Tuan Miliarder

Tuan Miliarder
Patuh


__ADS_3

Dua jam sudah lamanya Calya berdiam diri di dalam kamar mandi. Axel yang duduk di sofa terus memperhatikan kamar mandi, bertanya tanya kapan gadis itu akan keluar. tak berapa lama kemudian gadis itu pun keluar dengan mata yang sembab. Axel membuang wajah menatap televisi.


Melihat tak ada raut perubahan dari Calya Axel mengendikkan bahunya. ia berdiri, melemparkan ponsel baru di sebelah calya. gadis itu hanya diam. "Kau meratapi ponsel mu seakan itu adalah benda paling berharga yang kau punya, CK ck." Setelah mengucapkan hal itu Axel pergi begitu saja. dia berniat pulang.


"Alih alih meminta maaf, dia lebih memilih untuk mengganti? apa dia fikir kenangan dari ponsel ku bisa di beli dengan uang nya?." gumam Calya, ia masih bersedih. itu adalah hadiah pertama dari ayah dan ibunya dulu. banyak sekali kenangan yang tersimpan di dalam sana. hal itu lah yang membuatnya berat untuk mengganti ponsel walau ia memiliki uang banyak sekali pun.


Axel memasuki mansion momy nya, terlihat mobil Oma sudah terparkir rapih di halaman. saat ia masuk, dan langsung di sambut heboh oleh Oma dan Calista. "Axel dari mana saja kau, Oma menunggu mu sedari tadi."


"Ke suatu tempat, bukan urusan Oma."


"Ok, bisakah malam ini kau menemani oma--"


"Tolong Oma! pekerjaan ku sudah cukup membebani ku."


"Ada apa dengan mu, kenapa kau sangat marah." Axel benar benar muak dengan drama ini. Ingrid dan Alex yang berada di sana cukup terkejut melihat respon Axel, tidak biasanya ia bersikap demikian.


"Nana! tolong antar Calista pulang. saat ini aku akan melakukan rapat antar keluarga. terkhusus nya Oma, tolong telpon opa aku akan turun setelah mandi. Ku harap hanya ada keluarga kita saja di sini." Setelah mengucapkan hal itu Axel pergi.


Seluruh orang bertanya tanya, ada apa? mengapa? Axel bukan lah tipe orang yang seperti ini sebelumnya. setelah Calista pulang, Devo pun datang bersama dengan Lisiya yang baru pulang dari butik.


Semuanya berkumpul di ruang keluarga. Axel turun dengan pakaian santainya. duduk di tengah tengah keluarga. Devo sebagai kepala keluarga tertua mengambil alih. "Why Axel?."


"Opa, aku akan menikah."


"APA!." semuanya berucap serentak kecuali Ingrid tentunya.


"Axel jangan bercanda." Tutur Ingrid. ia tau Axel itu adalah pria dengan sumbu pendek yang mudah sekali untuk meledak. "jangan mengambil keputusan hanya karena kau terpaksa."


"Dengan siapa?." Oma bertanya dengan begitu excited.


"Yang pastinya bukan dengan gadis pilihan Oma. ku fikir Oma sudah terlalu rabun sehingga menganggap gadis itu cantik. aku menikah dengan gadis pilihan ku."


Seluruh keluarga saling tatap menatap. "Kapan kakak akan menikah, apa kekasih mu cantik?."


"Lebih cantik dari pada gadis pilihan Oma. aku akan menikah Minggu depan."


"Apa!." Lagi, semua orang terkejut. terkecuali Ingrid, ia tau putra nya itu penuh dengan kejutan.


"Sutt aku sudah mempersiapkan segala nya dengan matang. santai saja."


Oma bersikeras menunda. "Tidak semudah itu nak, kita harus melakukan pertemuan antar keluarga terlebih dahulu."


"No, aku tidak setuju."


"Astaga anak nakal ini! kalau begitu setidaknya kenalkan dia kepada kami."


"Ok ku setujui. besok di sini, aku akan memperkenalkan nya." Setelah mengucapkan hal itu Axel beranjak. namun. "Oma aku tidak suka gadis yang kau tawarkan pada ku, maka akhiri itu."


Hany mengangguk paham. "Ok aku mengerti."


Calya menatap jengah gaun di tangan nya. beberapa saat lalu, monster itu datang dan menyodorkan gaun indah kepada Calya. "Apa ini?."


"Mata mu buta?."

__ADS_1


"Huh maksud ku untuk apa ini tuan."


"Apakah aku membuka sesi tanya jawab?." menaikkan satu alisnya, Calya pun menggeleng lesu. "Kalau begitu pakai dan berdandan dengan baik. patuh lah pada ku maka aku akan membawa mu pergi menemui ayah mu."


Mata Calya berbinar. "Benarkah? Anda serius?."


"Kurang dari tiga puluh menit kau tak kunjung turun maka kesepakatan batal." Senyum di bibir Calya terbit. ia terlihat sangat bersemangat. "Aku akan cepat." Axel keluar dari kamar dengan tersenyum samar, entah kapan terakhir kali ia melihat gadis itu tersenyum seperti nya sudah sangat lama.


Axel membuka kancing jas nya dan duduk di atas sofa, membalikkan jam pasir untuk menghitung waktu. ia bersedekap dada dengan mata tertutup rapat. tak menunggu waktu lama Calya turun dengan dress cantiknya. ia terlihat anggun dengan rambut yang terurai indah. "Tuan aku selesai."


Ketukan jari Axel berhenti, manik Axel terbuka. ia terdiam melihat gadis di hadapannya. menatap dari atas kebawah dan ia menggeleng pelan. menghapus Fikir kotor di kepala nya.


Keduanya pun pergi menuju mansion Ingrid. Calya sendiri belum tau apa pun mengenai maksud dan tujuan Axel membawanya. "Kau tidak perlu banyak bertanya, cukup patuh dan setuju saja dengan seluruh ucapan ku."


Calya melirik, sepertinya ia tidak setuju dengan permintaan Axel. "Jika kau mengecewakan ku, pertemuan mu dengan ayah mu batal."


"Ya, ku lakukan."


Keduanya sampai di mansion. mata Calya melotot, gila saja Axel membawanya ke tempat itu. ia menatap pria di sebelah nya. "Tuan?."


"Patuh saja!."


Keduanya turun dari mobil, Calya berdiri kaku di tempat. tiba tiba ia merasa sesak dan gugup di waktu yang bersamaan. "Tunggu!." Axel menghentikan langkah kedua nya.


"Ada apa?."


Tanpa banyak basa basi Axel menarik dagu Calya. menyatukan bibir keduanya. memangut bibir sang gadis dengan lembut. korban hanya bisa terdiam dengan mata yang melotot sempurna ini terlalu mengejutkan.


Setelah lama Axel memutuskan pangutan nya. ia menatap bibir merah itu dengan tak ikhlas, jika boleh Axel mau memperpanjang durasinya. "Apa yang anda lakukan."


"Baguslah, ayo. kali ini dengan terpaksa aku mengijinkan mu untuk menyentuh ku." Calya mengendikkan bahunya. tangan kokoh Axel sudah melingkar di pinggang sang gadis tanpa izin. CK Axel tidak memerlukan izin dari sang empu untuk melakukan nya.


Kedatangan Axel di sambut baik oleh seisi mansion. Calya bersembunyi di balik tubuh besar pria yang sudah menciumnya itu. kelihatan nya seluruh keluarga besar Emilio sedang berkumpul di sana. lantas, ia akan bertemu Felisiya? oh astaga Calya baru mengingat itu.


"Maaf aku terlambat, terjadi sesuatu tadi."


"I see, aku melihat bekas nya." Tutur Alex ia melihat ada noda merah di bibir Axel.


"Mana, mana gadis mu?." Oma bertanya dengan girang. Axel terkekeh saat melihat Calya yang tampak bersembunyi di balik tubuhnya.


Akhirnya Oma pun mendorong Axel guna melihat gadis di belakang nya. Calya tertunduk membuat surainya menutupi wajah, Oma menyentuh dagu Calya agar kepala nya tidak tertunduk. "Apakah kau bidadari? astaga cantiknya." Puji Oma, ia pun memperlihatkan gadis itu kepada yang lain.


"Calya?." Mata Lisiya melotot. "Kau akan menikah dengan kak Axel? sungguh? aku akan memiliki kakak ipar secantik kau? kakak apakah ini benar?." Gadis itu tampak sangat heboh.


Sementara Calya terlihat sangat kaget, Axel memperkenalkan nya kepada keluarga besar dan akan menikahi nya dengan resmi? apa sebenarnya rencana pemuda itu. ia pun mengalihkan tatapannya kepada Axel, pria di sana terlihat mengangguk. meminta Calya untuk mengatakan ya. dengan berat hati ia pun berucap.


"Ya, aku akan menikah." Felisiya memeluk sahabatnya itu erat. "Akhirnya aku memiliki waktu seumur hidup berbicara kepada mu!."


Ingrid tersenyum hangat kearah Calya. ia memeluk gadis itu. "Syukurlah, itu adalah kau." Tutur nya kemudian. Calya hanya bisa tersenyum.


Seluruh keluarga berkumpul Oma terus memperhatikan wajah Calya yang sangat cantik. "Oh kau sangat cantik." Tutur nya untuk ke sekian kalinya. Calya hanya tersenyum malu.


"Sudah tau kan pernikahan kalian akan terjadi satu Minggu lagi?." Mata Calya melotot, ia melirik Axel. lagi lagi pria itu mengintruksi nya untuk mengangguk.

__ADS_1


"Ya." tersenyum tipis, lebih tepatnya senyum terpaksa.


"Aku tidak bisa membayangkan setampan dan secantik apa nanti cicit ku. oh Oma sudah tidak sabar."


"Kak Axel bilang dia tidak bereproduksi Oma. jangan berharap lebih padanya."


Mata Hany melotot. "Kau tidak berniat untuk memiliki anak? ah yang benar saja!." Hany terlihat kesal, padahal ia sangat menantikan itu.


"Apa tidak bisa mengganti topik yang lain, aku bahkan belum menikah. akan ku pertimbangkan nanti."


Cukup lama Calya berkunjung. sampai tibalah waktunya mereka pulang. "Kakak kenapa Calya tidak menginap saja?."


"Dia masih memiliki urusan dengan ku."


"Ah menyebalkan."


Axel pun pergi bersama Calya dengan keluarga yang di tinggalkan merasa tak ikhlas. seluruh keluarga meminta Calya untuk menginap tapi Axel tidak mengijinkan. mereka memiliki janji lain.


Axel berhenti di rumah sakit tempat Calya bekerja. ia akan menepati janjinya. keduanya berjalan menuju ruangan VIP. "Ayah ku di pindahkan ke tempat ini?." Axel mengendikkan bahunya.


"Aku menunggu di parkiran." Tutur axel setelah membawa Calya masuk.


"Dokter Ainsley." Seorang dokter spesialis jantung terbaik datang menghampiri.


"Dokter, bagaimana keadaan ayah ku? kenapa beliau bisa pindah ke ruangan ini?."


"Tuan muda yang mengaturnya."


Axel? oh di luar akal sehat ku


"Dokter Ainsley tidak perlu khawatir lagi, soal jantung sudah kami temukan. lusa pasien akan di bawa ke Singapura. fasilitas di sana jauh lebih lengkap. masalah biaya administrasi, tuan muda juga sudah membereskan nya. dia hanya ingin hasil yang terbaik."


"Benarkah?." Calya menundukkan kepalanya, sebaik itu Axel padanya tapi kenapa? huh semua masih menjadi teka-teki.


*Kenapa dia sangat baik? ahh menyebalkan di saat aku ingin membencinya dengan sangat dalam kenapa dia menunjukkan sisi baiknya pada ku*!


Setelah lama berdiam diri di rumah rawat ayahnya Calya pun beranjak keluar. menemukan Axel yang sedang berdiri di sebelah mobilnya. Sungguh menurut Calya pria itu tidak bisa di tebak sama sekali. ia pun memberikan senyum tulusnya kepada Axel.


"Terimakasih banyak untuk itu, aku tidak menyangka--"


"Terimakasih? apa menurutmu aku adalah pria yang hanya ingin imbalan sebuah ucapan terimakasih?." Senyum tulus itu pudar seketika, mata yang kian bersinar pun turut meredup. "Ayo buat kesepakatan, huh aku sudah mengeluarkan banyak uang untuk itu. jadi kau harus setuju menikah secara resmi dengan ku, diri mu yang jelek serta pengangguran itu akan di kenal dunia sebagai istri dari pria sempurna bernama Axel Devo Emilio."


Nafas Calya tercekat, sepertinya ia harus menarik kata katanya bahwa Axel adalah pria yang baik. ia melakukan sesuatu pasti untuk sesuatu juga. ya, Axel butuh sebuah imbalan. bagaimana Calya ingin menikah secara resmi dengan Axel, bahkan saat mereka terikat hubungan secara sembunyi saja ia sudah begitu tersiksa oleh ucapan ucapan dari bibir pedas pria itu.


"Menikah? sepertinya tidak. aku tidak ingin!."


"Kau menolak ku? bagaimana dengan ayah mu? kini ayah mu dalam genggaman ku. aku bisa saja melakukan sesuatu padanya. juga, jika kau tidak bersedia maka aku akan menagih segala uang yang sudah ku keluarkan untuk pembiayaan ayah mu, mulai dari ruang VIP, biaya dokter profesional, Upah pencarian jantung, biaya jantung, tiket yang sudah ku pesan untuk penerbangan ke Singapura, juga biaya rumah sakit di Singapura yang sudah ku lunaskan. kau mampu?."


"Kau benar benar!."


"Bagaimana? ingat. tidak ada hal yang tidak bisa di lakukan oleh seorang Axel."


"Brengsek!."

__ADS_1


"Aku dapat mendengar nya!."


__ADS_2