
Axel duduk di bangku singel mansion keluarga nya menatap jengah ibu dan ayah yang sedang bercanda tawa bak remaja yang sedang di landa cinta. Axel menunggu dengan jengah. pemandangan di mana Daddy nya memeluk momy dengan sangat mesra. Axel mendengus sebal, dia tidak suka! sedari kecil ia tidak suka momy nya terbagi bahkan untuk suaminya sendiri. dan sekarang ia cukup kesal melihat itu.
"Come on dad! aku tidak suka melihat kemesraan itu!." Alex tersenyum kecil dan berbalik.
"Why? aku cuma memberikan tontonan yang bisa kau peraktek kan dengan istri mu. ini lah caranya seorang pria sejati menggoda istrinya." Axel berdecih. terlihat Ingrid mencubit pinggang suaminya membuat pria itu mendengus.
"Kenapa kau datang sayang?." Tanya Ingrid sembari meletakkan segelas jus kepada Axel.
"Hanya rindu dengan momy."
Ingrid menggeleng kecil. "Ku fikir setelah menikah kau akan lupa dengan ku."
"Impossible."
Ingrid tertawa. "Kebanyakan pria seperti itu Axel, jika menikah dengan gadis yang ia cinta tak akan ada hal menarik apa pun di matanya selain rumah tempat di mana istri nya berdiam diri." Nafas Axel tercekat, seketika ia duduk dengan gelisah. Alex yang mengerti hal itu mengambil posisi duduk di dekat putra nya.
"Banyak hal yang bisa kau lakukan dengan istri mu." Tambah Alex. "Dulu, saat aku jatuh cinta dengan momy mu aku terus menempel dengan nya 24 jam penuh. tidak bisa berjarak bahkan hanya beberapa centi."
Axel menyipitkan matanya seolah ia mengatakan. 'dad kau tau segalanya kenapa mencoba untuk menyudutkan ku?'.
"Oh ya dad bagaimana dengan perusahaan cabang di Singapore? berjalan dengan baik?." Axel mencoba mengalihkan topik bicara membuat Ingrid menggeleng pelan. ia sangat hafal dengan putra nya itu, jika gugup dan terasa akan tersudutkan ia akan mencari topik lain sebagai pengalihan.
"Baik. aku sudah mengurus nya."
"Momy, seperti nya lusa aku akan berangkat ke Washington. cabang ku di sana mengalami sedikit masalah."
"Ke Amerika? lusa? Ax kau baru saja menikah sayang kenapa langsung bekerja sekeras itu? momy meminta mu untuk honeymoon dengan Calya bukan malah pergi bekerja!." Axel menggaruk tengkuknya.
"Sorry momy, tapi ini jauh lebih penting." Ingrid tak habis pikir dengan jawaban putra nya itu. tak semenarik itukah Calya menurutnya? benar benar menikahi sang gadis atas dasar Ingrid menyukai gadis itu? oh sungguh sangat memilukan!.
Terlihat ia menatap jam tangan. "Hmm aku pergi, sebentar lagi akan ada rapat kecil. dah momy." Axel mengecup pipi Ingrid dan beranjak. Axel memang seperti itu, ia hanya akan berpamitan dengan momy nya saja bahkan ketika di sana terdapat Oma atau pun Opa nya.
Melihat punggung Axel yang semakin menjauh raut wajah Ingrid mencerminkan ketidaksukaan. "Ax momy menunggu mu mengatakan tidak ada pekerjaan yang lebih penting dari pada Calya!." Mendengar hal itu Alex hanya tersenyum kecil.
"Kenapa tidak mengambil tindakan cepat sayang?."
"Tidak perlu! wanita punya caranya sendiri untuk membuat prianya kalang kabut hanya karena cinta. pesona wanita jauh lebih mematikan dari apa pun."
__ADS_1
"Aku percaya."
Ingrid tersenyum. "Karena kamu adalah korban kan sayang?."
"Ya! kamu tau mencintai gadis yang tidak tertarik dengan cinta kita akan sangat sakit. mungkin Ax juga akan merasakan apa yang ku rasakan dulu. tuhan membalas mu lewat Axel sayang." Seketika Ingrid terdiam walaupun perkataan Alex adalah guyonan namun ia tanpak meresapi arti dari setiap kalimat.
"Apa Axel akan seperti mu juga?." Terlihat Ingrid khawatir.
Alex mencuit hidung nya pelan. "Tergantung, kalau Calya seperti mu maka nasib nya akan seperti ku. tapi jika Calya sepertiku mungkin cinta Axel akan lebih mudah. karena keduanya saling mencintai di awal."
"Menurut ku ada baiknya kamu bertanya soal itu dengan Calya, harus di pertanyakan apa dia cinta axel atau pun sekedar tertarik dengan Axel." Tutur Alex.
"Tanpa bertanya aku mungkin sudah tau jawabannya, aku tidak ingin jawaban dengan kebohongan. citra Calya sangat baik di mata ku. wajar saja jika dia tidak mencintai Axel, toh Axel memaksanya untuk menikah."
Axel duduk di meja kerja nya dengan pandangan tajam. ia menatap gadis yang berdiri di depan nya dari ujung rambut hingga ujung kaki. setelah itu ia berdecih dan membuang wajah. "Sangat merindukan ku sampai sampai menyusul ke kantor?."
Calya yang mendengar ketidak benaran itu langsung melotot. "Tidak!."
"Turunkan nada bicara mu!." Niat baik baik milik Calya tiba tiba saja hangus. ia di selimuti rasa kesal. mood berbicaranya pun menghilang.
Melihat kediaman gadis itu Axel mengangkat kepalanya dari dokumen yang ia baca. "Ada urusan apa pengangguran seperti mu datang ke sini?."
"Tuan miliarder boleh kita bicara baik baik sebentar?." Seakan memiliki stok topeng Calya mengganti mimik muka nya sedikit memelas walaupun sebenarnya hati sang gadis panas terbakar.
"Enam detik." Ucapan Axel yang tanpa gairah itu membuat manik mata Calya melotot.
"Enam detik? tuan--"
"Satu." Axel mulai menghitung.
"Aghhh!." Berulang kali Calya memaki Axel. ia tidak boleh kehilangan kesempatan 6 detik kali ini. usaha nya untuk lari ke perusahaan tidak lah mudah. tau kan Axel menjaga ketat mansion.
"Tuan tolong--"
"Tiga." Ucap Axel membuat Calya ketar ketir.
"Harusnya dua dulu baru tiga!." Masih sempat sempat nya gadis itu melayangkan protes.
__ADS_1
"Empat!."
"Mohon izinkan aku bekerja." Seketika pergerakan Axel terhenti. manik pria itu terangkat menatap wajah memelas istrinya yang tak pernah di anggap istri. alis Axel terangkat tinggi.
"Fasilitas yang ku berikan kurang?." Calya menggeleng kecil. "Lalu?."
"Aku hanya tidak ingin ilmu kedokteran ku pudar."
"Ok." Mata Calya berkedip kedip, semudah itu? ini tidak mungkin. Axel tidak mungkin seperti itu, kan?. jika tau ini adalah perkara mudah mungkin ia akan meminta izin sedari dulu.
"Benarkah?." Manik gadis itu berbinar.
"Dengan syarat kau harus menjadi gadis yang benar!."
Dahi Calya mengernyit, jadi selama ini di mata Axel dia tidak benar begitu? tak ingin merusak suasana Calya pun memilih kosa kata yang lebih lembut dan terdengar lebay. "Bisa tuan jelaskan lebih mendalam? terkadang otak saya tidak bisa bekerja dengan baik."
"Bodoh! baru sadar sekarang?." Axel berdecih.
Tak ingin suasana hatinya hancur Calya seolah tuli saja mendengar perkataan menyebalkan itu. "Terkadang memang seperti itu tuan."
"Makanya sadar diri itu penting." Seakan tertohok Calya hanya mampu menatap pria di depannya dengan rasa kesal yang tertahan.
"Berani berani nya gadis seperti mu ini menolak negosiasi dari pria sempurna seperti ku." Axel menatap nya dengan rendah. namun Calya tak membalas hal itu karena ia tidak ingin merusak momen. jangan hanya karena emosi ia kehilangan kesempatan untuk bekerja.
"Syarat nya mudah, cukup dengar kan aku. aku tidak suka di bantah! tidak suka mendengar nada tinggi! dan tidak suka mendengar penolakan. bisa di terima?." Tanpa ragu Calya mengangguk, senyum sumringah terus terukir di bibirnya. segelintir ide jahil melekat di pikiran Axel.
"Melihat mu bahagia seperti itu aku jadi ragu untuk mengizinkan mu Bekerja." Manik Calya melotot, tidak bisa! tidak bisa di biarkan! ia harus bekerja.
"Sejujurnya pun saya sedih tuan." Merubah mimik mukanya. "Saya sedih harus meninggalkan kehidupan bermalas-malasan seperti kemarin."
Alis Axel terangkat ia menatap sempurna ke arah Calya. "Oh ya?." Calya mengangguk. "Kelihatan nya tidak seperti itu."
Wajah Axel berubah datar. ia menatap wajah Calya tajam. "Jadilah budak yang manis, pulang ke mansion karena kau sudah cukup mengotori udara ruangan ku yang berharga."
Sembari menyimpan rasa kesalnya ia pun tersenyum. "Baiklah tuan miliarder." Senyum tertekan itu masih Calya tampil kan bahkan nuhan sang sekretaris di buat terkejut melihat nya.
"Dasar iblis gila! tidak punya akal! mulut tidak pernah di ajarkan sopan santun! aghh kenapa nasib ku sial sekali! lihatah Calya kau menjilat ludah mu berkali kali, harga diri yang kau junjung tinggi sudah sangat jatuh ke kerak bumi hanya karena iblis itu!."
__ADS_1
Sepanjang koridor Calya hanya bercakap cakap seperti orang gila. ia menepuk dadanya kuat sambil tertawa. "Hahaha di mana sifat arogan mu cal! di mana keberanian mu saat berhadapan dengan iblis itu? semua yang ku punya seketika lenyap habis tertelan dengan aurah nya." Calya menetralkan nafasnya yang naik turun.
"Tenang, ok tidak masalah. yang terpenting sudah mendapatkan izin bekerja. dengan begitu aku tidak perlu bertemu dengan wajah menyebalkan itu sering sering. tidak pulang adalah ide bagus, operasi besar adalah kambing hitam untuk melarikan diri. sepertinya aku sudah cukup pintar sekarang."