Tuan Miliarder

Tuan Miliarder
Kelewatan?


__ADS_3

Calista berdiri di hadapan Gabriel dengan wajah keruhnya. selesai acara kemarin malam Gabriel memberi pendapat bahwa tuan muda Emilio tidak benar benar menyukai nya.


"Ayah yakin itu." Tuturnya lagi.


"Aku akan membuatnya jatuh cinta ayah! aku tidak akan melepaskan Axel! dengan mendapatkan nya aku bisa meraih dunia dan seisinya. ayah lihat ini!." Menunjukkan banyaknya tawaran pekerjaan kepada nya. "Hanya dengan satu gosip saja aku mendapat kan banyak tawaran pekerjaan."


"Tidak ada gunanya kekayaan jika tidak ada kebahagiaan di dalam nya."


"Aku tidak peduli, aku hanya ingin Axel. tidak ada siapa pun yang boleh mengambil nya atau membantah ku. tidak dengan ayah sekali pun."


Gabriel menarik nafas dalam. "Ayah tidak akan mengijinkan mu bersama nya jika dia tidak mencintai mu."


"Kenapa ayah selalu mementingkan cinta! tolong untuk kali ini saja tidak perlu mencampuri urusan ku! aku sudah besar ayah, aku bisa menentukan pilihan!." Gabriel menatap putrinya dengan manik senduh. gadis kecilnya sudah tampak begitu dewasa sehingga tidak membutuhkan nya lagi.


"Ya, lakukan lah." Beranjak dari tempatnya duduk. namun sebelum berjalan jauh pria paruh baya itu berhenti. "Tapi tolong jangan datang kepada ayah jika kau tidak bahagia dengan pernikahan mu."


Di sisi lain Calya tampak begitu murung. ia mengurung diri di dalam kamar, kepalanya di penuhi oleh fikiran fikiran negatif. entah bagaimana keadaan ayah nya saat ini.


Terdengar ketukan sepatu, seiring dengan terbuka nya pintu kamar. harum mint menyerebak kemana mana. Calya mengangkat kepalanya untuk melihat seseorang yang berdiri dengan wajah datar di ambang pintu.


"Apa masalah mu! sudah ku katakan jangan menyusahkan ku!." Kesal Axel, ia mendapat kabar dari penjaga mansion bahwa gadis itu tidak menyentuh makanan apa pun sejak kemarin malam.


"Aku ingin mati." Axel mengepalkan tangannya erat, telinga nya terlihat merah padam.


"Benarkah? kalau begitu ayo ku beritahu caranya!." Tanpa banyak basa basi Axel menggendong Calya di pundak nya bak karung beras. gadis itu terus memberontak membuat Axel memukul, ya tentu saja bagian bokong nya.


"Ya! apa yang kau lakukan! dasar tidak sopan!." Teriak Calya namun pria itu hanya diam dengan wajah datarnya.


"Begitukah caramu berbicara kepada ku? asal kau tau saja aku bahkan bisa melakukan hal lebih dari pada itu." Mata Calya melotot sempurna. Axel mendaratkan nya di salah satu bangku di meja makan. gadis itu menyilang kan kedua tangan nya di dada dengan wajah khawatir.


"Cih apa kau fikir aku berselera kepada tubuh mu yang datar itu? jika aku selera sudah sejak awal aku melakukan nya. lagi pun dengan baju atau tanpa baju sekali pun kau tidak ada bedanya, aku sudah melihat seluruh tubuh mu dalam keadaan apa pun." Tutur nya tanpa beban. Calya benar benar mendidih di tempat, jika ia bisa seisi meja ini ingin ia layangkan ke kepala Axel.


Baru saja akan berjalan menjauh dari Calya, Axel berhenti di dekat keranjang sampah. ia membuka kemeja putih yang ia kenakan. Calya terus memperhatikan nya dengan seksama. setelah kemeja itu terbuka dengan ringan Axel membuang nya ke dalam keranjang sampah.


"Kau menyentuh kemeja ku yang mahal, aku sudah tidak bisa memakai nya, lagi!." Tersenyum miring, Calya membuang wajah.


dasar orang kaya sombong!

__ADS_1


Cukup lama Axel berkutat di dapur tidak tau melakukan apa. tiba tiba ia datang dengan sepiring nasi beserta lauk pauk di tangan nya. Calya menatap nya aneh, Axel bukan lah pria yang sebaik itu.


"Apa ini?."


"Makanan yang sudah ku beri racun. bukan kah kau ingin mati? ini lah caranya."


Dugaan Calya tidak pernah meleset. Axel itu tidak baik. lihat kan, inilah bukti nyatanya. gadis itu terus menatap sepiring nasi di hadapan nya. jika ia mati saat ini maka bagaimana dengan ayahnya? huh.


Axel berdecih."Berubah fikiran?." Ia mengangguk anggukan kepala nya. "Kau tau kedatangan ku ke sini untuk melakukan apa?."


"Menyiksaku? mungkin." Tebak Calya hal itu membuat Axel semakin datar. awalnya ia ingin berbicara dengan baik baik dan sudah pula memiliki niatan baik. namun ucapan sepontan dari Calya membuatnya tidak senang.


"Bagaimana kabar ayah ku?." Hanya itu, hanya itulah yang ingin Calya dengar sejujurnya.


"Apa kau fikir orang sibuk seperti ku sempat untuk membuang buang waktu? tentu tidak. mungkin dia sekarat dan akan--"


"Cukup." Calya tidak bisa mendengar kata kata yang tidak menyenangkan untuk ayahnya. Axel tersenyum devil.


"Lagi pula setiap yang bernyawa akan mati, mungkin tidak sekarang. tapi siapa tau suatu hari nanti. atau besok?." Mata Calya terasa perih ia menahan tetesan bening yang ingin jatuh.


Axel beranjak pergi setelah nya. entah kemana yang pasti keluar dari mansion milik nya. Calya begitu kalut ia ingin segera menemui ayahnya dan keluar dari tempat ini.


"Silahkan duduk nyonya." Ujarnya kemudian.


"Hmm aku mungkin tidak akan bisa lama karena suamiku sangat rewel ketika aku bepergian keluar rumah. jadi, glory singkat nya aku ingin bertanya adakah seorang gadis yang kini mendekati Axel di Club. atau adakah sosok gadis yang membuatnya penasaran akhir akhir ini?." Tidaklah mungkin bagi seorang ingrid jika ia tidak mengetahui kelakuan putra tersayang nya itu. awalnya ia ingin mengamuk karena tidak suka melihat Axel bermain main dengan banyak gadis. namun Alex memberikan pencerahan bahwa itu adalah hal normal bagi para pria yang belum menikah. akhirnya Ingrid memilih mengalah dan diam seolah tak mengetahui apa pun. lagi pula, benar kata orang. buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya.


"Si tampan Axel mulai jatuh cinta?." Kekeh Calei tak tertahankan.


"Begitulah sepertinya bunda." Calei mengangguk kecil.


"Sepertinya ada nyonya, dia adalah gadis pertama yang mendapatkan balasan ciuman dari Axel, gadis pertama yang dengan lantang berani menolak Axel." Ingrid terdiam, ia mengingat perkataan Axel malam itu. inikah alasan putra nya sampai mabuk mabukan?


"Siapa dia? bekerja di Club malam?."


"Tidak, dia hanya pengunjung. aku tidak tau pasti mengenai gadis itu. tapi salah satu penari ku adalah sahabat baik nya. gadis itu kelihatan nya berasal dari keluarga baik baik dan terhormat." Ingrid mengangguk kecil.


Notif dari ponsel ingrid tak kunjung berhenti, Alex terus meminta nya untuk pulang. manik ketiga nya tertuju kepada benda padat itu. "Sepertinya aku tidak bisa berlama-lama. terimakasih atas informasinya. tolong kabari aku jika terjadi sesuatu." Glory mengangguk.

__ADS_1


Seperginya Ingrid dari sana Calei menatap glory penuh tanya. "Gadis itu bernama Calya Ainsley Paolo. dia seorang dokter bedah. di kenal dengan nametag Ainsley. gadis cantik dan berhati baik. dia sangat pandai menari hingga penampilan pertama nya membuat seluruh orang penasaran akan siapa dirinya. dia tidak seperti kupu kupu malam. gadis itu terlalu bersinar membuat tuan muda silau ketika melihat nya." Tutur glory. ia tidak bisa mengatakan hal sedetail ini kepada Ingrid karena seluruh informasi data diri seseorang yang berada di bawah naungan nya adalah privasi yang tidak boleh di ungkapkan.


"Ah sepertinya kisah si tampan Axel tidak akan jauh jauh beda dengan orang tuanya." Gumam Calei dengan senyum manis.


"Ayahh!!!!!." Calya berlari menuruni tangga dengan berderai air mata. wanita penjaga mansion terlihat kalang kabut melihat nya turun dengan keadaan seperti itu.


Baru saja dokter Steven memberi kabar bahwa kondisi ayahnya semakin memburuk. pria itu terus memanggil nama Calya berulang kali, berharap gadis itu datang.


"Anda ingin ke mana? tuan muda tidak menginjin anda untuk keluar." Tutur wanita itu. ia menghalangi langkah Calya.


"Ayah ku! aku ingin menemui ayah ku! tidak satu pun di antara kau dan tuan mu yang dapat menghalangi ku untuk bertemu dengan nya." Calya mendorong wanita itu keras sehingga ia dapat kabur dari sana. aksi kejar kejaran terjadi. Calya terus belari. ia berhasil keluar dari rumah besar itu bergerak cepat menelusuri jalanan yang di penuhi oleh pohon pohon besar. tidak ada rumah lain di sini.


"Tuan nona kabur." Tutur penjaga mansion lewat telpon rumah.


"Aku bisa melihat nya, dia benar benar merepotkan! lihat lah bagaimana caraku membuatnya mengerti!."


Calya terus belari di sepanjang jalan dengan air mata yang membanjiri wajahnya. ia ingin keluar dari penjara itu sekarang. dari jauh ia melihat ada cahaya lampu kecil yang sangat silau. lama lama lampu itu terlihat besar, ia baru menyadari bahwa itu adalah sebuah mobil yang melaju kencang.


Axel melihat titik itu, ia semakin menekan pedal gas nya. jarak mobil dan Calya begitu dekat namun seakan terkunci ia tak bisa berpindah dari sana. mata Calya tertutup rapat, terdengar decitan nyaring antara ban dan aspal. sedikit lagi, jika si pengemudi tidak handal nyawa Calya pasti melayang. begitu shok nya melihat kejadian tersebut gadis itu terjatuh dengan lemas. wajahnya pucat Pasih. ia terdiam membisu. dari mobil tersebut keluar lah seorang pemuda berbau mint yang sangat Calya kenali.


ia menarik keras lengan Calya agar gadis itu berdiri. "Berani berani nya kau melangkah keluar dari mansion ku! jikalau kau lupa maka aku akan mengingatkan mu. kau budak ku! budak dari Axel Devo Emilio! mengerti?."


Calya terdiam, ia masih begitu terkejut. jika Axel tak menahan tubuhnya dapat di pastikan ia akan terjatuh saat ini. "Aku sangat benci seseorang yang tidak tau diri! mari, aku akan memberikan mu sebuah pelajaran yang akan kau ingat sampai kapan pun!." Axel menyeret Calya keras, tangan gadis itu sudah terlihat merah.


"Tidak bisakah aku melihat ayah ku untuk terakhir kalinya tuan? dia terus memanggil nama ku." Perkataan Calya membuat langkah Axel terhenti. ia dapat melihat ada sebuah ponsel di tangan Calya. Axel kemudian merampas benda itu. "Seseorang terus memberi mu kabar lewat ini?."


Axel tersenyum miring. "Kalau begitu aku akan membuat dia tidak akan pernah menghubungi mu lagi." Dengan tak berhati, Axel melemparkan ponselnya ke atas aspal hingga benda itu hancur berkeping keping. Calya terdiam, ia hanya diam membisu menatap ponselnya dengan air mata yang menumpuk di pelupuk mata.


Axel menyeret Calya masuk ke dalam mobil. gadis itu tak mengeluarkan pemberontakan sedikit pun ia hanya terduduk lemah. sepanjang jalan menuju mansion ia hanya menatap kaca samping dengan diam. Axel terus meliriknya iba. ia berfikir apakah perbuatan tadi itu kelewatan batas? tapi kan hanya sebuah ponsel. keduanya tiba di mansion, sudah tidak ada sesiapa pun di sana.


"Keluar!." Tanpa banyak perotes gadis itu keluar, berjalan dengan tatapan senduh menuju dalam. Axel duduk di atas sofa jari telunjuk nya terarah kepada Calya, memerintahkan nya untuk duduk di sisi Axel. tentu bukan di atas sofa, melainkan di atas lantai.


Tadinya Axel ingin memberikan sedikit hukuman kecil kepada Calya, namun melihat tatapan gadis itu yang terlalu senduh membuat Axel tak tega untuk melakukan nya.


"Jangan pernah coba coba untuk melangkah kan kakimu keluar dari tempat ini jika tidak bersama ku! atau atas izin dari ku!." Setelah nya Axel menaiki tangga, sepertinya pria itu akan ke kamar namun Calya tidak peduli itu.


"Nuhan tolong belikan handphone keluaran terbaru di bulan ini untuk ku." Tutur Axel, ia sedang menelpon sekertaris nya.

__ADS_1


"Apa ponsel anda rusak pak?."


"Bukan urusan mu."


__ADS_2