Tuan Miliarder

Tuan Miliarder
Dendam


__ADS_3

"Ax, kutantang kau untuk menciumnya sekarang."


Tantangan itu seolah menjadi dorongan besar dalam diri Axel. siapa yang menduga pria itu nekat berjalan ke atas panggung. hal yang tidak di perbolehkan sebelum nya. germo yang memperhatikan tampak melotot, tatkala yang lain ingin menghentikan ia segera mencegah.


"No! jangan mencegah, itu adalah Axel." Sudut bibirnya terangkat tinggi.


Dalam sekali hentakan, gadis itu berhasil jatuh ke dalam pelukan Axel. manik nya mengunci manik calya. kepala Axel maju membisikkan sesuatu di telinga Calya. "Ternyata kau sangat murahan, hmm pantaskah kau menolak ku dokter?." Baru saja bibir Axel akan memangutnya Calya langsung mendorong tubuh pria itu keras. keduanya menjadi tontonan semua orang. mereka begitu terkejut, untuk pertama kalinya seorang gadis menolak Axel Devo Emilio? ini adalah sejarah.


"Apa katamu! ya aku memang murahan. tapi aku tetap tidak tertarik dengan mu!. bukan kah kau yang terlalu murahan, karena tertarik dengan ku.tuan!." Calya tersenyum miring, tampak rahang Axel mengetat. matanya begitu tajam serta telinga yang memerah. tidak pernah sekalipun dalam hidupnya ia di permalukan oleh seorang gadis di depan umum.


Calya berjalan mendahului Axel sambil menyenggol bahunya keras. Axel yang begitu kesal buru buru menuruni panggung, ia berjalan dan mengambil kuncinya. celetukan arsen membuatnya semakin terbakar. "Aku tak menyangka kau di tolak dengan begitu sadis."


"Diam kau tidak ada yang bisa menolak ku, tak seorang pun. aku Axel, dalam 4 hari jika aku tak dapat membuat gadis itu bertekuk lutut, oh ku ralat jika aku tak dapat membuat nya menjadi budak ku! maka kalian boleh meminta apa pun dari ku. cih, sialan!." Maki Axel, ia tidak pernah merasa di permalukan seperti ini sebelumnya. Untung saja tamu yang hadir tidak terlalu banyak dan seperti nya lebih banyak tamu tamu asing yang tak akan mengenalnya.


Malam itu Axel pulang dengan keadaan mabuk. mabuk berat, hal yang tidak pernah ia alami sebelum sebelumnya. Ingrid sekeluarga sudah sangat khawatir, apa lagi ketika pria itu tak dapat di hubungi.


"Jangan khawatir sayang, Axel sudah dewasa."


Mata Ingrid menajam. "Kau hanya bisa berbicara! dia putra ku tentu aku mengkhawatirkan nya." Tukas Ingrid membuat Alex menggaruk tengkuknya.


Tepat pukul 1 dini hari, Axel pun pulang. tampak sekali jika dirinya tengah mabuk berat. Ingrid begitu terkejut dan langsung menghampiri pria itu. "Momy~~." Kepalanya bersembunyi di balik cerucuk leher ibunya.


"Why? ada apa? kenapa kau mabuk mabukan seperti ini!."


"Momy aku ingin tidur dengan mu, hanya dengan mu." Ujarnya dengan suara yang parau. Ingrid pun membawa Axel menuju kamar tamu dengan bantuan Alex. keduanya merebahkan Axel ke atas ranjang.


"Momy apa kak Axel baik baik saja?." Khawatir Felisiya, ia tengah berdiri di ambang pintu.


"Tidak akan ada hal buruk yang bisa menimpa kakak mu, pergilah tidur ini sudah malam." Lisiya pun segera pergi sesuai perintah Ingrid.


"Ada apa dengan nya?." Tanya Alex yang terlihat bingung, tak biasanya Axel mabuk mabukan.


"Pergilah, nanti akan ku tanyakan."


Alex mengangguk, setelah mengecup dahi ingrid ia segera pergi. tinggal lah Ingrid dan Axel di sana. Ingrid dengan telaten mengganti pakaian Axel yang sudah menyengat bau alkohol.


"Momy....."


"Why sayang? apa ada yang menyakiti Axel ku?." Terlihat pemuda itu mengangguk masih dengan mata yang tertutup.


"Siapa yang berani melakukan nya?."


"Gadis cantik itu." Lirih Axel pelan.


"Apa yang dia lakukan pada mu? dia menghianati mu?."


"No! aku membencinya sangat benci."


"Apa yang dia lakukan."


"Momy dia menolak ku...... menolak ku mentah mentah serta mempermalukan ku di depan umum!."


"Apa kau menyukai nya?."


"Aku membencinya, sangat benci." Tutur Axel sebelum benar benar tertidur.


Ingrid berfikir keras apa yang sebenarnya terjadi. ia pun segera menelpon teman teman Axel satu persatu, namun semua nya diam bersikap seolah tak tau apa pun yang terjadi. Ingrid hanya bisa menunggu sampai besok, bertanya kepada Axel setelah ia sadar.

__ADS_1


Paginya pria itu bangun, bersikap natural seperti tak ada apa pun yang terjadi kemarin malam. Ingrid yang melihat Axel sudah membaik tak lagi berniat untuk mengorek luka yang menimpa putra tersayang nya itu.


Ingrid memperingati semua orang agar tak mempertanyakan apa pun kepada Axel. pria itu mengecup pipi ingrid singkat. "Apa aku sudah terlihat tampan momy?."


"Ya, putra ku selalu tampan." Ingrid tersenyum lebar.


"Aku tau. aku pergi, ada rapat pagi ini." Mengecup pipi ingrid sekilas. Ingrid balik mengecup pipi Axel lama. "Hari ini jauh lebih baik dari kemarin ok."


"Aku mengerti." Axel tersenyum lebar, ibu adalah the really support sistem menurutnya.tidak tergantikan sampai kapan pun.


Axel berbohong, ia tidak ada rapat pagi ini. ia ingin menemui dokter itu untuk bertanya terakhir kali nya. menurut Axel ini adalah satu kesempatan terakhir yang akan ia beri.


Dengan wajah datar ia mengetuk pintu ruang Calya, setelah di intrusi untuk masuk barulah ia masuk. berdiri di hadapan sang gadis yang tengah membaca sesuatu. mata Calya membulat menatap pria di hadapannya.


"Apa lagi urusan mu datang? tidak cukup kata kata pedas kemarin? itu pintunya, silahkan keluar dari sini." Axel diam dengan wajah datar nya, auranya terasa sangat asing bagi Calya tidak seperti sebelum sebelumnya.


"Pertanyaan terakhir, menikah lah dengan ku."


Calya mengambil gelas di sisi meja nya. menyiram air tersebut ke wajah Axel. "Setelah kau mengatakan bahwa aku murahan kau mengajak ku untuk menikah. sudah ku katakan, jawaban ku tidak akan berubah sampai kapan pun. Tidak kemarin! tidak hari ini! dan tidak untuk selamanya!."


Senyum devil Axel terpatri. "Hati hati dengan jawaban mu, aku akan membalikkan semuanya. "Mengeluarkan secarik kertas nama. "Ini kartu nama milik ku, jika kau sudah tak mampu menahan serangan bertubi tubi dari ku datang dan mengemislah pada ku nona Ainsley!."


"Cih! tidak akan!." Ia berdecih ke pada Axel yang sudah beranjak keluar. pria itu menyeka air yang menetes di wajahnya.


"Lihat lah bagaimana cara ku menghancurkan seluruh hidup mu nona. tak akan ku biarkan ada sisa sedikt pun.


Axel duduk dengan tenang di meja kerja nya. menatap sebuah file yang dikirim kan sekretaris nya. "Sudah benar benar tak ada yang tertinggal?."


"Tidak ada tuan."


"Ok, ayo bermain game menyenangkan!."


"Alihkan posisi rumah sakit ke tangan ku. biar aku yang mengelola."


"Baik." Axel tersenyum miring.


Keesokan harinya Calya di kejutkan dengan pemberhentian nya bekerja. ia menatap papan namanya yang sudah teronggok di dalam keranjang sampah. jemarinya meremat keras jas putih yang ia kenakan. "Kenapa aku di pecat tiba tiba? apa kerja ku selama ini tidak sesuai?."


"Sebentar lagi utusan pemilik rumah sakit akan tiba dokter, dokter bisa bertanya langsung."


Steven yang mendengar kabar tak enak itu segera berlari ke ruangan Calya. ia menatap gadis itu hangat. "Kenapa ini bisa terjadi?." Calya memeluk pria itu, rasanya ingin menangis. apa lagi ketika mengingat ada sebuah jantung yang harus ia tebus.


"Aku tidak tau."


"Tenang lah, sebentar lagi pemilik rumah sakit pasti tiba." Dan benar saja, sebuah mobil hitam yang di penuhi bodyguard berhenti di halaman rumah sakit. utusan pemilik rumah sakit masuk dan duduk di ruangan yang sudah di sediakan. Calya buru buru menemui pria itu. ia masuk seorang diri, tampak pria paruh baya dengan wajah tegas menatapnya.


"Kenapa saya di berhentikan pak?."


Pria itu tampak mengeluarkan sebuah koran. koran yang tentunya di cetak hanya untuk mereka saja. pastinya semakin menyendat pernafasan sang gadis. terlihat di sana, kabar miring tentang rumah sakit yang mempekerjakan seorang penari tiang. matanya melotot.


"Sudah? sudah paham. kau berhenti hari ini tanpa ada pesangon sedikit pun. juga membayar ganti rugi pencemaran nama baik rumah sakit, serta membayar denda pelanggaran undang undang kerja. Anda juga mencemarkan reputasi seorang dokter." Tubuh Calya melemas rasa pusing menjalari kepala nya.


"Anda mendapat denda 50 juta dari pihak yang di rugikan." Kepala Calya semakin berdenyut, masalahnya semakin rumit jika uang sudah di libatkan.


"Rumah sakit memberi anda waktu tiga hari untuk membayar.jika tidak bisa melunasi anda akan di jebloskan ke penjara." Mata Calya semakin membulat, ia ingin bunuh diri rasanya.


Berjalan dengan lunglai meninggalkan area rumah sakit. ia duduk di sebuah bangku bercat putih dengan kepala tertunduk. tak berapa lama ponselnya pergetar, nomor asing menelpon nya. "Ya? siapa?."

__ADS_1


"Bagaimana? ini masih di awal. kau sanggup hidup sampai besok?." Calya kenal betul suara bass ini. terdengar suara tawa keras dari sana membuat gadis itu geram. ia tau siapa penelpon itu.


"Jadi ini semua karena kau?."


"No! ralat kalimat mu, ini semua karena mu yang telah membuat ku murka. besok ku telpon lagi bye."


"Axel sialan! tidak berprikemanusiaan! idiot! sinting! aku membenci mu!." Memaki pemuda itu walaupun telpon sudah terputus, Calya merasa seluruh kepala nya berdenyut. dari mana ia akan memperoleh uang sebanyak itu untuk melunasi denda kepada pihak rumah sakit sementara ia juga sudah di pecat."


Dokter Gabriel dan dokter Steven tengah bertukar pikiran, keduanya begitu bingung. pasalnya semua ini bertabrakan dan tidak kontraks. Calya yang mengatakan bahwa ia di pecat dan pihak rumah sakit yang mengatakan bahwa gadis itu mengundurkan diri.


"Paman ini terasa aneh, Ainsley tidak mungkin mengundurkan diri di saat ia sangat sangat membutuhkan uang."


"Lalu kenapa Steven? apa yang terjadi?."


"Aku pun tidak mengerti paman."


Calya benar benar putus asa dan tak tau harus melakukan apa. ia hanya bisa menangis di sudut apartemen. bertemu dan terlibat dengan Axel adalah mimpi buruk baginya. ia menyesal, sangat menyesal.


Malam hari ketika ia sedang mencari angin di luar apartemen, paman Gabriel menelpon dan meminta untuk bertemu. di sinilah Calya berakhir, duduk di sebuah cafe sambil menunggu kedatangan paman nya. Gabriel pun datang dengan koper di tangan nya.


"Paman." Berlari menuju pria itu dan memeluknya singkat. rasanya ingin mengeluarkan keluh kesah nya kepada pria itu.


"Calya aku sudah mendapat kabar dari rumah sakit." Kepala sang gadis tertunduk, ia tau pasti pria itu tengah kecewa kepada nya.


"Aku kecewa pada mu." Kepala Calya semakin menunduk. "Kenapa kau mengundurkan diri? apa pekerjaan di sana terlalu berat?." Sontak kepala Calya terangkat dengan mata yang membulat. "Kenapa kau mengundurkan diri?."


"A-aku?, maaf kan aku."


"Apa karena kau mendapatkan tawaran di rumah sakit yang lebih bagus?."


"Ya, sepertinya begitu." Calya tak berani mengangkat kepalanya. ia benar benar menyesal sekarang.


"Kalau begitu paman bangga pada mu. kembalilah ke rumah nak, paman akan pergi ke Singapore malam ini paman harap saat pulang nanti sudah melihat kau di rumah." Calya mengangguk kecil. "Ya, hati hati paman."


Rasanya Calya ingin mencegah pria itu untuk pergi, ia ingin bercerita sekarang. bahu nya sudah terlalu berat untuk memapah beban di pundak nya. ia butuh Gabriel, sangat tidak mungkin jika berbicara kepada ayahnya. Calya tentu tak ingin beban fikiran ayahnya bertambah.


Di malam yang sejuk, gelap tak berbintang. Calya menutup kedua matanya, berharap ketika bangun di esok hari masalah nya tak akan bertambah. ini sudah cukup, ia tidak bisa menangani hal lain lagi.


Keesokan harinya ia bangun dengan penuh semangat, membuka laptop dan mengirim surat lamaran kerja di setiap rumah sakit yang membuka lowongan. ia juga berniat mendatangi beberapa rumah sakit untuk melamar kerja.


Tak menunggu lama terdengar bunyi dari laptop nya, beriringan dan saling sahut menyahut. Sungguh semua tak semudah itu, satu persatu dalam hitungan detik seluruh lamaran kerja yang ia kirim di tolak, membuat rasa percaya diri nya runtuh. mereka tidak menerima Calya. tak tau apa alasan di baliknya, ini sangat cepat. hampir seluruh rumah sakit menolak Calya mentah mentah. dia harus bekerja apa setelah ini? pelayan? penjaga kasir? oh apa pun yang penting ia harus segera bekerja untuk menghasilkan rupiah.


Duduk dengan lesu di atas bangku apartemen. Pamella belum mendengar berita yang menimpa nya karena setelah acara malam itu ia pergi mengunjungi nenek nya yang sedang sakit. jadilah Calya tak memiliki sesiapa pun untuk membagi cerita.


Calya mendesah kecil, menatap sebuah benda berbentuk tabung. itu adalah celengan nya. ia sudah lama mengumpulkan uang di dalam tabung tersebut. dengan hati yang tak ikhlas Calya pun memutuskan untuk membuka nya. membelah setiap sisi depan pisau, rasanya ia ingin menangis. jika uang ini di habiskan untuk membayar denda kepada rumah sakit lantas pakai apa lagi ia harus menebus jantung ayahnya.


Belum lagi uang panggung kemarin malam sudah habis ia tebuskan untuk mengambil liontin ibunya. semua terasa begitu menyiksa. pedih rasanya, luka tak berdarah.


Ia hanya memiliki sisa satu hari lagi untuk melunasi hutang tersebut. Calya terdiam kala uang tabungan nya tak cukup, ia memaki dalam hati. meminjam kepada siapa lagi sisanya!


Sejenak ia berbaring di atas ubin yang terasa dingin. menutup kedua mata, berharap ketika terbangun nanti ini semua adalah mimpi belaka. cukup lama Calya tertidur, sampai nada dering dari ponsel menyadarkan nya.


"Ya dokter Steven?."


"Segera kerumah sakit! ayah mu..."


Mata Calya melotot. "Apa yang terjadi kepada ayah ku!."

__ADS_1


"Segera lah kesini, nanti ku jelaskan!."


__ADS_2