
Wajah datar dan mata tajam sudah menjadi ciri khas dari seorang Axel. Calya yang mulai terbiasa dengan itu pun hanya diam saja ketika pria itu menatap nya. malam ini ia duduk di balkon kamar, sambil berfikir mau di mulai dari mana ia menggoda suaminya.
"Apa dia bisa termakan oleh godaan ku? pria pemarah itu tidak mungkin bisa." Calya mengetuk dahinya. "Kau memang sungguh tidak tau diri Calya, apa apaan kau membuat rencana untuk menggoda nya padahal dengan cara dia tidak menyiksa mu itu sudah jauh lebih cukup."
Calya mulai berfikir dengan cara apa dia mulai menggoda seorang Axel? pria berhati batu dengan mulut setajam pisau. terlintas di benak nya untuk bertanya kepada Pamela. setelah menutup pintu balkon ia pun menelpon Pamela.
"Hai Pamela." Sapanya.
"Oh Calya? ada apa?."
Dengan ragu Calya berucap. "Hmm aku tidak tau harus menggoda nya dari mana."
"Pfttt hahahah kenapa kau polos sekali." Tawa gadis itu pecah di seberang sana membuat Calya mendengus kesal.
"Aku ragu, apakah dia akan tergoda? aku tidak yakin."
"Dia pasti akan tergoda. nanti akan ku kirimkan catatan lewat chat tentang apa saja yang harus kau lakukan di tahap awal untuk menggodanya."
"Ok ku tunggu."
"CALYA!!." Calya dan Pamela sama sama terdiam mendengar teriakan itu. buru buru Calya menutup telpon. "Sudah dulu ya nanti ku hubungi lagi."
Calya langsung memasuki kamar, menatap Axel yang terlihat menahan kesal di tempat. "Ada apa tuan?."
"Hal apa yang sudah kau lakukan dengan barang barang ku?." Tuturnya tajam.
"Aku tidak melakukan apa pun."
"Kau fikir aku tidak tau jika penempatan barang ku berubah?." Calya mengerti apa yang di maksud Axel. ia pun menjelaskan. "Bukan begitu tuan, aku hanya berinisiatif untuk membereskan beberapa barang anda yang sedikit tidak teratur."
"Lancang sekali kau! kau tidak ku perkenankan untuk menyentuh barang barang ku!." Melihat tatapan sengit itu Calya pun menyesal. lanjut ia berfikir apakah mungkin baginya menggoda manusia semenyeramkan itu?
"Maaf." Axel duduk sembari bersedekap dada. "Semakin hari kau semakin tidak tau diri, aku sudah bilang jangan merusak kamar ku yang nyaman. lihat! rambut rontok mu ada di mana mana! aghhh! pergi dari kamar ku sekarang!." Tutur nya berapi api Calya cukup gemetar ia pun berjalan tertunduk keluar dari dalam kamarnya.
"Sebaiknya aku menyerah saja kepada Pamela." Gumamnya sembari bersandar di pintu kamar. Axel terlalu mengerikan.
Tak berapa lama kemudian Pamela mengirim pesan singkat kepada Calya. dengan malas Calya pun membuka nya.
untuk tahap awal, curi lah perhatian suamimu. panggil dia dengan panggilan manis seperti sayang, suamiku, my hubby.
Tiba tiba rasa sesak menghampiri Calya seakan mental nya drop begitu membaca pesan Pamela. "Pamela gila! tidak waras." Pamela kembali mengirimkan pesan.
kedua, berikan dia perhatian lebih. cium dia dengan tiba tiba, curi kesempatan untuk memeluk nya, perhatikan hal hal kecil dari suami mu.
"Wah sudah tidak waras! apa dia pikir aku menghadapi seekor kucing penurut? andai kau berada di posisi ku Pamela!." Gerutunya.
terakhir, hal yang paling penting! sejuk kan matanya dengan pandangan pandangan yang memanjakan. kau harus menggunakan pakaian terbuka di depan nya.
Calya menggeleng pelan, ia yakin sahabat nya itu mulai tidak waras. dengan penuh emosi Calya mengetik satu pesan.
__ADS_1
kau perlu ku daftar kan ke rumah sakit jiwa Pamela? sepertinya kau sudah cocok untuk tinggal di sana!
Setelah membalas pesan itu ia pun menjambak rambutnya pelan. perhatian Calya tertuju kepada pelayan yang ramai ramai menaiki tangga menuju kamar Axel. "Apa yang terjadi?." Tampak pelayan pelayan di sana membawa alat alat kebersihan seakan virus bersarang di kamar itu.
"Mau sampai kapan dia seperti itu? apa aku ini terlalu kotor?." Rutuk Calya.
Setelah lama menunggu para pelayan selesai dengan pekerjaan mereka barulah Calya berani naik ke kamar Axel. mengetuk pelan dan masuk. "Berhenti!."
Sepontan langkah kakinya pun terhenti. ia menatap wajah Axel yang kini menatapnya garang. "Apa kau ku perkenankan untuk masuk?." Tutur nya tajam membuat Calya ciut.
"Tuan kasihanilah aku sedikit saja, biarkan aku tidur di sana."
"Siapa kau yang berhak mengatur tentang apa yang harus ku lakukan?." Melihat tatapan tajam itu tubuh Calya menciut. ia pun terdiam, pupus sudah harapan nya. jangan kan untuk menggoda tahap awal, baru berfikir untuk menggoda Axel saja ia sudah mundur tak mampu.
Perasaan kalah atas tantangan yang di buat oleh Pamela dan dirinya sudah di setujui sepenuhnya oleh hati Calya. ia tidak ingin bertaruh yang melibatkan Axel di dalam nya. ia mengaku kalah dan tak mampu. pria itu terlalu arogan untuk sekedar di goda. jangan berharap untuk memiliki itu adalah opsi yang tidak mungkin dan tidak akan pernah Calya fikirkan.
Dahi Axel mengerut melihat Calya putar balik dari kamarnya. ia benar benar terheran.
Apa dia tidak niat menggoda ku? baru saja di uji tahap awal sudah menyerah? terkesan sangat tidak niat!
"Berhenti!."
Calya membalikkan tubuhnya menatap Axel dengan mata polos. "Ku beri kau kesempatan untuk masuk ke kamar ku dengan syarat sekali saja kau menyentuh barang barang ku akan ku patahkan setiap jengkal tulang tulang mu. jika aku melihat rambut rontok mu di mana mana aku tak akan segan mencukur rambut mu hingga botak." Tatapan mengintimidasi itu membuat Calya gugup seketika. kenapa ancaman Axel selalu berhasil membuat nya gemetar?
"Sepertinya aku akan tidur di tempat lain saja tuan." Pasrah nya, ia sangat ceroboh dan tentu saja Calya takut Axel memenuhi syarat syarat gila nya itu.
"Kembali masuk atau nyawa mu menjadi taruhannya!." Calya kalang kabut tak ada pilihan yang bisa ia pilih. akhirnya ia pun masuk ke dalam kamar Axel, lagi!
"Hmm."
syukurlah
Pagi hari tiba entah ada angin apa Axel tiga jam bangun lebih cepat dari biasanya. bahkan ia terbangun sebelum Calya bangun. masih sempat sempat nya Axel bertanya kepada Nuhan mengenai informasi yang pria itu sampaikan kemarin. tentang perintah Oma yang memerintahkan gadis itu untuk menggoda suaminya agar seorang Axel luluh dan jatuh hati.
Ia ingin memastikan keakuratan informasi itu. karena tampaknya Calya pasrah pasrah saja ketika di pinta enyah dari hadapan Axel. tak ada niatan menggoda sama sekali. Jangan tanyakan mengapa Axel atau lebih tepatnya Nuhan mengetahui berita itu, karena tak ada hal yang tidak bisa Axel jengkali. ia pasti bisa memiliki atau mengetahui apa yang ia inginkan. semudah itu baginya mengetahui apa pun yang bersifat rahasia.
Dalam tidurnya Axel dapat melihat pergerakan dari gadis itu. tampaknya ia akan segera bangun. Axel pun buru buru duduk tegak di atas ranjang nya.
Tanpa mengetahui keterbangunan Axel, Calya menguap dengan lebar sembari menggaruk rambutnya. "Dingin sekali."
Axel masih diam memperhatikan. "Jam berapa ini, ah aku harus mand-- aghh." Betapa terkejutnya Calya mendapati Axel di atas ranjang. ia langsung membekap mulutnya sendiri agar tak mengusik telinga pria pemarah itu.
"Apa yang anda lakukan pagi pagi buta begini?."
"Pantaskah kau bertanya seperti itu kepada ku? seharusnya aku yang bertanya demikian kenapa kau bangun sepagi ini?."
"Singkat nya aku harus bekerja."
"CK, masih tidak sadar rupanya? yang ada pada diri mu baik itu nyawa mu sekali pun adalah hak bulat milik ku. kau sendiri bahkan tidak berhak atas diri mu. ucapan ku adalah perintah dan aturan!."
__ADS_1
"Apa yang anda inginkan, tidak perlu berbelit-belit."
"Lancang sekali! kau ku perintah untuk tetap berdiam diri di rumah ini sampai aku pergi bekerja."
"Tapi tuan memberikan kebebasan untuk--"
"Aku mencabutnya sekarang! aku adalah aturan, maka ucapan ku adalah perintah! patuhi aku atau aku akan mengajarkan mu cara agar patuh."
Calya menghembuskan nafas nya berat, tentu ia akan di kenakan hukuman double dari pihak rumah sakit. terkhusus nya dari senior. "Ya aku patuh."
Calya tetap berdiam diri di rumah seperti maunya Axel. walaupun tak melakukan apa pun ia tetap harus tinggal. mengingat Axel mengingatkan nya dari jauh jauh hari agar ia tak perlu berprilaku sebagai mana istri, atau lebih menjurus Calya tak harus mematuhi perintah tugas tugas istri yang di berikan oleh Oma dan momy nya. maka dari itu Calya mulai berhenti melakukan tugasnya atau sesekali jika ia berkenan akan memilihkan pakaian untuk Axel walaupun pria itu tak pernah memakai nya.
Axel yang sudah rapih duduk di meja makan sementara Calya berdiri di radius cukup jauh dari Axel. gadis itu merutuki nasib pekerjaan nya setelah ini.
Axel makan dalam diam sesekali melirik tajam ke arah Calya yang terlihat mendengus beberapa kali. "Aku selesai." Tutur Axel tiba tiba membuat pelayan dengan cekatan membersihkan meja makan. tanpa menoleh ke arah Calya pria itu langsung bergegas pergi ke kantor. Calya pun buru buru berkemas untuk pergi ke rumah sakit. tamat lah riwayat nya setelah ini.
Axel duduk di sebelah Nuhan yang sedang menyetir pria itu menarik nafas panjang beberapa kali. ia sedang mempertimbangkan sesuatu di kepala nya. setelah sekian lama berfikir ia pun membuka suara.
"Nuh, periksa rumah sakit di mana Ainsley bekerja."
Nuhan terlihat bingung. "Ada apa tuan? ada masalah?."
"Tidakkah mencurigakan menurut mu, Ainsley berangkat ke sana terlalu pagi?." Nuhan menggaruk tengkuknya. ia pun mengangguk kecil berusaha memikirkan apa yang Axel fikirkan.
"Anda terlihat tertarik dengan dokter Ainsley akhir akhir ini tuan." Axel memberikan tatapan menusuk nya ke pada Nuhan. pria itu yang baru menyadari langsung merutuk di tempat ia tak seharusnya berkata jujur.
"Berhenti!." Mau tak mau Nuhan pun menepikan mobilnya.
"Aku tidak menyukai perkataan mu! sekarang turun!." Dengan berat hati nuhan pun turun dari dalam mobil Axel. kali ini pria itu menyetir sendiri. sebelum benar benar meninggalkan nuhan Axel bertutur.
"Kau harus sampai lebih dulu dari pada aku jika ingin gaji mu selamat bulan ini!."
Mata nuhan melotot. "Tuan!." Pria yang di sebut sudah bergerak meninggalkan nya. "Aghh kenapa aku tidak bisa mengontrol ucapan tadi, tuan pasti marah akan sangat sulit untuk membujuk nya."
Setelah perselisihan antara Nuhan dan Axel terjadi pagi tadi. Axel hanya mendiami pria itu, wajahnya terlihat tak bersahabat. tatapan sinis nya terus menerus di berikan kepada Nuhan yang sesekali datang membawa dokumen untuk di tandatangani.
Nuhan datang dengan takut takut, kali ini ia membawa berita tentang Calya yang di pinta Axel pagi tadi. "Tuan, i-ini informasi yang anda pinta tentang nona--"
"Apa kau mulai berfikir aku tertarik dengan dokter sialan itu?."
Nuhan memejamkan matanya. ia pun menggeleng. "Tidak tuan."
"Aku tidak butuh informasi apa pun sekarang!." Tampaknya pria itu masih merajuk. Nuhan bisa menyimpulkan dengan cepat.
"Tapi nona--"
"Pergi!." Nuhan mengangguk sebelum benar benar pergi ia meninggalkan dokumen informasi nya di meja Axel, percaya atau tidak tapi ia meyakini bahwa Axel akan membaca itu.
Melihat Nuhan pergi Axel mendengus pelan. "Sangat mengesalkan!."
__ADS_1
Diam diam Axel melirik dokumen berisi informasi yang ia mau. namun ia masih gengsi untuk membuka nya. setelah melakukan pertimbangan ia pun membaca dokumen itu. betapa terkejutnya ia ketika mengetahui bahwa Calya mendapatkan ketidakadilan dari atasan nya.
"Berani sekali mereka menghukum nya? hanya aku yang boleh menghukum nya, tidak dengan orang lain!."