
Byurr
Segelas air dingin tersebut melayang membasahi wajah Calya. ia menutup kedua matanya rapat dengan tangan yang terkepal erat. helayan rambut nya yang kian basah meneteskan titik titik air. kelopak mata itu terbuka, irisnya menatap dengan begitu datar ke arah dua orang wanita di hadapannya. siapa lagi jika bukan bibinya Fiona bersama putri tersayang nya Callista. keduanya tersenyum puas melihat wajah mengenaskan Calya.
"Apa! Bayar hutang mu!." Tutur Fiona dengan begitu menuntut.
"Aku tidak punya uang."
"Ibu dia tidak akan pernah jujur, ambil saja toh itu adalah hak kita."
"Aku memerlukan biaya besar untuk perobatan ayah ku." Tutur Calya berharap kedua manusia itu memiliki rasa empati terhadap nya. namun ia salah besar, yang berdiri di hadapan nya ini bukan lah manusia.
Fiona mulai merampas tas yang Calya bawa, gadis itu hanya diam tanpa ada pemberontakan sedikit pun. ia sudah jengah dan benar benar lelah. "Sialan! di mana kau sembunyikan uang mu!."
"Aku tidak punya uang."
Fiona mengeluarkan seluruh benda yang berada di dalam tas tersebut hingga seluruhnya tergeletak di atas lantai. Fiona tersenyum miring, ia mengambil sebuah kotak beludru berwarna merah yang terjatuh terakhir kali dari dalam. Calya melotot ia berusaha merampas kotak tersebut. "Kembalikan itu!."
"Tidak! tidak akan. ini menjadi milik kami!."
Calya mengeraskan rahangnya. itu adalah satu satunya liontin peninggalan ibunya dan Fiona tentu mengetahui nya. ia tidak memiliki harta yang berharga lagi selain itu. sekuat tenaga ia mencoba mengambil kotak tersebut namun dorongan keras dari callista membuat nya terhuyung hingga teronggok di atas lantai.
"Ku mohon, itu milik ibu ku." Lirihnya.
"Ibumu? wanita yang sudah habis di makan tanah itu? oh hahaha aku tidak peduli." Setelah mengucapkan hal itu Fiona pun pergi meninggalkan ruangan Calya. tak terasa setetes air bening terjatuh dari matanya. kepalan tangannya terlihat semakin erat hingga kuku kuku nya memutih.
Di sinilah Calya berakhir, duduk di sisi ayahnya yang sedang menutup mata. ia menumpukan wajah nya di atas tangan sang ayah, tak terasa genangan air itu membasahi tangan ayahnya membuat kelopak mata yang kian tertutup rapat kini terbuka. maniknya menatap lembut ke arah Putri nya itu. dengan gerakan lembut dan penuh hati hati tuan Paolo menghapus jejak air di wajah cantik putri nya.
"Ayah." Calya buru buru menghapus air mata nya dan di gantikan dengan senyuman lebar. "Apa aku mengganggu tidur mu?."
"Dokter ku, apa sesuatu menyakiti mu?." Calya menggeleng cepat. "Tidak, aku hanya khawatir terhadap ayah."
"Dokter kecil ayah sudah tumbuh besar hingga dapat membohongi ayahnya. menangis lah jika sesuatu menyakiti mu, kau bukan lah malaikat."
"Aku tidak menangis, ayah ada ada saja." Pria paruh baya itu tersenyum hangat kearah Calya.
Setelah beberapa lama beranda di ruangan ayahnya Calya pun bergegas pergi, ia harus mengisi perutnya sebelum memasuki ruang operasi nanti. semenjak kejadian tempo lalu di mana Axel berbuat macam macam padanya ia selalu menghindari pria itu, benar benar teliti jika mendapat panggilan untuk pengobatan pasien.
Suasana hati Calya yang sedang tidak bagus membuat nya memasang wajah datar. ia dapat melihat tuan muda itu berdiri di depan ruangan nya. jika biasanya Calya akan menghindar berbeda dengan hari ini, ia sangat acuh. berjalan melewati Axel begitu saja, tangan kekar itu menahan pergelangan tangan nya. Calya buru buru menyentak kuat, ia menatap sinis ke arah pria tersebut.
"Hai, kau menghindari ku?."
"Bisakah kau tidak perlu terlihat oleh mata ku!." Tatapan sengit itu membuat sudut bibir Axel terangkat.
"Tentu tidak, sangat di sayangkan jika mata mu tak mencuri kesempatan untuk menikmati wajah ku yang tampan."
"Aku tidak tertarik."
"Kau tau, gadis gadis di luar sana bahkan sampai mengemis di kaki ku hanya untuk membuat ku berhenti agar mereka bisa memandang wajah ku yang rupawan."
"Aku bukan gadis gadis itu, tolong garis bawahi dan ingat di kepala mu." Axel mengeraskan rahangnya, ia semakin geram dengan gadis itu. namun ia coba untuk menutupi nya dengan tersenyum tipis.
"Aku tertarik pada mu, kau tidak seperti mereka yang mengemis kepada ku. itu membuat ku tertantang."
"Itukah alasan mengapa kau terus mendatangi ku? kalau begitu aku akan angkat bicara di hadapan media bahwa tuan muda Emilio yang terhormat suka dengan gadis yang tidak mengemis kepada nya. aku jamin kau akan menemukan versi banyak di luar sana." Setelah nya Calya berjalan meninggalkan Axel begitu saja, tapi bukan lah Axel namanya jika membiarkan targetnya pergi.
__ADS_1
"Ada sesuatu yang ingin ku utarakan." Kembali menahan pergelangan tangan Calya. gadis itu kembali menyentak tangan nya. "Aku sibuk." Berbalik badan dan kembali berjalan.
"Menikah lah dengan ku." Kalimat yang keluar dari bibir Axel membuat langkah Calya terhenti, gadis itu berbalik dengan wajah datarnya. pria itu sangat mudah melontarkan kalimat tersebut seakan akan itu tak memiliki arti apa pun baginya. "Aku tidak tertarik dengan mu."
Untuk beberapa saat Axel terdiam. lalu ia tersenyum tipis. "Ok, besok aku akan bertanya lagi. aku akan menanyakan nya hingga tiga kali, setelah itu baru ku putuskan apa yang harus ku lakukan."
"Apa kau melihat ada ketertarikan di wajah ku? tiga pertanyaan kan, tidak perlu repot-repot datang. akan ku jawab sekarang. Tidak! Tidak! dan Tidak!."
"Tidak perlu terburu-buru, santai saja. pikir kan dengan matang." Ujarnya setelah itu meninggal kan Calya. gadis itu menyentak kan kakinya kesal. "Apa dia fikir aku sebuah permainan!."
"Tentu permainan." Gumam Axel pelan dengan wajah datarnya dia masih dapat mendengar gerutuan gadis itu.
****
Malam yang di penuhi bintang bintang membuat gadis itu jalan dengan bersinar di bawahnya. keluar dari mobil hitam bersamaan dengan pria di sebelah nya. manik Calya menatap mansion besar yang berdiri kokoh di hadapan mereka. ya ini adalah mansion keluarga Emilio. hari ini mereka mengadakan acara syukuran untuk mengenang nyonya besar Emilio yang sudah berpulang kepangkuan tuhan.
Calya dan dokter Steven di utus sebagai perwakilan rumah sakit. keduanya terlihat sangat serasih, cantik dan tampan. "Ainsley kau terlihat cantik." Puji Steven dengan senyum tulusnya.
"Kau berlebihan dokter, kau juga terlihat tampan."
"Benarkan, aku juga merasa begitu." Kedua nya tertawa menanggapi hal tersebut.
Mereka pun masuk, bergabung dengan tamu tamu terhormat di dalam. Steven menggandeng nya bak seorang kekasih. Calya tersenyum tatkala mendapati Felisiya yang berlari dengan girang ke arahnya. "Wah kau datang, aku senang sekali." Ia memeluk Calya erat membuat tautan tangan Steven dan Calya terputus.
"Aku mendapat perintah."
"Jika pun tidak dapat, aku akan mengundang mu." Mata Felisiya terpaku dan terpanah melihat kehadiran sosok lain di sebelah Calya. ia yang semula girang kian terdiam.
Ketampanan Steven membuat nya terpesona. Calya yang tau akan hal itu tertawa kecil. sedari dulu memang Felisiya tak dapat menutupi perasaannya jika mengagumi seseorang. "Ehem, Lisiya perkenalkan. ini teman ku, dokter Steven. dan dokter, ini teman ku Lisiya." Keduanya berjabat tangan, Steven tersenyum manis membuat degub jantung Lisiya menjadi tak beraturan.
"Kau tertarik dengan nya? dia juga belum memiliki kekasih omong omong." Goda Calya membuat pipi Lisiya bersemu.
"Kau tidak pernah bilang jika memiliki kenalan dokter setampan itu." Ya hari di mana Steven memasuki ruang rawat Ingrid untuk menemui Lisiya pria itu memakai masker juga kaca mata nya. maka dari itu Lisiya tak dapat mengenalinya.
"Ya begitulah. kau tertarik? sejauh yang ku tau dokter Steven sangat baik dan penuh dengan kelembutan."
"Dia adalah tipe ideal pria ku Calya." Mata Lisiya berbinar.
"Ku bantu kau jika ingin berkencan dengan nya."
"Terimakasih."
"Omong omong kau masih sendiri?." Calya tertawa mendengar pertanyaan teman baiknya itu. "Ya masih sendiri."
"Apa kau masih menyukai pria berseragam mu itu huh? apa kau sudah mendapatkan pria berseragam seperti yang kau dambakan?."
Sesuatu terlintas di pikiran Calya. ia lama terdiam. "Begitulah." Tertawa renyah untuk menutupi kegugupannya.
Dari atas seulet manik tajam memperhatikan secara rinci kedua gadis yang kini sedang duduk di meja tengah. tentu ia adalah Axel, bibirnya melukis senyum devil. ia pun segera turun sesuai dengan instruksi momy nya.
Keluarga besar Emilio duduk di salah satu meja besar. terkecuali dengan Felisiya, ia masih setia bertukar cerita dengan Calya. Calya dapat melihat pria yang ia temui beberapa waktu lalu, juga oh astaga ia benci bertemu dengan wanita wanita jahanam itu. siapa lagi jika bukan Fiona dan callista, mungkin keduanya hadir atas undangan nyonya Emilio mengingat paman Gabriel adalah dokter pribadi mereka juga sekaligus kepala rumah sakit yang mereka tunjuk. Calya tak terlalu memusingkan hal itu.
Manik Axel terus melirik kearah Calya, ia tau adiknya dan gadis itu berteman baik. Hany yang merupakan Oma Axel menatap berbinar ke arah callista dan Axel. ia terus menatap berulang kali.
"Apakah ini putri Gabriel? wah kau sangat cantik, bukan kah begitu Axel?." Tanya Hany, sang empu yang di sebut seperti nya tak mendengar dengan baik membuat Ingrid mengikut nya.
__ADS_1
"Ya Oma?."
"Bukankah callista cantik?." Manik Axel terarah kepada Ingrid. "Momy ku cantik." Jawabnya kemudian. setelah itu Axel berpura pura sibuk dengan ponselnya.
Sementara Fiona dan callista tersenyum masam. "Dia memang seperti itu, di muka bumi ini hanya ibunya yang paling cantik menurutnya jika di seleksi."
"Tuan muda memang benar, nyonya Ingrid sangat cantik. tuan Axel juga sangat tampan seperti tuan Alex." Hany tersenyum, ia memang cukup dekat dengan dokter Gabriel dan istrinya.sementara Ingrid ia dapat menarik hal lain dari kedua wanita di depan nya. bukan nya sok menjadi peramal, hanya saja firasat nya berkata demikian.
"Di mana Lisiya? Oma tidak melihat nya." Tutur Hany kepada Axel.
"Dia mengadakan reuni mendadak Oma." Tunjuk Axel lewat arah matanya, Hany mengangguk kecil.
"Apa itu dokter yang merawat momy di rumah sakit?." Pertanyaan Ingrid di jawab anggukan oleh Axel. "Sepertinya ya sayang." Alex menimpali.
Ingrid berjalan menuju meja di mana lisiya dan Calya duduk. percakapan keduanya terlihat sangat menarik. Ingrid memilih duduk di antara kedua gadis itu. "Dokter." Sapa Ingrid membuat Calya berdiri dan membungkuk hormat. diam diam Axel memperhatikan.
Masih bersama Oma Hany dan Fiona. keduanya masih asik berbincang. "Tuan muda memang terlihat sudah matang." Ujar Fiona, callista terus mencuri curi pandangan kepada Axel yang duduk di depan nya. siapa yang tidak mengenal Axel, sudah di katakan gadis yang akan mendapatkan hatinya akan sangat beruntung seumur hidup.
Walaupun pria itu jarang terlihat di layar tv, akan tetapi ia jauh lebih di kenal dari pada artis papan atas. bahkan jika Axel terlihat wawancara di salah satu stasiun tv sudah di jamin, stasiun tersebut akan untung banyak. yang ia tayangkan akan menjadi website pencarian orang orang untuk tiga bulan kedepan. rating acara nya pun akan menjulang.
"Ya Axel ku memang sudah matang, momy nya sudah memerintahkan agar ia menikah. kebetulan kami sedang mencari pasangan yang cocok untuknya." Serasa memiliki peluang, callista terlihat salah tingkah dan semakin mengeluarkan senyum mempesona nya berharap pria dingin itu luluh akan dirinya.
"Wah, gadis yang akan di nikahi tuan muda pastinya sangat beruntung." Ujar Fiona. ia menyenggol callista pelan agar bersikap dengan baik.
"Omong omong apa putri mu sudah memiliki kekasih?." Pertanyaan Hany membuat keduanya girang.
"Putri ku ini tidak pernah berpacaran, ia hanya belajar sepanjang hari. aku tak tau lagi harus melakukan apa padanya. usianya juga sudah cukup matang untuk menikah, tapi aku dan suamiku tidak belum menemukan pasangan yang cocok."
Senyum Hany semakin merekah. "Wah kebetulan sekali, Axel juga sama." Hany terus menyebut nama sang empu agar ia mengeluarkan respon. namun Axel terlihat sangat sibuk dan bersikap acuh. ia tidak tertarik sama sekali.
"Axel." Tegur Hany membuat pemuda itu mengangkat wajahnya. "Why Oma?."
"Bagaimana Callista menurut mu?." Fiona dan callista menatap penuh harap ke arah Axel.
Ia menaikkan sudut bibirnya. "Chiedi alla mamma, la nostra risposta è la stessa. (tanyakan kepada mom, jawaban kami sama.)" Tukas Axel, ia tidak tertarik dengan gadis di depannya itu. gadis yang berada dekat dengan momy nya jauh lebih menantang. ia sengaja menggunakan bahasa Italia agar orang di hadapan nya tak mengerti.
"Begitukah?." Axel mengangguk sebagai jawaban. Fiona dan callista menatap penuh tanya. berharap agar Hany memberikan translate kepada mereka.
"Lantas bagaimana menurut Oma?."
"Sangat cocok dengan mu." Bisik Hany di telinga Axel, pemuda itu tak merespon ia hanya beranjak dan pergi begitu saja. sementara Alex yang melihat tak ada ketertarikan pada Axel hanya tersenyum kecil. ia menggeleng pelan, apakah pemuda itu benar benar menginginkan duplikat seperti Ingrid?
"Seringlah berkunjung ke mansion ku callista." Ujar nya kemudian.
"Tentu, terimakasih nyonya."
Ingrid menatap kagum kearah dokter muda di hadapan nya. mereka sangat nyambung. "Momy Calya ini sangat banyak yang menginginkan nya, dia primadona sekolah."
"Tidak begitu, Lisiya hanya melebih lebihkan."
"Apa kau mengenal putra ku? kalian juga satu sekolah, akan tetapi dia kelasnya lebih tinggi dari mu."
"Hmm tidak mengenal dalam, tapi aku tau yang mana tuan muda." Calya berbicara dengan santai karena Ingrid meminta nya agar tak terlalu formal.
"Bagaimana putra ku menurut mu?."
__ADS_1