Tuan Miliarder

Tuan Miliarder
Perjodohan


__ADS_3

Tiga hari telah berlalu, selama tiga hari ini calya tak kunjung melihat pria yang sudah menikahi nya itu. ada rasa syukur di sudut hatinya yang paling dalam. semakin di bayang bayangkan, semakin ia takut dengan karakter Axel. menurutnya Axel yang kemarin sangat menakutkan.


Terdengar deru mobil dari luar, segala rasa syukur itu seperti nya harus retak saat ini. lihat lah, iblis itu kini tengah berjalan masuk dengan wajah datar nya.


Jantung Calya melaju cepat kala manik keduanya saling bertubrukan. seakan mata tajam itu menguncinya ia tak bisa berpaling. untuk sesaat Calya lupa caranya bernafas.


"Aku tau aku tampan." Suara bass itu mengalun seiring dengan bau mint yang menyeruak. Calya diam, ia menunduk.


"Merasa terbebas setelah ku tinggal tiga hari?." Ia mengambil gelas kaca menyodorkan nya kepada Calya. ia yang cukup peka pun segera menuangkan air ke dalam nya.


"Bagaimana perasaan mu? kau merasa aman? oh Ainsley aku bahkan belum memulai penyiksaan untuk mu." Calya meremat rok yang ia kenakan.


"Aku sangat lelah, ku fikir penyiksaan mu ku tunda hingga besok. tadinya aku akan memulai hari ini." Axel meletakkan gelasnya di ujung meja, jemari lentik itu mendorong gelas hingga mendarat ke dasar lantai menciptakan bunyi nyaring di iringi dengan serpihan kaca yang menyebar. mata Calya tertutup rapat.


"Bersihkan sampah itu untuk tuan mu, budak ku!." Menekan setiap kata yang berada di Kalimat nya.


Calya beranjak membersihkan lantai dengan perlahan. senyum mengejek Axel terpatri. "Aku suka melihat mu tak berdaya." Tuturnya sebelum pergi. ya, dia pergi ke kamar.


Mansion ini hanya di isi oleh Calya dan Axel. sebenarnya ada wanita paruh baya juga. hanya saja wanita itu akan datang di pagi hari untuk membersihkan rumah dan pulang setelah nya. setiap hari begitu.


Setelah selesai membersihkan kaca Calya hanya berdiam diri di meja makan. ia tak berniat ke kamar karena iblis itu bersemayam di sana.


Teriakkan nyaring dari bibir Axel membuat telinga Calya sakit. "Budak! kemari!."


Calya bergegas menaiki tangga menuju kamar. ia menatap pakaian nya yang sudah berserakan di lantai dengan Axel yang menginjak injak nya. "Kenapa kau menaruh sampah ini di sini!."


"Itu pakaian ku."


"Diri mu adalah sampah tentu yang kau gunakan juga lah sampah, barang barang murahan. jauhkan itu dari lemari berharga milikku."


Calya berusaha menahan gejolak emosi di dalam dirinya. ia bersimpuh memungut pakaian pakaian nya yang kini berserakan di atas lantai.


Axel duduk dengan angkuh di atas ranjang. menatap Calya dengan senyum miring. "Ku ingatkan, diri mu itu mampu membuat harga sebuah benda menjadi turun. jadi kau kendalikan seluruh tubuh mu agar tak menyentuh barang barang berharga ku."


"Ya tuan."


Axel menatap ranjang yang saat ini ia duduki. "kemarin kau tidur di sini." Calya hanya mengangguk sebagai jawaban. "Oh sial ranjang ku menjadi sampah karena mu!." Dahi Calya mengerut, ia melotot melihat pria itu yang beranjak dari ranjang dan mendudukkan dirinya di atas sofa.


"Siapa bilang aku memperbolehkan mu tidur di sana!."


"Lantas aku di mana tuan?."


Axel menatap sofa yang ia duduki dan setelah nya menggeleng. "Tidak di ranjang tidak juga di sofa. ini barang barang mahal! lantai? huh lantai ku juga mahal tapi sudahlah aku meminjam kan nya untuk mu."


Calya tak habis fikir, ia akan tidur di lantai dingin setiap malam bahkan ketika sofa dan ranjang kosong di sebelah nya tersedia. apakah itu masuk akal menurut manusia waras?


Pria itu terlalu mengerikan untuk di sebut sebagai manusia. terlalu sombong dan terlalu angkuh. tangan nya terangkat guna menarik dagu Calya. "CK tidak ada tampang cantik cantik nya sedikit pun, tapi bisa bisa nya gadis jelek seperti mu menolak ku!." Ia berdecih dan menghempaskan dagu Calya.


Calya benar benar geram namun ia tak berdaya.akhirnya ia memilih diam membisu. "Aku akan membuat banyak peraturan untuk mu." Axel duduk di atas sofa dengan kaki yang terbujur di atas meja sementara Calya duduk bersimpuh di sisinya.


Axel mengambil bolpoin dengan mata pena tebal dari saku nya. membuka penutup pena dengan cara menggigit dan menarik ujung nya. Axel menarik dagu sang gadis membuat angka satu di dahi mulus nya. "Satu, kau tidak boleh melawan ku! perotes! apa lagi menyela ku ketika berbicara. mengerti?." Calya mengangguk, rahang Axel mengeras ia menguatkan cengkraman nya di dagu sang gadis. "Kau bisu!."


"Ya tuan, aku mengerti."


"Right, aku suka."

__ADS_1


Ia kembali mencoret dahi Calya membuat angka dua. "Ke dua, kau harus mematuhi ku. setiap perkataan ku."


"Ya tuan."


Ia kembali mencoret dahi Calya membuat angka tiga di sana. "Kau milik ku! artinya seluruh tubuh mu ini adalah milik ku. kau tidak ada hak atas diri mu. dengan kata lain kau juga tawanan ku." Mata Calya melotot, mana bisa seperti itu. Axel mengerling nakal, sorot mata nya seakan melucuti pakaian Calya.


"Kau cukup berisi untuk ukuran." Sontak Calya langsung menutup dadanya dengan kedua tangan. iblis itu terlalu mesum.


"Bodoh." Axel tertawa puas. "Untuk apa kau menutupi nya, bahkan aku sudah melihat seluruh ornamen tubuh mu." Mata Calya melotot hampir keluar.


"Aku tidak akan meninggalkan tawanan ku hingga berhari-hari tanpa ada jaminan sedikit pun." Axel menunjuk beberapa sudut. "Lihat, di mana mana ada cctv. di kamar mandi juga ada. aku bisa melihat kau tanpa busana satu hari tiga kali. terimakasih untuk tontonan nya, yah walaupun tubuh mu tak mampu membuat ku ingin!."


Oh sial Axel sialan! sinting! ahhh aku benar benar sudah tak berharga diri lagi di matanya!


Calya hanya mampu meremat rok yang ia pakai guna menyalurkan rasa emosi dalam tubuhnya. ia tetap mencoba tenang, ia sadar kemarahan nya hanya akan mengundang gelak tawa dari sang empu.


"Kau tidak mengupat ku lagi? takut kepada ku?."


"Maaf tuan."


"No! mata mu menyiratkan hal lain seakan kau ingin membunuh ku akan tetapi bibir mu hanya mampu mengucapkan dua kata. maaf tuan." Axel memperagakan bagaimana Calya mengucapkan nya.


Jika aku bisa aku sudah menendang kepala mu sekarang! sialan!


Calya berdoa dalam hati, kapan kah pria iblis itu akan pergi. ia muak melihat nya, rasanya seperti terbakar dalam emosinya yang ingin meletup.


"Kau jelek, dekil, pengangguran, kampungan. aku tidak habis fikir kau menolak pria sesempurna diri ku. aku masih tidak habis fikir, apakah ada pria yang menyukai mu? aku rasa syaraf otak pria itu telah rusak karena ia menyukai gadis seperti mu."


Oh tuhan aku ingin menyumbat mulut nya itu huh. ah rasanya aku ingin membuat dia jatuh cinta mati kepada ku agar aku bisa mengejek nya! dasar sinting!


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Axel beranjak pergi, ia berjalan dengan wajah datarnya.


Malam ini keluarga Gabriel di pinta untuk hadir di mansion megah milik nyonya Hany Emilio. tidak tau alasan apa yang membuat mereka di undang ke sana. Gabriel, Fiona dan juga Calista di persilahkan duduk oleh Hany. seperti nya mereka ingin melakukan makan malam bersama, tentunya dengan satu tujuan yang masih menjadi rahasia.


Gabriel baru saja tiba di tanah air beberapa jam lalu. ia di minta untuk segera pulang oleh Hany. ia pun dengan segera membeli tiket. tak berapa lama Alex dan Ingrid pun datang. dahi ingrid mengerut tatkala mendapati Calista dan keluarga nya. kepala nya sudah di penuhi oleh tanda tanya besar.


"Oh menantuku, kemari lah." Ingrid menghampiri, ia memeluk Hany hangat. "Apa mom baik baik saja?."


"Tentu aku baik baik saja."


Alex dan Ingrid duduk berhadap hadapan dengan Gabriel dan Fiona. sementara Hany dan Devo duduk bersebelahan. Devo sudah tau maksud tujuan dari istrinya itu. ia hanya diam dan menunggu respon menantu perempuan nya.


"Ah di mana Axel?."


"Axel akan tiba sebentar lagi mom, dia memiliki urusan katanya." Jawab Alex, kepala nya mulai terasa pusing. selain Devo, Alex juga tau maksud dan tujuan Hany. Alex tau jika Ingrid mengetahui rencana ini wanita itu akan murka kepada nya. bisa bisa saja ia mendiaminya hingga sebulan penuh. atau bisa jadi ingrid akan pergi meninggalkan nya ke Paris di mana orang tuanya tinggal. dan akan sangat sulit untuk mengajak nya berbaikan.


Tak berapa lama si tampan Axel pun tiba dengan balutan seragam kantor, wajahnya terlihat datar bak jalan raya. tak ada ekspresi sedikit pun. ketika Ingrid tersenyum kearah nya baru lah pria itu tersenyum. ia mengecup pipi ingrid sebelum duduk.


"Oma terlihat berbinar ketika aku datang, apa sedang menunggu ku?." Calista terus memandangi wajah tampan pria yang duduk di sebelah ibunya itu. ia sangat berdebar.


"Ah apa sangat kelihatan?."


Axel mengangguk kecil. ia mengalihkan tatapannya kepada Ingrid. "Kenapa momy terlihat sangat cantik, apa baru selesai mengunjungi pesta?."


"Kau ini." Menepuk pundak Axel yang sedang tertawa menggoda nya.

__ADS_1


Axel kembali berwajah datar ketika melihat Calista dan ibunya. pria itu hanya menatap dengan tampang acuh. gadis itu tidak menarik sama sekali.


"Ehem Axel." Satu alis pemuda itu terangkat menatap Oma yang menyebut nama nya. "Bagaimana Calista menurut mu. apakah dia termasuk ke dalam golongan gadis cantik?."


Axel mengalihkan tatapannya kepada Ingrid. setelah nya bahu pria itu terangkat. "Aku tau momy ku cantik." Setelah mengucapkan hal itu ia lanjut menyendok kan puding ke dalam mulutnya. Hany hanya menghela nafas panjang. lelah menghadapi sikap Axel.


"Bagaimana gadis yang cantik menurut mu?." Oma masih belum putus asa untuk bertanya.


"Seperti momy ku."


"Lain dari pada itu apakah ada gadis yang menurut mu cantik." Axel berfikir lama, setelah nya ia menggeleng. "Tidak ada."


Ingrid memicingkan matanya ia masih mengingat jelas perkataan Axel ketika mabuk tempo hari. ia menyebutkan seorang gadis cantik, tapi lihat sekarang ia sedang berbohong.


"Oma tidak cantik? Felisiya?."


"Selain dari pada momy tidak ada yang cantik menurut ku. apa Oma ingin menyalahkan my opini?." Dokter Gabriel terlihat menahan senyum di bibirnya begitu juga dengan Alex.


"Tapi Axel!."


"Oma bertanya kepada orang yang tidak tepat. jika Oma bertanya dengan opa tentu dia akan mengatakan bahwa Oma adalah wanita tercantik di bumi ini. jika Oma bertanya dengan Daddy maka dia akan mengatakan bahwa Oma, momy dan Felisiya adalah wanita tercantik di bumi ini. so, seseorang di nilai cantik sebab yang menilai mencintai nya."


"Lalu kau tidak mencintai Oma dan adik mu?."


"Aku tidak tau." Axel selalu berhasil membuat nenek nya itu naik darah.


"Momy sebenarnya ada acara apa ini. aku ingin pulang." Bisiknya kecil.


"Momy juga tidak tau."


"Axel coba nilai Calista dengan mata mu."


Axel menghela nafas lelah. "Sama seperti Oma. tidak menarik." Gadis yang di nilai kian merengutkan wajahnya. sementara hany menatap cucunya tajam. "Axel!."


"Maka dari itu jangan bertanya kepada ku."


Setelah melewati banyak perdebatan dan perbincangan Oma mulai tampak membuka inti topik. ia menatap Axel dan Calista bergantian. "Umm tujuan makan malam ini sebenarnya." Seluruh mata sudah tertuju kepada Hany.


"Dokter Gabriel, sebenarnya tujuan ku ingin menjodohkan Axel dan Calista." Pernyataan itu membuat wajah ingrid dan Axel sama sama datar. Alex yang memperhatikan itu hanya bisa menunduk sambil menggaruk telinga nya sesekali. ia gelisah.


Sementara Fiona dan Callista tampak begitu senang dan terlampau gembira. Calista begitu berseri seri. "Oma melihat Axel dan Calista sangat cocok. sama seperti ketika Oma menatap dad dan momy mu dulu." Mata Hany terarah kepada Axel. "Kau tau mom dan dad menikah karena Oma yang menjodohkan nya."


Ingrid tampak berdecih. di jodohkan dari mana, yang benar gadis itu di beli untuk di nikahkan kepada putranya. ia tampak menatap Axel yang terlihat tak senang, ingrid tau benar siapa putra nya itu. setelah nya ia melirik tajam ke arah Alex. menatap pria itu dengan datar. mengatakan lewat mata jika ia benar benar tidak senang dengan keputusan sepontan itu.


Axel menatap Ingrid. "Momy menyetujui nya?." Pertanyaan itu membuat seluruh atensi teralihkan. "Momy, mom tidak membahas ini dengan ku sebelumnya. ku fikir ini sangat mengejutkan untuk ku dan Axel."


"Ah, ku fikir Alex sudah memberitahu mu." Mata Alex tertutup rapat. habis sudah, tamat lah riwayat nya setelah ini.


"Sayang kau bisa menanyakan nya dengan Daddy mu. momy benar benar tidak mengerti apa pun." Axel terlihat sangat datar, terlihat rahangnya mengetat seperti sedang menahan amarah.


Setelah nya ia beranjak. "Sorry Oma aku lupa akan sesuatu." Setelah nya ia pergi begitu saja, tak menghiraukan panggilan Hany barang sedikit. sementara Devo memperhatikan wajah menantunya yang terlihat tak senang, ia tertawa kecil. habis lah Alex setelah ini.


Meja makan itu terasa sangat suram. di tambah dengan aurah ingrid yang seakan memenuhi atmosfer. "Aku akan menyusul Axel." Tutur Ingrid dan beranjak dari sana. sebelah tangan nya di cekal oleh Alex. "Sayang?." Lirihnya kecil namun Ingrid menarik paksa tangan nya. ia memajukan bibirnya di dekat telinga Alex. "Aku membutuhkan penjelasan dari mu tuan!." Nafas Alex tersendat, ia menatap kepergian istrinya dengan wajah khawatir.


Meja makan itu menjadi hening. "Ah, kurasa mengenai hal tadi aku akan membincangkan nya kepada Axel. mari makan." Hany mempersilahkan keluarga Gabriel untuk menyantap lauk pauk yang terhidang.

__ADS_1


__ADS_2