Transmigrasi Putri Pertama Kediaman Lu

Transmigrasi Putri Pertama Kediaman Lu
48


__ADS_3

Sesuai dengan rencana kemarin, hari ini Fei Wei kembali ke kerajaan. Kali ini ia hanya sendirian karena Xio Xia akan menunggu sampai Qwen selesai mengikuti pelajaran.


"Fei, mereka telah kalah, namun yang selamat malah memilih untuk bunuh diri,"


"Tidak apa Boo, mereka memang sudah terikat, cepat atau lambat mereka akan tetap terbunuh."


"Lalu apa yang harus kami lakukan selanjutnya?"


"Kalian minta para prajurit untuk beristirahat saja sejenak, minta mereka untuk kembali siang nanti,"


"Baiklah,"


Fei Wei kembali fokus terhadap apa yang sedang ia lakukan. Saat ini ia sedang mengintai pergerakan musuh dari atas kedai makanan.


Terlihat bahwa mereka masih sibuk memindahkan beberapa bom ke tempat yang telah mereka persiapkan.


"Sepertinya mereka benar-benar ingin menghancurkan kerajaan ini, cih tak akan kubiarkan siapapun menyentuh tempatku,"


Fei Wei menyamar menjadi rakyat biasa untuk mengintai para musuh. Ia menggunakan cadar yang sudah lama sekali tidak ia gunakan.


Dengan gerakan yang lincah satu persatu dari mereka tumbang tanpa ada yang sadar.


Fei Wei melumpuhkan mereka dan membawanya ketempat yang sepi.


"Mudah sekali, aku kira akan sulit melumpuhkan mereka," Fei Wei mengeluarkan peta miliknya lalu menyilang lokasi bom yang sudah ia amankan.


Semua bom yang ada disana ia masukkan ke dalam gelang ruangnya, "Satu tempat sudah selesai,"


Fei Wei berjalan santai menuju ke lokasi bom selanjutnya.


Dari kejauhan, Fei Wei dapat melihat segerombolan orang yang bertarung.


"Ck, apa yang mereka lakukan,"


Beberapa prajurit Rei bertarung melawan musuh menghancurkan barang yang ada disekitar mereka.


Fei Wei memilih untuk mengamankan semua rakyat yang ada disekitar mereka, jangan sampai ada yang terluka karena pertempuran itu.


"Sreet"


"Sreeet"


"Buuuk"


Setelah dirasa aman, Fei Wei ikut melawan mereka.


"Apa yang kalian pikirkan, astagaa!"


"Kenapa?"


"Kalian tidak memperhitungkan kerusakan yang akan terjadi dan juga rakyat yang ada disini,"


Ditengah pertempuran itu, sempat-sempatnya Fei Wei beradu argumen dengan Lee yang memang ada disana.


"Lalu apa yang harus kami lakukan, semuanya sudah terjadi,"


"Syaaat"


"Sreeet"


Untungnya pertarungan itu dimenangkan oleh mereka, sehingga tidak menambah kekesalan Fei Wei.


"Aku hanya akan mengatakan sekali padamu Lee, memang akan lebih cepat jika kalian melawan mereka langsung, tapi hal ini justru akan menimbulkan kecurigaan dan resikonya bisa fatal. Terlebih lagi banyak rakyat yang bisa saja menjadi korban disini, kita tentu tidak ingin itu terjadi bukan?"


Lee berpikir sejenak, ada benarnya semua yamg dikatakan oleh Fei Wei. Ia terlalu gegabah dalam menindaki sesuatu.


"Dimana Rei?" tanya Fei Wei setelah memasukkan semua bom kedalam gelang ruangnya lagi. Masih ada 3 tempat yang harus mereka datangi.


"Ia sedang menangani lokasi ini," ucap Lee sambil menunjuk sebelah barat pusat kota yang ada di peta.

__ADS_1


"Baiklah lebih baik sekarang kita berpencar, aku akan ke sini, dan kau kesini,"


Fei Wei memasukkan kembali petanya ke dalam gelang ruang. Mereka menuju ke lokasi masing-masing.


"Fu, apakah kau sudah menjemput Xio Xia dan juga Qwen?"


"Iya Fei, kami sudah dalam perjalanan kesana,"


"Baiklah,"


Fei Wei sedang mengintai musuh yang masih fokus mengumpulkan bom. Hari mulai sore, dan sebentar lagi perayaan akan dimulai.


"Aku tidak yakin bisa mengelabui mereka, jumlahnya terlalu banyak,"


"Kalau begitu, kau harus melawannya Fei,"


"Tapi itu akan menimbulkan kegaduhan,"


Yang tidak berkata apa-apa lagi, ia memilih untuk diam. Lama Fei Wei memperhatikan mereka, sebuah ide terlintas di benaknya.


"Hei segerombolan orang bodoh, aku tahu apa yang kalian lakukan!" teriak Fei Wei sambil menggenggam sebuah bom yang sempat ia ambil di dalam gelang ruangnya.


"Bocah sepertimu jangan ikut campur jika tak ingin celaka!"


"Kalian pikir aku takut dengan kalian! Aku akan membeberkan rencana kalian!" Fei Wei berlari menjauhi mereka, tujuannya adalah tempat sepi yang cukup jauh dari keramaian.


"Apa yang kalian lakukan! Cepat kejar dia!" mereka mengejar Fei Wei yang sangat lincah dan tak mudah untuk ditangkap.


"Kemana bocah sialan itu," mereka berusaha mencari keberadaan Fei Wei ditempat yang hanya diterangi oleh sinar bulan, tak ada penerangan lainnya.


"Sreeet"


"Siapa disana!"


"Sreet"


Satu persatu diantara mereka tumbang. Mereka diserang dengan sangat cepat.


"Si...sssi..ssiiiapa kau sebenarnya!" ucapnya terbata-bata.


"Kau tak perlu tahu siapa aku, yang perlu kau tahu, ajalmu sudah tiba," Fei Wei menjentikkan jarinya, dan seketika orang itu hilang ditelan Fu.


Xio Xia dan Qwen keluar dari persembunyiannya.


"Kita harus segera mengurus sisanya," ucap Fei Wei yang diangguki keduanya.


Mereka berlari menuju ke lokasi terakhir kali Fei Wei datangi, sedangkan Fu kembali ke bentuk elangnya.


Ternyata disana sudah ada Rei, Lee dan juga prajurit mereka.


"Bagaimana dengan bomnya, apakah kalian berhasil mendapatkannya?" tanya Fei Wei yang dibalas anggukan oleh Rei.


Rei mentransfer bom itu ke dalam gelang ruang milik Fei Wei atas dasar perintah Fei Wei.


"Berarti tinggal bom ini saja yang belum kita kumpulkan?"


"Benar Fei, semua lokasi lainnya sudah aman," ucap Lee yang berada disamping Xio Xia. Ini pertama kalinya mereka bertemu lagi secara langsung.


Sebenarnya saat Lee mendatangi Rei, Xio Xia melihatnya, namun karena Lee yang terlalu fokus dengan masalah yang mereka hadapi sehingga ia tidak menyadari kehadiran Xio Xia.


"Qwen, bagaimana dengan waktu peledakan bom itu?"


"Sekitar 30 menit lagi bom itu akan diledakkan secara bersamaan Fei,"


Bom yang mereka pasang adalah bom otomatis yang entah darimana mereka dapatkan, Fei Wei saja bingung dengan hal itu, bukankah zaman kerajaan seperti sekarang belum ada alat otomatis yang diciptakan?


"Hmm, baiklah kita punya waktu 30 menit sebelum bom itu meledak,"


"Seharusnya mereka sudah selesai memasang bom itu, benar?"

__ADS_1


"Benar yang dikatakan Lee, sebentar lagi mereka akan pergi meninggalkan pusat kota," ujar Xio Xia membenarkan perkataan Lee.


"Saat mereka telah keluar dari keramaian, kami akan mengepung mereka dan kalian mengurus bom itu,"


Mereka mengangguk mendengar perintah Rei. Sungguh sangat beresiko jika mereka menyerang sekarang. Jalanan sangat ramai dipenuhi oleh masyarakat yang sedang menikmati perayaan.


Setelah menunggu beberapa menit, Rei, Lee, beserta para prajuritnya mengikuti musuh yang terlihat terburu-buru pergi. Sedangkan Fei Wei, Xio Xia, dan Qwen mendekat kearah bom yang telah mereka pasang.


Saat membuka penutup dari bom tersebut, benar saja ada jam pasir disampingnya.


"Berapa menit lagi yang tersisa?"


"20 menit Fei,"


Mereka berusaha membuka semua ikatan pada bom tersebut, cukup sulit membukanya karena mereka harus pelan-pelan. Bom tersebut tidak boleh jatuh atau mengenai benda keras, kalau tidak bom tersebut akan meledak dan memicuh bom yang lain juga.


Disisi lain, Rei dan yang lainnya sedang bertarung melawan para musuh.


"Ayo cepat, kita tidak punya waktu lagi!"


"5 menit Fei!"


Fei Wei memasukkan semua bom kedalam gelang ruangnya lalu memanggil Fu.


"Fu, cepatlah kita harus bergegas!"


Fei Wei menaiki punggung Fu dan terbang keatas.


Xio Xia dan Qwen yang melihat itu berharap rencana mereka akan berjalan lancar dan tidak terjadi apa-apa kepada mereka.


Sedangkan Rei yang melihat Fu terbang bersama Fei Wei menuju langit dari kejauhan tiba-tiba merasakn hal yang tidak pernah ia rasakan. Perasaan yang membuat dirinya menjadi gelisah.


"Apa yang dia lakukan!" mereka tidak mengetahui rencana Fei Wei yang satu itu.


Fei Wei masih terus terbang setinggi mungkin bersama Fu. Hawa dingin mulai menyelimutinya, namun ia belum mencapai titik yang ia tuju.


"Apakah kau masih kuat Fu?"


"Aku masih belum mencapai batasku Fei, bagaimana denganmu?"


"Teruslah naik keatas,"


Mereka semakin jauh ke atas, rasanya tubuh Fei Wei mulai membeku, namun ia masih harus bertahan.


"Sedikit lagi!"


Dengan susah payah, Fei Wei mengarahkan tangannya kearah depan.


"Sekarang!"


Fu tiba-tiba berhenti dan menjatuhkan dirinya, secara bersamaan Fei Wei mengeluarkan semua bom ke angkasa.


Fu berbalik arah lalu terjun bebas diikuti oleh bom yang meledak dibelakang mereka.


Semua orang yang ada diperayaan itu melihat cahaya diatas langit, mereka berpikir bahwa dewa ikut berbahagia dengan perayaan yang mereka lakukan.


Berbeda dengan Xio Xia dan Qwen yang terus berdoa agar tidak terjadi apa-apa terhadap Fei Wei dan juga Fu.


Rei yang sedari tadi ingin mengeluarkan Mo dicegat oleh Lee. Hal itu dapat menimbulkan kekhawatiran kepada masyarakat dan semua yang dilakukan oleh Fei Wei akan sia-sia.


"Aku tidak akan memafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu kepadanya,"


.


.


.


Tbc.....

__ADS_1


Support author dengan menyumbangkan dana seikhlasnya 👇👇👇


https://link.dana.id/qr/m0vpqq2


__ADS_2