
Satu Minggu terasa begitu cepat. segala hal sudah di persiapkan oleh Axel sehingga tak heran acara itu tertata dengan baik. kurang dari tiga puluh menit lagi calya akan berjalan di atas karpet merah untuk mengucapkan janji suci pernikahan. janji kedua setelah pernikahan sembunyi yang pertama. dan masih dengan mempelai pria yang sama.
Dapat di katakan pernikahan ini cukup tertutup. hanya di hadiri keluarga besar, rekan kerja dan orang orang penting. bukan nya tak ingin menyebar luaskan berita, hanya saja Axel tidak ingin acaranya kacau.
Di satu bilik lain terdapat Gabriel, Fiona dan Calista. pintu tertutup rapat, sepertinya mereka sekeluarga mengalami bentrok. Calista menangis dramatis di depan ayahnya. ia menyalahkan pria itu untuk segala hal.
"Ayah lihat, bisa bisanya gadis itu merebut Axel dari ku!." Ya, bukan hanya Calista tapi satu keluarga nya juga terkejut tatkala melihat sosok calon istri Axel.
"Dia merebut masa depan ku, merebut impian ku, merebut ayah. dan sekarang merebut pria yang aku cinta! ayah hanya diam? ayah benar benar tidak menyayangi aku! apakah aku bukan anak ayah!?."
Gabriel memijat dahinya pusing. "Soal itu ayah tidak bisa ikut campur, jika tuan muda memutuskan untuk menikahi calya itu adalah keputusan yang murni dari nya. Calista sudahi obsesi mu terhadap tuan muda, dia tidak benar benar tertarik kepada mu."
"Omong kosong! andai calya tidak ada di dunia ini pasti Axel akan menikahi ku!."
"Apa yang kau bicarakan nak? Axel tidak menyukai mu, sadar lah."
"Ayah memang tidak pernah berada di pihak ku! mau sampai kapan ayah seperti ini!." Calista menjauh dan pergi, ia mengusap air mata tipuan nya.
Fiona yang melihat hal itu segera memojokkan suaminya. "Puas? sudah puas membuat anak gadis mu patah? kau terlalu sering mematahkan hatinya Gabriel! mau sampai kapan kau terus mengacuhkan putri mu demi putri kakak mu yang tidak berguna itu!."
"Cukup Fiona! aku, kau atau siapa pun tidak bisa mengendalikan keputusan tuan muda! itu adalah murni keinginan nya."
Fiona tampak berdecih, sampai kini pun suaminya masih memihak calya. "Tapi setidaknya untuk terakhir kali jaga perasaan putri mu! dengan cara tidak menggandeng nya menuju altar! kau bukan ayahnya!."
"Aku paman nya Fiona! untuk saat ini dia hanya memiliki aku."
__ADS_1
"Lantas putri mu memiliki siapa? jika kau ingin aku dan Calista tetap berada di hidup mu maka tetap lah berada di sisi kami. biarkan dia berjalan sendirian! hanya kali ini Gabriel!." Fiona pergi begitu saja meninggalkan Gabriel yang sedang kalut.
Calya menatap ujung sepatunya, dia terus memandangi pintu. menunggu Gabriel masuk, kemarin calya sudah meminta kepada nya agar dapat menggantikan posisi ayah nya di altar nanti. namun sampai sekarang pun pria itu tak terlihat padahal upacara pernikahan akan segera di lakukan.
Calya meremat gaun nya, apakah Gabriel tidak akan datang? apakah dia akan menjadi pengantin paling menyedihkan karena tak memiliki pihak keluarga mana pun untuk menggandeng nya.
"Ayah, andai kau sehat. aku tak perlu berharap seseorang menggantikan mu."
Terdiam lama seseorang datang menghampiri nya mengucapkan bahwa janji suci pernikahan akan berlangsung.calya pun beranjak, kembali merapihkan gaun pengantin nya. setelah itu ia berjalan menuju pintu tertutup yang langsung menghadap altar. melihat tak ada siapa pun yang akan menggandeng nya, seorang pria paruh baya datang menghampiri. pria itu tersenyum hangat.
"Aku bisa menggantikan posisi ayah mu." ujarnya dengan tersenyum lembut, calya tertunduk.
"Paman anggota keluarga Emilio?."
Miko tampak menggeleng. "Tidak, aku adalah keponakan nyonya calei. ibu angkat calon mertua mu, Ingrid Alex Devo Emilio."
"Wah wah, beruntung sekali lelaki iblis itu memiliki istri seperti mu. dia itu bukan pria yang baik, kejam, pemarah, dan kepala batu. kau yakin untuk menikahi nya? kalau tidak kau bisa lari dari sekarang." Canda Miko kemudian.
Calya berfikir ia memang ingin lari dari pernikahan ini. namun setelah mengingat seberapa besar kekuasaan Axel, seperti nya bersembunyi di lubang semut sekalipun Axel akan menemukan nya.
"Humor paman terlalu rendah." Miko tertawa kemudian, ia tau sebenarnya calya tengah menyembunyikan kesedihannya karena tak ada satu pun keluarga intinya yang hadir. seperti ayah ataupun ibu. tadi Axel sudah bercerita kepada Miko agar pria itu ingin menggantikan posisi ayah nya. dan karena Miko juga memiliki anak perempuan, ia merasa iba. membayangkan betapa sedih gadisnya menikah tanpa ada seorang ayah yang menggandeng nya.
Gerbang tinggi itu di buka, memperlihatkan Axel yang sudah berdiri di sebelah pastur. calya dan Miko tampak berjalan di iringi dengan sorot lampu dan tepuk tangan riuh dari tamu undangan. kepala calya tampak menunduk, pria di ujung sana terus menatap nya intens. manik calya kini terarah kepada Gabriel yang tampak merasa bersalah di tempat nya. gadis itu pun melemparkan senyum manis, seolah mengatakan bahwa ia baik baik saja.
Gabriel mengusap sudut matanya, rasa sedih membuat hatinya berdenyut. "Fiona, untuk pertama kali nya kau membuat ku menjadi manusia yang paling tidak memiliki hati di dunia ini." Tutur Gabriel namun istrinya seolah acuh.
__ADS_1
Miko menyerahkan telapak tangan calya kepada Axel dan berucap. "Sayangi dia seperti kau menyayangi ibu mu." Miko terlihat benar benar seperti ayah bagi calya. sudut mata calya kembali berair ia memberikan tatapan terimakasih kepada Miko yang bersedia menggantikan peran sang ayah.
"Aku memang tidak mengenal mu, tapi berbahagia lah nak. mati sekali, menikah pun hanya sekali. pertahankan rumah tangga mu, Axel tidak seburuk itu, aku hanya bercanda tadi." Bisik Miko pelan.
Setelah menepuk pundak Axel pelan Miko pun beranjak pergi. pastur mulai fokus terhadap keduanya. Axel begitu lekat memandang wajah calya. bukan tatapan terpesona melainkan tatapan penuh selidik.
"Nona calya Ainsley Paolo apakah anak siap?."
Calya mengangguk ragu. "Saya siap." Tuturnya kemudian. janji suci pun terucap dari bibir keduanya. membuat tangis haru pecah di antara keluarga inti. manik Axel tak pernah lepas menatap wajah calya yang tampak begitu tidak senang dengan pernikahan ini.
"Tuan muda silahkan mencium istri anda sebagai tanda kasih sayang." Tutur Pastur, calya mengeluarkan gelagat menolak dengan menggelengkan kepalanya ringan. namun tidak ada yang bisa mencegah seorang Axel, dengan mudah pria itu menarik lehernya. manik sang gadis tertutup rapat. Axel meletakkan jempol nya di atas bibir calya, membuat mata yang kian tertutup kini terbuka, melemparkan tatapan bertanya kepada Axel.
Tanpa ada penjelasan apa pun Axel ******* jempol nya. tepuk tangan riuh terdengar, orang orang mengira itu adalah ciuman yang panas. namun nyatanya itu tidak benar benar ciuman.
"Ku fikir cara ku memperlakukan mu sebelum sebelumnya membuat kau terlalu percaya diri. hambar! seperti biasa." Bisik nya membuat calya terdiam kaku.
Melihat hal tersebut felisiya berdecih. ia tau calya tertekan di atas sana. "Dasar kak Axel tidak tau malu!." Tuturnya jengkel.
Sedangkan di meja lain, meja khusus teman teman Axel mereka mulai berbisik bisik. "Kau yakin jika teman mu itu hanya berniat untuk balas dendam?." Tutur Arsen.
"Cih, jika hanya balas dendam kenapa harus sampai menikah. kemarin menikah sembunyi sembunyi dan hari ini sudah terang terangan. apa itu bisa di katakan pernikahan balas dendam?." Sahut Steven kemudian.
"Sepertinya Axel tidak berencana untuk balas dendam, gadis itu terlampau cantik jika hanya sekedar di jadikan mainan."
"Aku berani bertaruh, tidak menunggu waktu lama teman angkuh mu itu akan bertekuk lutut kepada istri nya."
__ADS_1
"Ya, aku pun berani bertaruh."
"Aku sedang membayangkan si angkuh itu bersikap menjijikkan di depan istrinya, iuww aku ingin muntah sekarang." Tawa mereka pun pecah, sangat puas rasanya telah menceritai sosok Axel yang menyebalkan.