, aku berhasil mencabut pedangmu ini," ucap Fei Wei kepada burung pheonix yang telah lepas dari kungkuhan Boo dan Doo.
"Aku sebenarnya sudah tahu bahwa kau akan mampu untuk mencabut pedang itu,"
"Maksudmu?" tanya Fei Wei tak mengerti.
"Kau pasti sudah mendengar bahwa hanya ada satu orang yang pernah menjadi pemilik dari pedang itu, dan orang tersebut tidak menjalin kontrak denganku karena akan muncul seseorang yang lebih pantas untuk hal itu,"
"Lalu?"
"Sebenarnya itu tidak seluruhnya benar. Orang itu tidak pernah berkata bahwa akan ada seseorang yang menjadi tuanku nanti, hanya ada satu tuan selamanya,"
__ADS_1
"Jadi maksudmu, tuanmu itu masih hidup? Lalu kenapa aku bisa mencabut pedang ini?"
Sang burung mendekati Fei Wei dan menatapnya dengan lekat.
"Dia adalah seorang pertapa yang sangat kuat di zaman itu, dan tidak ada yang bisa mengalahkannya. Suatu hari ia diserang oleh sekelompok kultivasi tingkat tinggi yang bersatu untuk mengalahkannya dan ingin mengambil pedang ini,"
"Meski ia mampu mengalahkannya, namun energinya banyak terkuras karena semua kultivator tingkat tinggi menyerangnya. Sekuat-kuatnya orang , pasti akan kalah jika melawan ratusan orang sendirian,"
"Demi mengembalikan kekuatannya, ia harus merelakan kehidupannya dan terlahir kembali suatu hari nanti untuk mengambil pedang ini kembali. Pedang ini, ia sendiri yang menancapkannya berabad-abad yang lalu dan aku bertugas untuk menjaganya sampai ia kembali,"
"Ia sengaja tidak membut kontrak denganku saat itu karena pada kehidupan selanjutnya ia akan kembali dan saat itulah aku akan menjalin kontrak dengannya,"
"Dan kamu, kamu lah tuanku berabad-abad yang lalu,"
Fei Wei terkejud mendengar perkataan burung pheonix itu.
"Bagaimana mungkin itu aku, aku adalah seseorang yang terlahir lemah dan tidak bisa berkultivasi,"
"Karena wajahmu sangat mirip dengannya, dan aku bisa merasakan aura di tubuhmu. Bukti lainnya adalah pedang itu,"
"Kau tahu kenapa banyak orang yang tidak bisa mencabut pedang itu meski aku tak menjaganya? Karena pedang itu hanya bisa dicabut oleh orang yang menancapkannya saja, dan kau bisa mencabutnya,"
Fei Wei menatap pantulan dirinya di pedang itu. Ia masih belum bisa percaya bahwa ada hal seperti itu di dunia yang serbah ajaib ini.
Pandangannya tertuju kepada burung pheonix yang menunduk memberi hormat padanya.
"Siapa namamu?" tanyanya pada burung pheonix itu.
"Fu, namaku adalah Fu,"
"Aku tidak tahu apakah yang kau ceritakan itu benar atau tidak, aku masih bingung dengan hal itu,"
"Tapi untuk saat ini akulah yang menjadi pemilik pedang pheonix ini dan masalah kotrak darah, aku serahkan padamu. Jika kau ingin, aku akan melakukannya sekarang. Namun jika kau tak mau, aku tidak akan memaksamu,"
"Kau sudah menjadi tuanku sejak lama dan hal ini sudah ku tunggu dari dulu, tidak ada alasan untukku menolakmu tuan,"
Fei Wei menggigit jari telunjuknya lalu darahnya ia usapkan ke pedang dan juga burung pheonix itu.
"Mulai sekarang, kau adalah spirit beast milikku dan aku akan menjagamu seperti kau menjagaku,"
.
.
.
Tbc.....
Selanjutnya bkalan up 2-3 hari sekali ya guys
Mohon dukungannya semua dan jangan lupa untuk follow akun aku yaaa
__ADS_1