Tuan Miliarder

Tuan Miliarder
Tidur bersama?


__ADS_3

Bait perbait Calya baca dari buku peraturan yang di berikan oleh Hany. matanya membelak tatkala ia membaca kalimat "Setiap hal yang ingin nona (istri) lakukan harus mendapatkan izin dari tuan (suami)."


"Tidak masuk akal." Gumamnya kemudian.


Kini ia berada di atas lantai kamar Axel menunggu pria itu selesai dengan kegiatan mandinya. tatkala pria itu keluar dahinya mengernyit. "Kenapa kau masih di sini? bukan nya momy dan Oma sudah pulang?."


Buku di tangan Calya tertutup, ia menatap Axel dengan malas. "Tadi siang Oma memasang banyak kamera CCTV di rumah ini. salah satunya berada di depan pintu kamar. Anda ingin ketauan jika selama ini kita pisah kamar? kalau ingin biar aku keluar sekarang."


"Kau sudah berani berbicara seperti itu?." Tatapan Axel menajam.


"Maaf." Calya lupa hanya Axel lah yang boleh berbicara dengan nada itu.


"Kalau begitu kau harus tidur di sini." Axel mengetuk dagunya berfikir lama. "Karena ini kamar ku, kau ku larang keras untuk memakai apa pun di tempat ini. selain bantal dan selimut. ku ingatkan jangan coba coba untuk menyentuh yang lain."


"Lalu aku tidur di mana?." Axel terlihat mendengus, dengan tak berperikemanusiaan ia menunjuk lantai tempat di mana Calya duduk bersila. "Kau tidur di lantai."


Begitu sampai hati iblis di depan nya. ia berucap tanpa ada iba sedikitpun. ia memiliki sofa kosong di sana, kenapa tidak mengijinkan Calya untuk tidur di sofa?


"Di sini? di lantai ini?." Tanya nya tak percaya, Axel mengangguk mantap.


"Aku tidak mau!." Mata Axel melotot. "Apa kata mu!."


Calya membuang wajah. "Aku tidak mau tidur di lantai."


"Oh kau tidak mau?." Calya mengangguk. "Kalau begitu tidur di balkon. dengan cara mengunci mu di balkon tidur ku tidak akan terusik." Calya merengut kesal kenapa pilihan Axel selalu mematikan. dengan kata lain jika tidak memilih sekarat ya mati saja. begitulah kira kira.


Calya menunjuk sofa. "Aku mau di situ."


"Tidak! aku biasa istirahat di sofa. apa kau fikir tuan dan budak boleh menggunakan barang yang sama?."


Mendengar kata budak Calya membuang wajah nya. "Ya." Ujarnya singkat dan melenggang ke luar kamar.


Calya menyeret kaki nya menuju kolam renang di lantai bawah. semua lampu di sepenjuru ruangan ini telah di padam kan. pelayan yang bekerja di sana pun sudah tak terlihat.


Ia duduk di pinggir kolam sembari meratapi nasib nya. kenapa Axel sangat tak memiliki hati. ia mencoba membuka lembaran lama ketika masih duduk di bangku sekolah. mengingat beberapa kejadian yang bersangkutan dengan Axel.


"Dia memang sadis." Gumamnya setelah mengingat kejadian dahulu ketika Axel mendorong tubuh seorang gadis hanya karena gadis itu menyatakan cinta kepada Axel. belum lagi kasus pembullyan yang Axel lakukan terhadap beberapa orang. "Dia benar benar iblis."

__ADS_1


Axel menatap keluar balkon di mana ia dapat melihat langsung kolam renang milik nya. terlihat lah gadis itu yang sedang duduk termenung di pinggir kolam.


Axel mengambil sebuah benda berat dari dalam lemari nya. tanpa berfikir ia menjatuhkan benda itu ke tengah kolam sehingga air menyiprat membasahi tubuh Calya. tatapan penuh permusuhan ia dapatkan dari sang gadis.


"Masuk! atau kau tidur di luar!." Ujarnya dan segera pergi.


Calya menyeka air yang membasahi wajah nya. "Aghhhh Axel sialan! mati saja kau!." Ia pun berjalan menghentakkan kakinya. setelah mengganti pakaian ia pun masuk ke dalam kamar Axel. terlihat pria itu sedang membaca buku di atas ranjang. dengan sengaja Calya membanting pintu kuat.


Blam!


Tanpa menoleh Axel berucap. "Kau fikir kau mampu membayar denda jika pintu kamar ku rusak?."


Calya hanya diam sembari merapihkan selimut dan bantal yang sudah di letakkan ke atas lantai. Axel melirik sekilas. "Kau bertingkah memuakkan semenjak sore." Tutur nya lagi namun Calya hanya diam.


Karena tak kunjung mendapat balasan Axel melempar bantal ke tubuh Calya yang sudah terbaring. "Kau tidak punya mulut?."


Dengan kesal ia pun berbalik. "Ya ya ya! aku tau!. tolong biarkan aku tidur, aku lelah." Ujarnya sembari menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


Axel melempar satu bantal lain ke tubuh Calya. "Dasar memuakkan!." Ujarnya kemudian. Calya hanya diam tak ingin memperpanjang.


Tak menunggu waktu lama dengkuran halus terdengar dari Calya membuat Axel menurunkan bukunya ia melirik ke arah gadis yang tengah memunggunginya. "Bagaimana lagi cara ku menyiksanya? dia terlihat menikmati!." Gumam nya kesal. dengan tak berperasaan Axel menarik remote AC dan menaikkan suhunya agar lebih dingin. bibir merah menggoda itu tersenyum miring. "Mati kau haha."


"Aku bisa mati kedinginan di sini!."


Di sisi lain Oma dan Ingrid sedang berdiskusi di ruang tamu mansion keluarga Emilio. dengan wajah penuh keyakinan Ingrid mengambil keputusan. "Mom, sebelum Axel bicara dan meminta bantuan aku tidak akan melakukan apa pun. ini keputusan ku. biar dia terpenjara dengan rencana nya sendiri."


Hany mengangguk kecil, ia pun menyetujui keputusan menantunya. "Oh ya, Keke tolong cari tau informasi tentang Calya ke dalam dalam nya. juga cari tau tentang siapa gadis yang membuat putra ku itu mabuk mabukan di malam hari itu." Keke mengangguk.


Alex datang menghampiri Ingrid berniat mengajaknya pulang namun pernyataan Ingrid tadi membuat Alex duduk di sebelahnya. mengecup ringan pipi Ingrid. "Ada masalah sayang?."


"Sepertinya." Jawab Ingrid acuh tak acuh.


Alex menatap dalam. "Tentang apa?."


"Axel." Jawab Ingrid singkat. Alex berfikir lama apa istrinya itu mulai mencurigai hubungan Axel dan Calya?


"Ada apa dengan Axel?."

__ADS_1


"Berucap seolah kamu tidak tau segalanya tuan? bahkan kamu jauh pintar dari ku." Alex tergelak mendengar penuturan istrinya.


"Maaf, perlu bantuan?." Tawar Alex guna menghindari kekesalan istrinya.


"Tidak perlu, aku hanya butuh kejujuran."


"Kejujuran? Ok aku siap jujur." Hany menggeleng kecil melihat anak dan menantunya.


"Pasca aku masuk rumah sakit dan di tangani oleh Calya apa kamu mengadu kepada Axel mengatakan bahwa aku menyukai gadis itu?."


Alex menggaruk tengkuknya. "Jangan coba coba berbohong!." Ancam Ingrid dengan menajamkan penglihatan nya.


"Hmmm, ya." Jawab Alex ragu.


"Kamu tau! pernikahan itu adalah kesialan untuk Calya. bagaimana mungkin dia yang tidak tau apa apa di paksa menikah dengan Axel. dengan dalih aku menyukai Calya."


"Aku tidak mengatakan Axel memaksa nya untuk menikah."


"Kita berdua sangat tau sifat dominan Axel itu seperti apa. jangan coba coba menutup nutupi apa lagi membelanya. kalau salah ya salah saja." Entah kapan yang pasti Hany sudah meninggalkan keduanya. hanya ada Alex dan Ingrid di ruangan itu.


"Aku bersumpah sayang, Axel bilang mereka menikah karena keinginan sendiri."


"Dan kamu percaya itu? sulit untuk ku percaya! Axel itu tidak ada bedanya dengan mu. pengatur dan pengancam, dia pasti memaksa Calya untuk menikah dengan nya." Alex terdiam mencerna ucapan dari istrinya.


"Jadi kamu masih terpaksa menikah dengan ku." Tutur Alex rendah.


Ingrid memutar bola matanya kesal. "Mengalihkan topik? dasar tidak profesional!." Ingrid beranjak dari sana namun kalah cepat dengan tangan Alex.


"Aku serius, kamu tidak mencintai ku kan?."


"Setelah memiliki Axel dan Felisiya pun kamu masih bertanya tentang keseriusan ku pada mu? kita sudah sejauh ini tuan Emilio!." Alex menarik Ingrid hingga jatuh ke pelukan nya.


"Oh ya? kalau begitu katakan I Love you." Ingrid menatap ke dalam mata suaminya itu. "I love you now, later, forever and so on."


(Aku mencintaimu sekarang, nanti, selamanya dan seterusnya.)


Alex tersenyum senang. "Jangan pernah ragukan itu! kamu dan aku tau tentang cinta kita!."

__ADS_1


"Maaf." Alex mengecup permukaan wajah Ingrid terus menerus sembari mengucapkan kata maaf.


__ADS_2