
Calya menghentikan kakinya kesal. sebelum memasuki kamar nya bersama iblis itu ia menetralkan nafasnya dan merapihkan rambutnya yang sempat berantakan. Nuhan yang selalu stay di depan pintu kamar pun menatap Nona nya horor.
"Apakah anda kesal kepada tuan?." Tanpa sepengetahuan Nuh Calya memutar bola matanya jengah. sepersekian detik kemudian ia tersenyum lebar.
"Tidak mungkin Nuh, tuan itu sangat menggemaskan mana mungkin aku yang hanya seonggok sampah ini kesal kepadanya kan."
Nuhan mengangguk kecil. "Sebaiknya anda segera masuk." Calya pun langsung masuk sesuai dengan instruksi Nuhan.
Begitu ia melangkah masuk dua manik elang Axel langsung mengikatnya. pria itu tampak tak senang dengan Calya. "Dari mana kau?."
"Aku hanya sebentar---"
"Cih! sebentar kata mu? kau itu dokter yang seharusnya berada di dekat ku 24 jam full tidak boleh pergi ke mana mana." Calya membuang wajah ke belakang kemudian mulai mengata ngatai Axel dengan gerakan bibir tanpa sepengetahuan sang empu tentunya.
"Kenapa kau membuang wajah!."
"Uhukk!." Berpura-pura batuk dan segera menatap Axel yang sudah menatap nya tak bersahabat. "A-aku hanya batuk."
Axel yang terlihat masih berwajah masam pun hanya diam dengan tangan yang terlipat di dada. Calya berfikir dan mulai merangkai kata yang bagus untuk bertanya kepada iblis itu.
"Hmm omong omong anda butuh sesuatu?." Axel membuang wajah nya, terlihat masih sangat kesal. jika tuan Alex Emilio yang kesal mungkin akan terlihat sangat menggemaskan. tapi akan beda cerita jika Axel yang kesal, wajah pemuda itu terlihat menyeramkan dengan telinga yang memerah.
"Nuhan!." Bukan nya menjawab. Axel memilih memanggil sekretaris nya itu. tanpa membuang waktu nuhan pun memasuki kamar dengan wajah bingung. pasalnya raut wajah Axel seolah mengintruksi nya untuk mengucapkan sesuatu.
Setelah lama terdiam dengan kontak mata yang cukup membuat Calya bingung, Nuhan pun mengangguk kecil seakan ia paham apa yang coba tuan nya ucapkan.
"Nona, tuan meminta anda ke sini karena merasa tubuhnya mulai terasa tidak nyaman saat di gerakkan." Calya melotot ia pun beranjak mendekati Axel yang duduk bersandar di kepala ranjang. "Benarkah?."
"Sebaiknya nona memijat tuan, itu adalah saran dari saya." Dengan penuh keberanian Calya menyentuh dahi dan leher Axel berusaha mengecek suhu tubuh nya. sementara pria itu hanya diam mengamati tangan yang dengan tidak sopan meraba raba wajah tampan nya.
"Nuh tapi tuan sudah baik baik saja." Nuhan melirik Axel yang kini menatap Calya. "Tidak, aku merasa tubuh ku lelah."
"Ok. Anda butuh apa?."
"Aku menyetujui saran dari Nuhan. kesehatan ku adalah yang utama." Calya tersenyum dengan sangat terpaksa.
"Ya tuan, anda harus segera sehat."
"Ganti satu kata mu, ubah kalimat itu. jangan gunakan segera, telinga ku sakit mendengar nya. kau bisa menggunakan kata selalu di sana."
"Ya tuan anda harus selalu sehat." Ucap Calya mengulangi.
"Bagus."
Calya mulai duduk di sisi Axel. "Bagian mana yang terasa pegal?." Axel menunjuk bahu dan kakinya. dengan malas Calya pun memijat bahu pria itu, Axel tidur tengkurap sementara Nuh sudah keluar sesuai dengan instruksi Axel.
"Apa anda benar benar sakit?." Calya merasa Axel ini semakin kesana semakin kesini. ucapnya terkadang tak bisa di percaya.
"Hmmm."
"Tapi anda terlihat sehat." Axel tak menanggapi kalimat selanjutnya. ia hanya diam menikmati pijatan di bahunya.
"Bisa tuan membuka baju tuan?."
"Aku tau tubuh ku sangat bagus, tapi kau harus tau diri jangan selalu mencuri curi kesempatan begitu." Ujarnya dengan suara rendah yang penuh dengan percaya diri. Calya menjulurkan lidahnya mengejek tanpa sepengetahuan Axel.
"Aku hanya ingin menyapukan minyak ini ke tubuh anda."
__ADS_1
"Alasan." Tutur Axel, ia membalikkan tubuh nya menjadi telentang dengan mata yang tertutup rapat. Calya bingung ia harus apa.
"Kenapa kau diam?." Axel membuka matanya dan memperhatikan Calya yang turut terdiam. "Katamu aku harus membuka baju, buka saja sendiri."
oh sialan! kenapa dia seperti itu!
"Tak seharusnya kau gugup, awal kau bertemu dengan ku saja kau dengan berani mencium ku. aku tau diriku sangat mempesona."
kenapa dia membahas masalah itu!
"Aku mencium anda tanpa sadar, sedang mabuk waktu itu."
"Orang mabuk masih sempat mengucapkan kata maaf dan mengusap bibir ku dengan tisu? mustahil. katakan saja jika kau tergoda dengan ketampanan ku."
kenapa mulut sialan itu tak bisa berhenti bicara huh!
"Wajar bila aku gugup, tuan menentang keras untuk bersentuhan dengan ku sebelum nya."
"Karena sentuhan mu mampu merusak kualitas tubuh ku yang sempurna." Calya berusaha untuk tak mengindahkan perkataan Axel.
Mata Axel kembali tertutup. Calya menelan ludah susah payah, ini bukan kali pertama ia melihat tubuh Axel tapi rasanya sangat gugup.
fokus Calya! buka saja kenapa kau ragu! dia bukan pasien pertama mu, ayolah!
Dengan penuh hari hati Calya membuka kancing Axel satu persatu. "Jangan mencuri kesempatan di saat aku lengah." Tutur Axel rendah.
"Aku cukup tau diri untuk tidak berbuat seperti itu tuan." Setelah kancing kemeja itu terbuka sempurna Calya memerintahkan Axel untuk kembali tengkurap. pria itu menurut saja.
Calya menyapukan minyak di atas tubuh Axel memijat nya dengan pelan penuh dengan perasaan.
"Apa tangan mu itu hasil dari kerajinan sampah organik? letoy sekali tak bertenaga!." Ujarnya membuat emosi Calya terpancing. rasanya sangat ingin memukul Axel yang sedang tak berdaya di depan nya namun ia tak berani.
Axel diam tak menanggapinya. mengingat soal perjanjian itu sepertinya sudah saat nya Calya menagih informasi tentang ayahnya, kan.
"Tuan bagaimana kabar ayah ku?."
"Tidak tau."
Mendengar jawaban enteng itu dahi Calya mengerut. "Tuan bukan kah anda sudah berjanji untuk memberitahu kan nya?."
"Oh ya bukan nya kau juga sudah berjanji untuk menemui ku setelah pekerjaan mu itu usai di parkiran rumah sakit waktu itu? kau ingat? bisa bisanya kau membuat orang penting seperti ku menunggu seonggok sampah seperti mu."
Calya mengerutkan bibirnya, kejadian itu sudah berangsur lama tapi kenapa dia terus mengingat nya. "Astaga tuan itu sudah sangat lama, kenapa anda sangat pendendam."
"Lama atau tidaknya yang penting aku mengingat kejadian itu!."
Dasar pendendam!
"Tuan." Rengeknya kecil sambil memijat bahu Axel.
"Sutt itu terdengar menjijikkan di telinga ku!."
dasar batu menyebalkan! kenapa hati mu itu sangat sulit untuk di ketuk! ke mana hilang nya rasa iba mu sebenarnya huh!.
Calya tetap memijat bahu Axel dengan perasaan yang campur aduk. Axel tak lagi berbicara setelah mengucapkan kalimat tadi. "Cukup, sekarang pijat kaki ku." Walaupun sedang kesal Calya hanya menurut saja.
Melihat budaknya yang bersikap patuh Axel tersenyum tipis. "Bagaimana bisa aku mengetahui informasi tentang ayah mu sementara aku bahkan selalu berada di mansion ini." Calya hanya diam dengan raut wajah yang masih sama.
__ADS_1
"Kau bisu huh!."
"Anda sudah sembuh dari sakit."
Manik Axel yang semula terpejam kini terbuka. menatap Calya dengan tatapan sinis nya. "Kau selalu mengatakan hal itu, yakin jika aku sudah sangat sembuh?."
"Ya anda sudah sepenuhnya sembuh."
"Ku harap kau tidak menyesali perkataan mu."
Calya mengangguk penuh percaya diri. "Anda benar benar sudah sehat tuan."
Axel menaikkan kedua kakinya di atas pangkuan Calya. "Oh ya? kalau begitu bukan kah aku harus menyiksa mu lagi?."
"Maksud tuan?."
"Bukankah setelah aku sehat syarat syarat konyol yang kau buat sebelumnya musnah?." Calya berfikir sejenak setelah mengerti ke arah mana percakapan itu tertuju ia pun melotot lebar. tangan nya kembali bekerja memijat kaki Axel.
"Sepertinya aku keliru, anda belum sehat tubuh anda masih sakit." Tuturnya cepat.ia benar benar belum siap menerima sifat kejam Axel lagi.
"Tidak! aku percaya bahwa aku sudah sangat sehat." Axel dengan sengaja menarik kakinya dari pangkuan Calya. ia berjalan tanpa pakaian atas di buntuti oleh Calya di belakang nya.
"Tuan sungguh anda belum pulih! percayalah tuan."
"Tidak, aku sudah sehat."
"tuan anda belum sehat!."
Mendengar perdebatan keduanya Nuhan terbingung. karena Axel berhenti mendadak otomatis Calya menabrak punggungnya. tanpa menghiraukan ringisan yang keluar dari bibir Calya, Axel menegur Nuhan. "Dari mana kau Nuh?."
"Saya baru saja memeriksa anak baru yang sakit tempo hari."
"Ada apa?." Axel melirik Calya di sela sela berbicara nya, ia melihat gadis itu sedang misuh misuh di tempat.
"Kata dokter perubahan cuaca di kota ini menghambat kesembuhan nya tuan. saya baru ingin meminta izin untuk memulangkan nya ke tanah air."
Axel mengangguk dengan senyum miring yang tercetak jelas. "Kalau begitu bawa dia bersama mu, pulangkan dia karna aku sudah pulih." Calya melotot.
"Tidak, jangan dengarkan tuan mu Nuh, dia sepenuhnya belum pulih."
"Kau sendiri yang bilang bahwa pasien mu ini sungguh sudah sehat dokter."
"Aku hanya keliru."
"Aku sehat." Tutur Axel dan berjalan masuk ke dalam ruang kerjanya. nuhan menatap Calya yang menampilkan wajah melas.
"Nuh aku tidak di pulagkan kan?."
"Saya akan mengikuti perintah tuan."
Tubuh Calya langsung lemas setelah kepergian Nuhan yang menyusul Axel. begitu menutup pintu rapat Axel menatap nya.
"Nona benar akan pulang tuan?."
"Ya."
"Kalau begitu--"
__ADS_1
Axel memutar bola matanya jengah. "Ya artinya tidak Nuh!."