Tuan Miliarder

Tuan Miliarder
Demam tinggi


__ADS_3

Pukul dua dini hari Calya mengerjabkan matanya. suara dari seseorang membuat ia terganggu. ia pun bergerak menghidupkan lampu kamar. terlihat jendela balkon terbuka membuat angin dari luar masuk ke dalam.


"Momy~." Lirihan itu sedari tadi mengusiknya. ia dapat melihat Axel menggigil kedinginan di atas ranjang. dengan segera Calya menutup jendela balkon, ia duduk di sisi Axel memeriksa suhu tubuh nya.


"Dia demam lagi." Gumam nya pelan. dengan segera Calya mengambil obat demam untuk Axel. menepuk lembut pipi pemuda itu. sesaat setelah nya tatapan sayu dengan mata merah itu menatapnya lemah.


"Tubuhku panas, tapi jika terkena angin aku menggigil." Adunya dengan suara rendah.


"Udara dingin belum tentu bisa membuat mu dingin!."


"Lakukan sesuatu." Tutur Axel cepat.


"Minum obat ini." Axel segera meminumnya. dapat Calya lihat baju yang di kenakan pria itu sudah lembab terkena keringat. dengan telaten ia pun membuka pakaian atas Axel.


"Setelah terkena angin sekarang tubuh mu merasa dingin hingga menggigil?."


"Hmm."


Calya paham apa yang pria itu butuhkan sekarang. "Biasanya nyonya jika anda sakit melakukan apa?." Calya tidak mau mendahului takut Axel berfikir ia cari kesempatan dalam kesempitan.


"Memelukku. sekarang lakukan itu." Perintah Axel dengan mata yang masih tertutup. Calya mengerti ia pun ikut berbaring di sisi Axel. pemuda itu langsung mencari tempat ternyaman di dalam dekapan Calya. memeluk erat pinggang gadis itu, menyembunyikan wajahnya di cerucuk leher Calya.


"Jangan terlalu erat memeluk luka di tubuh tuan belum sepenuhnya sembuh." Axel tak menghiraukan itu, ia sudah nyaman sekarang. yang ia tuju adalah tidur.


Melihat pasien nya kali ini Calya merutuk kecil. ia kesulitan untuk bernafas. jemari lembut nya teratur mengusap rambut Axel seolah memintanya untuk rileks. "Posisi apa apaan ini sebenarnya?." Gumam Calya, dari jarak sedekat ini ia bisa mencium bau parfum khas Axel yang sepertinya sudah melekat di tubuh pria itu.


Calya di buat melotot tatkala salah satu tangan Axel turun ke bawah mengelus paha hingga kaki nya yang tak tertutup kemeja.


sialan! iblis mesum!.


Dengan segera Calya menaikkan tangan itu ke pinggang nya. ia tidak boleh tidur malam ini karena seseorang yang berada di dalam dekapan nya sangat mengerikan. ia tidak boleh kecolongan untuk hal apa pun kali ini.


Jarum jam terus berputar, Calya sudah di landa kantuk namun mencoba untuk tetap terjaga. "Jangan tidur Calya! jangan melewatkan apa pun hingga dia mencuri celah!." Gumam nya pelan. namun siapa sangka di detik berikutnya gadis itu tertidur, ia sudah tidak tahan.


Axel membuka matanya setelah mendapati nafas dan detak jantung Calya yang terdengar teratur. ia tersenyum kecil melihat wajah cantik yang dekat dengan wajahnya. mata pria itu terkunci dengan bibir Calya. ia mulai tak tahan untuk tidak melakukan apa pun. dengan tidak sopan Axel mengecupnya.


selalu terasa manis!.


Ia pun menaikkan kaki nya di atas kaki Calya memeluknya seperti guling yang nyaman. ia baru merasakan pelukan hangat selain dari pelukan momy nya. sejujurnya Axel berbohong, Ingrid tak pernah memeluknya sepanjang malam ketika sakit. tapi wanita itu akan memeluk Axel sampai ia tertidur karena tuan Alex Devo Emilio tidak bisa tidur tanpa nyonya Ingrid Grachiara Marcello.


Axel menghirup dalam aroma leher Calya yang memabukkan. ia kembali berbuat tidak senonoh, awalnya pria itu hanya menjilat sampai tak sadar ia meninggalkan jejak berupa tanda berwarna merah hampir kebiruan. setelah puas melakukan apa pun Axel menutup mata nya dengan senyum bahagia. entah apa yang membuat nya bahagia.


Paginya Calya terbangun lebih dulu. merasakan tubuhnya remuk akibat pelukan dashyat dari tuan muda iblis.


"Aku bisa kehilangan nafas jika seperti ini." Ia pun menjauhkan wajah Axel dari lehernya. terlihat dahi pria itu mengerut membuat Calya mengelus rahang nya sepontan. pria itu tidak boleh bangun, jika tidak ia akan repot pagi pagi begini.

__ADS_1


Calya menyibak selimut. matanya kembali melotot melihat tangan nakal Axel menyentuh pahanya yang tak tertutup oleh kemeja yang tersingkap. "Dasar mesum!." Dengan kesal ia menjitak pelan dahi Axel. hanya pelan, mana mungkin ia berani melakukan nya kuat kuat.


Setelah berhasil lepas dari pelukan Axel ia bergegas ke kamar mandi. Calya menggeleng kecil tatkala ia mengingat otot otot perut Axel yang sangat sangat luar biasa. "Pantas saja gadis gadis di luar sana mengatakan dia sempurna." Gumam nya sembari menggosok gigi.


Saat akan mengikat rambutnya sebuah tanda merah di lehernya mencuri perhatian. "Apa ini?." Ia pun melihat lebih terperinci. ia belum pernah menemukan hal seperti ini sebelumnya. "Nyamuk? tidak mungkin. serangga lain? ah entahlah." Ia pun membasuh wajah kemudian.


Melihat Axel yang masih tertidur nyenyak Calya pun segera turun ke lantai bawah untuk membuat makanan. sepanjang lorong bodyguard yang tadinya selalu mengangkat kepala tinggi seperti patung kini tunduk 90 Drajat. Calya menatap heran orang orang di sana.


"Kenapa mereka?." Gumam Calya.


Ia berjalan semakin laju, di ujung lorong ia menemukan nuhan yang menundukkan kepalanya. Calya semakin bingung. "Sekretaris Nuhan?."


"Ya nona." Pria itu masih menunduk.


"Ada apa dengan mu?."


"Saya baik."


Calya terdiam ia tak mengerti dengan keadaan baru ini. nuhan seolah tidak ingin menatap nya, pria itu hanya menatap lantai.


Nuhan memasuki kamar setelah mendapat izin dari Axel. pria itu memberi hormat kepada tuannya. "Ke mana dia?." Nuhan bingung siapa yang di maksud tuan nya.


Axel memutar bola matanya jengah. "Ainsley."


"Nona berada di dapur."


"Sudah tuan, lengkap dengan sanksi nya."


"Bagus! lalu apa ada yang terlihat tidak mematuhi aturan ku?."


Nuhan menggeleng kecil. "Tidak ada tuan, semua orang terlihat mematuhi." Axel mengangguk paham.


Dengan ragu Nuhan bertanya. "Bagaimana keadaan anda?."


"Sudah jauh lebih baik. tidak perlu khawatir demam dan luka kecil tidak akan membuat ku mati."


"Soal peraturan itu, apa akan berlaku selamanya atau hanya hari ini tuan. jika berlaku untuk selamanya maka saya akan memasukkan nya sebagai daftar peraturan tegas untuk semua orang."


"Hanya untuk hari ini." Nuhan mengangguk. "Tapi akan menjadi selama lamanya jika aku berubah fikiran."


Pagi tadi saat Calya berada di kamar mandi. Axel menelpon nuhan dan mengatakan bahwa setiap orang yang berada di mansion itu terkhusus nya yang berjenis kelamin laki-laki di larang keras melihat Calya. jika ada yang berani melakukan maka Axel akan memberikan sanksi tegas. sore nanti pun mereka akan di kumpulkan guna di tanya tanya tentang pakaian apa yang di kenakan Calya, warna apa, serta bagaimana gaya rambutnya. jika mereka menjawab dengan benar maka habislah mereka. karena Axel mengatakan tak satu pun dari mereka yang boleh melihat istrinya, apa lagi sampai melihat pakaian dan gaya rambutnya pagi ini.


Seperginya Nuhan dari kamar masuk lah Calya dengan semangkuk bubur. ia melihat Axel yang masih terbaring di atas ranjang. mengusap lembut dahinya yang masih terasa hangat, Calya hanya berdecak kecil.


"Tuan bangun." Tuturnya lembut, sejujurnya ia kasihan melihat Axel yang tampak lemah begitu padahal sebelumnya hampir tiap tiap hari Calya mendengarkan ocehan cerewet dari bibirnya.

__ADS_1


Dengan malas Axel membuka matanya ia menatap Calya seolah bertanya. "Anda harus makan." Axel menyandar di kepala ranjang dengan mata yang tertutup. Calya yang merasa sangat sangat kasihan pun dengan begitu baiknya menyuapi Axel.


"Ayo buka mulut." Dengan penuh kehati-hatian dan perhatian penuh Calya menyuapi iblis nya itu.


kasihan sekali iblis ini batin Calya berucap.


Axel tak banyak menolak ia makan dengan mata yang terpejam. membuka mulut setiap kali Calya perintahkan.


Sorenya ketika Calya beristirahat terlihat Axel meninggalkan kamar. ia masuk ke dalam satu bilik luas yang menjadi tempat nya bekerja di mansion ini. terlihat bodyguard berseragam berbasis rapih di depan meja nya.


Dengan angkuh Axel duduk menatap orang orang nya dengan begitu tajam. "Bisa langsung kita mulai Nuh?."


Nuhan mengangguk. "Pakaian warna apa yang di gunakan nona pagi ini."


"Biru pak."


"Merah."


"Hitam."


Sejauh ini jawaban mereka masih aman, bibir Axel pun menunjukkan senyum tipis yang hampir tak terlihat. sampai Nuhan bertanya kepada seorang bodyguard baru yang terlihat masih sangat muda. pria itu tampak gelisah saat Nuhan menatapnya tajam.


"Apa warna pakaian Nona?."


Pria itu menunduk takut. "Kemeja putih polos pak." Jawaban yang terlalu jujur itu berhasil membuat rahang Axel mengetat. seketika maniknya menajam. Nuhan dapat melihat itu dari tempat nya berada.


"Keluar." Tutur Axel, satu persatu bodyguard di sana pun keluar. "Terkecuali kau anak baru!." Sang empu pun terlihat berdiri kaku di depan Axel.


"Nuh kau pun keluar!." Tutur Axel tajam. mau tak mau Nuhan pun keluar dari sana.


Aurah Axel membuat bodyguard baru itu ketakutan di tempat. berulang kali ia merutuk, kenapa mata nya harus menatap istri dari tuan nya tadi.


"Berani sekali kau menatap istriku!. apa kau fikir mata mu pantas untuk menatap nya?."


"Maaf tuan."


"Kau melihat semuanya?."


Pria itu terlihat sangat gelisah. hal itu pun di tangkap oleh Axel. "Katakan semua yang kau lihat!."


Bodyguard itu terdiam kaku. "Katakan!." Axel terlihat kesal dengan kediaman itu, ia pun melemparkan bolpoin tepat ke tubuh bodyguard nya. "KATAKAN!!."


"Nona memakai kemeja putih polos, dengan rambut yang di gulung lalu di ikat dengan pita berwarna putih." Tutur nya dengan suara bergetar.


Kilatan petir di manik Axel membawa kakinya untuk berjalan mendekati bodyguard tersebut. dengan ringan Axel menendang kakinya hingga pria itu tersungkur. bodyguard baru itu tertunduk menahan rasa sakit pada kakinya. tak sampai di situ saja Axel pun menendang nya beberapa kali hingga pria berusia muda itu tampak lemas. "Temui Nuhan, minta hukuman mu."

__ADS_1


Sudut manik Axel bisa melihat betapa kesulitan nya pria itu berdiri namun ia acuh. belum juga menggapai pintu Axel berucap dengan tajam. "Jika sekali lagi kau berani melihat istri ku, ku pastikan kau tidak akan bisa melihat dunia dan seisinya lagi! mengerti?."


"Mengerti tuan."


__ADS_2