Tuan Miliarder

Tuan Miliarder
Keputusan


__ADS_3

Ingrid duduk di tepi ranjang dengan wajah kesalnya. ia tengah menunggu Alex masuk. setelah makan malam tadi ia tak lagi kembali. setelah berbicara kepada Axel. Ingrid memutuskan untuk pulang dan memberikan pelajaran kepada suaminya itu.


Handle pintu di tarik, masuk lah Alex ke dalam ia di sambut dengan tatapan menusuk dari istrinya. "Sayang~~."


"Diam! aku benar benar tidak suka mendengar keputusan momy mu! aku diam dan mencoba untuk tidak marah sebab aku masih menghargai nya. aku juga menyayanginya. tetapi mengapa dia bisa mengambil keputusan yang bahkan aku pun tidak pernah memutuskan untuk mengambilnya!."


"Ya aku tau... suttt jangan marah begitu. kita selesai kan dengan kepala dingin ok."


"Aku tidak bisa! dan kau apa hak mu memutuskan hal seperti itu untuk putra ku! aku benar benar tidak suka ya. kau tidak lihat tatapan kecewa dari putra mu itu huh! tidak seorang pun di antara kita yang berhak untuk mengambil keputusan persoalan masa depan Axel, putra ku bukan balita yang tidak bisa menentukan pilihan nya sendiri!."


"Ya, ya aku tau sayang." Alex mencoba untuk menenangkan ingrid yang terlihat berapi api.


"Kau mengatakan bahwa kau tau! tapi tindakan mu tak mencerminkan seperti itu! dengar ini sebelum momy menarik keputusan nya maka aku tidak akan berbicara kepada mu. bisa bisanya kau mengacaukan putra ku!."


"Ah aku minta maaf, sebelum nya juga aku sudah menyarankan kepada momy agar berkonsultasi kepada mu tapi dia bilang kau pasti setuju."


"Lalu kenapa kau tetap bungkam? setidaknya jika kau berbicara aku tak akan datang malam ini dan aku akan meminta Axel untuk berdiam diri di rumah!."


"Aku tidak tau akan menjadi seperti ini. tolong jangan marah, aku menyesalinya. ku mohon." Alex menyentuh kedua telinganya membuat Ingrid menghela nafas panjang.


"Aku tidak suka putra ku mengalami pernikahan yang sama seperti kita. biarkan Axel memilih gadis mana yang ia cintai untuk di jadikan seorang istri. kau mengerti?."


"Ya aku mengerti. nanti akan ku katakan kepada momy agar menarik keputusan nya."


Felisiya yang mendengar pertengkaran orang tua nya duduk gelisah di tangga teratas. ia menatap pintu kamar orang tuanya dengan tatapan sedih, sebenarnya apa yang terjadi. ia terus bertanya tanya.


Hingga saat pintu utama terlihat di buka. muncul lah Axel dengan rambut acak-acakan. lisiya segera menghampiri kakak nya itu. "Kak Axel." satu alis Axel terangkat.


"Ada apa dengan momy dan dad?."


Manik Axel menatap ke pintu kamar orang tuanya. "Apa yang kau lihat?."


"Aku mendengar momy marah kepada Daddy, apa terjadi sesuatu sehingga momy marah besar?."


"Sepertinya. kau anak kecil tidak perlu ikut campur. urus saja masalah gaun gaun di butik mu." Setelah nya Axel masuk kedalam kamar nya membuat Felisiya berdecak kesal.


"Dasar makhluk aneh menyebalkan." Tuturnya.


Paginya terlihat Axel sedang duduk di meja makan melahap sepotong roti yang di berikan oleh momy nya. "Momy tidak perlu marah lagi kepada dad." Sontak perkataan itu membuat Alex dan Felisiya menatap sang empu.


"Bukan kah kau tidak suka?."


"Ya tidak suka! nanti aku akan menemui Oma. aku ingin mengatakan sesuatu."


"Ya pergilah."


"Aku ingin mengatakan, Oma momy atau siapa pun tak perlu mengkhawatirkan masa depan ku. aku sudah punya calon dan akan menikah bulan depan." Seluruh orang terkejut termasuk Ingrid sendiri.


"Dengan siapa?." Mereka bertanya serentak membuat Axel memicingkan mata nya.


"Tentu gadis pilihan ku. aku tidak marah kepada Oma, aku marah karena aku sudah memiliki pacar sementara Oma menjodohkan ku dengan gadis jelek yang membuat ku tak berselera."


Ingrid menatap Axel menuntut. "Dengan siapa Axel ku ini akan menikah? gadis yang mana? aku bahkan tidak pernah mendengar gosip tentang diri mu yang sedang berdekatan dengan seorang gadis."


"Momy tidak tau saja, aku punya dan kami sudah sepakat untuk menikah."


"Apakah dia Cantik?." Pertanyaan lisiya membuat Axel berdecih.


"Setidak nya lebih lumayan dari pada gadis yang Oma tawarkan."


Ingrid dan yang lain masih begitu penasaran akan siapakah gadis yang ingin Axel nikahi. "momy tenang saja, aku menikahi gadis yang momy suka. ku jamin momy akan tertawa bahagia di hari pernikahan ku." setelah mengucapkan hal itu Axel beranjak pergi.


Felisiya, Alex dan Ingrid sedang duduk dan bertukar fikiran. siapa gadis yang mampu mencuri perhatian pria datar itu?


Karena begitu penasaran ingrid memutuskan untuk pergi mengunjungi kantor putra nya seorang diri. ia duduk di depan Axel yang terlihat mengulas senyum.


"Why momy?."

__ADS_1


"Kau tidak ingin bercerita?."


"Momy ingin mengetahui hal apa?."


"Siapa gadis yang akan kau nikahi? apa gadis cantik yang kau bilang tempo lalu ketika mabuk?."


Alis Axel terangkat. "Aku mengatakan nya cantik? momy yakin?." Ingrid mengangguk.


"CK ck." Axel berdecih pelan.


"Katakan Axel."


"Aku akan menikahi Calya Ainsley Paolo, dokter yang mengobati momy waktu itu. dia sahabat Felisiya." mata Ingrid berbinar. "Benarkah? kau bersungguh sungguh?."


"Begitu ingin nya momy memiliki menantu seperti dia? hahaha tentu aku tidak berbohong."


"Oh Axel kau tidak pernah salah dalam memilih."


"Tentu."


"Di mana gadis itu sekarang?."


Ia terdiam lama. "Di suatu tempat, mengapa?."


"Momy ingin bertemu dengan nya."


"Sorry momy, dia dalam masa pingitan tidak boleh bertemu oleh siapa pun."


Axel memasuki mansion di mana Calya di kurung. gadis itu terlihat sedang duduk termenung di meja makan. "Akan ku kabulkan apa pun permintaan momy, walau pun itu harus memaksa mu!." Gumam Axel ketika mendapati Calya.


Ia duduk di sofa. "Budak! kemari!." Calya menghela nafas. ia datang dengan kepala menunduk. "Ya tuan."


"Duduk." Gadis itu pun bersimpuh di atas lantai. menunggu kalimat yang akan keluar dari bibir Axel.


"Kau bisa memainkan peran? oh tidak perlu di tanya kau kan penuh dengan drama." Calya merengut sebal.


Mata Axel terpicing rapat. Calya yang sudah terlanjur kesal mengepalkan tangannya dan melakukan gerakan seperti ia sedang memukul mukul wajah pria itu.


"Ku ingatkan tangan mu mampu membuat benda berharga menjadi sampah. jauhkan tangan murah mu itu dari tubuh ku, aku benar benar harus mandi di kolam emas untuk mengembalikan kadar kesempurnaan ku." Tutur Axel dengan mata yang masih terpejam. Calya benar benar kesal terhadap pria itu. dalam tidur sekalipun ia masih mampu melontarkan kalimat kalimat yang menyebalkan.


"Tidak ada yang ingin menyentuh anda dan barang barang berharga milik anda tuan." Gumam Calya pelan.


"Oh ya? haruskah aku mengecek cctv dan membunuh mu setelah tau apa yang ingin kau lakukan?." Calya melotot, pria itu terlalu mengerikan. akhirnya dari pada membuat masalah ia memilih untuk diam meratapi nasibnya.


Tepat pukul 1 dini hari Axel terbangun. ternyata ia ketiduran di atas sofa. ketika matanya berpaling ke arah lain ia menatap Calya yang sedang tertidur di atas lantai dengan menekuk lututnya sambil bersandar di meja. ia berdecih pelan andai saja gadis itu tak terlalu membuatnya murka mungkin alur hidupnya tak akan seperti ini. ibarat bensin, jika tidak ada api ia tak akan terbakar.


Sebelah tangan Axel menarik bantal sofa dan melemparkan nya kepada Calya membuat gadis itu meringis pelan. "Siapa yang berani--."


"Apa!." Calya menutup mulutnya ketika orang yang melempar nya adalah Axel. iblis nyata dalam dunia. ia merengutkan wajahnya dan berpaling ke arah lain.


"Kau tidur seperti mati, lantai mahal ku membuat mu nyaman?."


Calya terdiam ia tak ingin memperpanjang masalah. "Kau sudah bisu?."


Mengepalkan tangannya erat, gadis itu pun menjawab. "Ya tuan, lantai anda sangat nyaman. apakah harganya mahal?."


"Tentu saja mahal, bahkan lantai ku jauh lebih mahal dari pada harga diri mu."


Axel sialan!


"Ya aku sangat tau itu." Tutur Calya dengan senyum tipis nya.


"Ah mengapa udara sangat tidak sehat di sini. apakah mereka sudah terkontaminasi oleh mu?."


Sudah terlanjur muak dan kesal Calya pun menjawab. "Ya aku kan bakteri jahat dari sampah. sebaiknya Anda tidak perlu terlalu sering bertemu dengan ku." Manik Axel terpicing rapat.


"Apa? kau fikir aku datang untuk menemui mu? oh maaf nona Ainsley aku datang untuk menyiksa mu." Nafas Calya tersendat, sangat sulit baginya untuk menelan ludah. sorot mata axel seakan ingin mencabik cabik sekujur tubuhnya.

__ADS_1


"Tu-tuan." Fikiran Calya semakin kemana mana saat Axel mulai mengambil pisau buah dari atas meja. apakah Axel psikopat?


"Kau tau darah? kira kira berwarna apa?." Jantung Calya semakin berpacu cepat saat mata pisau itu akan menyentuhnya.


"Warna apa? tolong katakan? jika tidak tau aku bisa menyayat tangan mu agar kita sama sama tau darah berwarna apa." Calya menutup kedua matanya. tiba tiba ia kehilangan kesadaran. ia jatuh pingsan membuat Axel melotot. ia meletakkan pisaunya di atas meja. sebelah tangan nya menopang wajah Calya yang tertutup oleh rambut. "Bodoh! dasar menyusahkan." Setelah nya Axel beranjak. tak ada niatan sedikit pun dari nya untuk mengangkat Calya ke kamar. jangan kan untuk ke kamar, bahkan ia tak berniat untuk mengangkat nya ke atas sofa yang hanya berjarak beberapa senti.


Keesokan harinya Calya terbangun ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya. juga merasa sangat kedinginan. "Mengapa aku di sini?." menggaruk garukan kepala nya yang terasa pusing. saat ingatan kemarin malam terputar di ingatan nya ketika Axel akan melukai oh bukan, ketika Axel akan membunuhnya. kedua mata Calya melotot, ia menatap sekujur tubuhnya memeriksa satu persatu. bahkan dengan bodohnya ia juga menyingkap pakaian yang ia kenakan guna melihat adakah sayatan di perutnya. setelah semua di rasa aman ia menghela nafas lega.


"Oh my God, aku selamat!."


Di sisi lain Axel tersenyum miring. "dasar bodoh!." Gumam nya ketika memantau kamera CCTV.


Tak berapa lama Hany datang. Oma nya itu memang memiliki niat untuk bertemu dengan Axel. Axel pun menyetujui, ia juga memiliki niat yang sama.


"Bagaimana kabar mu tampan?." Memeluk cucu tampan nya itu. ketika berdiri di sisi Axel begini Hany tampak seperti kurcaci, ia hanya sebatas ketiak cucu laki lakinya itu. jika Hany saja seketiak Axel apa kabar dengan ingrid? ibunya itu hanya sebatas dada nya Axel. lantas apa kabar dengan Calya yang ukurannya jauh lebih pendek dari ingrid, gadis itu hanya berada di bawah dadanya Axel. seluruh gadis akan tampak lebih pendek jika berdiri di sisi Axel.


"Aku baik. momy selalu mengurusku."


"Bisakah kita berbicara sebentar Axel?."


"Tentu Oma." Ia pun mempersilahkan Hany duduk di sofa.


"Begini." Axel mengangkat satu alisnya, menunggu kalimat Hany. "Soal callista." Axel memutar bola matanya jengah. "Oma benar benar serius dalam hal itu."


"Oma aku--"


"No Axel! jangan putuskan terburu buru. bincangkan kepada momy mu terlebih dahulu, Oma yakin momy sepakat dengan Oma." Axel membuang wajah ia sangat tidak suka ketika berbicara di sela.


"Berkenalan lah terlebih dahulu dengan gadis pilihan Oma. tidakkah menurut mu dia cantik?."


"Tidak! sedikit pun tak cantik. Oma sudah terlalu rabun menilai gadis seperti itu cantik."


"Sut sut suttt." Hany mendorongkan jari telunjuk nya di depan bibir Axel agar terkatup. "Aku tidak ingin mendengar apa pun dari mu. intinya nanti malam Oma ingin kau membawa Callista ke acara pembukaan hotel milik opa mu. tidak ada penolakan. Oma pergi, bye tampan ku."


Axel menggeram kesal menatap kepergian Omanya. "Argh sial! aku juga ingin menyampaikan sesuatu!."


"Ada apa bro? kau terlihat kesal." Terlihat Austin dan juga Brian masuk. Axel memang memiliki janji temu dengan mereka.


"Oma ku berulah."


"Menyusahkan mu?."


Axel mengangguk."Bukan nya ada momy mu yang selalu berada di pihak mu? adukan saja kawan."


"Tidak perlu membahas itu, aku tidak meminta masukan dari siapa pun."


"Dasar aneh."


"Apa kegiatan mu malam ini?." Tanya Brian, belum juga Axel menjawab. Austin yang tengah berada di rak buku sudah mendahului. "Kau lupa bodoh, malam ini adalah acara pembukaan hotel milik tuan besar Devo Emilio. Kakek dari pada teman datar mu itu. so dia pasti berada di sana."


"Begitukah?." Axel mengangguk kecil.


Austin datang dengan sebuah buku di tangan nya. tanpa menatap sang empu ia pun bertanya. "Kau punya gandengan? butuh seorang gadis?."


"Tidak perlu, jangan campuri urusan pribadi ku."


Austin mengangkat bahunya. "Ok."


Brian menatap Axel lekat. "Oma ku bilang, nyonya Hany ingin menjodohkan mu dengan putri seorang dokter. apakah gosip itu benar?." tatapan Axel mulai menajam.


"Jauhkan tatapan mu itu dari ku, aku hanya mendengar nya dari Oma ketika berkunjung ke kantor ku. sial, gara gara kau aku juga di tuntut untuk segera menikah! aku heran dengan nenek nenek jaman sekarang. tidakkah menurut mu mereka terlalu kolot?."


Axel tersenyum. "Ya, kali ini aku setuju. nenek nenek memang sangat menyusahkan dan membosankan. ide ide mereka benar benar menghancurkan kehidupan ku yang damai."


Austin menutup bukunya. "Untung saja nenek ku sudah meninggal." Tutur nya sambil mengusap dada. "Tapi jika kalian tau saja, kakek jauh lebih cerewet dari pada nenek. di umur 20 tahun saja dia sudah meminta ku untuk menikah dengan alasan agar rumah menjadi ramai di penuhi oleh anak anakku. so aku jauh lebih dulu mengalami masalah yang kalian baru alami sekarang."


"Bagaimana cara mu mengelak terus menerus?."

__ADS_1


"Aku mengatakan bahwa aku terkena penyakit HIV." Brian menepuk dahinya sementara Axel tertawa kecil. ide teman nya itu cukup cemerlang. Austin menyengir lebar. "Aku tau, aku sangat jenius."


__ADS_2