Tuan Miliarder

Tuan Miliarder
Pembukaan hotel


__ADS_3

Begitu berat rasanya untuk melangkah kan kaki menuju kediaman keluarga Calista. jika bukan karena Oma nya Axel mungkin tak akan sudih untuk ke sana. cukup lama pria itu menunggu di depan hingga membuat moodnya rusak.


Tak berapa lama keluar lah gadis itu, gadis yang tak ada cantik cantiknya sedikit pun di mata Axel. "Maaf membuat mu menunggu----" Tanpa mendengar seluruh kalimat Calista Axel langsung masuk membanting pintu mobil keras.


"Semakin sulit untuk di dapat kan semakin membuat ku penasaran." Calista segera masuk dan duduk di bangku sebelah Axel ia tampak begitu bangga karena menjadi wanita pertama yang Axel bawa dan kenalkan di depan umum.


Mobil Axel melaju dengan cepat, ia tetap bungkam seolah memang tak ada yang perlu untuk di bicarakan. "Maaf tuan, apakah anda merasa terganggu dengan----"


"Cukup tau diri." Tutur Axel membuat Calista terdiam.


"Apakah anda merasa terpaksa tu--"


"Sangat, kau fikir aku sudih? tidaklah kiranya kau berkaca terlebih dahulu?."


Calista mengepalkan telapak tangan nya. kemudian ia tersenyum. "Maafkan aku."


"Batasi diri mu, aku tidak suka manusia yang lancang."


Begitu sampai di parkiran mobil khusus, Axel segera turun. tak ada manis manisnya kedua pasangan itu. Calista turun dengan membuka pintunya sendiri sementara Axel, ia pergi berjalan terlebih dahulu.


"Tuan tidakkah kita harus memainkan peran di hadapan nyonya Hany?." Lagi, terus menerus! Calista tak pernah melewatkan satu kesempatan pun agar orang orang mengenalnya sebagai wanita dari Axel Devo Emilio.


Axel membalikkan tubuhnya dan tertawa pelan. "Apakah menurutmu aku perduli akan hal yang demikian? aku tidak suka kau. jadi tidak perlu terlalu hanyut oleh drama Oma."


"Tapi nyonya Hany---"


"Apa! aku tidak perduli itu! jika perintah itu bukan berasal dari momy ku aku tidak akan pernah menyetujui nya. tau diri! jaga batasan mu, kau dan aku bagaikan langit dan bumi yang tidak akan mungkin untuk bersatu!."


Duar, seperti ledakan bom begitu lah kalimat yang keluar dari bibir Axel. ia sudah terlampau muak. di ujung jalan terlihat Arsen, Brian dan Austin yang sedang menunggu nya. tanpa memperdulikan Calista ia pergi begitu saja. Oma hanya memberi perintah untuk menjemputnya bukan untuk menemani nya.


"Ax dia yang di tawarkan Oma untuk mu?." Axel mengangguk kecil. "Menurutku gadis yang menghina mu jauh lebih cantik." Tutur Brian dengan tawa kecil.


"Pernahkah aku meminta mu untuk mencampuri urusan ku?."


"Ok aku tidak akan bertanya lagi."


Sepanjang perjalanan menuju meja melewati pintu utama, Axel sudah menjadi sorotan kamera dan wartawan. seperti biasa ia bersikap cool dengan wajah datarnya. itu adalah ciri khas Axel. tuan muda Emilio yang akan mewarisi seluruh harta kekayaan ayah dan kakeknya.


Pria itu tersenyum kearah ingrid dan memeluk ibu nya itu. "Momy sudah lama?."


"Tidak, aku baru saja sampai."


Hany yang berada di meja yang sama pun celingak-celinguk mencari gadis yang ia titipkan kepada Axel. "Di mana Calista?."


"Tidak tau." Mengangkat bahunya acuh.


"Tapi Oma meminta mu untuk menjemput nya bukan?."


"Sudah ku jeput."


"Lalu?."


"Mungkin dia sedang tersesat mencari pintu utama, aku pun tidak perduli." Hany hanya bisa memijat dahinya sementara Devo, kakek nya Axel hanya tersenyum lebar melihat tingkah cucu laki lakinya itu.


Di sisi lain Calista berjalan pelan menuju pintu utama. ia berusaha menjadi yang paling mencolok di tempat ini. ketika matanya melihat begitu banyak wartawan yang berada di sana ia pun tersenyum miring. ini lah saatnya mengambil kesempatan.


Ia menepuk pelan salah satu wartawan di sana. seluruh mata pun tertuju kepada Calista, ia tersenyum. "Maaf aku baru saja tiba di sini, apakah kamu bisa mengantar ku ke meja keluarga Emilio?."

__ADS_1


"Anda bagian dari keluarga Emilio?."


"pacarnya tuan Axel?."


Sontak seluruh kamera tertuju kepada nya. Calista tak menjawab ia hanya tersenyum manis. tak berapa lama seseorang memanggil nya membuat ia tersenyum lebar.


"Calista."


"Oma." Berjalan menuju Hany dan memeluk wanita paruh baya itu. sontak dugaan wartawan semakin menjadi jadi. tatkala mendengar sebutan Calista terhadap nyonya besar Emilio.


"Ini sudah terlihat jelas, sepertinya tuan Axel sudah memiliki kekasih. apakah beliau akan menikah juga? kelihatan nya hubungan gadis tadi dan nyonya Hany Emilio terlihat sangat dekat dan cukup mencurigakan." Tutur salah satu pembawa acara.


Tak menunggu waktu lama begitu berita di tayangkan semua menjadi teranding dan menjadi topik pembahasan yang menyerebak. Axel sekeluarga tak belum mengetahui itu karena terlampau sibuk dengan pesta. Nuhan, sekertaris Axel segera bergegas menemui tuan nya dengan berita yang membuatnya terkejut. ia mencoba untuk masuk namun para wartawan menghalangi nya. ia terus berusaha namun sia sia.


Calya mengikat kuat selimut di kaki ranjang, ia menjulurkan selimut tersebut lewat balkon. ia mendapat kabar dari dokter Steven kondisi ayahnya memburuk. ingat, terakhir kali Calya tak sempat melihat ayahnya karena Axel sudah mengurung nya di tempat ini. malam ini pun sama, pria itu menguncinya seorang diri di dalam membuat pikiran Calya kacau.


Setelah mendarat di atas tanah ia menatap sekitar. ia benar benar tak tau berada di mana. sekeliling rumah hanya di penuhi oleh pohon. tidak ada kendaraan yang melintas. mau memesan taxi juga ia tak tau sedang berada di mana. Calya terdiam di tengah tengah jalan. menatap sepanjang jalan di depan nya yang tak kunjung terputus oleh pohon.


"Tuan siapa wanita yang bersama dengan nyonya Hany?."


"Benarkah anda akan menikah?."


"Apakah dia wanita beruntung itu?."


"Tolong beri kami jawaban tuan."


Ruangan aula menjadi riuh karena wartawan yang sibuk mengorek berita dari axel.pria itu terlihat sangat kesal. dengan segala upaya nuhan masuk dengan beritanya, ia membisikkan sesuatu di telinga Axel membuat pria itu kesal bukan kepalang.


Saat akan berbicara sesuatu dari sakunya berbunyi. nada pertanda bahwa sesuatu telah berada di luar jangkauan nya. tanpa banyak bicara Axel segera beranjak. ia tak menghiraukan sesiapa pun.


Ingrid yang baru masuk kembali ke aula terlihat sangat terkejut. ia pun menghentikan Axel."Mau kemana kau?."


Ingrid menepuk pundak Axel beberapa kali."Ya, pergi lah."


Axel keluar lewat pintu belakang, semua wartawan mengejarnya dari segala sisi. demi mempermudah Axel Ingrid pun naik ke atas podium. membuat Oma yang terlihat girang berubah menjadi terdiam. sementara Calista, ia terlihat tak suka ketika Ingrid mengambil alih perhatian di depan. ia tau wanita itu akan membereskan kesalahpahaman yang menguntungkan nya.


"Apa yang akan menantuku lakukan? bukan kah ini jauh lebih baik agar Axel segera berfikir?." Seperti itulah kalimat yang Calista dengar sebelum Hany beranjak pergi.


"Selamat malam." Seluruh kamera dan mata terarah kepada Ingrid. Alex hanya bisa tersenyum dari ujung melihat istrinya itu.


"Aku akan menjawab seluruh pertanyaan kalian untuk putra ku." Ingrid tersenyum manis. "Sebelumnya aku akan perkenalkan gadis di ujung sana, dia adalah putri dari kepala rumah sakit milik keluarga kami, dokter Gabriel. nama nya adalah Calista. Axel ku tidak memiliki hubungan apa pun dengan nya, mereka hanya bertemu beberapa kali dan itu baru saja."


"Jadi berita itu tidak benar nyonya. lantas kenapa nona Calista terlihat sangat dekat dengan nyonya besar?."


"Singkat nya momy menyukai Calista." Tutur Ingrid.


"Apakah ada peluang untuk nona Calista menjadi istrinya tuan Axel?."


"Axel ku buka lah tipe pria yang suka bertele tele, jika ia suka kepada sesuatu maka sedikit pun tak akan ia lepaskan. kita lihat saja apa yang akan terjadi."


"Apakah sejauh ini ada seorang gadis yang tuan Axel sukai nyonya?."


"Aku belum tau pasti, tapi ku fikir sepertinya ada. Axel bukan lah tipe yang suka meninggalkan sebuah acara penting jika tidak bersangkutan dengan hal yang berharga menurutnya."


"Tuan Axel kabur?!!." Para wartawan segera berlarian ke luar. melihat pria yang kini sedang di bicarakan. namun sayang mobil Axel sudah melaju jauh.


Calista menatap tak suka kearah ingrid. ia mengepalkan tangannya erat. setelah keributan itu mulai mereda acara pun kembali di mulai. Ingrid melangkah menuju meja di mana teman teman Axel berada. ia duduk dengan elegan membuat pemuda pemuda di sana mematung.

__ADS_1


Ingrid melirik seluruhnya. "Apakah terjadi sesuatu akhir akhir ini dengan Axel?. bibi fikir kalian tau sesuatu."


Brian menyikut lengan Austin membuat pria itu bersuara. "Ah, itu. Axel bercerita kepada kami bahwa Oma menjodohkan nya dengan gadis yang tidak ia sukai."


"Hanya itu?." Seluruhnya mengangguk, setelah lama menganalisis akhirnya Ingrid mengangguk kecil. "Ok bibi percaya kepada kalian, semoga tidak mengecewakan."


Axel sampai di mansion nya ia melihat sebuah kain yang menjulur di balkon. ia pun berjalan ke sana. "Oh sial! berani berani nya dia melarikan diri!!!."


"Hiks hiks." Mata Axel mengerjab beberapa kali. suara isakan itu membuatnya membalikkan tubuhnya. terlihat Calya duduk di bawah pohon yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Calya memang sudah mengetahui kehadiran pria itu. juga mendengar kata upatan untuknya.


"Kau!."


"Ayah ku, ayah ku keritis di rumah sakit." Tutur nya sebelum Axel mengeluarkan perkataan nyelekit. "Apakah aku tidak boleh untuk bertemu dengan nya, lagi?. aku hanya memiliki nya dan dia hanya memiliki ku." Axel menyentuh selimut panjang yang hampir merambat ke atas tanah.


"Kau tidak ada hak untuk melarang ku menemui ayah ku."


Axel berbalik dengan tatapan tajam nya. "Sudah? kau sudah selesai mengoceh? sejak kapan kau berhak menentukan pilihan?."


Axel merendahkan tubuhnya ia mencengkram dagu Calya erat. "Hampir saja, jika kau melampaui batas mu. maka aku akan melakukan hal yang fatal. tapi syukurlah kau tau diri!."


Mata Axel teralih ke arah selimut di belakang. ia menunjuk nya dengan jari. "Kau turun dengan selimut berharga ku?." Axel berdecih kemudian. ia berbalik dan mengukur panjang selimut dengan jengkal nya. sambil memicingkan sebelah mata.


"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam,,,, enam detik. ku beri kau waktu enam detik. segera masuk ke dalam dengan memanjat selimut itu, lagi! lakukan jika kau ingin bertemu ayah mu."


"Apa?!."


"Satu."


"Maksudmu?."


"Dua."


"Dasar gila!." Maki Calya pelan ia buru buru berlari menuju tembok.


"Tiga." Axel terus menatap gadis itu tanpa ekspresi sedikit pun.


"Empat."


"Hitung dengan pelan." Protes Calya namun Axel tak mendengar. ia menghitung semakin cepat.


"Lima."


"Enam. waktu mu habis dan kau gagal." Calya melotot. kini ia berada di setengah dinding menuju balkon. sedikit lagi. ia bergelantungan bak monyet monyet di hutan dengan Axel yang terus menontonnya.


"Maksudmu!!!."


"Suara mu meninggi?." Calya mengepalkan tangannya.


"Maksud anda apa tuan?."


"Aku sudah memberi mu peluang untuk bertemu ayah mu, kau saja yang kurang usaha."


dasar sinting, apa dia fikir aku monyet? ini hampir empat meter dan aku memanjatnya selama enam detik. Axel gila!


Calya segera mendarat di atas balkon. ia menatap Axel penuh harap. "Aku--"


"Ingat yang ingin ku lakukan pada mu terakhir kali? jika tidak ingin kehilangan satu hal berharga pun dari tubuh mu maka diam saja di sana!."

__ADS_1


Axel berjalan memasuki mobil, ia segera melajukan mobilnya. Calya terlihat meninju tiang balkon. dengan beberapa makian dan hal itu tak lepas dari penglihatan Axel karena pantulan sang gadis masih terlihat di kaca mobilnya.


__ADS_2