Transmigrasi Putri Pertama Kediaman Lu

Transmigrasi Putri Pertama Kediaman Lu
31


__ADS_3

...Cerita ini merupakan asli karanganku sendiri, bila ada kesamaan latar tempat, nama, cerita, dan lain hal, itu bukanlah sebuah unsur kesengajaan. Cerita ini adalah cerita yang sangat umum di dapatkan. Hanya karya yang ku buat untuk menuangkan imajinasiku saja. ...


...***...


...Typo Bertebaran...


...***...


...HAPPY READING...


...***...


"Yang ingin ayah beri tahukan adalah, raja dan permaisuri sepakat ingin menikahkanmu dengan putra mahkota seperti yang putra mahkota katakan 9 tahun yang lalu,"


"Apa!"


Fei Wei berteriak sangking kagetnya mendengar apa yang ayahnya katakan.


"Tidak apa jika kau menolak, semua tergantung pilihanmu, lagi pula yang menjalaninya adalah dirimu dan ayah akan selalu mendukung setiap keputusanmu itu," ucap jendral Lu meyakinkan Fei Wei.


Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing untuk beberapa saat.


"Aku akan memikirkannya terlebih dulu yah malam ini. Besok akan ku berikan jawabanku kepada permaisuri,"


Jendral Lu tersenyum mendengar perkataan anaknya tersebut. Ia merasa anaknya telah berubah menjadi lebih dewasa dari sebelumnya.


Mereka kembali ke perjamuan. Baru saja Fei Wei duduk, ia telah diserbu seribu pertanyaan oleh ketiga temannya itu.


"Fei, ternyata kau adalah anak jendral Lu,"


"Tapi bagaimana bisa?"


"Mengapa kau tak memberi tahu kami?"


"Pantas saja kau memanggil kak kepada kedua tuan Wei,"


"Aduuuh kalian ini membuatku bingung saja, mana bisa aku menjawab semua pertanyaan kalian itu secara bersamaan," geram Fei Wei.


Ia menarik napasnya lalu menjelaskan semuanya kepada mereka.


Malam itu, Fei Wei tiada hentinya dipusingkan oleh semua pertanyaan-pertanyaan dari ketiga temannya tersebut.


.....


Fei Wei terbangun di saat matahari masih malu-malu menampakkan sinarnya.

__ADS_1


Sebenarnya ia baru bisa tidur ketika ketiga temannya tersebut ketiduran dan itu hampir subuh. Untungnya Fei Wei berinisiatif untuk masuk ke dalam gelang ruang dan tidur disana. Ia bahkan memiliki banyak waktu untuk memikirkan tentang rencana perjodohannya dengan Rei.


Dipikir-pikir tidak ada salahnya untuk menerima perjodohan tersebut. Toh wajah Rei tidaklah buruk bahkan sangat tampan, plus ia memiliki tingkat kultivasi yang sangat tinggi di usianya yang terbilang muda.


Ia memutuskan untuk mandi dan bersiap-siap. Setelah 20 menit, ia kini telah siap dengan hanfu berwarna biru dengan motif bunga-bunga kecil yang nampak manis serta cadarnya yang senada.


Ia memilih untuk keluar sekedar menghirup udara pagi yang sangat segar dan menjernihkan pikirannya.


Keadaan sekitar masih sangat sepi, namun itu tidak mengurungkan niat Fei Wei.


Setelah beberapa menit, ia memilih untuk duduk di gazebo dekat danau kecil yang cukup indah.


"Sedang apa kau disini pagi-pagi?"


Sebuah suara menyadarkan Fei Wei dari lamunannya. Ketika ia melihat siapa orang tersebut, ia kembali menatap danau yang terlihat jernih itu.


"Tidak apa, aku hanya ingin duduk saja disini,"


Orang tersebut yang tak lain adalah Rei mengambil tempat untuk duduk di kursi depan Fei Wei.


"Masalah perjodohan?"


Fei Wei menapat Rei kembali, kali ini ia cukup lama menatapnya. Diperhatikannya lekat-lekat wajah tampan itu. Alis tebal, mata setajam elang, hidungnya yang mancung, bibir tebal, rahang yang tegas, tidak ada yang salah dengan wajah itu.


Cukup lama Fei Wei menunggu jawaban dari Rei yang tidak kunjung keluar dari bibirnya.


"Jawaban yang membuatku merasa senang, dan bersamamu aku merasa senang," ucap Rei sambil menatap mata Fei Wei lekat.


Jantung Fei Wei berdetak keras dan cepat, seakan ia baru saja berlari. Semoga saja Rei tidak bisa mendengar suara detak jantungnya itu.


"Apapun jawabanmu nantinya, aku akan mendukungmu," ucap Rei lagi lalu pergi meninggalkan Fei Wei yang masih dipenuhi kebimbangan.


Seharusnya ia datang ke kota ini hanya untuk menjalankan 1 misi saja, kenapa sekarang ia juga harus menjalankan misi yang lain.


Fei Wei memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan tidak keluar lagi sampai seorang pelayan mendatanginya.


"Salam nona, permaisuri memanggil nona ke taman belakang," ucap pelayan tersebut.


Fei Wei yang memang sedang sendirian lalu mengikuti pelayan tersebut.


Bisa ia lihat seorang wanita berusia sekitar 30-an duduk dengan anggun di kursi yang telah tersedia di sana. Ia nampak cantik dan elegan.


Saat melihat kedatangan Fei Wei, ia tersenyum. Senyum yang lebar dan terlihat tidak ada kepura-puraan di dalamnya.


"Akhirnya kau datang juga Fei'er, sini duduklah di dekatku," ucapnya ramah.

__ADS_1


"Terima kasih permaisuri," ucap Fei Wei lalu mengambil tempat di dekat permaisuri Sung.


"Panggil aku ibu saja, tidak usah sekaku itu kepadaku. Aku ini ibumu bahkan saat kau masih di dalam kandungan," ucapnya santai.


Siapa yang menyangka di balik penampilannya yang elegan dan terkesan tegas itu, ternyata ia adalah tipikal ibu yang ramah dan perhatian.


"Sepertinya baru kemarin aku menggendong dan bermain dengan jemarimu yang kecil, kini tangan kecil itu telah menjadi sebesar ini," ucapnya mengusap telapak tangan Fei Wei halus.


"Ibu sangat merindukanmu, pasti ibu tirimu itu melarangmu untuk datang kesini, apakah dia menyiksamu? Apakah dia memperlakukanmu dengan buruk? Bilang padaku," ucapnya to the point.


"Aku tidak apa perm... Ibu, kini mereka sudah tidak bisa melawanku lagi," ucap Fei Wei lembut, padahal ini adalah kali pertama ia bertemu dengan permaisuri, namun rasanya ia sudah sangat menyayanginya.


"Dulu sudah ku bilang kepada ayahmu bahwa Yan itu tidak baik, tapi tetap saja ia menikahinya," ucap Permaisuri lagi Fei Wei hanya diam karena ia tak tahu harus merespon seperti apa.


Ia merasa bersalah karena pada kenyataannya, Lu Fei Wei yang asli telah tiada. Harusnya ia lebih awal bertemu dengan permaisuri, harusnya ia berani memberitahu semua kepada ayahnya. Namun sekarang semuanya telah terlambat. Kini tinggal dirinya yang harus terus berjuang dan menjadi Lu Fei Wei yang baru.


"Ibu memanggilmu kesini untuk membicarakan tentang perjodohanmu dengan Sung Ain,"


"Ibu tahu, kalian baru beberapa waktu ini saling mengenal, tetapi ibu sangat berharap kau bisa mempertimbangkannya Fei'er," ucap permaisuri penuh harap.


"Sebenarnya aku dan putra mahkota memang baru beberapa kali bertemu dan kami belum saling mengenal satu sama lain,"


"Tetapi dari beberapa kali pertemuan kami, aku merasa ia cukup baik meskipun terkesan dingin dan cuek, namun ia baik terhadapku,"


"Jadi...."


Fei Wei menatap permaisuri dengan wajah yang tidak bisa diartikan, sedangkan permaisuri sudah siap dengan apapun jawaban Fei Wei.


"Aku rasa tidak apa mencobanya," ucap Fei Wei yang menciptakan senyum lebar di wajah permaisuri.


"Ibu sudah yakin jika kau akan menerima perjodohan ini Fei 'er. Tenang saja, Sung Ain pasti akan bertekuk lutut di depanmu" ucap permaisuri dengan semangat.


Sepertinya Fei Wei akan mendapatkan sosok ibu yang sebenarnya. Sosok ibu yang bisa ia ajak bercerita dan mencurahkan keluh kesahnya. Sosok ibu yang bisa menjadi sahabat disaat-saat tertentu yang akan menenangkannya di saat ia butuh.


Fei Wei bahkan bisa dengan leluasanya tertawa dan bercerita panjang lebar dengan permaisuri.


Dan permaisuri menceritakan semua tentang Rei kepada Fei Wei.


.


.


.


Tbc....

__ADS_1


__ADS_2