
Matahari yang tinggi dengan sinar yang cukup menyengat kulit membuat Calya harus melindungi kepala nya dengan sebuah proposal penelitian. berjalan menyebrangi jalan yang cukup sepi. siang ini ia sedang senggang hingga membuatnya berkeinginan untuk membeli makan siang di luar. tidak seperti biasanya ia harus menikmati bekal apa adanya atau menikmati hidangan kantin rumah sakit.
Terlintas di benak Calya untuk menemui Lisiya sesuai dengan janjinya jika memiliki waktu senggang. namun nada dering dari ponsel nya membuat ia harus menepi guna mengangkat telpon tersebut. dahinya mengernyit tatkala mendapati nomor paman Gabriel. "Untuk apa?." Gumam nya setelah itu ia pun mengangkat.
"Halo paman, apa ada masalah?."
"Ainsley apa kau senggang?."
"Hmm cukup senggang."
"Huh sepertinya paman akan merepotkan mu sekali lagi." Terdengar suara pria itu penuh dengan rasa bersalah.
"Why paman? terjadi sesuatu yang buruk?."
"Tidak, siang ini paman mendapatkan telpon. pasien paman sedang sakit. bisakah kau menangani nya sekali lagi?."
"Tentu, apakah dia sudah tiba di rumah sakit. soalnya aku sedang berada di luar paman."
"Tidak, dia tidak akan datang ke rumah sakit. paman akan kirim kan alamatnya pada mu, pergilah ke sana."
"Ah baiklah Paman." Calya mengendikkan bahunya, ia fikir pasien ini juga pasti bukan orang yang sembarangan. apa lagi paman nya sendiri yang menangani nya. ingatkan dokter Gabriel adalah kepala rumah sakit di sana.
Calya pun segera menepikan taksi setelah itu ia bergegas menuju alamat yang dokter berikan. setibanya di sana dahi Calya mengerut, membaca alamat dan kembali melihat bangunan menjual tinggi di hadapannya. "Pak apa ini alamat yang benar?." Tanya nya kepada sang sopir.
"Ya nona ini adalah tempat nya." Setelah mengatakan hal itu taksi tersebut segera pergi. Calya memijat dahi, kepalanya mulai terasa berdenyut. paman tidak mungkin salah mengirimkan alamat lantas apakah sopir taksi itu yang mengerjainya.
Orang orang sekitar memberikan tatapan bertanya kepada Calya. pasalnya gadis itu berjongkok di bawah pohon sambil terlihat kebingungan. ia bingung karena di turunkan tepat di depan sebuah perusahaan megah. orang yang berlalu lalang tentunya berseragam kemeja yang di balut jas hitam tak lupa dengan dasi yang tersimpul di setiap leher. orang orang itu terlihat rapih dan berwibawa.
"Ah sial, kenapa aku sampai di sini! aku bukan ingin melamar kerja." Gerutu Calya dengan mulut yang mendumel kesal. ia kembali celingak-celinguk mencari cari apakah ada sebuah rumah di sekitar sini.
Berulang kali ia menelpon Gabriel namun pria itu tak kunjung mengangkat. begitu frustasi nya Calya harus berdiam diri bak seperti orang gila yang tak tau arah. seperti nya almamater putih yang ia pakai akan tercemar karena tingkah nya itu. apa lagi kini ia sedang menenteng dua paper bag berisi makanan dan satu tas yang berisi peralatan medis. huh tangan nya kini penuh.
"Apa aku pulang saja?." Calya mulai memikirkan beberapa hal yang terlintas di kepala nya. sampai terdengar nada dering dari ponsel nya itu adalah Gabriel sontak Calya langsung mengangkat. "Halo paman."
"Ya ada apa? apa kau sudah bertemu dengan tuan muda Ax."
"A-aku belum bertemu dengan pasien paman. seperti nya aku salah alamat paman."
"Kau sudah datang ke alamat yang paman kirim?."
"Ya supir membawa ku ke sini, tapi sepertinya ini salah. sangat tidak logis."
"Apa yang menurutmu tidak logis?."
"Aku bukan di berhentikan di depan rumah, atau apartemen atau apalah itu yang bisa untuk di jadikan tempat tinggal. ini, paman ini sebuah perusahaan untuk bekerja."
Terdengar tawa Gabriel dari sebrang, keponakan nya itu terlalu lugu. "Ya memang benar, sopir membawa mu ke alamat yang tepat. masuk lah ke dalam, datangi meja resepsionis katakan bahwa utusan dokter Gabriel sudah tiba dan ingin bertemu dengan Mr. Ax."
"Ok baiklah, ternyata aku tidak salah alamat." Ujar Calya yang di balas kekehan kecil dari Gabriel.
Calya pun masuk, banyak mata yang menelitinya. kini ia terlihat seperti gadis cupu. menggunakan kacamata juga masker yang setia menutup wajahnya. belum lagi rambutnya yang di gulung asal membuat beberapa anak rambut menjuntai ke bawah.
"Ada yang bisa kami bantu nona?."
"Ah saya utusan dari dokter Gabriel, ingin bertemu dengan Mr. Ax." Terlihat penjaga meja resepsionis itu menelpon seseorang Calya hanya mengendikkan bahunya sambil menatap sekitar orang memandang nya dengan tatapan aneh.
apa aku terlihat aneh?
Calya meneliti penampilan nya, cukup buruk tapi tidak terlalu.
__ADS_1
"Nona sekretaris tuan muda akan datang sebentar lagi." Calya mengangguk.
Tak berapa lama seorang pria tinggi datang menghampiri. "Selamat siang dokter, maaf membuat anda repot."
"Tidak masalah." Pria itu membantu Calya untuk membawakan barang barang yang memenuhi tangan sang gadis. Calya sebenarnya sungkan tapi mau bagaimana lagi, ia tidak bisa menolak pertolongan itu.
Setelah tangan nya kosong, Calya menarik ikat rambut nya membuat rambut panjang itu menjuntai dengan indah. ia menurunkan masker serta kaca matanya. ingat dokter juga harus memiliki nilai personal yang baik agar pasien percaya akan kemampuan nya. orang orang sekitar semakin memperhatikan Calya, gadis itu sangat sangat cantik.
Keduanya memasuki lift, tidak ada percakapan. entah sudah sampai di lantai berapa ini akan tetapi ini sudah sangat lama. mungkin ia akan berada di lantai teratas. denting lift menjadi akhir dari tertutup nya pintu otomatis itu. keduanya pun keluar, berjalan melewati lorong yang sangat sepi. di lantai ini hanya ada 3 ruangan. di sisi kiri tiga ruangan tersebut terdapat sebuah kafe, tidak ada yang bekerja di sana. hanya ada meja, kursi kayu, mesin kopi dan beberapa biji kopi pilihan.
Mata Calya terus meneliti tempat ini hingga keduanya sampai di sebuah pintu hitam bertuliskan Mr. Ax. keduanya pun masuk Calya berdiri di belakang pria tinggi yang membawanya. kepalanya menyembul guna mengintip siapa Mr. Ax itu sebenarnya namun hanya ada meja dengan kursi putar yang membelakangi mereka.
"Tuan, dokter sudah tiba."
"Keluarlah." Nada berat serta bass itu sangat tak asing di telinga Calya. pria tinggi itu segera keluar, Calya terlihat panik ia pun melotot ke arah pria tinggi itu. "Aku bagaimana?." Ujarnya dengan gerakan bibir tanpa suara.
"Tidak apa." Ujarnya pelan sebelum benar benar pergi.
Calya menghela nafas, ia berjalan ke meja di mana pria itu meletakkan tas berisi alat alatnya. "Ada keluhan apa tuan?." Calya masih berjongkok sambil mengeluarkan beberapa peralatan sementara pria di belakang nya sudah berdiri dengan senyum miring. kedua tangan kekar itu menarik pinggang ramping Calya. memeluknya dari belakang.
"Tidak memiliki keluhan." Mata Calya melotot ia mengenal suara itu juga bau mint yang menyeruak. sudah jelas itu adalah dia. Calya memutar tubuhnya. "Sial!." Gumamnya yang masih dapat di dengar oleh Axel.
"Jadi Mr. Ax itu adalah Mr. Axel maksudnya huh!." Suara Calya terdengar tak terima.
"Kau kesal? ternyata sesuai dugaan ku kau mengingat jelas nama ku."
"Menjauh." Calya mendorong tubuh Axel yang hampir lengket dengan nya. pria itu selalu meninggalkan bau mint di tubuh Calya.
"Dokter kenapa kau sangat kasar kepada pasien mu." Axel masih mendekap tubuh kecil itu. ia sengaja meminta dokter Gabriel mengenalkan nya dengan nama inisial. karena pria itu yakin Calya sudah mengingat jelas nama nya. jika gadis itu tau dari awal siapa yang menjadi pasiennya Axel bisa menjamin gadis itu akan menolak.
"Menjauh, katakan apa penyakit mu?."
Alis Calya terangkat. "Oh ya, dengar tuan miliarder aku juga tidak sempat untuk meladeni pasien yang tidak sakit. urusan kita selesai." Calya mencoba melepaskan diri dari pelukan Axel.
"Cobalah kalau bisa." Axel melepaskan pelukan. gadis itu langsung berlari ke pintu namun pintu hitam legam itu tak dapat di buka. selain pintu Calya tak lagi menemukan jalan keluar selain jendela. ia lantas berlari ke sana. saat melihat ke bawah rasa oyong menjalari kepala nya, gila dia berada sangat jauh dari tanah untuk berpijak. ia pun menghela nafas putus asa. "Apa mau mu?." Berbalik dan mendapati Axel yang sudah duduk di sofa sambil menatap nya.
"Kau lelah mencari jalan keluar?." Tersenyum mengejek. "Ku beritahu kan ada sebuah pintu rahasia di balik rak buku di sana buka lah. coba melarikan diri sekali lagi." Tutur Axel ia tau gadis itu mudah sekali untuk di kelabui.
Sialnya Calya percaya akan ucapan Axel, semakin ia ingin keluar semakin ia akan terjerat. mendorong keras rak buku hingga ia termasuk ke dalam satu ruangan. mata Calya melotot ini kamar tidur! sial dia tertipu. terdapat ranjang besar di sana. entah sejak kapan, yang pasti sekarang pria itu sudah berdiri di belakang nya dengan senyum miring. Axel menatap nya lekat membuat gadis itu menyilang kan tangan nya di depan dada. "K-kau jangan coba berbuat macam macam! a-aku akan melaporkan mu ke pada nyonya dan tuan Emilio!."
Axel tersenyum lebar sambil berjalan mendekati Calya. gadis itu terus menghindar hingga kakinya mentok ke ujung ranjang. Axel yang terus maju membuat Calya terjatuh hingga berbaring di atas ranjang dengan membanting. Axel tersenyum lebar, ia menyelipkan satu kaki nya di antara kedua paha sang gadis yang terlihat sangat pasrah.
"Nice, aku suka melihat mu tak berdaya." Calya menutup matanya saat Axel semakin mendekat kan tubuhnya hingga deru nafas hangat nya terasa di permukaan kulit Calya.
"J-jangan terlalu dekat, aku sesak."
"Bilang saja kau takut." Axel menarik kedua tangan Calya yang menyilang di depan dadanya. Axel menahan tangan tersebut di atas kepala Calya membuat posisi keduanya menjadi sangat intim.
"Kenapa kau sangat bodoh dan mudah untuk di kelabui? masih berkeinginan untuk kabur dari ku?." Calya menggeleng dengan mata tertutup rapat.
"Aku suka melihat mu jinak seperti ini. tatap aku dengan penuh keberanian seperti kemarin kemarin. buka mata mu."
"Tidak!."
"Kau tau, awalnya aku senang mendengar penolakan mu. tapi entah mengapa semakin kesini aku merasa jengkel." Axel mengelus rahang hingga merambat ke leher Calya.
Mata itu sontak terbuka, tatapan nya terlihat sangat memelas. "Aku tidak ingin berada di posisi seperti ini." Tutur Calya dengan suara yang parau.
"Why? aku suka berada sangat dekat dengan mu. aroma strawberry manis dalam dirimu membuat ku tak pernah bosan untuk menghirup."
__ADS_1
Calya diam, ia menatap ke dalam mata elang Axel. sementara Axel terus memandangi wajah cantik itu. tatapan nya turun menuju bibir Calya yang terlihat manis. ia bisa merasakan manisnya bahkan hanya melihat saja.
"Apa mau mu sebenarnya?." Calya sudah lelah ia tidak ingin Axel berbuat semakin jauh.
"Apa lagi, ada ranjang di sini. sedikit permainan apakah tidak boleh?." Calya mendorong tubuh Axel pelan. "Jangan mengada ngada." Ujarnya kemudian.
Calya mencoba untuk bersikap tenang, ia tak boleh terlihat takut jika tidak pria di hadapannya akan terus mendominasi tubuhnya. "Apa ada kamar mandi?."
"Why?." Mata Axel tak lepas menatap wajah cantik nya.
"Aku ingin buang air kecil."
"Tahan sebentar. aku ingin ini." Mengelus permukaan bibir Calya yang berwarna merah alami.
"Aku seorang dokter dan aku tau menahan buang air kecil bukan lah hal yang baik."
"Ya sudah keluarkan saja kalau begitu, intinya aku ingin ini." Calya mendesah kesal seumur hidup ia tidak pernah bertemu pria keras kepala seperti Axel. cukup membuatnya jengkel.
"Cepat lakukan." Axel pun mencicipi bibir itu lagi. memangutnya beberapa saat. tangan mulai merambat ingin menggerayangi tubuh di bawahnya namun Calya mencegah ia masih memiliki kesadaran penuh. "No Axel!."
Setelah puas mencium ia pun beranjak dari tubuh Calya. "Itu kamar mandinya." Tunjuk nya ke arah dinding putih. ternyata warna dinding dan pintu sama rata sehingga terlihat seperti bukan pintu.
"Aku ini seorang dokter bukan pemuas nafsunya! apa pekerjaan ku sebenarnya huh!." Setelah membasuh wajah Calya pun keluar. ia melihat pria itu duduk di atas ranjang sambil menatap ke arahnya.
"Haruskah kita berada di ruangan ini lagi? tidak bisakah kita keluar tuan Miliarder?."
"Kenapa kau selalu memanggil ku dengan sebutan itu?."
Bola mata Calya memutar. "Aku paling mengingat bagian itu dari mu, kau sendiri yang mengucapkan nya dengan penuh kesombongan."
"Aku tidak sombong, itu adalah fakta."
"Terserah."
Keduanya keluar dari balik rak buku tersebut. Axel menatap paper bag berisi makanan di atas meja, mungkin sudah dingin. "Belum makan dokter?."
"Kau tidak memiliki keluhan penyakit kan?." Calya mengabaikan pertanyaan Axel. ia ingin cepat cepat keluar dari neraka ini.
"Aku tidak sakit."
Axel terus menatap gadis yang tengah berjongkok itu sambil merapikan tasnya. satu hal terlintas di kepala Axel. "Bagaimana tipe pria ideal mu?."
Alis Calya terjengit. "Kau bertanya pada ku?."
"Jangan menyebalkan!."
"Pokoknya yang tidak seperti mu. aku suka bagaimana pun pria, asalkan dia manis. poin pentingnya aku suka pria berseragam."
"Berseragam? polisi? tentara? begitu?."'
Calya mengangguk. "Ya aku suka pria yang berseragam. menurutku mereka keren. mengabdi untuk negara. selain suka tentara dan polisi aku juga suka dokter dan seorang jaksa." Tersenyum manis kepada Axel.
"Kau tidak suka kepada pengusaha? kami juga berseragam."
"Sudah ku katakan aku tidak suka pria yang seperti mu."
"Sial! untuk pertama kalinya aku benci pekerjaan ku."
"Aku bukan nya tidak suka pekerjaan mu, aku tidak suka kau." Untuk pertama kalinya ia di tolak mentah mentah oleh seorang gadis. Axel hanya tersenyum, senyum yang penuh arti. percikan dendam mulai terlihat dari iris matanya namun masih terlihat samar.
__ADS_1