
Kekesalan Calya memuncak tak seharusnya ia berfikir ada celah sifat baik di dalam diri Axel. lihat, ia membolehkan Calya bekerja tapi bukan sebagai dokter bedah, melainkan sebagai perawat junior. ingat junior!. Calya bernafas lega tatkala pria itu mengatakan urusan pekerjaan nya sudah beres ia menyerahkan semuanya kepada Axel dan mencoba untuk percaya. namun beres yang ia maksud sangat berbeda dengan beres yang Calya fikirkan. ia bekerja di salah satu rumah sakit milik keluarga Emilio di pinggir kota, jarak tempuh dari mansion menuju rumah sakit membutuhkan waktu 3 jam itu pun jika ngebut. sementara Calya si perawat junior harus hadir di sana tepat pukul 7 pagi! benar jam 7 tidak boleh terlambat sedikit pun!. apalagi ia adalah perawatan junior!.
Kesal? tentu saja, tapi ia bisa apa. melawan kuasa Axel adalah sebuah hal yang tidak mungkin. setelah melakukan semua nya pria iblis itu pun tak lagi terlihat di mana mana. tak ada niatan sedikit pun Calya bertanya kemana perginya iblis tersebut ia hanya diam dan merutuk dalam kesal.
Tiga hari sudah Calya habiskan sebagai perawat junior. rasanya sangat lelah, ia harus pergi kesana kemari guna menebus obat atas perintah atasan nya. dengan tubuh yang lemas ia pun berbaring di atas lantai dengan alas selimut tebal. Axel selalu mengancam jika ia berani beraninya menyentuh barang yang lain pria itu tak segan menghabisi nyawa nya. Calya pun menurut saja biar cepat.
"Aku bisa mati muda jika begini terus menerus! kemana sebenarnya iblis itu pergi. dia tidak terlihat!." Menatap langit langit kamar sambari memikirkan kejadian beberapa waktu lalu.
Axel marah besar, memakinya dan tak segan menendang nya. hanya karena ada beberapa helai rambut Calya yang gugur teronggok di atas lantai. Karna rambut itu Calya habis di amuk Axel dua hari berturut-turut. ia sangat tersiksa! Axel tak berhenti menghina dan memakinya.
"Andai nyonya Emilio mengetahui tingkah kurang ajar anak nya! huh mungkin aku tak perlu susah susah bertahan sejauh ini."
Setetes air mata Calya turun. "Tapi ayah--" Malam adalah waktu paling jahat membawa hal hal buruk membuat mata tak hentinya basah.
"Ayah ada di tangan nya." Gumam Calya, sampai hari ini pun ia tak tau kabar mengenai ayahnya itu. selain tak berani bertanya, Axel pun tak berkeinginan untuk menjawab.
Baru saja Calya berhasil menutup matanya tiba tiba saja dobrakan pintu kamar membuat nya terkejut. tiba tiba bodyguard berseragam menariknya seolah ia melakukan kesalahan. panik heran dan takut menjadi satu. "Siapa kalian! ke mana kalian akan membawa ku!." Ia terus memberontak berharap mereka melepaskan lengan kecilnya.
Karena terus memberontak salah satu dari mereka pun maju. Calya kenal dengan orang itu. dia adalah Nuhan sekretaris Axel. "Nona, malam ini kita akan berangkat ke Washington." Seakan tak berfungsi Calya terdiam mencerna setiap kata yang di ucapkan oleh Nuhan. nyawanya bahkan belum terkumpul sempurna untuk di paksa berfikir.
"Maksudmu bagaimana!."
"Nona malam ini pergi ke Washington bersama kami."
Mata Calya melotot. "Kenapa aku harus pergi dengan kalian!." Nuhan melirik rekan rekan nya.
"Sampai di sana Nona akan tau tujuan kami."
__ADS_1
"Tidak mau! aku tidak mau!." Calya di tarik paksa, namun ia terus memberontak hingga tiba tiba dari belakang seseorang memukulnya dan gadis itu pun hilang kesadaran.
Hampir lima jam Calya tak sadarkan diri entah pun efek mengantuk siapa yang tau. gadis itu terbangun dengan kepala yang terasa pusing. ia menatap sekitar, terbaring di atas kasur yang lumayan besar. interior ruangan sangat elegan namun Calya merasa tempat ini tidak tenang dan banyak bergerak. ia pun mencari pintu untuk keluar.
"Nona sudah bangun?." Ujar Nuhan yang berdiam diri di depan pintu sedari tadi.
"Sejak kapan aku tidur?." Bersedekap dada dan menatap tajam ke arah pria itu. "Sekarang lepaskan aku! aku tidak ingin pergi dengan kalian semua."
Nuhan mengangguk ia menunjuk salah satu pintu. "Itu adalah pintu nya, tapi sebelum nona keluar ada baiknya memeriksa kaca jendela terlebih dahulu." Dengan angkuh Calya berjalan sembari menyenggol lengan kekar Nuhan.
Ia pun mendekat kan wajah nya ke kaca jendela yang cukup kecil seketika matanya melotot. jantung gadis itu berdetak kencang. matanya dapat melihat gumpalan awan yang membentang seperti Springbed. ia pun berbalik dengan tubuh kaku. "Aku ada di langit?." Ujarnya terdengar bodoh. ini bukan kali pertama Calya naik pesawat tapi mungkin karena pesawat yang ia naiki berbeda jauh bentuk nya dari pesawat kelas ekonomi rendah.
Tangan Calya menunjuk segala hal di dalam sana. "Jelaskan kenapa bisa seperti ini?." Nuhan dengan wajah yang flat pun membuka suara.
"Ini zet pribadi milik tuan muda Axel." Belum sempat menghabiskan penjelasan nya Calya sudah memotong.
"Apa? aku tidak salah dengar kan? ini milik nya? milik tuan Axel?." Nuhan mengangguk.
"Tidak ada yang tidak mungkin bagi tuan Axel nona, memiliki nona dengan paksa saja dia mampu." Celetuk nuhan membuat hati Calya mencelos. ia pun mengangguk, turut membenarkan.
Calya terdiam kemudian ia menatap nuhan lagi. "Lalu di mana tuan? dan kemana kau akan membawa ku?."
Nuhan berdehem. "Nanti nona akan tau. sebaiknya nona tidur saja, masih butuh waktu beberapa jam untuk mendarat."
Tak henti hentinya fikiran buruk memenuhi kepala Calya. gadis itu berjalan mondar mandir memikirkan apa yang akan iblis itu lakukan kali ini padanya. apakah ia berniat menghabisi Calya di sana dan pulang ke rumah dengan gelar duda. atau ia menjual Calya kepada pria pria mesum di sana. Calya tak bisa menemukan hal positif di dalam ruang berfikir nya. yang ia tau Axel adalah iblis yang penuh dengan penyiksaan.
Karena hal hal negatif itu Calya tak bisa tidur, pintu kamar di ketuk terlihat pramugari cantik membawakan makanan untuk nya. wanita itu tersenyum, ia berfikir tak heran tuan muda berhati batu itu luluh dan menjadikan wanita cantik di depan nya sebagai istri.
__ADS_1
"Silahkan di nikmati hidangan kami nyonya, jika ada sesuatu yang tidak berkenan katakan saja."
Calya menatap hidangan lezat itu, tidak munafik ia lapar sekarang. tapi ia takut ada kandungan racun atau obat tidur semacam nya di dalam sana.memutar otak ia pun menemukan ide yang bagus. "Suamiku pernah berpesan agar aku menjaga makanan ku, maaf jika menyinggung bisa cicipi ini terlebih dahulu."
Pramugari itu terlihat mengangguk. fikirnya, pantas saja tuan nya sangat menjaga sang istri mungkin karena rasa cinta nya yang begitu besar. tanpa ragu wanita itu pun mencicipi nya.
"Sudah nyonya."
"Terimakasih, oh apa sekertaris nuhan dan bodyguard yang lain sudah makan?." Pramugari itu terlihat bingung karena selama ini ia hanya di perbolehkan untuk menghidangkan makanan untuk keluarga inti Emilio saja. dan peraturan itu sangat di tegaskan untuk petugas.
"Hmm maaf nona kami punya peraturan sendiri dari tuan muda."
Calya mengangguk. berfikir lama ia pun menemukan sesuatu. waktu itu Axel pernah mengatakan bahwa. 'tuan tidak boleh menggunakan barang yang sama dengan budak'. sepertinya kalimat itu cukup menjelaskan semuanya.
Sesaat setelah pramugari itu pergi ia pun menyantap makanan nya. tak lagi Calya hiraukan apa yang akan terjadi pada dirinya setelah ini yang ia tau hanya makan, makan dan makan! setidaknya jika ia mati nanti dalam keadaan kenyang. ia tidak mau terlihat bodoh di hadapan tuhan dengan perut kosong tentunya.
Setelah beberapa jam berlalu mereka pun mendarat, entah di bandara mana Calya tidak tau yang ia lihat saat ini adalah manusia yang dominan bule berkulit putih. dengan bahasa asing, kalau begini melarikan diri pun Calya tidak berani. lebih baik di culik oleh orang orang yang di kenal dari pada menghilang di tengah tengah orang asing.
Mereka menaiki mobil berwarna hitam, bergerak membelah kota ini tak tau kemana arah tujuan nya. tak lama mobil berbelok ke sebuah rumah besar yang sangat sangat mewah. bahkan lebih besar dari mansion yang Calya tempati.
"Ini rumah siapa?." Tanyanya namun tak seorang pun dari bodyguard itu membuka suara untuk menjawab. seolah mulutnya memang di stel untuk diam saja kepada orang lain selain Axel.
Begitu sampai di sana nuhan membawa Calya memasuki rumah, sementara bodyguard ramai tadi menyebar ke mansion untuk melanjutkan tugas. mereka menaiki lift guna menyentuh lantai atas. di atas sana hanya ada satu kamar, pintunya berwarna hitam bertuliskan Mr. Ax. sudah sangat jelas jika itu adalah kamar Axel.
Sebelum masuk nuhan mengetuk pintu kamar terlebih dahulu. dengan pelan keduanya memasuki kamar. terdengar suara batuk yang samar. Calya masih bersembunyi di balik tubuh nuhan ia tenggelam di sana sehingga Axel tak dapat melihat nya.
"Di mana dia." Suara itu? Calya sangat kenal suara itu. namun kali ini intonasi nya terdengar lemah. ia pun memberanikan diri untuk mengintip. ia cukup terkejut melihat keadaan Axel.
__ADS_1
Pria itu terbaring lemah dengan wajah dan bibir yang pucat. terlintas rasa iba di hatinya, bagaimana pun ia masih memiliki jiwa dokter. dari tatapan Axel sangat menyiratkan betapa ia sedang tidak baik baik saja.
"Anda kenapa?."