
Hari hari telah di lalui Calya mengurus Axel yang katanya sakit. ini sudah hampir satu Minggu, Calya bisa merasakan bahwa Axel sudah tidak demam namun pria itu kekeh mengatakan bahwa ia masih sakit. Calya duduk di sisi Axel yang sedang mengutak atik laptop, menyuapi nya dengan perasaan jengah.
"Tuan, menurut pengamatan ku anda sudah tidak demam dan---"
"Diam, aku masih sakit!." Calya menghela nafas panjang, selalu saja begitu. mendengar helaan yang terkesan jengkel tersebut Axel tampak mendelik. "Aku benar benar sakit! jika tidak aku pun tak sudih di urus oleh mu!."
"Ya, buka mulut." Menyulangkan sisa terakhir bubur dari dalam mangkuk.
Setelah Calya selesai ia pun beranjak keluar. dari ekor matanya Axel terus memantau. setelah gadis itu benar benar keluar ia pun mendesah kesal membanting laptop nya.
"Kenapa google ini tidak berfungsi! apa dia tidak tau bagaimana caranya membuat orang sehat menjadi demam lagi! aplikasi buruk, bintang satu!." Axel yang kesal pun memberikan rating bintang satu dan menulis di kolom komentar bahwa aplikasi nya sangat sangat buruk hanya karena tak dapat menjawab pertanyaan nya yang terbilang cukup aneh.
Calya berjalan ke taman belakang, ia selalu mengeluarkan keluh kesah nya selama mengurus Axel di sana. belum lagi pria itu terus menuntut nya untuk mengurus 100%. dalam artian, Calya harus menyuapi nya makan dan membantunya memakai pakaian. Calya merasa Axel telah membodoh bodohi nya di sini.
Maniknya melihat seorang pemuda yang belakangan ini terus menerus di siram air oleh teman sesama bodyguard nya. namun herannya pria itu hanya berdiri diam dengan keadaan basah kuyup bibir membiru. ember yang terisi air, berada tepat di atas kepala nya. setiap kali ember tersebut penuh. bodyguard yang lain pun bergerak menarik tali agar air tumpah ke atas kepala pria itu.
"Apa ini pembullyan? kenapa dia bodoh sekali!." Sudah berhari-hari Calya memperhatikan hal itu. seorang pelayan wanita melintas di sana. ia membungkuk hormat kepada Calya.
"Tunggu sebentar." Pelayan tersebut pun berhenti.
"Ada apa dengan bodyguard di sana? kenapa dia terus di siram oleh air?." Pelayan tersebut tampak gugup. ia pun tertunduk dalam.
"Maaf, saya tidak mengerti apa yang nyonya katakan. saya baru mulai mempelajari bahasa Indonesia." Dahi Calya mengerut, dengan terpaksa ia pun menyuruh pelayan tersebut pergi.
"Aneh, bukan kah dia terlalu lancar berbahasa Indonesia untuk seorang pelajar baru?."
Pelayan tersebut bergerak cepat menuju dapur. ia di tarik oleh teman sesama pelayan nya. "Nona berbicara apa pada mu?."
"Astaga jantung ku, nona bertanya apa yang terjadi dengan Pras." Ya bodyguard baru itu bernama Prasetya. para pelayan dan sesama bodyguard biasa memanggilnya Pras.
"Lalu kau menjawab apa?."
"Aku bilang aku tidak mengerti bahasa nyonya." Para pelayan tersebut tampak menghela nafas lega.
"Itu jauh lebih baik, tau kan tuan akan memenggal kepala kita jika memberitahu apa yang terjadi kepada Pras."
Calya berjalan pelan menuju bodyguard bodyguard di sana. tepat saat ia berada di depan Pras ember berisi air itu jatuh. ia pun basah terkena air.
__ADS_1
"Nona!!!." Teriak semua orang yang berada di sana, Nuhan pun turut menjerit.
Mendengar jeritan tersebut manik Pras yang semula tertutup kini terbuka. ia sangat kaget mendapati istri dari tuan nya itu. namun karena tubuhnya yang lemah ia malah terhuyung ke belakang namun sempat di tangkap oleh Calya. bobot tubuh Pras yang jauh lebih berat tak memungkinkan nya untuk menahan akhirnya Pras dan Calya jatuh saling menimpa. orang orang di sana melotot terkejut. sebelum pemandangan itu terlihat oleh mata Axel, nuhan bergegas menarik Pras. memisahkan keduanya.
Pras yang lemah pun jatuh pingsan kedua kalinya. kali ini kepala pria itu jatuh di atas pangkuan Calya membuat orang orang di sana berteriak lagi dan lagi. nuhan melotot, ia buru buru menjauhkan tubuh Pras dari Calya.
Calya berdiri sembari membersihkan bagian pakaian nya yang kotor. ia mendelik tajam melihat bodyguard di sana. "Kenapa kalian membully pria ini!." Orang orang di sana tertunduk dalam, tak ada satu pun yang bersuara.
Axel menggeram kesal tatkala dua kali mendengar teriakan dari bawah. ia yang sudah terlanjur kesal dengan google pun segera berjalan menuju balkon guna melihat apa yang terjadi sehingga orang orang berteriak.
Dari atas ia dapat melihat Calya sedang memarahi beberapa bodyguard nya. sementara anak baru yang mendapat hukuman itu di papah oleh Nuhan. tampak sangat lemas tak mampu menopang tubuhnya untuk berdiri.
Axel diam sembari melihat, manik Nuhan yang tampak gelisah pun kini menatap ke arah balkon kamar Axel. seketika ia menegang, memutuskan tatapan sepihak membuat dahi Axel mengerut.
"Gawat! semenjak kapan tuan di sana." Tutur hati Nuhan yang kian gelisah.
Karena tak ada yang menjawab pernyataan Calya, gadis itu pun memerintahkan kepada Nuhan untuk membawa Pras menuju kamar istirahat nya. sebelum itu masih sempat sempat nya Calya memeriksa tubuh suhu tubuh Pras dengan meraba dahinya. membuat wajah Axel yang datar semakin datar.
Calya memasuki kamar Axel. ia melihat tuannya itu sedang sibuk dengan laptop nya. wajah datar yang terkesan sangat serius itu membuat Calya tak ingin mengusik.
Axel yang sedang mengetik di world tampak terdiam. jemari lentik itu menari di atas keyboard dengan begitu lincah. Axel menulis beberapa kalimat.
Mau apa dia? setelah itu ia menghapus kalimat nya.
Mau ke mana dia? Axel menghapus lagi
Apa harus ku tanya? Axel menghapus lagi.
Aghhh lakukan sesuatu! ia pun berhenti mengetik. kegiatan berpura pura sibuk itu pun terhenti. ia menatap Calya yang akan keluar dari dalam kamar.
"Aku merasa tubuh ku pegal." Axel menggigit bibir bawahnya. setelah itu ia kembali memasang wajah datar.
Calya yang akan menggapai pintu pun berbalik. "Benarkah?." Axel mengangguk kecil.
Mau tak mau Calya menghampiri miliarder angkuh itu. "Bagian mana?." Axel menyentuh punggung nya asal. "Ini."
Dengan lembut Calya memijat nya. "Ada keluhan lain?."
__ADS_1
"Kepala ku pusing."
"Lagi?."
"Aku merasa mata ku perih."
Calya menghela nafas. "Rasa pusing tuan berasal dari itu." Menunjuk laptop Axel yang masih menyala. "Tuan di buat pusing oleh pekerjaan, rasa pegal di tubuh tuan di akibatkan karena anda terlalu lama duduk. sementara perih di mata, karena cahaya laptop yang terus menerus bertubrukan dengan mata anda. cukup jelas?."
Axel terdiam, ia pun mengangguk kecil. "Mau ke mana kau membawa barang barang itu?." menunjuk kotak obat dan stetoskop.
"Ada seorang bodyguard yang sedang sakit." Manik Axel menyipit. "Aku harus mengurusnya."
"Tunggu, harus? apakah menurut mu kata itu kau gunakan dalam kalimat yang benar?."
Calya mengerjabkan matanya. "Ya, karena aku seorang dokter. dia menggigil kedinginan."
"Kau akan mengurusnya sama seperti mengurus ku?."
"Ya." Bukan, bukan artian itu yang Axel tuju. saat ini otak nya berfikir bahwa Calya pun akan memeluk bodyguard itu sama seperti saat kemarin ia memeluk Axel.
Axel membuka kacamata baca nya. "Tidak perlu, aku akan menelpon dokter profesional untuk mengurus bodyguard ku."
"Untuk apa, aku juga dokter. lagi pun akan membuang buang waktu."
"Aku ingin bodyguard ku mendapatkan perawatan yang sempurna dari dokter yang profesional."
Dahi Calya mengerut. "Aku tidak profesional? lalu kenapa tuan meminta ku untuk mengurus penyakit tuan?."
"Kau bilang aku penyakitan!." Axel melotot, Calya memutar bola matanya. "Berani sekali kau!."
"Maafkan aku, kalau begitu segera telpon dokter profesional yang tuan maksud."
Axel mengambil ponsel masih sambil mengoceh. "Bodyguard ku harus di urus oleh dokter terbaik dan jelas. bukan dokter Abal abal seperti mu."
Calya mengepalkan tangannya.
Abal Abal begini aku juga yang mengurus mu iblis!
__ADS_1