Tuan Miliarder

Tuan Miliarder
The real Axel


__ADS_3

Dua hari ini calya memutuskan untuk mengurung diri di dalam apartemen. tidak ada hal buruk yang menimpa kesehatan ayahnya, namun pihak rumah sakit tak ingin menampung ayah nya lagi untuk tetap bertahan di sana. tak tau kenapa, ia menjadi sangat pusing harus memindahkan ayahnya ke mana lagi. dokter Steven sudah sangat cocok untuk ayahnya, belum tentu di rumah sakit lain ada yang seperti pemuda itu.


"Dari mana aku mendapat kan uang? menjual diri? oh sialan aku masih sangat waras untuk tidak terjerumus ke sana."


Keheningan di sana di pecahkan tatkala ponsel Calya berdering, nomor baru. "Siapa?."


"CK ck kau tidak mengenal nomor ku?." Calya mengenal suara bass itu, matanya melotot dan melihat untaian angka di layar ponselnya. ia menyesal tak menyadari nya, jika tau bahwa iblis itu yang menelpon sudah dapat ia pastikan ia tak akan mengangkat nya.


"Apa lagi mau mu!."


"Mau ku kau datang dan mengemis pada ku, semudah itu."


"Tidak akan pernah dan tak akan terjadi!." Mengepalkan tangan nya erat.


"Oh ya? aku bisa menebak. besok pagi pagi kau akan menelpon ku lebih dulu, ku ingatkan aku tak akan mengangkat nya. datanglah ke kantor ku."


"Cih tak akan terjadi."


"Jangan berdecih nona aku semakin ingin menghancurkan mu jika begini."


"Axel sialan!."


"Maki lah, lagi! setelah itu kau akan meminta maaf pada ku."


"Tidak! tak akan pernah!."


"Kita lihat besok apa yang terjadi kepada paman mu itu huh. bukan kah dia kepala rumah sakit? oh lihatlah apa yang akan ku lakukan!." Mata Calya melotot, baru saja ia akan melontarkan perotes Axel sudah memutuskan telpon sepihak.


"Siapa dia itu huh kenapa dia begitu sombong seakan dialah yang mengendalikan atmosfer lingkup kehidupan ku! apa kuasanya? apakah aku harus takut dengan ancaman ancaman nya? apakah itu akan terjadi?."


Calya memiliki begitu banyak pertanyaan di kepala nya. tak satu pun yang terjawab. ia pun segera menelpon Pamella. gadis itu langsung menjawab.


"Halo, Pamella kau sibuk?."


"Tidak. ada apa?."


Calya memijat dahinya. "Bisakah kau jelaskan tuan Axel itu siapa?."


"Kau mulai tertarik dengan nya?."


"Tak sedikit pun, tolong beri aku informasi tentang nya. dan apa hubungannya dengan rumah sakit tempat ku bekerja?."


"Astaga Calya! kau tidak tau? sedikit pun tidak? rumah sakit itu adalah milik keluarga Emilio. rumah sakit nomor satu di kota ini! dan kau tidak tau itu?."


Mata Calya melotot."B-benarkah? rumah sakit itu milik mereka?."


"Ya, sebenarnya kenapa?."


"Ini gawat! nanti ku telpon lagi ok." Calya segera mematikan telpon sepihak. ia menghidupkan laptop nya. mengorek informasi tentang Axel hingga ke akar akar nya. tentang seberapa berkuasa nya pria itu. setiap kalimat yang terpatri di sana membuat Calya berdecih. pantaslah sangat mudah bagi Axel membuat hidupnya berantakan.


Pagi pagi buta Calya mendapat kabar yang tidak enak. ia berlari ke rumah sakit dengan air mata yang bercucuran. ayahnya kembali di kabarkan drop. Calya masuk ke dalam ruang itu dengan sedikit mendobrak. "Apa yang terjadi dengan ayahku?."


"C-al-yaa." Pria paruh baya itu tampak terbata ketika memanggil nama nya. dokter dan suster di sana keluar guna memberikan ruang untuk ayah dan anak itu berbicara.


"Ayah kenapa?." Pria itu tampak menggenggam tangan Calya erat. nafasnya naik turun. "Kau menyembunyikan sesuatu kepada ayah, seseorang datang beberapa waktu lalu. dia mengatakan bahwa kau di pecat." Nafas pria itu naik turun tak beraturan. "Ini kah alasannya mengapa kau terlihat risau kemarin? apa yang terjadi sehingga rumah sakit memecat mu?."


Calya terdiam, bibirnya kelu untuk menjawab. "A-aku, maafkan aku. aku tidak bisa menjelaskan nya kepada ayah sekarang. yang perlu ayah ingat saat ini aku baik baik saja."


"Aku tidak melihat kau baik baik saja. tidak bisakah bahu ku kau jadikan tempat untuk bersandar lagi?." Cairan bening yang ia tahan agar tak jatuh kian menetes deras dari pelupuk matanya. ia memeluk pria paruh baya itu. Calya tak ingin membuat ayah nya drop kembali jika mendengar kabar kabar tak enak dari dirinya.

__ADS_1


"Ayah.... aku lelah dunia terlalu kejam untuk kita. aku lelah dengan semua ini ternyata aku tak sekuat itu untuk menahan bahu ku agar tetap kokoh." Tangan itu mengelus Surai Calya lembut.


"Ayah menyusahkan mu?." Calya menggeleng keras. "Tidak, tak sedikit pun. bagaimana mungkin ayah menyusahkan ku sementara hidup ku sepenuhnya adalah untuk ayah."


"Lantas?."


"Aku hanya butuh motivasi untuk bangkit."


Setelah menghabiskan waktu lama, Calya beranjak untuk membelikan ayahnya semangkuk bubur ayam. berjalan dengan lunglai. Calya mengantri hanya untuk mendapatkan bubur di sana.


Sebuah notif pesan terdengar dari ponsel nya. ia tak terlalu menghiraukan. Calya bertahan di sana. setelah mendapat sebungkus bubur ia pun bergegas menuju rumah sakit. Calya hanya iseng membuka ponsel dahinya mengernyit menatap pesan dari nomor baru yang mengiriminya sebuah foto.


Calya berhenti guna melihat foto yang di kirim. itu adalah surat dari rumah sakit dengan stempel resmi. mata Calya melotot ketika melihat keputusan di sana yang menyatakan dokter Gabriel di turunkan dari jabatannya karena terseret kasus tentang Calya.


Nafas Calya tersendat. ia membaca satu pesan lagi.


apa sangat mengejutkan mu? oh bagaimana reaksi tuan Paolo ketika mendengar berita ini? surat nya hampir tiba di ruangan nya.


Bungkusan bubur di tangan nya terjatuh, ia segera berlari kencang. sekuat tenaga menjaga keseimbangan nya. Calya menatap seorang suster yang akan masuk ke kamar ayahnya dengan sebuah surat, jika ayah nya tau bisa jadi sakit jantung nya akan memburuk. Calya merampas amplop putih di tangan suster tersebut. "Apa ini untuk tuan Paolo?." Suster itu tampak mengangguk.


"Aku akan memberikan nya kepada ayahku." Tak banyak berkomentar suster itu pun pergi. nafas Calya bergemuruh. satu notif dari ponsel nya kembali membuatnya gelisah.


Kau terlambat


Calya masuk ia mendapati ayahnya tengah memegang dadanya. terlihat pria itu tengah kesakitan. "Ayahh..." ia menatap jendela yang terbuka lebar, cap tanah dari sepatu sangat menjelaskan bahwa seseorang telah masuk ke dalam.


Ia segera menekan tombol di sisi brankar yang membuat dokter Steven datang dengan terburu-buru. "Ada apa?."


"Ayah ku dokter." Steven segera memeriksa Paolo. "Keluarlah terlebih dahulu." Calya beranjak dari sana dengan manik yang tak lepas menatap wajah ayahnya yang terlihat kesakitan.


Calya mengingat jelas perkataan Axel tempo hari. ia mengepalkan tangannya erat. "Apa ini ulah mu!." Buru buru Calya menghubungi nomor itu. namun seperti yang ia katakan, pria itu tak mengangkat nya.


Dengan mata yang memerah Calya beranjak, tujuan nya adalah kantor Axel. Perkataan Axel tempo lalu seakan menjadi audio yang terus berputar putar di ingatan Calya.


aku menyerah?


tapi aku tidak punya apa pun untuk membalasnya?


Calya mengepalkan tangannya. ia marah, kesal di penuhi oleh dendam di hatinya. tanpa menghampiri meja resepsionis ia bergerak menuju lantai di mana ruangan Axel berada. tatapan nya datar, wajahnya terlihat begitu muram. sekali lagi, bertemu dengan Axel adalah mimpi buruk baginya.


Ia mengetuk pintu ruangan Axel. dengan otomatis pintu itu pun terbuka. berjalan dengan lesu namun tatapan nya tampak begitu datar. ia mengerti arti senyuman manis di bibir pria yang tengah duduk dengan angkuh di sana.


"Tidak pernah ku duga kau datang." Calya berdiri di depan meja Axel sedikit berjarak. ia diam, Axel menghampiri nya.


"Ada urusan apa ingin menemui seseorang seperti ku? bukan kah kau membenci ku?."


ya aku sangat membenci mu!.


Andai Calya bisa seangkuh dulu, ia ingin mengucapkan kalimat itu di depan wajah Axel.


"Why? kau hanya diam?."


"Apa mau mu?."


Axel tertawa keras. "Alih alih meminta maaf, kau lebih memilih bertanya dengan nada angkuh mu huh?." Axel menarik dagu Calya, menatap bibir ranum itu. tanpa banyak berucap ia **********. Calya diam, tak menolak apa lagi membantah.


"Hambar." Tutur Axel dengan senyum mengejeknya.


"Kau menyerah? Sekarang kau sudah tau siapa aku? biar ku perjelas. aku adalah pria yang tidak bisa di tolak oleh siapa pun termasuk kau. mengerti!." Itu tidak terdengar seperti penjelasan, lebih tepatnya peringatan. peringatan kepada calya.

__ADS_1


"Aku sudah lelah tuan, apa mau mu? jika kau ingin menghancurkan ku seperti perkataan mu tempo lalu cukup aku Saja. tidak perlu melibatkan paman ku apalagi ayah ku." Ia berbicara dengan nada lembut, hal yang tak pernah Axel dengar dari sebelum sebelumnya.


"No! balas dendam tidak mungkin sempurna jika tidak melibatkan orang terdekat mu." Axel duduk bersandar di meja nya. "Kau menyesal sekarang?."


"Apa yang harus ku lakukan terhadap mu?."


"Ahhh aku suka melihat kau bertekuk lutut." Calya mengepalkan tangan nya. ia bersimpuh di lantai dengan kepala tertunduk. "Apa yang harus ku lakukan agar kau berhenti mengusik keluarga ku?."


Axel mengambil segelas air dan mencurahkan nya di atas kepala Calya. "Beginikan cara mu menumpahkan nya di wajah ku?." tersenyum miring.


Axel menarik dagu Calya. "Jadilah budak ku!." Calya menahan agar dirinya tak melontarkan sumpah serapah nya.


"Budak yang seperti apa?."


"Budak yang seperti mau ku!." Dengan berat, Calya mengangguk kan kepala nya. "Dengan syarat kau tidak boleh mengusik keluarga ku, lagi."


"Besok pagi datanglah ke gereja dekat apartemen mu." Axel mencampakkan sebuah paper bag besar berisi gaun putih. "Pakai itu dan berdandan lah dengan cantik. enyahlah dari hadapan ku nona Ainsley."


Calya memungut paper bag dan bergegas pergi. ia menghampiri rumah sakit, Steven menyatakan bahwa ayah nya koma. jantung Calya berdenyut nyeri. ia hancur sehancur hancurnya seperti yang di katakan Axel.


Keesokan harinya, Calya suda bersiap. mengenakan gaun pemberian Axel dan sedikit berias. ia tak tau apa yang ingin Axel lakukan terhadap nya. saat membuka pintu dua pria berjas hitam berdiri kokoh di kedua sisi pintunya.


Calya masuk ke dalam mobil, mereka berkendara menuju Gereja. tempat itu terlihat sepi. terdapat beberapa mobil, tapi terlihat seperti tak berpenghuni. ia masuk ke dalam. suasana hening, terdapat pastur dan beberapa orang. itu adalah teman teman Axel dan Axel sendiri yang sedang tertawa mengejek ke arahnya.


Pria itu menghampiri Calya. "Budak ku, sudah tiba?."


"Apa yang akan kita lakukan di sini tuan."


"Menikah." Mata Calya melotot, menikah dengan Axel tanpa ada persiapan sedikit pun. oh sial, ia semakin mengepalkan tangannya.


"Tidak perlu banyak berfikir, aku menikahi mu bukan untuk memperistri kan mu. cukup membuat kau menjadi budak ku."


Pernikahan itu pun berlangsung. pastur tampak gelisah, ia tau ini bukan lah pernikahan yang benar. jika pihak gadis melaporkan nya ia bisa terseret kasus. namun Axel menekan dan mengancam nya hingga pria itu harus menurut dan melangsungkan janji suci yang mengikat kedua orang anak manusia di sana.


Selesai janji suci Axel terlihat menertawakan dirinya. ya, seorang Ainsley sudah tak berharga diri lagi! ia tak bisa menegakkan kepala nya.


Axel membawa nya dengan sebuah mobil hitam. pria itu menjadi sangat aneh, di wajahnya tak ada guratan senyum. hanya ada tampang datar yang menyeramkan. maniknya tajam dan menusuk. mereka tiba di sebuah rumah besar. Axel turun dan Calya mengikuti nya.


Pria itu membuka pintu, seorang wanita paruh baya menyambut mereka. "Tuan sudah tiba?."


"Hmm." Axel menyeret Calya dengan keras. menaiki tangga dan masuk ke salah satu bilik. menghempaskan tubuh gadis itu hingga tersungkur ke lantai, telapak tangan Calya terasa sakit namun ia tetap diam.


Axel duduk di tepi ranjang. "Apa yang kau pikirkan tentang ku sekarang?." Nadanya terdengar sangat angkuh, nada yang tidak pernah ia tuturkan sebelum sebelumnya.


"Budak ku! kau tau diriku yang seratus persen ini sudah menjadi delapan puluh persen akibat kerendahan diri mu! kau menurunkan harga ku!."


"Ibarat sebuah berlian kau adalah goresan yang membuat harga jualnya turun derastis. tangan mu itu mampu membuat benda berharga menjadi sampah." Penghinaan Axel membuat Calya meremat gaun nya.


"Jadi ku mohon jangan pergunakan tangan kotor mu untuk menyentuh benda benda berharga di mansion ku! kau sampah dan seluruh ornamen di tubuh mu juga sampah! oh aku harus ke tempat perbaikan mobil hari ini karena sampah seperti mu telah menaiki nya."


Seakan terhantam bongkahan batu. jantung calya seakan di cubit dengan keras membuat harga dirinya runtuh dan terinjak injak. bagaimana mungkin tangan seorang dokter di hina dengan begitu sadis nya.


"Seperti yang seharusnya, ada beberapa peraturan yang harus kau lakukan dan kau ingat di otak bodoh mu itu!. aku adalah peraturan, aku adalah perintah dan aku adalah kuasa!."


"Urusan mu adalah urusan ku. dan urusan ku milik ku, kau tidak boleh ikut campur barang sedikit. tidak perlu bertanya apa pun tentang ku! tidak perlu mencampuri kehidupan ku! kau budak, lakukan saja tugas mu!."


Calya menggigit bibir bawahnya. inikah Axel yang sesungguhnya? pria kejam, keras, sadis, angkuh, sombong dan tak memiliki hati nurani. pria dengan penuh penghinaan lewat mulut tajam nya itu.


"Aku tidak suka penolakan! maka sebelum kau kehilangan hal berharga pada diri mu jadilah penurut. jadilah sampah yang patuh terhadap tuan nya."

__ADS_1


Setelah menuturkan hal itu Axel beranjak pergi. setelah malam itu ia tak terlihat, mungkin ia pulang ke rumah orang tua nya. Calya sangat tak menyangka dengan sikap asli Axel membuat dadanya terhenyak sesak.


__ADS_2