
Tangan Calya terkepal erat. untung saja ia bergegas datang tatkala pedagang perhiasan langganan nya menelpon. pria baya itu mengatakan bahwa ia melihat liontin yang sama persis seperti milik ibunya.
"Mereka benar benar menjualnya paman?."
"Ya, kemarin kebetulan pegawai ku yang bertugas. aku sedang cek darah."
"Lalu?."
"Jika aku tidak melihat mungkin liontin ini sudah di leburkan untuk membuat bentuk baru yang lebih modis."
"Huh syukur lah. Bolehkah aku menebusnya?." Pria itu mengangguk. ia sangat dekat dengan Calya, karena dahulu mereka memiliki rumah yang bersebelahan. pria itu berteman baik dengan ayahnya.
"Tentu, tapi.... aku tidak bisa memberikan harga murah nak. kami juga membelinya dengan harga tinggi kemarin."
Ya, walaupun liontin emas itu terlihat kuno akan tetapi berat nya tidak bisa di anggap sepele. tentu harga jualnya tinggi. Calya mengangguk kecil. pria itu memberikan total digit nya kepada Calya untuk sesaat nafasnya tersendat. ia tidak punya uang sebanyak itu sekarang. jika pun punya pasti akan lebih baik di tabung untuk biaya ayahnya, tapi dalam liontin itu ada kenangan indah tentang ibunya.
"Paman, aku tidak punya uang sebanyak itu sekarang. tapi aku berjanji akan menebusnya dalam beberapa hari, tolong simpan kan untuk ku."
"Baiklah nak." Pria itu tersenyum hangat.
Syukurlah liontin itu di jual di sana.pria paruh baya itu tentu tau dan langsung mengenali milik siapakah liontin tersebut. karena ia sendiri yang merancang desain nya kala itu. liontin tersebut adalah hadiah pernikahan Paolo untuk istrinya, Paolo meminta yang terbaik kepada nya. menurut pengamatan nya kedua pasangan suami istri itu sangat serasi dan hidup dengan begitu bahagia. namun siapa yang tau tuhan memutar roda takdir hingga sekarang keluarga tersebut terjatuh rapuh, kekurangan personel yang sangat penting. dasar dari keluarga mereka.
Calya melangkah kan kakinya melewati loby rumah sakit. seorang suster datang menghampiri. "Dokter tuan muda menunggu di ruangan anda." Calya menarik nafas dalam dalam. masalahnya sudah terlalu banyak, mengapa pria itu harus menambah nya lagi.
Begitu ia membuka pintu terlihat lah Axel yang duduk di kursinya dengan kaki yang terangkat di atas meja. "Hai." Sapa nya dengan wajah yang menyebalkan.
"Apa lagi mau mu?."
"Menikah dengan ku." Menaik turunkan alisnya.
"Tidak! sudah ku katakan aku tidak mau!."
Axel tersenyum sinis. ia beranjak dari tempat nya. memutar mutar papan nama Calya yang bertengger di atas meja. "Baiklah." Berjalan ke depan Calya membuat gadis itu mundur seketika.
Axel menarik Calya, menahan pinggang nya agar tak mundur menjauh. "Hati hati dengan jawaban mu dokter, dua kesempatan sudah kau tolak sia sia. aku ragu dapat menahan diri."
"Kau tidak waras!."
"Ya, aku memang tidak waras. kau menyukai nya?." Setelah menjatuhkan satu kecupan di bibir Calya Axel beranjak pergi, ia tak menoleh lagi. wajahnya terlihat datar, sangat datar.
"Tiga penolakan, maka akan ku hancurkan kau. lihat lah bagaimana cara ku membuat mu bertekuk lutut dan mengemis kepada ku!. hah siapa kau yang berani menolak seorang Axel!" Kesal Axel setelah keluar dari sana.
"Dasar sinting." Gerutu Calya setelah kepergian pria itu.
Sepulangnya Calya ke apartemen, ia mendapati Pamella yang sedang bersiap siap untuk ke club malam. "Kau akan berangkat?."
"Ya, kau butuh hiburan?." Tertawa kecil sambil memandang wajah lelah gadis muda itu.
Terlihat Calya memijat dahinya pusing. "Seseorang mengganggu mu?."
Calya mengangguk. "Fiona dan callista, mereka merampas liontin peninggalan ibuku. mereka menjualnya."
"Apa! lalu bagaimana? itu kan satu satunya kenangan berharga dari ibu mu."
"Syukur nya mereka menjualnya di toko yang ku ketahui pemilik nya, ayah ku dan beliau berteman dekat."
"Syukurlah, aku lega."
"Tapi, aku tidak punya uang untuk menebusnya. gaji ku bulan ini tentu saja untuk ku simpan sebagai biaya perobatan ayah ku. harga liontin itu sangat mahal."
"Apa yang bisa ku lakukan untuk mu? aku memang tak punya uang tapi jika kau butuh bantuan katakan saja."
"Terimakasih. aku memikirkan sesuatu Pamella."
Dahi gadis itu mengernyit. "Apa?."
__ADS_1
"Sama halnya seperti dua tahun lalu, bagaimana jika aku kembali menari satu malam."
Manik Pamella berbinar. ia tau Calya adalah penari yang di cari cari banyak orang ketika acara malam itu usai. penari asing yang tiba tiba naik ke atas panggung namun dapat mengunci seluruh mata. siapa lagi jika bukan Calya, malam itu ia baru saja kehilangan sosok ibu. membuat fikiran nya kacau, hingga ia menghibur diri dengan menari. siapa sangka banyak yang menyukai nya malam itu. hingga sampai detik ini penari tiang dua tahun lalu masih menjadi misteri yang belum terpecahkan.
"Kau serius?." Calya mengangguk. "Oh guru ku." Pamella memeluk gadis itu lama. ya, Calya adalah orang yang pertama kali mengajarkan nya gerakan tari itu. setiap kali Calya bermain di tiang tempat nya latihan ia selalu terpukau.
"Aku akan menjadi penonton kalau begitu." Tutur Pamella.
"Kapan kau akan menari? aku akan mengatakan nya kepada germo."
"Besok, tapi jangan gemparkan berita ini aku menjaga nama baik rumah sakit."
"Tentu, hanya orang orang tertentu yang mengetahui nya."
"Baiklah."
Axel dan teman teman nya berkunjung ke club malam. mereka duduk sambil menyesap wine yang di pesan.dari wajahnya Axel terlihat sangat datar. ia tengah memikirkan sesuatu. "Ada apa Ax?."
Matanya melirik tajam. "Bisakah kau tidak perlu mengamati ku, jangan campuri aku." Ujarnya ketus, ia memang seperti itu kepada semua orang. terkecuali kepada orang orang tertentu yang spesial di hidupnya.
Tak berapa lama anak pemilik club datang menghampiri. "Hai teman, aku punya berita besar." Mereka duduk berkumpul terkecuali Axel, ia memilih untuk meminggir jauh.
"Berita apa?."
"Kalian masih ingat berita penari tiang dua tahun lalu?."
"Penari cantik itu? ya kenapa! apa yang terjadi!."
"Dia akan menari besok malam."
"Benarkah? dia ingin mencetak sejarah kedua?."
"Sepertinya begitu."
"Berarti besok malam akan terasa sangat menakjubkan."
"Tentu."
Austin yang melihat Axel duduk di pojok segera menyikut lengan nya. "Pokoknya besok malam kau harus datang dan duduk dengan kami di barisan terdepan."
"Aku sibuk, mom akan memarahiku jika dia tau aku berkunjung ke tempat ini."
"Ayolah Axel, kau ini kenapa sangat penurut." Tutur Brian, ia benar benar tidak habis fikir dengan pria dewasa itu.
Arsen yang melihat itu hanya terkekeh. "Kau tidak boleh melewatkan tonton bagus teman, ini tidak akan terjadi lagi di malam malam esok."
"Apa wajah ku menunjukkan jika aku tertarik dengan tawaran mu?." Arsen mengendikkan bahunya. "Siapa yang tau jika kau tiba tiba tertarik."
Esoknya, di pagi hari ketika Axel akan berangkat kerja ia mendengar kerusuhan dari luar. menatap jam yang melingkari tangan nya ia kemudian mempercepat gerak dan segera turun.
Begitu menuruni anak tangga suara Oma menghentikan nya. "Axel." Tuturnya lembut.
"Ah, ya ada apa?." Maniknya melirik sosok gadis yang tak asing di sisi Hany. tampak gadis itu tersenyum lebar padanya.
"Kau punya waktu luang hari ini? Oma dan callista akan belanja ke mall. bisakah menemani kami?." Ah ya gadis itu, baru lah Axel mengingat nya.
Menggeleng kecil, kemudian ia berkata. "Maaf Oma, aku sibuk hari ini. pergilah dengan Daddy. ku fikir dia sedang senggang dan hanya menghabiskan waktu nya bersama momy."
"Hmm No Axel! Oma ingin menghabiskan waktu bersama mu."
"Maafkan aku." Ujarnya sambil melenggang menuju pintu. Axel memang seperti itu, ia tidak terlalu menghiraukan perintah selain dari pada ibunya. menurutnya di bumi yang luas ini tak ada yang lebih penting dari pada ibunya.
Hany berdecak. "Aku akan mengadukan mu kepada momy mu Axel!." Sontak langkah lebar itu pun terhenti, ia berbalik dengan pelan. "Adukan lah Oma, momy adalah manusia yang paling mengerti aku mulai dari hal yang terkecil hingga terbesar. aku pergi, bye."
Callista tampak tak senang melihat penolakan dari pria itu. dalam hati ia terus mendumel, kenapa pria dewasa itu sangat mengagungkan ibunya. callista berjanji dengan penuh percaya diri, jika ia mendapatkan Axel ia akan membuatnya berpaling dari ibunya itu.
__ADS_1
"Huh, sepertinya kita datang di waktu yang salah callista."
Ia tersenyum lebar kearah Hany. "Tidak masalah nyonya. aku pun sedang tidak sibuk."
"Nyonya? oh kau lupa?."
"Ah maksudku Oma."
Setelah lama berbincang bincang dengan callista gadis itu pun izin pulang karena mendapat telpon dari ayahnya yang sudah tiba di tanah air. setelah kepulangan callista, Hany berniat menemui Alex. ia ingin membicarakan hal yang penting.
Keduanya duduk berhadap hadapan. "Ada apa momy?."
"Umm, aku ingin membahas sesuatu mengenai cucuku Axel."
Alex terlihat tersenyum. "Tentang perusuh itu? apa dia melakukan kenakalan di luar jam kerja?."
"Tidak, hmm bukankah Ingrid meminta agar Axel segera menikah?." Alex yang semula santai kini memberikan tatapan serius.
"Ya, dan bocah itu sudah menyetujui nya."
"Bagus sekali. seperti aku yang memilihkan Ingrid untuk mu, sepertinya aku juga ingin memilihkan seseorang untuk cucuku Axel. momy sudah mendapatkan calonnya." Alex terlihat menggigit bibir bawahnya, mengusik Axel bukan lah sesuatu yang baik. ia tidak boleh mengutak atik masalah pemuda itu jika tidak ingin berurusan dengan Ingrid. Alex sangat paham bahwa Ingrid begitu menyayangi putra nya itu.
"Hmm momy sebaiknya katakan lah kepada istri ku. momy tau sendiri dia itu sangat sangat teliti soal masa depan Axel."
"Tidak perlu khawatir, Ingrid pasti setuju dengan momy." Masih ada keraguan di wajah Alex namun ia memilih untuk mengangguk. "Kalau begitu ya sudah, tapi sebaiknya berbicara pada istri ku terlebih dahulu karena dia adalah ibunya."
"Menurut momy callista itu sudah sangat cocok dengan Axel, terlebih keduanya terlihat sangat cantik dan tampan. ughhh momy tidak bisa membayangkan melihat keduanya menikah dan memiliki anak."
"Hmm ya." Alex meringis kecil, ia yakin Ingrid tak menyukai ini. terlebih ia tampak kurang suka dengan gadis itu saat di acara memperingati hari kematian Oma. hingga wanita itu memilih beranjak pindah ke meja yang lain. menurut Alex sendiri istrinya itu lebih menyukai dokter muda yang merawatnya tempo hari.
"Mom yakin gadis itu cocok dengan Axel? ku fikir Ingrid tak terlalu menyukai nya."
"Benarkah? tapi aku tidak melihat seperti itu. dokter Gabriel itu sangat baik, tentu callista juga sama seperti ayahnya."
"Baiklah aku harap begitu."
Di sisi lain di kediaman dokter Gabriel, pria itu tampak sedang marah. ia marah kepada istrinya karena tak mendapati Calya berserta barang barang nya di rumah itu. tampak wajahnya memerah menahan letupan amarah yang mendidih.
"Kemana Calya? sudah ku katakan Calya itu tanggung jawab ku!."
"Dia sendiri yg ingin pergi dari rumah kita suamiku, kami tidak mungkin memaksanya untuk tetap di sini. lagi pula dia sudah dewasa dan dapat menentukan yang mana yang terbaik untuk hidup nya."
"Dengar ini Fiona! di mataku Calya tetap lah gadis kecil yang harus ku rawat seumur hidup ku!."
Fiona terlihat marah. ia mendorong tubuh Gabriel keras. "Apa katamu! hanya kau yang berfikir seperti itu! menurut ku dia adalah beban, dia benalu di keluarga kita! kau masih memiliki satu anak gadis lain yang harus kau pikirkan masa depan nya Gabriel! kau masih memiliki callista! kau selalu bersikap seolah oleh Calya adalah putri mu huh."
"Apa kata mu! berani sekali kau mengatakan dia benalu!." Sorot mata Gabriel terlihat tajam. matanya seolah membakar apa pun yang sedang di tatapnya kini.
"Kau lihat Gabriel yang berdiri di depan mu hari ini? aku menjadi seperti ini, aku meraih semua impian ku ini, ini tak lain dan tak bukan karena ayah nya. kakak ku berperan penting untuk hidup ku, menjadi ayah sekaligus ibu untuk ku. istrinya memperlakukan ku selayaknya adik yang seharusnya di rawat. kakak ku mengubur seluruh mimpinya agar aku sukses di kemudian hari, lalu kau menyebut putri nya seperti itu? kau tidak malu? kau datang ke hidupku setelah aku memilih segala nya. kau hanya tinggal hidup dan menikmati, kau tidak tau apa yang aku alami dan siapa yang terus menyemangati ku di masa masa terburuk ku. jadi jangan bersikap seolah kau tau segalanya!"
Fiona manitikan air mata buaya nya agar pria itu melembut. "Tapi kau masih memiliki seorang anak." Ia menunduk, Gabriel menendang lemari di sisinya setelah itu merengkuh tubuh istri nya itu lembut.
"Kakak ku tidak pernah memikirkan masa depan anak nya ketika memperjuangkan diriku. lantas kau berharap aku mengubur mimpi anak nya dan mendahulukan mimpi anak ku? aku tidak bisa. aku menyayangi Calya sebagaimana aku menyayangi callista."
Di belakang panggung Calya sudah siap dengan balutan pakaian terbuka nya. ia akan menaiki panggung beberapa saat lagi. sesekali ia berlatih di salah satu tiang, membuat semua penari di sana menatap takjub ke arahnya.
"Kau sangat indah Calya." Tukas germo, wanita itu terus memandang takjub.
Di sisi lain Axel dan teman teman nya sudah mengambil posisi. pria itu di seret paksa untuk menghadiri club malam ini. tampak sekali wajahnya muram.
Alunan melodi yang semula hidup kian di matikan, terdengar ketukan sepatu dari sisi kanan. dari tempat gelap itu terlihat kemunculan seorang gadis yang bersinar. mata Brian melotot. "Bu bukan kah gadis itu yang mencium Axel tempo hari?."
"Wow, so sexy." Arsen menjilat bibir bawahnya.
Axel terdiam dengan wajah datar, tatapan nya mengunci seluruh pergerakan gadis itu. ia tetap diam, berfikir sebegitu murahan nya kah gadis yang ia cap sebagai gadis termahal sebelumnya?
__ADS_1
Mereka semua menikmati setiap gerakan erotis sang gadis di atas panggung. "Ax, ku tantang kau untuk mencium nya sekarang!."