Tuan Miliarder

Tuan Miliarder
Salah paham


__ADS_3

Pagi yang cerah di awali Calya dengan tersenyum penuh. ya, ia tau tak seharusnya kini ia tersenyum. akan banyak rintangan yang akan ia hadapi. tak lama kemudian terdengar suara pintu di ketuk beberapa kali. ia pun beranjak dengan malas.


"Selamat pagi nona." Ternyata itu adalah Nuhan.


"Pagi." Calya celingak-celinguk mencari iblis yang menikahinya kemarin.


"Hmm nona sebaiknya anda segera masuk ke kamar tuan."


Dahinya mengerut, ia sangat ingat dengan jelas bahwa Axel tidak ingin 'dia' si orang asing masuk ke dalam kamar itu. lantas?


"Maaf, tapi aku tidak diizinkan untuk masuk ke sana."


"Tapi tuan yang--"


Pintu kamar Axel tiba tiba terbuka, menampilkan wajah datar pria itu yang terkesan sangat sangat angkuh. "Tidak bisakah kau langsung masuk!."


"Apa! kaki ku sudah bersepakat untuk tidak melewati ambang pintu kamar mu." calya menjawab dengan tidak santainya seakan akan ia sedang menantang Axel.


"Kau boleh pergi!." Tutur Axel kepada nuhan yang terlihat tidak nyaman dengan pertengkaran itu. manik Axel tidak lepas menatap calya yang berada di depan nya.


"Masuk atau kau tidak akan pernah melihat ayah mu!."


Axel sialan!


Dengan terpaksa Calya pun masuk ke dalam sana. begitu keduanya masuk Axel memerintahkan nya untuk naik ke atas ranjang. Calya sangat terkagum kamar Axel sangat sangat rapih, berbeda dengan kamar pria pada umumnya.


"Buka pakaian atas mu!." Tuturnya menekan membuat Calya melotot, apa apaan dia!


"Apa!."


"Lakukan!."


"Tidak! aku tidak mau!."


"Kau buka atau aku yang akan membukanya!." Axel terus memberikan tatapan tajam kepada Calya namun tak membuat gadis itu ciut, ia tetap kukuh pada keputusan nya.


"Tidak akan! aku ingin kembali ke kamar ku!." Axel melirik jam, waktunya sudah menipis. akhirnya dengan keras ia menarik Calya menindihinya dengan paksa.


"Dasar mesum! apa yang ingin kau lakukan! menyingkir!." Axel tak memperdulikan ucapan Calya ia fokus dengan apa yang ia ingin lakukan.


"Sudah ku katakan tidak ada yang bisa menolak perintah ku! termasuk kau!." Dengan santai Axel membuka kancing piama tidur Calya sebelah tangan nya menahan kedua tangan Calya di atas kepala agar tidak memberontak.


Tenaga gadis itu sudah habis ia membenci pria yang berada di atas nya. merasa sangat sangat di lecehkan oleh Axel. Calya membuang wajah, ia tak ingin menatap wajah Axel yang berada dekat dengan nya. manik tajam itu dapat melihat ada cairan bening yang mengalir dari sudut mata Calya. Axel tetap diam. ia melepaskan piama tersebut dari tubuh Calya, kini gadis itu hanya memakai dalam saja untuk atasan.

__ADS_1


Axel tetap diam tanpa memberikan penjelasan apa pun. ia juga turut melepaskan kemeja yang ia kenakan. membuang nya ke atas lantai dengan sembarangan. menarik Calya lebih dekat dengan tubuh nya kemudian pria itu menutupi tubuh bagian atas keduanya dengan selimut.


"Pejamkan mata mu!." lagi lagi hanya perintah yang keluar dari mulut nya. ia menarik kepala Calya agar bersembunyi di dadanya. ia mengelus surai gadis itu lembut.


Brakkk!!!


Pintu kamar di dobrak dari luar, baru saja Calya akan melihat namun Axel menekan kepala nya agar tetap diam. kedua wanita Emilio itu berdiri di ambang pintu dengan senyum manis. mereka turut berbahagia dengan apa yang mereka lihat. ya siapa lagi kalau bukan hany dan Ingrid. mereka adalah alasan Axel melakukan hal itu.


"Tidak bisakah oma dan mom masuk lebih pelan? istriku baru saja tidur 45 menit yang lalu."


Keduanya tersenyum misterius. "Jika di lihat lihat kondisi kamar mu yang jauh dari kata rapih ini aku menarik kesimpulan telah terjadi perang di sini."


"Seperti yang oma lihat."


"Apa menantu muda Oma sedang tertidur pulas?." Axel mengangguk singkat. "Ya, maka jangan buat keributan, itu dapat menggangu nya. dia belum tidur dari kemarin."


"Baiklah. menantu sepertinya kita akan kembali besok, menantu termuda akan mulai melakukan tugas nya dan mengingat segala hal tentang suami nya besok. kita harus membiarkan nya waktu untuk beristirahat."


"Hmm aku setuju mom." Ujar Ingrid dan segera keluar namun sebelum itu ia menatap Axel. "Kau tidak momy izinkan untuk kekantor hari ini! biar dad yang akan menghandle urusan kantor. kau bebas selama satu bulan kedepan. aturlah waktu mu untuk berbulan madu dengan calya."


"Hmm terimakasih, aku mencintaimu momy."


Setelah pintu kamar tertutup rapat, Axel menjauhkan tubuhnya dari Calya. tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia beranjak ke kamar mandi. membuat gadis itu terheran. ia pun segera memakai pakaian nya kembali namun tetap berada di atas ranjang.


"Karena kau tidak meminta ku untuk pergi!." Dari nada bicara nya Axel dapat menebak bahwa gadis itu masih terbawa kesal dengan hal yang ia lakukan tadi.


"Apakah harus ku panggilkan satpam untuk menyeret mu keluar dari kamar ku?."


"Tidak perlu." Calya pun bergegas keluar dari sana dengan kesal.


"Satu hal yang perlu kau hapus dari otak bodoh mu itu, hilang kan pikiran pikiran kotor seperti itu aku tidak bernafsu dengan tubuh mu yang datar."


"Oh!."


"Dasar sialan, dia punya mulut tapi tidak berfungsi dengan baik. sekali nya berucap hanya untuk mencaci dan memerintah. apa susahnya menjelaskan bahwa nyonya akan datang pagi ini, membuatku kesal saja!." Gumam Calya yang masih dapat didengar oleh telinga Axel.


Sesaat setelah Calya keluar kepala pelayan dan beberapa pelayan datang dengan membawa selimut serta seprai baru. dahi Calya mengerut.


"Pagi nona." Sapa bibi Moa dengan sopan.


"Pagi, hmm ada apa repot repot seperti ini."


"Tuan meminta ku untuk mengganti seprai dan selimut nya."

__ADS_1


Dahi Calya semakin mengerut, jika di ingat kembali tidak ada noda kotor di sana. "Tuan mengatakan bahwa seprai dan selimut nya telah menjadi sampah yang harus di daur ulang."


Oh sial, Calya kini menyadari. Axel selalu mengatakan jika seluruh ornamen pada tubuhnya mampu menurunkan harga suatu barang.


Beberapa waktu berlalu, Calya sedang duduk di meja kecil di sudut ruang makan. Axel tidak ingin berbagi meja makan dengan nya jadilah pria itu membeli sebuah bangku dan meja khusus untuk Calya pakai.


Calya melirik sekilas, sepertinya si angkuh itu sudah selesai makan. "Aku menekankan sekali lagi, tidak ada kata tembok pun bisa berbicara di tempat ini. aku harap apa pun yang kalian dengar, apa pun yang kalian ketahui tidak sampai ke telinga momy dan Oma. ku peringatkan siapa pun yang berada di mansion ini!."


"Baik tuan."


"Nuh, siapkan mobil kita akan berangkat."


Axel dan Nuhan pergi begitu saja, Calya pun tak terlalu menghiraukan keduanya. mobil berjalan menuju kantor, walaupun mom telah mengatakan bahwa ia tidak perlu masuk hari ini namun yang namanya penggila kerja tetap saja akan datang.


Kaki jenjang itu memasuki kantor tempat nya bersemayam sepanjang hari. telah duduk di sana Alex dengan senyum misterius nya. "Kau tidak akan selamat jika momy tau kebohongan mu."


"Tentang bekerja hari ini?."


Alex tertawa remeh. "Kau pikir Daddy mu bodoh? aku tau apa pun yang sedang kau sembunyikan." Berjalan mendekati Axel yang kini sedang terduduk di atas sofa.


"Kau menikahinya karena momy mu menyukai gadis itu bukan?."


"Nuhan mengadu?."


Alex menggeleng. "Selain momy aku adalah orang yang paling mengerti kau. sorot mata mu sudah cukup menjelaskan semuanya. itu bukan tatapan cinta dan daddy paham itu."


"Ku harap Daddy tidak mengacaukan aku."


"Kau tidak berencana untuk mencintai gadis yang kau nikahi?."


"Tidak sedikit pun!."


"Ok, sejauh yang ku kenal Axel tidak pernah menjilat ludahnya sendiri. kalau begitu buktikan juga, bahwa kau akan bertahan tanpa ada rasa cinta."


"Hmm." Axel mengangguk kecil.


"Pria sejati adalah pria yang mampu memegang kata katanya."


"Memangnya kenapa? Daddy pernah gagal menjadi pria sejati?."


"Ya, dahulu aku tidak berniat untuk mencintai momy seperti kau yang tidak ingin mencintai istri mu. tapi aku melanggar batasan yang sudah ku buat dan aku tidak bisa mengelak dari perasaan itu. pernikahan tidak terlalu buruk untuk di nikmati Ax."


"Aku tidak seperti daddy." Alex tersenyum dan mengangguk kecil.

__ADS_1


__ADS_2