
Setelah kejadian perdebatan tempo lalu mengenai sakit atau sembuh nya Axel kini rombongan mereka sudah kembali ke tanah air karena tugas Axel sudah selesai. akibat perdebatan sebelumnya Calya menggiring opini agar kiranya Axel memberikan kompensasi agar tak seharusnya menganiaya Calya setelah ia sembuh.
Lewat perantara Nuhan Axel menyetujui. akan tetapi Calya harus bersikap baik dan mengurus Axel seperti ketika ia sakit. otomatis Calya bertanya mengenai kebijakan Axel yang melarang nya untuk bersentuhan. Nuhan tak menjelaskan banyak ia hanya berkata jika selama suasana hati Axel tenang tak ada yang perlu di cemaskan.
Walaupun jawaban itu tak memuaskan Calya tapi ia hanya menarik kesimpulan bahwa Axel membolehkan nya untuk bersentuhan di saat saat tertentu saja. bukan berarti Calya boleh menyentuh nya dengan gerakan bebas.
Tepat pukul 5 pagi Calya berangkat menuju rumah sakit tempat nya bekerja. satu Minggu ini ia akan mendapatkan hukuman akibat mengambil cuti sesuka hati. ia baru mendapat kabar kemarin, bahwa ia harus menggantikan posisi kebersihan selama satu Minggu. seminggu ini Calya harus bersih bersih rumah sakit sendiri, itu adalah hukuman dari perawat senior nya.
Ia berangkat sepagi mungkin karena jarak mansion dan rumah sakit cukup jauh. tak ada niatan sedikit pun baginya untuk memberitahu Axel karena tampak sekali pria itu tertidur pulas. lagi pun Axel tak akan menerima informasi tak penting dari dirinya yang hanya seonggok sampah ini.
Cahaya matahari masuk lewat celah tirai, membuat Axel terganggu. ia pun mengucek matanya sambil meraba kasur di sisinya. tak ada sesiapa pun di sana. ia sadar mereka sudah tidak tidur satu ranjang lagi setelah sampai di tanah air. dengan berat hati Axel pun membuka mata, menatap sekitar yang sudah rapih. tidak ada Calya di sana membuat nya terheran.
Axel beranjak menuju pintu kamar, membuka dan melihat Nuhan sudah berdiri di sana dengan pakaian rapih. Axel menggaruk belakang kepalanya. bingung harus mengucapkan apa.
"Dari kapan kau berdiri di situ?."
"Tidak lama tuan." Axel mengangguk paham.
Axel diam dan menutup pintu, ia sangat gengsi untuk bertanya soal Calya kepada Nuhan walaupun ia sadar Nuhan sudah mencurigai gelagatnya akhir akhir ini.
"Ke mana perginya dia sepagi ini?."
Axel mengambil handuk dan beranjak mandi. tampak lantai kamar mandinya kering pertanda bahwa tidak ada sesiapa pun yang menggunakan nya. masih dalam keadaan berfikir Axel menyelesaikan mandinya.
Manik mata Axel teralihkan saat melihat pakaian kantor di atas nakas. ia pun beranjak ke sana. apa Calya yang menaruh nya? sepertinya iya. namun Axel tak pernah memakai pakaian yang dipilih kan oleh Calya ia selalu menyimpan kembali setelan itu ke dalam lemari dan menggunakan yang lain. menempatkan pakaian nya di tempat khusus. nanti setelah dua Minggu berlalu baru ia menggunakan pakaian yang di pilihkan oleh Calya.
Matahari mulai naik tinggi ke atas langit. Calya baru saja selesai dengan pekerjaan nya. ia pun berjalan menuju kantin rumah sakit. tanpa sengaja ia menyenggol seseorang membuat barang yang berada di tangan orang itu terjatuh.
"Maafkan aku." Ia pun menunduk memungut barangnya.
"Calya?." Merasa terpanggil ia pun mendongak, begitu terkejutnya ia hingga termangu beberapa saat.
"Pamela, oh astaga aku merindukan mu." Keduanya saling berpelukan.
"Ke mana saja kau selama ini huh!." Tanya Pamela yang terdengar seperti amukan di telinga Calya.
"Banyak yang sudah terjadi kepada ku Pamela."
"Termasuk dengan pernikahan mu dengan miliarder muda bernama Axel Devo Emilio?." Ujarnya dengan bola mata yang berputar. sontak Calya melotot, ia tidak menyangka Pamela mengetahui hal itu.
"Kau? dari mana?."
"Aku butuh penjelasan dari mu! kenapa kau bisa menikah dengan nya padahal beberapa hari sebelum itu kau mengatakan tak tertarik dengan pria itu! kau menganggap pernikahan ini lelucon huh!."
"Jangan cerewet begitu! ayo ke kantin akan ku jelaskan semuanya!."
Pamela menurut saja di tarik tarik oleh Calya. setelah mereka duduk di salah satu bangku Pamela menghela nafas berat. "Kenapa suami mu itu membiarkan mu bekerja di rumah sakit pinggir kota begini, dan apa apaan kau menggunakan pakaian perawat? ayolah Calya aku selalu bangga dengan gelar dokter mu. bagaimana mungkin kau menjual gelar dokter mu dan menjadi perawat seperti ini."
"Tolong biarkan aku menjelaskan satu persatu Pamela."
__ADS_1
"Omong omong kemana kau akhir akhir ini? ini adalah kali ke 8 aku datang untuk mencari mu."
"Biar ku ceritakan kronologi nya hingga selesai, aku ingin kau menjadi pendengar yang baik." Pamela pun mengangguk.
Calya mulai menceritakan awal awalnya bertemu dengan Axel hingga terjebak dan menikah dengan nya. semua Calya jabarkan tanpa ada satu pun yang terpotong. tampak Pamela menghela nafas iba.
"Aku kasihan dengan mu."
"Beri aku solusi untuk lepas dari nya Pamela, aku benar-benar tertekan."
"Bagaimana mungkin, ayahmu saja ada di tangannya."
"Aku benar benar hampir meninggal memikirkan kehidupan ku." Calya membenturkan kepalanya ke meja kantin.
"Dari pada berfikir untuk lepas kenapa kau tak mencari ide untuk menetap saja?."
Calya mengangkat wajahnya yang suram. "Maksud mu?."
"Jadilah istri kesayangan nya, dunia dan seisinya pun akan kau dapatkan."
Calya tertawa renyah. "Tidak mungkin, itu mustahil Pamela. kau fikir pria batu itu akan luluh dengan ku? setiap hari dia menghina ku. aku ini hanya seonggok sampah di mata nya jika kau tau."
"Kau itu cantik dan mempesona, bersikap sedikit nakal kepadanya mungkin dia akan luluh." Tutur Pamela tenang seolah sudah di atur dari sekian lama.
"Ck, itu terlalu menjijikkan Pamela."
"Aku serius, pria mudah luluh ketika mendapat kasih sayang yang berlebih."
Pamela tertawa mendengar nya, tampak sekali bahwa Calya tertekan dengan suaminya itu. "Aku menantang mu."
"Aku benci tantangan, kau lihat Karna tantangan Luke si keparat itu aku jadi terjebak dengan generasi Emilio."
"Hei dari pada terus mengeluh seperti itu lebih baik kau bersyukur. kau begitu dekat dengan pintu kekayaan."
"Aku tersiksa Pamela."
Pamela memajukan wajahnya. "Lalu kau ingin kabur?."
Calya mengangguk. "Aku ingin kabur ke Singapura untuk mengambil ayah ku. tapi aku tidak punya uang untuk membeli tiket."
Pamela tersenyum misterius. "Jika kau berhasil meluluhkan hati Axel Devo Emilio aku bersedia untuk membelikan mu tiket pergi ke Singapura."
Calya memukul sahabatnya itu. "Jangan macam macam Pamela, kau tau kan alasan nya menikahi ku karna nyonya Ingrid suka kepada ku. kau fikir keluarga Emilio itu keluarga biasa biasa saja? dia bisa dengan mudah menemukan ku di mana pun aku bersembunyi. dan jangan pernah lupa kan bahwa tuan Alex akan selalu mewujudkan keinginan istrinya. jadi apa pun perintah nyonya Ingrid tuan Alex akan mewujudkan nya walaupun itu di luar nalar."
"Maka dari itu aku akan meminta bantuan dengan kenalan ku yang tak kalah berkuasanya dari keluarga Emilio untuk menyembunyikan kau dan ayah mu. setelah beberapa tahun menghilang mungkin Axel akan melupakan mu. lagipula apakah kau sepenting itu di matanya sehingga dia harus mencari mu? lagi pula alasan klise tentang ibunya menyukai mu itu terlalu kuno, seorang ibu tidak mungkin memaksa putra nya bertahan dengan wanita yang tidak ia cinta. mau sampai kapan miliarder muda itu terus patuh huh?."
"Benar, kau benar!." Manik Calya berbinar. ia sangat menyetujui ucapan Pamela.
"Terima tantangan ku kalau begitu."
__ADS_1
"Untuk apa membuat nya luluh pada ku huh? itu merepotkan."
"Aku butuh hiburan, menghabiskan banyak uang untuk mu tanpa ada balasan tentu aku rugi. lagi pula kau harus membangun kepercayaan dalam dirinya agar dia tak menghambat kaki mu melangkah ke mana pun."
Calya mengangguk setuju. "Kau benar, kau pandai! tapi aku tidak bisa menggoda nya Pamela. aku tidak senakal itu."
"Aku bisa mengajari mu. ikuti saja instruksi dari ku setelah nya kau akan mengalir dengan situasi yang telah kau bangun."
"Apa itu mungkin?."
"Kenapa tidak? kau cantik, kau berhasil membuat nya membalas ciuman mu, kau seorang dokter yang penuh dengan pesona. membuat seorang Axel tergila gila oleh mu adalah perkara mudah seharusnya."
"Kau yakin dia akan sampai di tahap tergila gila dengan ku? dia itu berbeda Pamela."
"Aku percaya pada mu, 110% bagaimana?."
Calya menyipitkan matanya. "Ok, akan ku jalani."
Pamela menggeleng. "Semangat itu penting, yang kau guncang bukan pria biasa tapi pria yang bisa mengguncang dunia tempat kita tinggal."
Calya mengedipkan mata. "Aku mengerti, aku akan membuat nya luluh."
"Begitu yang ku mau."
Setelah pertemuan singkat itu berlangsung Calya pamit undur diri karena jam istirahat nya telah selesai. Pamela hanya mengangguk. setelah kepergian Calya ia pun menelpon seseorang.
"Halo nyonya."
"Ada kabar baik?."
"Terlihat keberhasilan sudah berada di titik 50%."
"Bagus, terus pengaruhi dia. kita akan melihat bagaimana indahnya kisah cinta itu berlangsung."
"Nyonya apa tuan muda akan luluh dengan mudah?."
"Tidak mungkin, Axel itu tipe berbeda, dia sangat gengsian egonya sangat tinggi."
"Benarkan, aku sedikit gusar."
"Tidak apa, semua lelaki tidak akan tahan dengan godaan. ku harap Axel juga begitu. kita harus mengubah Calya senakal mungkin."
"Ya nyonya walaupun tidak yakin, saya pun berharap begitu."
"Kau harus terus mengabari ku Pamela tentang apa pun yang Calya katakan. biar aku mudah untuk memberikan masukan."
"Tentu nyonya."
"Pastikan tidak ada yang curiga, ini rahasia antara aku, kau dan nyonya besar. jangan sampai nyonya Ingrid tau mengenai ini. mengerti?."
__ADS_1
"Mengerti nyonya."